Essay - KURANGI PERGI HAJI DAN UMROH Oleh Satrio Arismunandar Saya bukan ahli agama, dan tidak pernah secara khusus belajar tentang ajaran agama saya, Islam, kecuali di sekolah umum, mulai dari SD sampai universitas. Membaca Al Quran pun saya tidak fasih. Maka, saya jelas jauh dari kriteria seorang ulama. Jadi, mohon tulisan saya ini lebih dipahami sebagai cetusan pemikiran seorang awam, yang berusaha menggali hal-hal yang mungkin bisa dilakukan untuk kebaikan masyarakat. Dalam Islam, setahu saya, ada dua macam amal ibadah. Pertama, jenis ibadah yang lebih berfokus dan berdampak pada individu yang melaksanakannya, seperti: sholat, naik haji, umroh, puasa, dan sebagainya. Kedua, jenis ibadah yang memiliki implikasi sosial yang lebih luas. Seperti: zakat, infaq, sedekah, dan sebagainya. Kedua macam ibadah ini sama-sama penting. Namun, dalam kondisi tertentu, orang harus memilih dan membuat skala prioritas. Misalnya: Saya punya uang lebih Rp 40 juta. Apa yang akan saya lakukan dengan uang itu? Saya bisa gunakan untuk naik haji atau umroh, yang artinya saya nikmati sendiri. Tetapi, uang itu juga bisa saya manfaatkan untuk menyantuni anak yatim, membiayai sekolah mereka, membantu orang miskin dan korban bencana alam, yang berarti saya ikut memperbaiki kondisi sosial masyarakat. Bayangkan, berapa banyak orang miskin yang akan tertolong nasibnya dengan uang sebanyak itu. Berapa banyak anak yang sekarang drop out, karena orang tuanya tak sanggup membayar SPP, akan bisa mengenyam bangku sekolah lagi. Berapa banyak bayi kurang gizi, yang terancam lumpuh atau kehilangan masa depan, akan tumbuh sebagai anak-anak yang sehat dan cerdas. Dalam kondisi sosial-ekonomi saat ini, jutaan rakyat Indonesia makin terpuruk tingkat kesejahteraannya, akibat kebijakan ekonomi neoliberal yang tidak prorakyat, yang menghasilkan kenaikan harga BBM dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Dalam kondisi krisis semacam ini, alangkah baiknya jika umat Islam memberi perhatian lebih besar pada ibadah yang berimplikasi sosial meluas, seperti: zakat, infaq dan sedekah. Kalau Anda sudah pernah satu kali naik haji, kewajiban berhaji ke tanah suci Mekkah sebetulnya sudah lunas. Maka, jika Anda masih punya kelebihan uang, sebaiknya tidak dipakai untuk berkali-kali pergi haji atau umroh. Uang itu seyogyanya dialihkan untuk membantu masyarakat lain, yang masih sangat membutuhkan. Ada jutaan rakyat miskin dan susah, di berbagai pelosok Tanah Air, yang sangat membutuhkan uluran tangan Anda. Sering kali, mereka bahkan bisa ditemukan di lingkungan sekitar, tak jauh dari rumah Anda. Saya dan siapapun juga memang tidak berhak melarang Anda pergi haji dan umroh berkali-kali. Toh, yang Anda gunakan itu adalah uang Anda sendiri. Namun, saya hanya mengimbau, tolong lihatlah kondisi masyarakat kita sekarang, dan ubahlah sedikit skala prioritas Anda dalam beribadah. Saya percaya, doa tulus yang disertai rasa syukur dari orang-orang yang telah Anda bantu itu InsyaAllah-- akan membantu Anda memperoleh ridla dan ampunan Allah SWT. Jakarta, 23 Juli 2008
Satrio Arismunandar Executive Producer News Division, Trans TV, Lantai 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com http://satrioarismunandar.multiply.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ === Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta Informasi lengkap di: http://www.media-islam.or.id http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

