Assalamu'alaikum wr wb
   
  Membaca kisah Umar bin Abdul Aziz saya juga teringat sosok Harry Potter yang 
memiliki tanda luka dikeningnya. Begitu pula Umar bin Abdul Aziz telah 
diramalkan kakeknya Umar bin Khattab dari Rasulullah, bahwa kelak ada dari 
keturunannya yang akan memegang tampuk kekhilafahan seperti layaknya khualafaur 
Rasyidin kelima, dia memiliki luka didahinya, yakni Umar bin Abdul Aziz. 
Istrinya Fatimah adalah perempuan yang beruntung karena ayahnya, pamannya, 
saudaranya, kakeknya menjabat kekhilalifahan. Yang mengesankan adalah Fatimah 
rela menderita dan mengembalikan harta mililk Umayyah pada Baitul Mall demi 
kepentingan warga negara Islam. Umar bin Abdul Aziz dan Fatimah hidup sangat 
sederhana, tiap hari makanannya adalah sayuran Addas (yang berbau).
   
  Pada masanya, seluruh warganegara (baik muslim dan nonmuslim) tidak ditemukan 
miskin, sulit menemukan orang yang menerima zakat. Sampai pun serigala enggan 
memakan kambing yang digembala, karena menghormati keadilan Umar.  
Subhanallah.. inilah catatan sejarah bahwa sistem syariat Islam yang diterapkan 
dalam negara bisa menghapuskan kemiskinan (walau di masa Umar yang sering 
dijadikan contoh) namun setidaknya, Islam membutktikan secara de facto dan de 
jure bisa mensejahterakan seluruh warganegara. Dan tidak ada sistem hukum 
atauran pemerintahan di dunia ini yang bisa menyainginya. 
   
  semoga bermanfaat,
   
  .....................................................................
   
  ----------------------------
  Kamis, 24 April 2008
UMAR BIN ABDUL AZIZ 
Khalifah Pilihan Dinasti Umayyah 

Umar bin Abdul Aziz ternyata masih keturunan dari Khalifah Umar bin Khattab. Ia 
terlahir pada tahun 63 H/682 M di Halwan sebuah perkampungan di Mesir. Namun 
ada pula yang menyebutkan, Umar lahir di Madinah. 


  Adil, jujur, sederhana dan bijaksana. Itulah ciri khas kepemimpinan Khalifah 
Umar bin Abdul Aziz. Tak salah bila sejarah Islam menempatkannya sebagai 
‘khalifah kelima’ yang bergelar Amirul Mukminin, setelah Khulafa Ar-Rasyidin. 
Pada era kepemimpinannya, Dinasti Umayyah mampu menorehkan tinta emas kejayaan 
yang mengharumkan nama Islam.
  Khalifah pilihan itu begitu mencintai dan memperhatikan nasib rakyat yang 
dipimpinnya. Ia beserta seluruh keluarganya rela hidup sederhana dan 
menyerahkan harta kekayaannya ke baitulmal (kas negara), begitu diangkat 
menjadi khalifah. Khalifah Umar II pun dengan gagah berani serta tanpa pandang 
bulu memberantas segala bentuk praktik korupsi.
  Tanpa ragu, Umar membersihkan harta kekayaan para pejabat dan keluarga Bani 
Umayyah yang diperoleh secara tak wajar. Ia lalu menyerahkannya ke kas negara. 
Semua pejabat korup dipecat. Langkah itu dilakukan khalifah demi 
menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Baginya, jabatan bukanlah alat untuk 
meraup kekayaan, melainkan amanah dan beban yang harus ditunaikan secara benar.
  Tak seperti penguasa kebanyakan yang begitu ambisi mengincar kursi kekuasaan, 
Umar justru menangis ketika tahta dianugerahkan kepadanya. Meski Umar bukan 
berasal dari trah Bani Umayyah, keadilan dan kearifannya selama menjabat 
gubernur telah membuat Khalifah Sulaiman terkesan.
  Maka di akhir hayatnya, Sulaiman dalam surat wasiatnya memilih Umar bin Abdul 
Aziz sebagai penggantinya. Setelah Khalifah Sulaiman tutup usia, Umar dilantik 
sebagai khalifah pada 717 M/99 H. Seluruh umat Islam di kota Damaskus pun 
berkumpul di masjid menantikan pengganti khalifah. Penasihat kerajaan Raja’ bin 
Haiwah pun segera berdiri dan membacakan surat wasiat Khalifah Sulaiman.
  ‘’Bangunlah wahai Umar bin Abdul- Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang 
tertulis dalam surat ini,’’ ungkap Raja’.
  Umar pun terkejut mendengar keputusan itu. Ia pun segera bangkit dan dengan 
rendah hati berkata, ‘’Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan 
kepadaku tanpa bermusyawarah terlebih dulu dan tak pernah aku memintanya. 
Sesungguhnya aku mencabut bai’at yang ada dilehermu dan pilihlah siapa yang 
kalian kehendaki.’’ Umat Islam yang berada di masjid menolak untuk mencabut 
ba’iatnya.
  Semua bersepakat dan meminta Umar untuk menjadi khalifah. Umar pun akhirnya 
menerima ba’iat itu dengan berat hati. Ia menangis karena takut kepada Sang 
Khalik dengan ujian yang diterimanya. Beragam fasilitas dan keistimewaan yang 
biasa dinikmati khalifah ditolaknya. Umar memilih untuk tinggal di rumahnya.
  Meski berat hati menerima jabatan khalifah, Umar menunaikan kewajibannya 
dengan penuh tanggung jawab. Keluarganya mendukung dan selalu mengingatkan Umar 
untuk bekerja keras memakmurkan dan menyejahterakan rakyat. Sang anak, 
Abdul-Malik, tak segan-segan untuk menegur dan mengingatkan ayahnya agar 
bekerja keras memperhatikan negara dan rakyat yang dipimpinnya.
  Selepas diangkat menjadi khalifah, Umar yang kelelahan mengurus pemakaman 
Khalifah Sulaiman berniat untuk tidur. ‘’Apakah yang sedang engkau lakukan 
wahai Amirul Mukminin?’’ ujar Abdul Malik.
  ‘’Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu 
tidak pernah merasakan keletihan seperti ini,’’ jawab Umar. ‘’Lalu apa yang 
akan engkau lakukan ayahanda?’’ tanya sang anak. ‘’Ayah akan tidur sebentar 
hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama 
rakyat,’ ucap Umar.
  Lalu Abdul-Malik berkata, ‘’Wahai ayah, siapa yang menjamin engkau akan masih 
hidup sampai waktu zuhur? Padahal sekarang engkau adalah Amirul Mukminin yang 
bertanggung jawab untuk mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi.’’
  Umar pun segera bangkit dari peraduan sembari berkata, ‘’Segala puji bagi 
Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas 
agamaku.’’
  Umar pun bekerja keras membaktikan dirinya bagi rakyat dan umat. Pada era 
kepemimpinannya, Dinasti Umayyah meraih puncak kejayaan. Sayang, dia hanya 
memimpin dalam waktu sekejap saja, yakni dua tahun.
  Meski bukan berasal dari keturunan Umayyah, darah kepemimpinan memang 
mengalir dalam tubuh Umar bin Abdul Aziz. Ia ternyata masih keturunan dari 
Khalifah Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz terlahir pada tahun 63 H/ 682 di 
Halwan sebuah perkampungan di Mesir. Namun ada pula yang menyebutkan, Umar 
lahir di Madinah.
  Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, Gubernur Mesir dan adik dari Khalifah 
Abdul-Malik. Sedangkan ibunya bernama Ummu Asim binti Asim. Dari Ummu Asim-lah, 
darah Umar bin Khattab mengalir ditubuh Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Khtattab 
meminta anak laki-lakinya Asim untuk menikahi gadis miskin dan jujur. Dari 
hasil pernikahan itu lahirlah seorang anak perempuan bernama Laila atau Ummu 
Asim.
  Ummu Asim lalu menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan dan lahirlah Umar bin 
Abdul-Aziz. Sosok pemimpin Umar bin Abdul Aziz yang adil dan bijaksana sudah 
sempat dilontarkan Umar bin Khattab. Sang khalifah kedua itu sempat bermimpi 
melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang 
cacat karena luka. Pemuda itu kelak akan menjadi pemimpin umat Islam.
  Mimpi itu akhirnya terbukti. Umar bin Abdul Aziz sewaktu kecil wajahnya 
memang sempat tertendang kuda, sehingga bagian keningnya mengalami luka. Umar 
kecil dibesarkan di Madinah. Ia dibimbing sang paman bernama Ibnu Umar, salah 
seorang periwayat hadis terbanyak. Umar tinggal di Madinah hingga sang ayah 
wafat. Umar lalu dipanggil Khalifah Abdul Malik ke Damaskus dan menikah dengan 
anaknya bernama Fatimah.
  Pada 706 H, Umar diangkat menjadi Gubernur Madinah oleh Khalifah Al- Walid. 
Saat memimpin Madinah, Umar sempat memugar dan memperluas bangunan Masjid 
Nabawi. Sejak masa kepemimpinannya, Masjid Nabawi memiliki menara dan kubah.
  Umar tutup usia pada tahun 101 H/720 M. Syahdan, dia meninggal karena 
diracun. Kejujuran, keadilan, kebijaksanaan serta kesederhanaan Umar bin Abdul 
Aziz dalam memimpin rakyat dan umat sudah sepantasnya ditiru oleh para pemimpin 
Muslim.
  Cermin Kesahajaan Sang Khalifah
  Saat Umar II terbaring sakit menjelang kematiannya, para menteri kerajaan 
sempat meminta agar isteri Amirul Mukminin untuk mengganti pakaian sang 
khalifah. Dengan rendah hati puteri Khalifah Abdul Malik berkata, ‘’Cuma itu 
saja pakaian yang dimiliki khalifah.’’ Hal itu begitu kontras dengan keadaan 
rakyatnya yang sejahtera dan kaya raya.
  Khalifah pilihan itu memilih hidup bersahaja. Menjelang akhir hayatnya 
khalifah ditanya, ‘’Wahai Amirul Mukminin, apa yang akan engkau wasiatkan buat 
anakanakmu?’’ Khalifah balik bertanya, ”Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak 
memiliki apa-apa.’’ Umar melanjutkan, ‘’Jika anak-anakku orang shaleh, 
Allah-lah yang mengurusnya.’’
  Lalu khalifah segera memanggil buah hatinya, ‘’Wahai anak-anakku, 
sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama, menjadikan kalian semua 
kaya dan ayah masuk ke dalam neraka. Kedua, kalian miskin seperti sekarang dan 
ayah masuk ke dalam surga. Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih 
surga.’’
  Umar berhasil menyejahterakan rakyat di seluruh wilayah kekuasaan Dinasti 
Umayyah. Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat 
masa itu berkat, ‘’Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat 
ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan kepada orang-orang 
miskin. Namun saya tidak menjumpai seorangpun.
  Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu 
berkecukupan.’’ Abu Ubaid mengisahkan, Khalifah Umar II mengirim surat kepada 
Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak agar membayar semua gaji dan hak rutin di 
provinsi itu. ‘’Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka. Namun di 
Baitul Mal masih banyak uang”. Khalifah Umar memerintahkan. ‘’Carilah orang 
yang dililit utang tetapi tidak boros. Berilah ia uang untuk melunasi 
utangnya.’’
  Abdul Hamid kembali menyurati Kalifah Umar. ‘’Saya sudah membayar utang 
mereka, tetapi di Baitul Mal masih banyak uang.’’ Khalifah memerintah lagi. 
‘’Kalau ada orang lajang yang tidak memiliki harta lalu dia ingin menikah, 
nikahkan dia dan bayarlah maharnya.’’
  Abdul Hamid sekali lagi menyurati Khalifah, ‘’Saya sudah menikahkan semua 
yang ingin nikah. Namun, di Baitul Mal ternyata masih banyak uang.’’ Adakah 
pemimpin seperti itu saat ini?
  Pembaruan di Masa Khalifah Umar II 
  Masa kepemimpinannya tak berlangsung lama, namun kejayaan Dinasti Umayyah 
justru tercapai pada era Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Setelah membersihkan 
harta kekayaan tak wajar di kalangan pejabat dan keluarga bani Umayyah, 
Khalifah Umar melakukan reformasi dan pembaruan di berbagai bidang.
  Di bidang fiskal, misalnya, Umar memangkas pajak dari orang Nasrani. Tak cuma 
itu, ia juga menghentikan pungutan pajak dari mualaf. Kebijakannya itu telah 
mendongkrak simpati dari kalangan non-Muslim. Sejak kebijakan itu bergulir, 
orangorang non-Muslim pun berbondongbondong memeluk agama Islam.
  Khalifah Umar II pun menggunakan kas negara untuk memakmurkan dan 
menyejahterakan rakyatnya. Berbagai fasilitas dan pelayanan publik dibangun dan 
diperbaiki. Sektor pertanian terus dikembangkan melalui perbaikan lahan dan 
saluran irigasi. Sumursumur baru terus digali untuk memenuhi kebutuhan 
masyarakat akan air bersih. Jalan-jalan di kota Damascus dan sekitarnya 
dibangun dan dikembangkan.
  Untuk memuliakan tamu dan para musafir yang singgah di Damscus, khalifah 
membangun penginapan. Sarana ibadah seperti masjid diperbanyak dan diperindah. 
Masyarakat yang sakit disediakan pengobatan gratis. Khalifah Umar II pun 
memperbaiki pelayanan di dinas pos, sehingga aktivitas korespondesi berlangsung 
lancar.
  Begitu dekatnya Khalifah Umar II dihati rakyat membuat kondisi keamanan 
semakin kondusif. Kelompok Khawarij dan Syiah yang di era sebelumnya kerap 
memberontak berubah menjadi lunak. Umar II tak menghadapi perbedaan dengan 
senjata dan perang, melainkan mengajak kubu yang berbeda pendapat itu melalui 
diskusi.
  Pendekatan persuasif itu berhasil. Golongan Khawarij dan Syiah ternyata taat 
pada penguasa dan tak menghentikan pemberontakan. Sebagai pemimpin rakyat dan 
umat, Umar II melarang masyarakatnya untuk mencaci atau menghujat Ali bin Abi 
Thalib dalam khutbah atau pidato. Kebijakan itu mengundang simpati kaum Syiah.
  Hal itu begitu kontras bila dibandingkan dengan khalifah sebelumnya yang 
selalu menghujat imam kaum Syiah. Khalifah terdahulu menerapkan kebijakan itu 
untuk menjauhkan rakyatnya dari pengaruh Syiah. Khalifah Umar II telah berhasil 
mendamaikan perseteruan antara Syiah dan Sunni - sesuatu yang boleh dibilang 
hampir mustahil tercapai.
  Di wilayah-wilayah yang ditaklukkan, Khalifah Umar juga mengubah kebijakan. 
Ia mengganti peperangan dengan gerakan dakwah Islam. Strategi itu ternyata 
benarbenar jitu. Pendekatan persuasif itu mengundang simpati dari pemeluk agama 
lain. Secara sadar dan ikhlas mereka berbondong-bondong memilih Islam sebagai 
agama terbaik.
  Raja Sind amat terkagum-kagum dengan kebijakan itu. Ia pun mengucapkan dua 
kalimah syahadat dan diikuti rakyatnya. Masyarakat yang tetap menganut agama 
non-Islam tetap dilindungi namun dikenakan pajak yang tak memberatkan. 
  (heri ruslan ) 


  http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=331598&kat_id=177
   
  ...............................................
   


"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 
  kampusku 
  Blogku




       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke