Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apabila Allah Menginginkan
Kebaikan<http://attanzil.wordpress.com/2008/07/24/apabila-allah-menginginkan-kebaikan/>
July
24, 2008 <http://attanzil.wordpress.com/2008/07/24/> -  Posted by
adanipermana <http://attanzil.wordpress.com/author/adanipermana/> |
Artikel<http://wordpress.com/tag/artikel/>|

Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi
pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan
belajar. (HR. Bukhari)

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang
kamu kerjakan" (al-Mujaadilah: 11), dan, "Tuhanku, tambahkanlah kepadaku
ilmu pengetahuan."('Thaahaa: 114)

Para ulama fiqih adalah pelaksana amanat para rasul selama mereka tidak
memasuki (bidang) dunia. Mendengar sabda tersebut, para sahabat bertanya,
"Ya Rasulullah, apa arti memasuki (bidang) dunia?" Beliau menjawab,
"Mengekor kepada penguasa dan kalau mereka melakukan seperti itu maka
hati-hatilah terhadap mereka atas keselamatan agamamu. (HR. Ath-Thabrani)

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan
Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu
(juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah)
melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [Ali-Imran :18]

Berkata Al Qurtubi rahimahullah dalam tafsirnya :
"Ayat ini adalah dalil tentang keutaman ilmu dan kemuliaan ulama. Seandainya
ada orang yang lebih mulia dari ulama, sungguh Allah akan menyertakan
nama-Nya dan nama malaikat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman juga
kepada Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kemuliaan ilmu."

"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." [Thaha :114]

Maka seandainya ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu, sungguh Allah
Subhanahu wa Ta'ala akan memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan akan
sesuatu itu, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan
Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meminta tambahan ilmu. [Tafsir
Al-Qurthubi hal. 1283]

"Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak
mengetahui" [Az-Zumar : 9]

Al Qurtubi rahimahullah berkata : "Menurut Az-Zujaj Radhiyallahu 'anhu,
maksud ayat tersebut yaitu orang yang tahu berbeda dengan orang yang tidak
tahu, demikian juga orang taat tidaklah sama dengan orang bermaksiat. Orang
yang mengetahui adalah orang yang dapat mengambil manfaat dari ilmu serta
mengamalkannya. Dan orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmu serta tidak
mengamalkannya, maka ia berada dalam barisan orang yang tidak mengetahui"
[Tafsir Al-Qurthubi hal. 5684]

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu`min itu pergi semuanya (ke medan
perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka
beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk
memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." [At-Taubah : 122]

Al-Qurtubi rahimahullah berkata. "Ayat ini merupakan pokok tentang wajibnya
menuntut ilmu. Karena tidak seharusnya orang mukmin itu pergi ke medan
perang semua, padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak, sehingga
mereka meninggalkan beliau sendiri. Mereka membatalkan keinginan mereka,
setelah mengetahui tidak dibolehkannya pergi secara keseluruhan. Beberapa
orang dari tiap-tiap golongan, agar tetap tinggal bersama Nabi untuk
mempelajari agama. Sehingga apabila orang- orang yang berperang itu telah
kembali, mereka bisa mengabarkan dan meyebarkan pengetahuan ilmu mereka.
Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk memahami Al Kitab dan Sunnah.
Dan kewajiban tersebut adalah kewajiban kifayah bukan wajib `ain" [Tafsir
Al-Qurtubi hal.3132]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila Allah
menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan
balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada
hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah
sempurnakan balasannya di hari kiamat." (HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas
bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220)

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan
kepada hamba-Nya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah
kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah:

"Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu." (HR. Muslim no.771 dari 'Ali
bin Abi Thalib)

Maka barangsiapa menginginkan kejelekan kepada dzatnya maka kejelekan itu
disandarkan kepadanya. Akan tetapi Allah menginginkan kejelekan karena suatu
hikmah sehingga jadilah hal itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang
dikandungnya. Sesungguhnya seluruh perkara itu di tangan Allah 'Azza wa
Jalla dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya karena Allah berfirman tentang
diri-Nya:

"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki."
(Huud:107)

Balasan yang disegerakan didunia adalah tergantung dari keridhoan dia atas
kehendak Allah subhana wata'ala, sebagaimana Rasulullah bersabda

"Besarnya pahala tergantung besarnya ujian dan sesungguhnya apabila Allah
menyenangi suatu kaum, Dia mengujinya. Barangsiap ridho maka Allahpun ridho,
dan barangsiapa yang marah, maka Dia Marah." (HR. Shahih Ibnu Majah 2/373)

Dalam riwayat yang lain,"Apabila Allah menginginkan kebaikan pada diri
seorang hamba, maka Allah datangkan ujian kepada hamba tersebut." (HR.
Bukhari)
Kesimpulan:

   - Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada diri seseorang maka dia
   diberi pendalaman dalam ilmu agama
   - Apabila Allah Allah menyenangi suatu kaum, Maka Dia Allah akan
   mengujinya

Begitulah hidup harus seimbang antara kebaikan dan ujian.  Semakin banyak
ilmu yang diperoleh maka akan semakin banyak ujian yang akan diterimanya.
Semuanya itu adalah kehendak Allah sebagaimaa firmannya : "Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (Huud:107)

Semoga Allah menghendaki kebaikan kepada diri kita dengan bertambahnya ilmu
dan Rasulullah sholallhu 'alaihi wasallam bersabda : "Ya Allah, rahmatilah
khalifah-khalifahku." Para sahabat lalu bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah
khalifah-khalifahmu?" Beliau menjawab, "Orang-orang yang datang sesudahku
mengulang-ulang pelajaran hadits-hadits dan sunahku dan mengajarkannya
kepada orang-orang sesudahku." (HR. Ar-Ridha)

Wallahu'alam bishowab.
 A Dani Permana

-- 
www.adanipermana.co.cc
www.computer-knowledge.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke