Renungan khusus hari kebangkitan.............
------------------------------------------------------------
Bangkit dan Merdeka
Sudah bertahun-tahun Indonesia merdeka lepas dari penjajahan. Kemerdekaan
dari belenggu fisik ini patut disyukuri. Tak terhitung, pengorbanan air mata,
keringat, darah dan jiwa tersimbah di bumi pertiwi ini. Sebagai wujud rasa
bersyukur, sepanjang jalan rumah, gedung-gedung mulai desa hingga kota dihiasi
sang merah putih dan lampu-lampu cantik. Berbagai perlombaan pun digelar,
menyemarakkan suasana gembira yang meyeruak. Kini, rutinitas perayaan hari
kemerdekaan terkadang sebatas seremonial yang tiada bermakna. Perjuangan para
pahlawan nasional tak sepenuhnya menitis ke dalam darah kawula muda penerus
estafet keberlangsungan negeri.
Memang Indonesia telah lepas dari segala bentuk penjajahan fisik. Namun
hakikatnya pejajahan itu masih ada bahkan kiat menjerat erat. Penjajahan
pemikiran lebih berbahaya dibandingkan penjajahan fisik. Bila sejenak diri
melongok disekitar kita, kurang apakah keadaan sekarang ? Banyak lulusan
sarjana dan tenaga terdidik bertebaran. Kecanggihan teknologi, sarana-prasarana
kehidupan jauh lebih hebat. Komunikasi, transportasi, akses ilmu pengetahuan
kian mudah. Tapi kesengsaraan, kemiskinan, pengangguran, belitan kesulitan
hidup, kejahatan, kriminalitas, degradasi moral melampaui kondisi sebelum
kemerdekaan dicanangkan. Sebuah kemunduran kebelakang menuju zaman jahiliyah.
Dahulu, dengan sarana terbatas terlahir putra-putri bangsa yang layak dikenang
sepanjang masa dalam tinta-tinta emas.
Sekarang tinta-tinta emas mudah dibuat. Sayangnya belum ada yang layak untuk
ditulis dalam lembaran sejarah. Sesungguhnya negeri berjuluk gemah ripah loh
jinawi ini belum bangkit. Menurut Hafidz Shahih kebangkitan (an-nahdhah) yaitu
berpindahnya sebuah umat, bangsa atau seorang individu dari suatu keadaan
menuju keadaan lain yang lebih baik. Kata beliau, hanya pemikiran mustanir
(tercerahkan) yang dapat menghantarkan pada kebangkitan sebenarnya. Pemikiran
berisi visi, misi, arah dan tujuan hidup yang ingin dicapai. Pemikiran
cemerlang dan amiq (mendalam) mampu membuat perkara-perkara yang samar menjadi
jelas dan terang benderang. Perkara yang haq adalah haq. Perkara batil adalah
batil. Sejak pertama kali bangsa ini berdiri, visi, misi, arah dan tujuan
hidup tersebut mengambang di udara. Thomas Carlyle pernah berucap Orang yang
bertujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit.
Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan
walaupun ia berada di jalan yang mulus .
George Washington dengan visi pemikiran mengubah Amerika menjadi negara
kapitalis-sekularis yang adidaya, berhasil mewujudkan impiannya. Padahal dahulu
Amerika merupakan negeri jajahan Inggris, Spanyol, Perancis dan bukan apa-apa.
Karl Mark dengan pemikiran besarnya mengenai Sosialisme-komunisme mampu
mempengaruhi dunia. Pemikiran sosialisme menghantarkan Rusia menjadi negara
adidaya. Meski pada akhirnya runtuh. Begitu pula Mao Tse Dong dengan visi
sosialis-komunisnya mampu menjadikan China sebagai Macan Asia.
Seorang dramawan, George Bernard Shaw mengungkapkan kemajuan mustahil tanpa
perubahan, dan orang yang tak bisa mengubah pemikirannya maka tak akan bisa
merubah apapun. Indonesia adalah negeri yang mayoritas penduduknya muslim.
Potensi bangkit itu sangat luar biasa besar. Sebab pemikiran-pemikiran dalam
Islam adalah pemikiran cemerlang yang berasal dari wahyu Sang Pemilik Alam
Semesta. Keyakinan seratus persen terhadap aturan Islam dan upaya penerapannya
dalam segenap kehidupan ibarat ruh bagi jasad umat Islam. Tanpa ini umat tak
memiliki visi, misi, tujuan hidup dan mampu bangkit serta merdeka dari
keterpurukan selamanya. Allah berfirman dalam surat Muhammad ayat 7 Hai
orang-orang beriman, jika kamu menolong Agama Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu wallahualam.
Lovely, hamba-MU yang lemah
aris solikhah
"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa,
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan
silaturahmi." (Muhammad SAW).
kampusku
Blogku
[Non-text portions of this message have been removed]