Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok
Al-Quran<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/Sejarah_Turunnya_dan_Tujuan_Pokok_Al_Quran.html>

Agama Islam, agama yang kita anut dan dianut oleh ratusan juta kaum Muslim
di seluruh dunia, merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup
pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi utama yang
esensial: berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Allah
berfirman, Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk menuju jalan yang
sebaik-baiknya (QS, 17:9).

Al-Quran memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syariah, dan
akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsip mengenai
persoalan-persoalan tersebut; dan Allah SWT menugaskan Rasul saw., untuk
memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu: Kami telah
turunkan kepadamu Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu terangkan kepada manusia
apa-apa yang diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir (QS 16:44).

Disamping keterangan yang diberikan oleh Rasulullah saw., Allah
memerintahkan pula kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan dan
mempelajari Al-Quran: Tidaklah mereka memperhatikan isi Al-Quran, bahkan
ataukah hati mereka tertutup (QS 47:24).

Mempelajari Al-Quran adalah kewajiban. Berikut ini beberapa prinsip dasar
untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan Al-Quran dengan ilmu
pengetahuan. Atau, dengan kata lain, mengenai "memahami Al-Quran dalam
Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan."( Persoalan ini sangat penting,
terutama pada masa-masa sekarang ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan
demikian pesat dan meliputi seluruh aspek kehidupan.

Kekaburan mengenai hal ini dapat menimbulkan ekses-ekses yang mempengaruhi
perkembangan pemikiran kita dewasa ini dan generasi-generasi yang akan
datang. Dalam bukunya, Science and the Modern World, A.N. Whitehead menulis:
"Bila kita menyadari betapa pentingnya agama bagi manusia dan betapa
pentingnya ilmu pengetahuan, maka tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa
sejarah kita yang akan datang bergantung pada putusan generasi sekarang
mengenai hubungan antara
keduanya."6<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/Sejarah_Turunnya_dan_Tujuan_Pokok_Al_Quran.html#6>

Tulisan Whithead ini berdasarkan apa yang terjadi di Eropa pada abad ke-18,
yang ketika itu, gereja/pendeta di satu pihak dan para ilmuwan di pihak
lain, tidak dapat mencapai kata sepakat tentang hubungan antara Kitab Suci
dan ilmu pengetahuan; tetapi agama yang dimaksudkannya dapat mencakup
segenap keyakinan yang dianut manusia.

Demikian pula halnya bagi umat Islam, pengertian kita terhadap hubungan
antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan akan memberi pengaruh yang tidak kecil
terhadap perkembangan agama dan sejarah perkembangan manusia pada
generasi-generasi yang akan datang.
Periode Turunnya Al-Quran

Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 114 surah dan susunannya ditentukan oleh
Allah SWT. dengan cara tawqifi, tidak menggunakan metode sebagaimana
metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas
satu masalah, selalu menggunakan satu metode tertentu dan dibagi dalam
bab-bab dan pasal-pasal. Metode ini tidak terdapat di dalam Al-Quran
Al-Karim, yang di dalamnya banyak persoalan induk silih-berganti
diterangkan.

Persoalan akidah terkadang bergandengan dengan persoalan hukum dan kritik;
sejarah umat-umat yang lalu disatukan dengan nasihat, ultimatum, dorongan
atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta. Terkadang pula,
ada suatu persoalan atau hukum yang sedang diterangkan tiba-tiba timbul
persoalan lain yang pada pandangan pertama tidak ada hubungan antara satu
dengan yang lainnya. Misalnya, apa yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat
216-221, yang mengatur hukum perang dalam asyhur al-hurum berurutan dengan
hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim, dan perkawinan dengan
orang-orang musyrik.

Yang demikian itu dimaksudkan agar memberikan kesan bahwa ajaran-ajaran
Al-Quran dan hukum-hukum yang tercakup didalamnya merupakan satu kesatuan
yang harus ditaati oleh penganut-penganutnya secara keseluruhan tanpa ada
pemisahan antara satu dengan yang lainnya. Dalam menerangkan masalah-masalah
filsafat dan metafisika, Al-Quran tidak menggunakan istilah filsafat dan
logika. Juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Yang
demikian ini membuktikan bahwa Al-Quran tidak dapat dipersamakan dengan
kitab-kitab yang dikenal manusia.

Tujuan Al-Quran juga berbeda dengan tujuan kitab-kitab ilmiah. Untuk
memahaminya, terlebih dahulu harus diketahui periode turunnya Al-Quran.
Dengan mengetahui periode-periode tersebut, tujuan-tujuan Al-Quran akan
lebih jelas.

Para ulama 'Ulum Al-Quran membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam dua
periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah.
Ayat-ayat yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan
ayat-ayat yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah.
Tetapi, di sini, akan dibagi sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode,
meskipun pada hakikatnya periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut
adalah kumpulan dari ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat
Madaniyyah. Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok
Al-Quran.
Periode Pertama

Diketahui bahwa Muhammad saw., pada awal turunnya wahyu pertama (iqra'),
belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru
merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan untuk menyampaikan apa yang
diterima. Baru setelah turun wahyu kedualah beliau ditugaskan untuk
menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah: "Wahai
yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan" (QS 74:1-2).

Kemudian, setelah itu, kandungan wahyu Ilahi berkisar dalam tiga hal.
Pertama, pendidikan bagi Rasulullah saw., dalam membentuk kepribadiannya.
Perhatikan firman-Nya: Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan
sampaikanlah. Dan Tuhanmu agungkanlah. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah
kotoran (syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima
lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah
Tuhanmu (QS 74:1-7).

Dalam wahyu ketiga terdapat pula bimbingan untuknya: Wahai orang yang
berselimut, bangkitlah, shalatlah di malam hari kecuali sedikit darinya,
yaitu separuh malam, kuranq sedikit dari itu atau lebih, dan bacalah
Al-Quran dengan tartil (QS 73:1-4).

Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu
wahyu yang sangat berat (QS 73:5).

Ada lagi ayat-ayat lain, umpamanya: Berilah peringatan kepada keluargamu
yang terdekat. Rendahkanlah dirimu, janganlah bersifat sombong kepada
orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu)
enggan mengikutimu, katakanlah: aku berlepas dari apa yang kalian
kerjakan(QS 26:214-216).

Demikian ayat-ayat yang merupakan bimbingan bagi beliau demi suksesnya
dakwah.

Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af'al Allah,
misalnya surah Al-A'la (surah ketujuh yang diturunkan) atau surah
Al-Ikhlash, yang menurut hadis Rasulullah "sebanding dengan sepertiga
Al-Quran", karena yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan mengetahui pula
persoalan-persoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah SWT.

Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiah, serta
bantahan-bantahan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliah
ketika itu. Ini dapat dibaca, misalnya, dalam surah Al-Takatsur, satu surah
yang mengecam mereka yang menumpuk-numpuk harta; dan surah Al-Ma'un yang
menerangkan kewajiban terhadap fakir miskin dan anak yatim serta pandangan
agama mengenai hidup bergotong-royong.

Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan
bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi
tersebut nyata dalam tiga hal pokok:

   1. Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran-ajaran
   Al-Quran.
   2. Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran Al-Quran,
   karena kebodohan mereka (QS 21:24), keteguhan mereka mempertahankan adat
   istiadat dan tradisi nenek moyang (QS 43:22), dan atau karena adanya
   maksud-maksud tertentu dari satu golongan seperti yang digambarkan oleh Abu
   Sufyan: "Kalau sekiranya Bani Hasyim memperoleh kemuliaan nubuwwah,
   kemuliaan apa lagi yang tinggal untuk kami."
   3. Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju
   daerah-daerah sekitarnya.

Periode Kedua

Periode kedua dari sejarah turunnya Al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun,
dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan jahiliah. Gerakan
oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk menghalangi
kemajuan dakwah Islamiah.

Dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para
penganut ajaran Al-Quran ketika itu terpaksa berhijrah ke Habsyah dan para
akhirnya mereka semua --termasuk Rasulullah saw.-- berhijrah ke Madinah.

Pada masa tersebut, ayat-ayat Al-Quran, di satu pihak, silih berganti turun
menerangkan kewajiban-kewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi
dakwah ketika itu, seperti: Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan
hikmah dan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang
sebaik-baiknya (QS 16:125).

Dan, di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan ancaman yang pedas terus mengalir
kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran, seperti: Bila mereka
berpaling maka katakanlah wahai Muhammad: "Aku pertakuti kamu sekalian
dengan siksaan, seperti siksaan yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud" (QS
41:13).

Selain itu, turun juga ayat-ayat yang mengandung argumentasi-argumentasi
mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat berdasarkan tanda-tanda
yang dapat mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti: Manusia
memberikan perumpamaan bagi kami dan lupa akan kejadiannya, mereka berkata:
"Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk dan
hancur?" Katakanlah, wahai Muhammad: "Yang menghidupkannya ialah Tuhan yang
menjadikan ia pada mulanya, dan yang Maha Mengetahui semua kejadian. Dia
yang menjadikan untukmu, wahai manusia, api dari kayu yang hijau (basah)
lalu dengannya kamu sekalian membakar." Tidaklah yang menciptakan langit dan
bumi sanggup untuk menciptakan yang serupa itu? Sesungguhnya Ia Maha
Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allah menghendaki sesuatu Ia
hanya memerintahkan: "Jadilah!"Maka jadilah ia (QS 36:78-82).

Ayat ini merupakan salah satu argumentasi terkuat dalam membuktikan
kepastian hari kiamat. Dalam hal ini, Al-Kindi berkata: "Siapakah di antara
manusia dan filsafat yang sanggup mengumpulkan dalam satu susunan kata-kata
sebanyak huruf ayat-ayat tersebut, sebagaimana yang telah disimpulkan Tuhan
kepada Rasul-Nya saw., dimana diterangkan bahwa tulang-tulang dapat hidup
setelah menjadi lapuk dan hancur; bahwa qudrah-Nya menciptakan seperti
langit dan bumi; dan bahwa sesuatu dapat mewujud dari sesuatu yang
berlawanan 
dengannya."7<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/Sejarah_Turunnya_dan_Tujuan_Pokok_Al_Quran.html#7>

Disini terbukti bahwa ayat-ayat Al-Quran telah sanggup memblokade
paham-paham jahiliah dari segala segi sehingga mereka tidak lagi mempunyai
arti dan kedudukan dalam rasio dan alam pikiran sehat.
Periode Ketiga

Selama masa periode ketiga ini, dakwah Al-Quran telah dapat mewujudkan suatu
prestasi besar karena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas
melaksanakan ajaran-ajaran agama di Yatsrib (yang kemudian diberi nama
Al-Madinah Al-Munawwarah). Periode ini berlangsung selama sepuluh tahun, di
mana timbul bermacam-macam peristiwa, problem dan persoalan, seperti:
Prinsip-prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat demi mencapai
kebahagiaan? Bagaimanakah sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl Al-Kitab,
orang-orang kafir dan lain-lain, yang semua itu diterangkan Al-Quran dengan
cara yang berbeda-beda?

Dengan satu susunan kata-kata yang membangkitkan semangat seperti berikut
ini, Al-Quran menyarankan: Tidakkah sepatutnya kamu sekalian memerangi
golongan yang mengingkari janjinya dan hendak mengusir Rasul, sedangkan
merekalah yang memulai peperangan. Apakah kamu takut kepada mereka?
Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian
benar-benar orang yang beriman. Perangilah! Allah akan menyiksa mereka
dengan perantaraan kamu sekalian serta menghina-rendahkan mereka; dan Allah
akan menerangkan kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang
beriman (QS 9:13-14).

Adakalanya pula merupakan perintah-perintah yang tegas disertai dengan
konsiderannya, seperti: Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya minuman
keras, perjudian, berhala-berhala, bertenung adalah perbuatan keji dari
perbuatan setan. Oleh karena itu hindarilah semua itu agar kamu sekalian
mendapat kemenangan. Sesungguhnya setan tiada lain yang diinginkan kecuali
menanamkan permusuhan dan kebencian diantara kamu disebabkan oleh minuman
keras dan perjudian tersebut, serta memalingkan kamu dari dzikrullah dan
sembahyang, maka karenanya hentikanlah pekerjaan-pekerjaan tersebut (QS
5:90-91).

Disamping itu, secara silih-berganti, terdapat juga ayat yang menerangkan
akhlak dan suluk yang harus diikuti oleh setiap Muslim dalam kehidupannya
sehari-hari, seperti: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
memasuki satu rumah selain rumahmu kecuali setelah minta izin dan
mengucapkan salam kepada penghuninya. Demikian ini lebih baik bagimu. Semoga
kamu sekalian mendapat peringatan (QS 24:27).

Semua ayat ini memberikan bimbingan kepada kaum Muslim menuju jalan yang
diridhai Tuhan disamping mendorong mereka untuk berjihad di jalan Allah,
sambil memberikan didikan akhlak dan suluk yang sesuai dengan keadaan mereka
dalam bermacam-macam situasi (kalah, menang, bahagia, sengsara, aman dan
takut). Dalam perang Uhud misalnya, di mana kaum Muslim menderita tujuh
puluh orang korban, turunlah ayat-ayat penenang yang berbunyi: Janganlah
kamu sekalian merasa lemah atau berduka cita. Kamu adalah orang-orang yang
tinggi (menang) selama kamu sekalian beriman. Jika kamu mendapat luka, maka
golongan mereka juga mendapat luka serupa. Demikianlah hari-hari kemenangan
Kami perganti-gantikan di antara manusia, supaya Allah membuktikan
orang-orang beriman dan agar Allah mengangkat dari mereka syuhada,
sesungguhnya Allah tiada mengasihi orang-orangyang aniaya (QS 3:139-140).

Selain ayat-ayat yang turun mengajak berdialog dengan orang-orang Mukmin,
banyak juga ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafik, Ahli Kitab dan
orang-orang musyrik. Ayat-ayat tersebut mengajak mereka ke jalan yang benar,
sesuai dengan sikap mereka terhadap dakwah. Salah satu ayat yang ditujukan
kepada ahli Kitab ialah: Katakanlah (Muhammad): "Wahai ahli kitab (golongan
Yahudi dan Nasrani), marilah kita menuju ke satu kata sepakat diantara kita
yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidak mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu apa pun, tidak pula mengangkat sebagian dari kita tuhan yang bukan
Allah." Maka bila mereka berpaling katakanlah: "Saksikanlah bahwa kami
adalah orang-orang Muslim" (QS 3:64).
Dakwah menurut Al-Quran

Dan ringkasan sejarah turunnya Al-Quran, tampak bahwa ayat-ayat Al-Quran
sejalan dengan pertimbangan dakwah: turun sedikit demi sedikit bergantung
pada kebutuhan dan hajat, hingga mana kala dakwah telah menyeluruh,
orang-orang berbondong-bondong memeluk agama Islam. Ketika itu berakhirlah
turunnya ayat-ayat Al-Quran dan datang pulalah penegasan dari Allah SWT: Hari
ini telah Kusempurnakan agamamu dan telah Kucukupkan nikmat untukmu serta
telah Kuridhai Islam sebagai agamamu (QS 5:3).

Uraian di atas menunjukkan bahwa ayat-ayat Al-Quran disesuaikan dengan
keadaan masyarakat saat itu. Sejarah yang diungkapkan adalah sejarah
bangsa-bangsa yang hidup di sekitar Jazirah Arab. Peristiwa-peristiwa yang
dibawakan adalah peristiwa-peristiwa mereka. Adat-istiadat dan ciri-ciri
masyarakat yang dikecam adalah yang timbul dan yang terdapat dalam
masyarakat tersebut.

Tetapi ini bukan berarti bahwa ajaran-ajaran Al-Quran hanya dapat diterapkan
dalam masyarakat yang ditemuinya atau pada waktu itu saja. Karena yang
demikian itu hanya untuk dijadikan argumentasi dakwah. Sejarah umat-umat
diungkapkan sebagai pelajaran/peringatan bagaimana perlakuan Tuhan terhadap
orang-orang yang mengikuti jejak-jejak mereka.

Sebagai suatu perbandingan, Al-Quran dapat diumpamakan dengan seseorang yang
dalam menanamkan idenya tidak dapat melepaskan diri dari keadaan, situasi
atau kondisi masyarakat yang merupakan objek dakwah. Tentu saja metode yang
digunakannya harus sesuai dengan keadaan, perkembangan dan tingkat
kecerdasan objek tersebut. Demikian pula dalam menanamkan idenya, cita-cita
itu tidak hartya sampai pada batas suatu masyarakat dan masa tertentu;
tetapi masih mengharapkan agar idenya berkembang pada semua tempat sepanjang
masa.

Untuk menerapkan idenya itu, seorang da'i tidak boleh bosan dan putus asa.
Dan dalam merealisasikan cita-citanya, ia harus mampu menyatakan dan
mengulangi usahanya walaupun dengan cara yang berbeda-beda. Demikian pula
ayat-ayat Al-Quran yang mengulangi beberapa kali satu persoalan. Tetapi
untuk menghindari terjadinya perasaan bosan, susunan kata-katanya --oleh
Allah SWT-- diubah dan dihiasi sehingga menarik pendengarannya. Bukankah
argumentasi-argumentasi Al-Quran mengenai soal-soal yang dipaparkan dapat
dipergunakan di mana, kapan dan bagi siapa saja, serta dalam situasi dan
kondisi apa pun?

Argumen kosmologis (cosmological argument) --yang oleh Immanuel Kant
dikatakan sebagai suatu argumen yang sangat dikagumi dan merupakan salah
satu dalil terkuat mengenai wujud Pencipta (Prime Cause)-- merupakan salah
satu argumentasi Al-Quran untuk maksud tersebut. Bukankah juga penolakan
Al-Quran terhadap syirik (politeisme) meliputi segala macam dan bentuk
politeisme yang telah timbul, termasuk yang dianut oleh orang-orang Arab
ketika turunnya Al-Quran?

Dapat diperhatikan pula, bahwa tiada satu filsafat pun yang memaparkan
perincian-perinciannya dari A sampai Z dalam bentuk abstrak tanpa memberikan
contoh-contoh hidup dalam masyarakat tempat ia muncul atau berkembang. Cara
yang demikian ini tidak mungkin akan mewujud; kalau ada, maka ia hanya
sekadar merupakan teori-teori belaka yang tidak dapat diterapkan dalam suatu
masyarakat.

Tidakkah menjadi keharusan satu gerakan yang bersifat universal untuk
memulai penyebarannya di forum internasional. Tapi, cara paling tepat adalah
menyebarkan ajaran-ajarannya dalam masyarakat tempat timbulnya gerakan itu,
dimana penyebar-penyebarnya mengetahui bahasa, tradisi dan adat-istiadat
masyarakat tadi. Kemudian, bila telah berhasil menerapkan ajaran-ajarannya
dalam suatu masyarakat tertentu, maka masyarakat tersebut dapat dijadikan
"pilot proyek" bagi masyarakat lainnya. Hal ini dapat kita lihat pada
Fasisme, Zionisme, Komunisme, Nazisme, dan lain-lain. Dengan demikian, tidak
ada alasan untuk mengatakan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran itu khusus untuk
masyarakat pada masa diturunkannya saja.
Tujuan Pokok Al-Quran

Dari sejarah diturunkannya Al-Quran, dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Quran
mempunyai tiga tujuan pokok:

   1. Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang
   tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian
   adanya hari pembalasan.
   2. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan
   norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam
   kehidupannya secara individual atau kolektif.
   3. Petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan
   dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan
   Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, "Al-Quran
   adalah petunjuk bagi selunih manusia ke jalan yang harus ditempuh demi
   kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat."

Catatan kaki

6<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/Sejarah_Turunnya_dan_Tujuan_Pokok_Al_Quran.html#r6>Whitehead,
Science and the Modern World, hal. 180.

7<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/Sejarah_Turunnya_dan_Tujuan_Pokok_Al_Quran.html#r7>Lihat
'Abdul Halim Mahmud, Al-Tafsir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kitab
Al-Lubnaniy, Beirut, 1982, h. 73-74.
http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/Sejarah_Turunnya_dan_Tujuan_Pokok_Al_Quran.html

-- 
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

A Dani Permana
www.adanipermana.co.cc
http://it-focus.co.cc


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke