Mengimani Qadha dan Qadar
Penulis : KH Miftah Faridh

Sebuah pelajaran menyangkut realitas tidak sesuai dengan keinginan. Apa 
yang kita inginkan tidak selalu teralami dan apa yang tidak kita inginkan 
malah teralami. Itulah perjalanan hidup di dunia. Islam menyodorkan konsep 
tentang iman qadha dan qadar sebagai bagian dari keyakinan kita akan 
ke-Mahakuasa-an Allah SWT. Selain kita juga yakin ke-Mahaadil-an Allah.

Sejarah pemikiran Islam mencatat terjadinya sebuah polemik panjang antara 
kelompok yang menekankan pada kekuasaan Allah, yang dalam bentuk 
ekstrimnya melahirkan fatalisme qadhari dan ada juga yang mengembangkan 
konsep keaslian Allah yang melahirkan rasionalisme atau qadariyah. Dalam 
ajaran Islam kita harus iman dan percaya pada kedua-duanya. 

Allah Mahakuasa untuk berbuat apa saja yang dikehendakinya, tetapi kita 
juga harus yakin bahwa Allah adil. Maha Adil itu tidak berlaku dzalim pada 
hamba-hambaNya. Ketika dihadapkan pada situasi yang tidak sesuai dengan 
yang kita inginkan, yang pahit, yang sama sekali tidak menyenanginya, maka 
kita diperintahkan mengimani qadha dan qadar. Mengimani bahwa Allah lah 
yang Mahakuasa di satu sisi dan meyakini bahwa Allah Mahaadil di sisi 
lain. Apa yang Allah berikan kepada kita pasti yang terbaik. 

Keimanan kita pada qadha dan qadar melahirkan ajaran tentang konsep ridha. 
Menerima segala yang diputuskan Allah, sabar dalam menyikapinya, kemudian 
bertawakal membangun langkah-langkah usaha. Dan ujungnya pasrah kepada 
Allah SWT. 

Al-Qur'an memberikan ajaran dalam surat Al-Insyirah bahwa beserta 
kesulitan ada kemudahan. Itu adalah sunnatullah. Tidak ada kesulitan yang 
abadi dan tidak ada kemudahan yang abadi. Tidak ada derita yang abadi 
sebagaimana tidak ada bahagia yang abadi. Sepanjang hidup di dunia ini 
adalah fana. Semuanya pasti ada akhir. Itu harus diyakini oleh kita.

Oleh karena itu, ada sebuah nasihat, "Ketika kita memperoleh suatu 
kesulitan, cobalah senyum sejenak. Senyum itu pertanda sehabis kesulitan 
ada kemudahan. Begitu kita mendapat kebahagiaan, juga jangan sampai lupa 
kerutkan kening sejenak karena ini pertanda bahagia ada akhirnya." 

Perjalanan hidup manusia memang begitu berputar. Seperti putaran roda 
pedati. Kadang-kadang sulit, kadang-kadang mudah; kadang-kadang sukses, 
kadang-kadang gagal; kadang-kadang untung, kadang-kadang rugi. Itu 
sunnatullah, sudah menjadi bagian hukum Allah yang ditetapkan pada setiap 
manusia.

Tidak ada manusia yang menderita selamanya, tidak ada pula manusia yang 
gembira selamanya. Pasti semuanya mengalami. Yang membedakan, bagaimana 
sikap seseorang menghadapi semua kehidupan itu. Ketika dihadapkan pada 
kesulitan, kepahitan, dan penderitaan, mantapkan keimanan kita pada qadha 
dan qadar Allah. 

Allah Mahakuasa untuk berbuat apa saja kepada kita. Sehingga harus kita 
imani bahwa Allah tidak mungkin kejam, dzalim, tapi Allah memberikan 
seuatu itu yang baik untuk kita. Inilah yang diingatkan dalam firmannya, 
"Kadang-kadang kamu membenci sesuatu, tapi yang kamu benci itu justru yang 
akan membahagiakanmu. Kadang-kadang kamu mencintai sesuatu, tapi justru 
yang kamu cintai akan menjerumuskan kamu."

Ketika kita mendapatkan sesuatu kesulitan, barangkali ini yang terbaik. 
Begitu pun ketika menemukan kesenangan, kita jangan sombong. Justru akan 
mendatangkan kebahagiaan bagi kita. Konsep sabar dan syukur menjadi kunci 
penting untuk menyikapi semua realitas itu, dengan sikap yang betul-betul 
bisa memberikan kenyamanan dalam hidup. 

Kadang-kadang kita membenci suatu keadaan, tapi tidak senang dengan 
situasi sulit, padahal apa yang tidak kita senangi itu yang akan 
membahagiakan kita. Oleh karena itu, ada ajaran dalam agama, di balik 
kesulitan yang menimpa kepada kita, menghasilkan hikmah. Semacam 
keberuntungan, kenikmatan di luar estimasi nalar kita. Sesuatu 
keberuntungan yang diperoleh justru melalui proses kepahitan. Pelajaran 
tersebut sering dialami kita. Janganlah kita menganggap Allah tidak adil, 
tidak sayang, sikap tersebut harus dihindari. Sebab kadangkala sesuatu 
yang kita benci, justru itu yang akan membahagiakan kita. 

Dalam konteks hubungan dengan manusia, ada nasihat dari Rasul, "Kalau kamu 
terlanjur mencintai seseorang, janganlah habis-habisan. Cintailah orang 
yang kamu cintai itu enteng-enteng saja. Siapa tahu orang yang kamu cintai 
sekarang justru akan mencelakakan kamu di masa yang akan datang. Kalau 
kamu terlanjur membenci seseorang, jangan pula habis-habisan, justru bisa 
jadi di masa yang akan datang orang yang kamu benci akan memberikan 
kebahagiaan."

Ajaran lain dalam menyikapi situasi yang tidak mengenakan yaitu ajaran 
dalam konsep ujian. Allah memberikan sejumlah ujian kepada hamba-hambaNya, 
berulangkali dalam Al-Qur'an Allah mengingatkan hambaNya, "Apa manusia 
mengira sudah beriman, padahal Allah belum menguji. Dan kami telah menguji 
umat sebelum kalian. Dan kami tahu mana di antara mereka yang betul-betul 
kuat iman dengan yang tidak."

Begitu halnya dalam sebuah hadits qudsi, untuk mengetahui kualitas 
keimanan, Dia menguji hambaNya. Memang ujian adakalanya dalam kepahitan, 
tapi ada kalanya dalam kesuksesan. Banyak orang yang gagal ketika diuji 
oleh kesulitan, tapi lebih banyak lagi yang gagal ketika diuji oleh 
kenikmatan.

Nah, ketika kita dihadapkan pada situasi yang tidak mengenakan, tidak 
menyamankan, salah satu yang harus disikapi, "Siapa tahu saya sedang diuji 
Allah. Kenapa diuji? Karena Allah menghendaki supaya saya bisa naik 
kelas."

Keimanan harus melalui proses, yaitu ujian. Sekalipun sudah yakin bahwa 
sesuatu yang kita lihat suatu kepahitan, tapi justru menurut Allah itu 
kebaikan, seringkali manusia tidak tabah. Maka ajaran Islam memberikan 
solusi secara spiritual.

Agama mengajarkan ketika kita dihadapkan pada kesulitan yang kita tidak 
sanggup sabar menghadapinya, maka ambilah air wudhu, lakukan shalat 
syukrul wudhu. Serahkan kepada Allah. "Tuhanku, cukuplah Engkau 
pelindungku, cukuplah Engkau penolongku, dan cukuplah Engkau sumber 
rezekiku."

Kalau dihadapkan pada ketidaksenangan, mintalah kepada Allah, "Ya Allah, 
berilah kami hati yang tentram, hati yang tenang, yang iman saat berjumpa 
denganMu, dan rela atas semua apa yang kau berikan kepadaku." Juga 
perbanyak do'a dan dzikir dalam menghadapi berbagai situasi. [Swadaya]
 
Sumber: kota santri

-- 
menjaga hati di
www.sigitwahyu.net




 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke