Gula-Gula Media 
  Oleh: Nur Aulia Solihah
   
  Sejak era reformasi tahun 1998, media masa tumbuh bak cendawan  di ruang 
lembab. Tercatat sebanyak 829 media cetak, lebih 1.200 radio,  12 televisi 
nasional, lebih 16 televisi lokal dan 100 lebih Internet Service Provider (ISP) 
berkembang biak di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, keberlangsungan 
periuk  media masa tersebut bergantung dari pemasukan iklan. 
   
  Jumlah iklan yang masuk berkorelasi erat ama kreativitas program yang 
ditawarkan. Dihadapkan pada kebutuhan iklan ini, acapkali media masa kehilangan 
idealismenya. Media masa pun  kini beralih fungsi sebagai industri penghasil 
uang. Cara pandang ini akan berpengaruh pada program-program dan subtansi 
informasi yang ditawarkan. Tak jarang mereka membumbui program dan subtansinya 
dengan gula-gula agar manis serta menarik.
   
  Ibarat makanan tanpa garam.  Begitulah bunyi pepatah punya arti hambar, 
kurang komplit dan hilang rasa. Pepatah ini cocok banget dengan fenomena media 
masa Indonesia baik cetak, televisi, internet maupun radio yang menganggap  
kudu memasukkan unsur ’gula’ didalam sajiannya..  
   
  Misalnya saja kita ambil kasus televisi deh. Untuk menarik pemirsa dan iklan, 
televisi menayangkan sinetron bersubtansi cinta, perempuan dan kekerasan.  
Judulnya saja kebenyakan perempuan banget. Ambil contoh, Intan, Kasih, Mentari, 
Diva, Jelita, Cahaya, Mutiara, Mawar, Tiara, Cinta Fitri dan sebagainya. Coba 
tengok, jarang judulnya maskulin. Kata Asisten Deputi Urusan Kekerasan terhadap 
Perempuan, Heru P Kasidi, tayangan kekerasan yang kian marak di media 
elektronik ditengarai mendorong terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam 
rumah tangga. Komnas perempuan 2007 mencatat kasus kekerasan terbanyak justru 
terjadi dalam keluarga (74 persen) dan korbannya adalah istri (83 persen) dan 
anak (5 persen).
   
  Ditambah lagi. hampir semua sinetron Indonesia itu hasil jiplakan dari 
teledrama, novel, komik atau film luar negeri. Beberapa contoh diantaranya 
Sinetron Diva diadopsi dari  Esmeralda (telenovela), Azizah dari Maria Cinta 
yang Hilang (telenovela), Cahaya dari Yokohama (komik), Buku Harian Nayla 
diambil dari 1 Litre Of Tears (kisah nyata), dan  Kau Masih Kekasihku diambil 
dari  At the Dolphin Bay (Teledrama).  Ini belum iklan, film, talkshow, pembawa 
berita, reality show dan sebagainya. Hampir seluruhnya pakai pemeran perempuan 
dan lebih menonjolkan eksploitasi keperempuanannya. Ampun deh.
   
  Pemain perempuannya sendiri mungkin juga nggak ngerasa kalau dirinya cuma 
gula disana. Mirip simbiosis mutualisme, pemeran perempuan juga merasa 
diuntungkan secara materi. Popularitas dan honor. Sebab menurut informasi 
terpercaya honor pemain utama berkisar Rp 10 – 50 juta per episode, dan pemain 
pembantu utama berkisar Rp 10 – 30 juta per episode. Jangan heran, jika  Maria 
Ozawa ( Miyabi) pemain film panas Asia bisa mendulang minimal 8000 USD dolar 
per bulannya (sekitar 75 juta rupiah). Getahnya, dengan profesi yang digeluti, 
Miyaki dijauhi teman-temannya dan tidak dianggap anak oleh keluarganya. Ia 
hidup sendirian di apartemen mewah.

  Sisi lain, televisi  dapat untung iklan gede. Ambil contoh iklan sinetron 
Intan. Harga iklan di jam tayang Intan menembus angka 16 juta per spotnya. Mau 
tahu berapa juta yang dituai sinetron Intan per episodenya? Sebesar Rp 1,6 
miliar. Angka ini didapat dari 16 juta dikalikan 100 spot. 
   
     Nah, kalau media cetak, selain tema perempuan,  kekerasan dan 
kriminalitas, tema yang kadang dijadikan penglaris adalah  berita kontraversi 
dan bad news.  Berita yang awalnya biasa dan sederhana,  lalu dtambah hasil 
wawancara narasumber yang kontra, akhirnya  malah menimbulkan dilema tak 
berkesudahan. Memang tak semua media cetak begitu sih. Kebanyakan media masa 
yang idealis masih memegangpatronnya sebagai penyampai berita, informasi dan 
mencerdaskan masyarakat. Sayangnya, jumlah media cetak seperti ini bisa 
dihitung jari.
   
  Gula-gula ini dimanfaatkan betul oleh pemodal untuk mengeruk keuntungan 
materi sekaligus menanamkan pemahaman-pemahaman ‘liar’, sehingga  konsumen 
media berpikir pseudo barat dan membebek perilaku barat. Pelan dan pasti 
konsumen media menjauhi nilai-nilai agama. Media masa, seni-sastra, film,  
adalah sarana yang paling soft untuk menyampaikan pesan kepentingannya. 
   
  Sabili, 17 April 2008


"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 
  kampusku 
  Blogku




       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke