E F F I E S U L I S T J O W A T I
Dulu Kapten Tim Basket, Kini Pemberantas Pelacuran


Seorang diri membubarkan kawanan PSK yang dijaga preman terdengar nekat
sekali...
Saya memang nekat. Saya merasa harus begitu. Apalagi, saya pengurus
Departemen Hukum Dewan Kehormatan Masjid Seluruh Indonesia.

Saya amat sangat tersinggung. Saya kesal Ramadhan dikotori, masjid dikotori
dengan keberadaan PSK. Preman pun akan saya hadapi demi mengikis
kemaksiatan.

Saya bukan cari-cari perkara. Masalahnya sudah ada sejak 27 tahun silam
tetapi dibiarkan lestari. Sawah Lama adalah kawasan pelacuran terbesar di
Tangerang. Ini tempat orang membuang bayi hasil hubungan gelap. Juga lokasi
perdagangan bayi. Kisaran harganya Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta. Saya
pikir mungkin ada yang sengaja membuat Sawah Lama terus rawan. Entah siapa
yang memetik keuntungan di balik bisnis miras, narkoba, dan pelacuran.

Anda betul-betul berani berhadapan dengan preman?
Ya, kenapa tidak? Mereka yang membela kemaksiatan saja berani mati. Apalagi,
saya yang menentang kemaksiatan. Kalau sampai mati, kematian saya berarti
syahid. Jadi, saya tidak akan mundur selangkah pun. Sudah berulang kali para
preman mengintimidasi, mengancam akan membunuh saya. Itu sering mereka
sebarkan saat ibu-ibu berangkat mengikuti majelis taklim.

Bagaimana cara Anda mematahkan serangan lisan para preman?
Saya marah-marah sambil nangis. Perempuan kan biasanya begitu, habis
menangis bisa jadi lebih kuat. Tangisan saya bukan berarti takut. Ini tanda
saya emosi. Saya bicara langsung ke permasalahan saja. Mereka menganggap
saya cuma pendatang yang mengusik pribumi. Saya bilang, ''Kalau pribumi
kenapa lempar kotoran di kampung sendiri dan saya jadi repot
membersihkannya? Orang geblek saja yang begitu!''

Bagaimana reaksi orang di sekitar Anda terhadap perjuangan Anda memberantas
kemaksiatan di Sawah Lama?
Saya sering merasa sendirian. Banyak orang yang bilang saya konyol, naif,
dan membicarakan hal yang klise. Banyak yang apriori dan melihat saya
sebagai ancaman. Saya hanya perempuan yang ingin daerah ini menjadi daerah
yang lebih baik. Hanya, untuk bergerak saya tidak mendapat bantuan dari
siapa pun. Tidak dari tokoh masyarakat, aparat pemerintahan, apalagi penegak
hukum. Dari situ, saya belajar untuk tidak bergantung pada siapa pun kecuali
Allah SWT.

Peristiwa apa yang paling Anda kenang sepanjang perjuangan menumpas
kemaksiatan di Sawah Lama?
Saya pernah merasa hancur, terhina, dan tersisih akibat difitnah. Itu
terjadi setelah saya menanggapi curhat ketua RT yang merasa terganggu dengan
aktivitas PSK di sebuah rumah kontrakan. Germo dan preman menyebar kabar
saya telah memborgol, menelanjangi, dan mengguyur 20 PSK di Pendopo Griya
Pinaringan Gusti.

Padahal, warga banyak yang menyaksikan PSK tersebut meninggalkan lokasi
pelacuran atas kemauan sendiri. Saya hanya menawarkan pilihan, mau pulang
kampung atau tetap melacur. Usai mereka mandi junub, saya pinjamkan mukena
untuk shalat tobat. Mereka saya beri ongkos transpor lantas diantar ke
terminal dengan mobil operasional Al-Furqonul Hakim. Saya tak pantau lagi
setelah itu.

Sementara itu berlangsung, seluruh penjuru rumah saya berada dalam kepungan
preman. Mereka berencana menghadang mobil operasional yang mengantar pulang
para PSK tadi. Anehnya, mobil yang mereka incar justru dibiarkan berlalu.
Sopir yang ditugasi mengantar sampai keheranan mendapati preman tak mengusik
mobil yang melaju pelan di hadapan mereka. Para preman yang bersiaga kok
malah tak bisa melihat sasarannya. Subhanallah. Begitu suasana makin
genting, Allah SWT memberi pertolongan lewat kehadiran temanteman Front
Pembela Islam. Saya menghindari bentrok fisik. Tetangga tidak sesiap saya
untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

Berhasilkah upaya Anda?
Ada juga yang kemudian beralih profesi. Beberapa di antaranya karena lebih
pandai melakukan tugas penjagaan kami rekrut sebagai pegawai, menjaga tanah
kami. Salah seorang dari mereka ada yang pintar membuat keramik.

Saya tengah mengumpulkan dana untuk membeli mesin untuk mendirikan pabrik
keramik. Saya ingin nantinya Sawah Lama menjadi sentra keramik. Tetapi,
preman yang menolak ajakan saya dan kemudian melawan jauh lebih banyak.
Mereka pernah menyambit rumah dan mobil kami. Preman bahkan tega menganiaya
penjaga rumah kami.

Bagaimana dengan para pelacurnya?
Rupanya, lebih banyak yang melakukan pelacuran atas kemauan sendiri. Meski
sudah saya tawari gaji Rp 200 ribu sehari, uang yang melampaui penghasilan
rataratanya, dia tetap menolak berhenti melacur.

Suami tak khawatir dengan kenekatan Anda?
Tentu khawatir. Seperti ketika mengejar PSK yang mangkal di Masjid Tegal
Rotan, jauh di belakang, saya lihat suami saya, Suharto Pujo Nugroho,
terengah mengejar saya. Beliau pantas khawatir. Terlebih, itu malam hari,
saya sendirian masuk ke kebun pisang, dan ada preman pengawal PSK yang
garang balik memaki saya.

Tak mudah memang punya istri yang emosional, keras, banyak polah, dan banyak
hasrat seperti saya. Tetapi, kami tim yang kompak melengkapi. Saya tipe
fighter dan suami tipe konsultan. Beliau penasihat hukum merangkap
pengacara. Dialah panglima buat saya. Dana dari suamilah yang saya pakai
untuk membiayai segala keperluan dakwah. Alhamdulillah, kami tidak pernah
kekurangan. Hidup kami makin nyaman.

Mengapa tidak tinggal di kawasan elite saja?
Tadinya, kami tinggal di Sektor 6 Bintaro Jaya. Tetapi, saya gerah tinggal
di sana. Tidak ada yang datang ke pengajian. Apalagi kalau tinggal di Pondok
Indah. Saya bisa mati berdiri. Tidak kenal (tetangga) kiri-kanan. Sedekah
juga menjadi hal yang sukar untuk dilakukan jika terus tinggal di sana. Saya
bahagia jika bisa berbuat untuk orang lain. Saya berdoa agar jangan dibuat
fakir demi pemenuhan iktikad ini. Begitu pindah ke Sawah Lama, banyak hal
yang bisa saya perbuat.

Saya dan suami sering berjalan kaki, naik angkot, atau naik motor menyusuri
satu gang ke gang lainnya. Kami menyerap banyak hal yang tidak bakal kami
dapatkan jika terus naik mobil. Saya jadi tahu apa yang harus saya perbuat
untuk kesejahteraan masyarakat sekitar. Saya aktif menjadi penyuluh
kebersihan dan kesehatan lingkungan. Pembangunan kakus juga saya bantu
dananya. Saat itu, saya lihat banyak 'helikopter' (tinja, red) hanyut di
saluran air.

Untuk memperbaiki pemahaman agama ibu-ibu setempat, saya, suami, dan teman
mendirikan Majelis Ibadah dan Dakwah Al- Furqonul Hakim. Majelis taklimnya
kini beranggotakan 3.000 orang. Ada Taman Baca Alquran gratis juga. Lima
puluh anak yang pertama mendaftar kami beri bingkisan.

Kami berusaha agar tiap jengkal rumah yang berdiri di lahan seluas 1.400
meter persegi ini bisa bermanfaat bagi umat. Untuk itulah kami bangun
Pendopo Griya Pinaringan Gusti, rumah pemberian dari Allah SWT, sebagai
sarana ibadah dan dakwah. Sebagian besar areanya ditujukan untuk ruang
publik.

Anda tak khawatir dengan keselamatan anak-anak?
Tentu khawatir. Tetapi, itu risiko perjuangan. Anak-anak tak bebas bermain
di luar rumah. Jofiando Rizki Ramadhan (10 tahun), Jofindra Zufarizal Daffa
(8), Jofinka Putri Bandini (7), dan Mohammad Satria Ramadha (1,5) selalu
dikawal. Sekolah pun dikawal. Mereka kadang protes. Tetapi, saya beri
pengertian betapa di luar sana banyak orang jahat yang tak suka pada
keluarga kami. Anak-anak saya beri fasilitas main dan saya ajak untuk
mensyukuri apa yang ada. Mereka bisa mengerti.

'Saya Pedagang yang Andal'

Effie ya>lan Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), senang berdebat.
Itu pula yang mendukung kariernya sebagai pengacara. Tetapi, di tahun 1998,
Effie mengalami perang batin. Ia merasa bidang hukum bukan dunianya.
Terlebih, banyak hal yang kontradiktif berkecamuk di dalam hatinya.

Effie lantas merenungkan kembali hasratnya untuk bekerja. Ia pun merumuskan
apa yang ia inginkan. ''Saya maunya bekerja yang dapat memberikan
penghasilan dan kesenangan,'' ujar Effie.

Hobi lama kemudian kembali dilakoni Effie, berdagang. Dengan berdagang, ia
bisa travelling, belanja apa saja, dan kemudian mendapatkan untung dengan
menjualnya kembali. Bertahun-tahun mengikuti Inacraft, ia selalu pulang
membawa trofi.

Di Inacraft 2008, setelah dua tahun absen berbisnis, Effie mengantongi lebih
dari Rp 30 juta di tiap hari pameran. Barang yang ia tawarkan harganya
bervariasi, mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 300 ribuan. ''Saya trader yang
andal,'' kata pemilik Jo&Jo Aroma Therapy, Home Spa, and Art Product ini.

*Gimana? masih kalah sama ibu-ibu? nggak berani juga sama preman?*

source : republika online (
http://202.155.15.208/kolom_detail.asp?id=334393&kat_id=85 )


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke