SMS dan Pembodohan 

Oleh : Zaim Uchrowi 


  Hari itu, ceramah Pak RW usai shalat Subuh terasa berbeda. Pak RW berbicara 
dalam tempo pelan dengan nuansa lebih lembut dari biasa. Semua terdiam 
memerhatikannya. Ia punya pengalaman hidup istimewa. Ia baru pulang dari rumah 
sakit setelah sempat koma lebih dari 24 jam akibat serangan jantung. Banyak 
jamaah menduga ia akan menceritakan pengalamannya menghadapi saat-saat kritis 
itu. Ternyata, tidak.
   
  Pak RW justru menyatakan keprihatinannya pada kondisi sosial sekarang. Ia 
mepaparkan bertambah beratnya beban hidup masyarakat kebanyakan. Kebutuhan 
sehari-hari semakin mahal. Minyak semakin sulit didapat. Daya beli masyarakat 
berupa pangan, pendidikan, dan kesehatan semakin melemah. Ringkas kata, 'hidup 
semakin sulit'.
  Dalam iklim demikian, menurutnya, berpikir jernih dan sehat semakin menjadi 
kebutuhan. Ketika persoalan hidup kian kompleks, tak ada pilihan yang lebih 
baik buat menghadapinya selain dengan berpikir jernih dan sehat. Maka, berpikir 
jernih dan sehatlah yang perlu ditumbuhkan di masyarakat. Jika seluruh bangsa 
ini dapat didorong ke arah sana, kompleksitas persoalan tersebut sedikit banyak 
akan dapat terurai. 'Bangsa ini juga akan bergerak maju ke depan, seberat apa 
pun tantangan ke depan yang menghadang.
   
  Namun, menyemaikan berpikir jernih dan sehat ternyata tak semudah memakan 
kerupuk. Yang tersemaikan secara cepat justru cara berpikir gampangan berdasar 
pada budaya instan dan jalan pintas. Pada tingkat tertentu, budaya demikian 
juga bermanfaat. Setidaknya, untuk membuat kita melupakan sejenak kegetiran 
hidup. Juga membuat kita terhibur sesaat. Hal yang penting dalam hidup agar tak 
patah atau terjatuh selamanya. Namun, budaya itu sangat kuat menyeret kita ke 
dunia mimpi dan mengabaikan realitas sekitar.
   
  Telepon genggam dan televisi adalah medium efektif buat menyingkirkan 
berpikir jernih dan sehat. Ia tunjuk berbagai program ramalan dan 'teka-teki' 
yang banyak dijajakan lewat TV. Coba lihat iklan yang menyuruh menulis reg 
spasi nama spasi ramal atau apalah yang menjamur di TV. 
   
  Masyarakat tidak diajak untuk berpikir jernih dan bekerja keras mengatasi 
persoalan hidup. Masyarakat diajak memilih jalan instan buat mengatasi 
persoalan. Hanya dengan mengirim SMS, kita merasa tahu nasib ke depan. Yang 
lebih runyam, menurutnya, adalah 'teka-teki bodoh', seperti program 'Acak Kata' 
dan sebagainya. Pertanyaannya sama sekali tidak mendidik. 
   
  Huruf dari sebuah kata 'diacak' sangat gampang agar orang mau mengirimkan 
jawaban sebanyak-banyaknya lewat SMS. Iming-imingnya hadiah Rp 200 juta. "Itu 
perjudian yang jauh lebih jahat dibanding SDSB dulu," ungkapnya. Tak ada 
kontrol negara, tak ada notaris yang mengundi pemenangnya, tak jelas pula siapa 
yang mendapat hadiah. Sedangkan, membuang uang dalam perjudian itu begitu 
gampang karena hanya dengan cara mengirim SMS. Anak-anak muda dari kalangan 
bawah tergoda menghamburkan uang puluhan ribu rupiah.
   
  Itu hanya salah satu cara meraup uang dari orang-orang susah dengan 
menggunakan SMS. Banyak cara lain yang juga ditempuh. Misalnya, mengirim 
'petunjuk' pada siswa SD atau SMP yang bertelepon genggam, seperti 'jangan 
pilih jawaban B kalau ujian di hari...'. Lalu, bocah-bocah polos akan 
menyebarkan 'petunjuk' itu pada kawan-kawannya. Atau, bekerja sama dengan 
televisi dalam berbagai macam lomba idola. Pemirsa didorong untuk mengirim SMS 
buat memenangkan idola. Bila perlu, sang peserta menjual rumah keluarga buat 
membiayai pengiriman SMS dukungan bagi dirinya sendiri agar segera sukses 
menjadi bintang. Hasilnya, terbanting.
   
  "Saya heran, ada yang tega berbisnis dengan membodohi masyarakat lewat SMS 
begitu?" kata Pak RW lembut. "Saya tidak mengerti bagaimana operator telepon 
seluler dan pemilik stasiun TV mau memfasilitasi bisnis begitu. Kalau 
pembodohan itu terus berlangsung dan pemerintah juga tak peduli soal begini, 
bagaimana masa depan bangsa kita?" Saya terdiam. "Inilah wajah kita saat ini." 
  http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19


"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 
  kampusku 
  Blogku




       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke