Pengkafiran Wahhaby (1); Muhamad bin Abdul Wahhab Menganggap Para Ulama Musyrik
Ditulis pada AprilebTue, 01 Apr 2008 19:18:09 +0000upmTue, 01 Apr 2008 19:18:09 
+000018 11, 2007 oleh Salafy 
http://salafyindonesia.wordpress.com/2008/04/01/pengkafiran-wahhaby-1-muhamad-bin-abdul-wahhab-menganggap-para-ulama-musyrik/#comment-3512


Kali ini, kita akan menjadikan buku karya Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim 
al-Hambali an-Najdi yang berjudul "Ad-Durar as-Saniyah" sebagai rujukan kita. 
Dalam kitab tersebut, penulis menjelaskan beberapa redaksi langsung dari Ibnu 
Abdul Wahhab yang dengan jelas dan gamblang membuktikan bahwa Muhammad bin 
Abdul Wahhab telah mengkafirkan banyak dari kaum muslimin, yang tidak sepaham 
dengan pemikirannya.




  Bukti Lain Pengkafiran Wahhaby;
  Muhamad bin Abdul Wahhab Menganggap Para Ulama Musyrik (1)
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sekte Wahabi adalah sekte yang memiliki 
kekhususan tersendiri dari kelompok muslim lain, yaitu pengkafiran. Setelah 
kita mengetahui beberapa bukti pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap 
para ulama, kelompok dan masyarakat muslim selain pengikut sektenya, kini kita 
akan melihat kembali beberapa teks yang dapat menjadi bukti atas pengkafiran 
tersebut. Kali ini, kita akan menjadikan buku karya Abdurrahman bin Muhammad 
bin Qosim al-Hambali an-Najdi yang berjudul "Ad-Durar as-Saniyah" sebagai 
rujukan kita. Dalam kitab tersebut, penulis menjelaskan beberapa redaksi 
langsung dari Ibnu Abdul Wahhab yang dengan jelas dan gamblang membuktikan 
bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah mengkafirkan banyak dari kaum muslimin, 
yang tidak sepaham dengan pemikirannya.

Kita akan mengambil beberapa contoh yang dinukil dari kitab di atas dan sedikit 
memberikan komentar sesuai dengan apa yang dinukil oleh penulis;

1- Muhamad bin Abdul Wahhab Mengaku Pemilik Ajaran Tauhid Sejati

Ternyata fenomena mengaku-ngaku sebagai satu-satunya pemilik ajaran Tauhid para 
pengikut sekte Wahhaby itu bermula dari pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab. 
Dengan begitu akhirnya mereka tidak menganggap konsep Tauhid yang dipahami oleh 
ulama muslimin lain (Ahlusunnah), karena sikap keras kepala dan merasa paling 
benar sendiri. 

Kali ini, kita akan lihat ungkapan Muhammad bin Abdul Wahab berkaitan dengan 
dakwaannya atas monopoli kebenaran konsep Tauhid versinya, dan mengaggap selain 
apa yang dipahami sebagai kebatilamn yang harus diperangi:
".Dahulu, aku tidak memahami arti dari ungkapan Laailaaha Illallah. Kala itu, 
aku juga tidak memahami apa itu agama Islam. (Semua itu) sebelum datangnya 
anugerah kebaikan yang Allah berikan (kepadaku). Begitu pula para guru(ku), 
tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya. Atasa dasar itu, setiap ulama 
"'al-Aridh'" yang mengaku memahami arti Laailaaha Illallah atau mengerti makna 
agama Islam sebelum masa ini (anugerah kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, red) 
atau ada yang mengaku bahwa guru-gurunya mengetahu hal tersebut maka ia telah 
melakukan kebohongan dan penipuan. Ia telah mengecoh masyarakat dan memuji diri 
sendiri yang tidak layak bagi dirinya." (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 
halaman 51 )

Dari ungkapan di atas telah jelas bagaimana Muhammad bin Abdul Wahhab telah 
melakukan:
a- Mengaku hanya dirinya (monopoli) selama ini yang paham konsep Tauhid dari 
kalimat Laailaaha Illallah dan telah mengenal Islam dengan sempurna.
b- Menafikan pemahaman ulama dari golongan manapun berkaitan dengan konsep 
Tauhid dan pengenalan terhadap Islam, termasuk guru-gurunya sendiri dari mazhab 
Hambali. Apalagi dari mazhab lain.
c- Menuduh para ulama lain yang -versinya- tidak memahami konsep Tauhid dan 
Islam telah melakukan penyebaran ajaran batil, ajaran yang tidak berlandaskan 
ilmu dan kebenaran.
d- Hanya dirinya yang mendapat anugerah khusus Ilahi itu. Dan dirinya pulalah 
yang berhak mendapat pujian, baik di dunia maupun di akherat. Karena tentu 
kebatilan -versinya- mustahil akan menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan 
sejati di akherat.
Dari ungkapan Syeikh Wahhabi itu maka janga heran jika para pengikutnya pun 
hingga saat ini terus men-talqin-kan diri mereka telah selamat dari kesesatan 
pemahaman ulama-ulama yang tidak memahami konsep Tauhid -sebagai landasan utama 
agama Islam- dan segala hal yang berhubungan dengan pemahaman agama Islam. Dari 
sinilah pengkafiran kelompok Wahhaby dan monopoli kebenaran muncul di benak 
kaum Wahaby.

Dari situ maka jangan heran jika pelecehan terhadap para ulama Islam pun mulai 
gencar ia lakukan. Sebagai contoh apa yang telah disebutkannya:
"Mereka (ulama Islam) tidak bisa membedakan antara agama Muhammad dan agama 
'Amr bin Lahyi yang dibuat untuk diikuti orang Arab. Bahkan menurut mereka, 
agama 'Amr adalah agama yang benar." (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 
halaman 51) 

Siapakah gerangan 'Amr bin Lahyi itu? Dalam kitab sejarah karya Ibnu Hisyam 
disebutkan bahwa; "ia adalah pribadi yang pertama kali pembawa ajaran penyembah 
berhala ke Makkah dan sekitarnya. Dulu ia pernah bepergian ke Syam. Di sana ia 
melihat masyarakat Syam menyembah berhala. Melihat hal itu ia bertanya dan 
lantas dijawab: "berhala-berhala inilah yang kami sembah. Setiap kali kami 
menginginkan hujan dan pertolongan maka merekalah yang menganugerahkannya 
kepada kami, dan memberi kami perlindungan". Lantas Amr bin Lahy berkata kepada 
mereka: "Apakah kalian tidak berkenan memberikan patung-patung itu kepada kami 
sehingga kami bawa ke tanah Arab untuk kami sembah?". Kemudian ia mengambil 
patung terbesar yang bernama Hubal untuk dibawa ke kota Makkah yang kemudian 
diletakkan di atas Ka'bah. Lantas ia menyeru masyarakat sekitar untuk 
menyembahnya" (Lihat: as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam jilid 1 halaman 
79)

Jadi muhammad bin Abdul Wahhab telah melakukan:
a- Menyamakan para ulama Islam dengan 'Amr bin Lahy pembawa ajaran syirik.
b- Menuduh para ulama mengajarkan ajaran syirik.
c- Menuduh para pengikut ulama Islam sebagai penyembah berhala yang dibawa oleh 
ulama-ulama Islam itu.

Dari sini jelas sekali bahwa pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap 
para ulama dan kaum muslimin sangatlah nampak sekali sebagaimana matahari di 
siang bolong. Ia telah menvonis bahwa, siapapun yang memahami ajaran Tauhid 
ataupun pemahaman Islam yang berbeda dengan apa yang di otaknya maka ia masih 
tergolong sesat karena tidak mendapat anugerah khusus Ilahi. Ajaran itu 
dipastikan sama dengan ajaran syirik nan sesat sebagaimana ajaran 'Amr bin 
Lahy, pembawa berhala ke kota Makkah. Itu karena, para ulama Islam meyakini 
legalitas ajaran seperti Tabarruk, Tawassul.dsb.

Jangankan terhadap orang yang berlainan mazhab -konon Muhammad bin Abdul Wahhab 
yang mengaku sebagai penghidup ajaran dan metode (manhaj) Imam Ahmad bin Hambal 
sesuai dengan pemahaman Ibnu Taimiyah- dengan sesama mazhabpun turut 
disesatkan. Bagaimana ia tega mengkafirkan orang yang se-manhaj dengannya? Jika 
rasa persaudaraan terhadap orang yang se-manhaj saja telah sirna, lantas 
bagaimana mungkin ia memiliki jiwa persaudaraan dengan pengikut manhaj lain 
yang di luar manhaj-nya? Niscaya pengkafirannya akan menjadi-jadi dan lebih 
menggila. Kita akan melihat beberapa contoh dari penyesatan pribadi-pribadi 
tersebut.

----------------------------

  Bukti Lain Pengkafiran Wahhaby;
  Muhammad bin Abdul Wahhab dan Pengkafiran beberapa Tokoh

Setelah secara global kita mengetahui beberapa teks ibnu Abdul Wahhab yang 
membuktikan pengkafirannya terhadap para ulama dan menvonisnya sebagai pelaku 
syirik. Di sini, pada kesempatan kali ini, kita akan melihat teks-teks lain 
berkaitan dengan pengkafirannya terhadap para ulama dengan tidak segan-segan 
lagi menggunakan kata-kata 'KAFIR' dalam penvonisan. 

2- Muhammad bin Abdul Wahhab Mengkafirkan Beberapa Tokoh Ulama

Di sini, kita akan mengemukakan beberapa pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab 
terhadap beberapa tokoh ulama Ahlusunah yang tidak sejalan dengan pemikiran 
sektenya:
a- Dalam sebuah surat yang dilayangkan kepada Syeikh Sulaiman bin Sahim yang 
seorang tokoh mazhab Hambali di zamannya. Ia menuliskan: "Aku mengingatkan 
kepadamu bahwa engkau bersama ayahmu telah dengan jelas melakukan perbuatan 
kekafiran, syirik dan kemunafikan!.engkau bersama ayahmu siang dan malam sekuat 
tenagamu telah berbuat permusuhan terhadap agama ini!.engkau adalah seorang 
penentang yang sesat di atas keilmuan. Dengan sengaja melakukan kekafiran 
terhadap Islam. Kitab kalian itu menjadi bukti kekafiran kalian!" (Lihat: 
Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 31)
b- Dalam surat yang dilayangan kepada Ahmad bin Abdul Karim yang getol 
mengkritisinya, ia menuliskan: "Engkau telah menyesatkan Ibnu Ghonam dan 
beberapa orang lainnya. Engkau telah lepas dari millah (ajaran) Ibrahim. Mereka 
menjadi saksi atas dirimu bahwa engkau tergolong pengikut kaum musyrik" (Lihat: 
Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 64)
c- Dalam sebuah surat yang dilayangkannya untuk Ibnu Isa yang telah melakukan 
argumentasi teradap pemikirannya, Muhamad bin Abdul Wahhab lantas memvonis 
sesat para pakar fikih (fuqoha') secara keseluruhan. Ia menyatakan: "(Firman 
Allah); "Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai 
Tuhan selain Allah". Rasul dan para imam setelahnya telah mengartikannya 
sebagai 'Fikih' dan itu yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai perbuatan 
syirik. Mempelajari hal tadi masuk kategori menuhankan hal-hal lain selain 
Allah. Aku tidak melihat terdapat perbedaan pendapat para ahli tafsir dalam 
masalah ini." (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 2 halaman 59)
d- Berkaitan dengan Fakrur Razi -pengarang kitab Tafsir al-Kabir- yang 
bermazhab Syafi'i Asy'ary, ia mengatakan: "Sesungguhnya Razi tersebut telah 
mengarang sebuah kitab yang membenarkan para penyembah bintang" (Lihat: 
Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 355). Betapa kebodohan Muhammad bin Abdul 
Wahhab terhadap karya Fakhrur Razi. Padahal dalam karya tersebut, Fakhrur Razi 
menjelaskan tentang beberapa hal yang menjelaskan tentang fungsi gugusan 
bintang dalam kaitannya dengan fenomena yang berada di bumi, termasuk beraitan 
dengan bidang pertanian. Namun Muhamad bin Abdul Wahhab dengan keterbatasan 
ilmu dan kebodohannya terhadap ilmu perbintangan telah menvonisnya dengan 
julukan yang tidak layak, tanpa didasari ilmu yang cukup.

Silahkan para pembaca yang budiman menilai sendiri ungkapan-ungkapan 
pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab di atas. Lantas apakah layak ia disebut 
ulama pewaris akhlak dan ilmu Nabi, apalagi pembaharu (mujaddid) sebagaimana 
yang diakui oleh kaum Wahhaby? Dari berbagai pernyataan di atas maka jangan 
kita heran jika lantas Muhammad bin Abdul Wahhab pun mengkafirkan -yang lantas 
diikuti oleh para pengikutnya (Wahhaby)- para pakar teologi (mutakallimin) 
Ahlusunnah secara keseluruhan (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 53), 
bahkan ia mengaku-ngaku bahwa kesesatan para pakar teologi tadi merupakan 
konsensus (ijma') para ulama dengan mencatut nama para ulama seperti 
adz-Dzahabi, Imam Daruquthni dan al-Baihaqi. Padahal jika seseorang meneliti 
apa yang ditulis oleh seorang seperti adz-Dzahabi -yang konon kata Ibnu Abdul 
Wahhab juga mengkafirkan para teolog- dalam kitab "Siar A'lam an-Nubala'" 
dimana beliau banyak menjelaskan dan memperkenalkan beberapa tokoh teolog, 
tanpa terdapat ungkapan pengkafiran dan penyesatan. Walaupun kalaulah terdapat 
beberapa teolog yang menyimpang namun tentu bukan hal yang bijak jika hal itu 
digeneralisir. Dan yang perlu digarisbawahi adalah, jelas sekali, jika kita 
teliti dari konteks yang terdapat dalam ungkapan Muhammad bin Abdul Wahhab, 
yang ia maksud bukanlah para teolog non musim atau yang menyimpang saja, tetapi 
semua para teolog muslim seperti Abul Hasan al-Asy'ari -pendiri mazhab 
'Asy'ariyah- dan selainnya sekalipun. 

Jangankan terhadap orang yang berlainan mazhab -konon Muhammad bin Abdul Wahhab 
yang mengaku sebagai penghidup ajaran dan metode (manhaj) Imam Ahmad bin Hambal 
sesuai dengan pemahaman Ibnu Taimiyah- dengan sesama mazhabpun turut 
disesatkan. Kita akan melihat contoh dari penyesatan pribadi-pribadi tersebut:
"Adapun Ibnu Abdul Lathif, Ibnu 'Afaliq dan Ibnu Mutlaq adalah orang-orang yang 
pencela ajaran Tauhid.namun Ibnu Fairuz dari semuanya lebih dekat dengan Islam" 
(Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 78). Apa makna lebih dekat? 
Berarti mereka bukan Islam (baca: kafir) dan di luar Islam namun mendekati 
ajaran Islam. Padahal Muhammad bin Abdul Wahhab juga mengakui bahwa Ibnu Fairuz 
adalah pengikut dari mazhab Hambali, penjunjung ajaran Ibnu Taimiyah dan Ibnu 
Qoyyim al-Jauziyah. Bahkan di tempat lain, Muhammad Abul Wahhab berkaitan 
dengan Ibnu Fairuz mengatakan: "Dia telah kafir dengan kekafiran yang besar dan 
telah keluar dari millah (agama Islam)" (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 
halaman 63)

Bagaimana ia tega mengkafirkan orang yang se-manhaj dengannya? Jika rasa 
persaudaraan terhadap orang yang se-manhaj saja telah sirna, lantas bagaimana 
mungkin ia memiliki jiwa persaudaraan dengan pengikut manhaj lain yang di luar 
manhajnya? Niscaya pengkafirannya akan menjadi-jadi dan lebih menggila. 

Kita akan kembali melihat apa yang diungkapkannya kepada pengikut ajaran lain. 
Jika para ulama pakar fikih (faqoha') dan ahli teologi (mutakklim) telah 
disesatkan atas dasar kebodohannya dan kebohongannya dengan mencatut tanpa 
bukti nama para ulama lainnya -seperti pada kasus di atas- maka jangan heran 
pula jika pakar ilmu mistik modern (baca: tasawwuf falsafi) seperti Ibnu Arabi 
pun dikafirkan sekafir-kafirnya. Bahkan dinyatakan bahwa kekafiran Ibnu Arabi 
yang bermazhab Maliki itu dinyatakan lebih kafir dari Fir'aun. Bahkan bukan 
hanya sebatas pengkafiran dirinya terhadap pribadi Ibnu Arabi saja, tetapi Ibnu 
Abdul Wahhab telah memerintahkan (baca: mewajibkan) orang lain untuk 
mengkafirkannya juga. Dia menyatakan: "Barangsiapa yang tidak mengkafirkannya 
(Ibnu Arabi) maka iapun tergolong orang yang kafir pula". Dan bukan hanya orang 
yang tidak mau mengkafirkan yang divonis Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai 
orang kafir, bahkan yang ragu dalam kekafiran Ibnu Arabi pun divonisnya sebagai 
orang kafir. Ia mengatakan: "Barangsiapa yang meragukan kekafirannya (Ibnu 
Arabi) maka ia tergolong kafir juga". (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 
halaman 25)

Kini, kita akan melihat satu contoh saja, berkaitan dengan pengkafiran Syiah, 
mazhab Islam di luar Ahlusunnah. Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi pernah 
menyatakan: "Barangsiapa yang meragukan kekafiran mereka maka iapun tergolong 
orang kafir" (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 369). Muhammad bin 
Abdul Wahhab 'mengaku' bahwa ungkapan ini berasal dari al-Muqoddasi yang 
diterima oleh pemikirannya. Padahal Ibnu Taimiyah yang juga tidak suka terhadap 
Syiah -dilihat dari berbegai buku karyanya- tidak pernah sampai mengeluarkan 
Syiah dari Islam (pengkafiran), paling maksimal ia telah menvonis Syiah sebagai 
ahli Bid'ah saja. Atas dasar pengkafiran itulah maka jangan heran jika para 
pengikut Wahhaby hingga hari ini sangat menentang segala usaha untuk persatuan 
antara mazhab-mazhab Islam, terkhusus persatuan Sunni-Syiah. Bahkan mencela 
ulama-ulama Ahlusunnah -apalagi ulama Syiah- yang melakukan usaha tersebut.

Jadi jelaslah dari sini, jangankan Syiah -yang di luar Ahlusunnah- ataupun 
Tasawwuf, para ulama pakar teologi dan fikih dari Ahlusunnah pun ia kafirkan. 
Dan jangankan para ulama Ahlusunnah dari empat mazhab -Hanafi, Maliki, Syafi'i 
dan Hambali- yang ada, terhadap sesama penghidup ajaran Ibnu Taimiyah pun 
divonisnya sebagai kafir. Lantas, para pembaca yang budiman, silahkan anda 
nilai, mungkinkan ajaran sekte pengkafiran semacam ini akan bisa tersebar 
dengan 'baik' sehingga dapat menelorkan ketentraman, apalagi di bumi Indonesia 
yang menjunjung tinggi tenggang rasa dan jiwa gotong royong? Hanya di tanah 
Arab badui saja, ajaran ini bisa hidup, karena kekakuan ajaranya. Mungkinkan 
sekte pengkafiran ini mampu mewakili sebagai ajaran suci Rasul yang dinyatakan 
sebagai "Rahmatan lil Alaminin"? 

Bersambung.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke