HADITS-HADITS PALSU

TENTANG 

KEUTAMAAN SHALAT DAN PUASA DI BULAN RAJAB

 

Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

 

Apabila kita memperhatikan hari-hari, pekan-pekan, bulan-bulan,
sepanjang tahun serta malam dan siangnya, niscaya kita akan mendapatkan
bahwa Allah Yang Maha Bijaksana mengistimewakan sebagian dari sebagian
lainnya dengan keistimewaan dan keutamaan tertentu. Ada bulan yang
dipandang lebih utama dari bulan lainnya, misalnya bulan Ramadhan dengan
kewajiban puasa pada siangnya dan sunnah menambah ibadah pada malamnya.
Di antara bulan-bulan itu ada pula yang dipilih sebagai bulan haram atau
bulan yang dihormati, dan diharamkan berperang pada bulan-bulan itu.

 

Allah juga mengkhususkan hari Jum'at dalam sepekan untuk berkumpul
shalat Jum'at dan mendengarkan khutbah yang berisi peringatan dan
nasehat.

 

Ibnul Qayyim menerangkan dalam kitabnya, Zaadul Ma'aad[1] bahwa Jum'at
mempunyai lebih dari tiga puluh keutamaan, kendatipun demikian
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mengkhususkan ibadah
pada malam Jum'at atau puasa pada hari Jum'at, sebagaimana sabda beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

 

"Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum'at untuk beribadah dari
malam-malam yang lain dan jangan pula kalian mengkhususkan puasa pada
hari Jum'at dari hari-hari yang lainnya, kecuali bila bertepatan (hari
Jum'at itu) dengan puasa yang biasa kalian berpuasa padanya." [HR.
Muslim (no. 1144 (148)) dan Ibnu Hibban (no. 3603), lihat Silsilatul
Ahaadits ash-Shahihah (no. 980)]

 

Allah Yang Maha Bijaksana telah mengutamakan sebagian waktu malam dan
siang dengan menjanjikan terkabulnya do'a dan terpenuhinya permintaan.
Demikian Allah mengutamakan tiga generasi pertama sesudah diutusnya Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka dianggap sebagai
generasi terbaik apabila dibandingkan dengan generasi berikutnya sampai
hari Kiamat. Ada beberapa tempat dan masjid yang diutamakan oleh Allah
dibandingkan tempat dan masjid lainnya. Semua hal tersebut kita ketahui
berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan contoh yang benar.

 

Adapun tentang bulan Rajab, keutamaannya dalam masalah shalat dan puasa
padanya dibanding dengan bulan-bulan yang lainnya, semua haditsnya
sangat lemah dan palsu. Oleh karena itu tidak boleh seorang Muslim
mengutamakan dan melakukan ibadah yang khusus pada bulan Rajab.

 

Di bawah ini akan saya berikan contoh hadits-hadits palsu tentang
keutamaan shalat dan puasa di bulan Rajab.

 

 

HADITS PERTAMA

 

"Artinya : Rajab bulan Allah, Sya'ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan
ummatku"

 

Keterangan: HADITS INI MAUDHU' (PALSU)

 

Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): "Hadits ini maudhu'." [Lihat
Maudhu'atush Shaghani (I/61, no. 129)] Hadits tersebut mempunyai matan
yang panjang, lanjutan hadits itu ada lafazh:

 

"Artinya : Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jum'at
pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya
Raghaaib..."

Keterangan: HADITS INI MAUDHU'

 

Kata Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H): "Hadits ini diriwayatkan oleh
'Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah menceritakan kepada
kami 'Ali bin Muhammad bin Sa'id al-Bashry, telah menceritakan kepada
kami Khalaf bin 'Abdullah as-Shan'any, dari Humaid Ath-Thawil dari Anas,
secara marfu'. [Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha'if (no.
168-169)].

 

Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): "Hadits ini palsu dan yang tertuduh
memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh sebagai pendusta. Aku
telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata: "Rawi-rawi
hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak dikenal), aku sudah
periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi hidup mereka."
[Al-Maudhu'at (II/125), oleh Ibnul Jauzy] Imam adz-Dzahaby berkata: "
'Ali bin 'Abdullah bin Jahdham az-Zahudi, Abul Hasan Syaikhush
Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar dituduh memalsukan hadits."

 

Kata para ulama lainnya: "Dia dituduh membuat hadits palsu tentang
shalat ar-Raghaa'ib." [Periksa: Mizaanul I'tidal (III/142-143, no.
5879)]

 

HADITS KEDUA

 

"Artinya : Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti
keutamaan al-Qur'an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya'ban
seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti
keutamaan Allah atas semua hamba."

Keterangan: HADITS INI MAUDHU'

 

Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalany: "Hadits ini palsu." [Lihat
al-Mashnu' fii Ma'rifatil Haditsil Maudhu' (no. 206, hal. 128), oleh
Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H)]

 

HADITS KETIGA:

 

"Artinya : Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rajab,
kemudian shalat sesudahnya dua puluh raka'at, setiap raka'at membaca
al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu
ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian." Kami
berkata: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: 'Allah
akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan
dari adzab Qubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat tanpa
dihisab, dan tidak disiksa.'"

 

Keterangan: HADITS MAUDHU'

 

Kata Ibnul Jauzi: "Hadits ini palsu dan kebanyakan rawi-rawinya adalah
majhul (tidak dikenal biografinya)." [Lihat al-Maudhu'at Ibnul Jauzy
(II/123), al-Fawaa'idul Majmu'ah fil Ahaadits Maudhu'at oleh as-Syaukany
(no. 144) dan Tanziihus Syari'ah al-Marfu'ah 'anil Akhbaaris Syanii'ah
al-Maudhu'at (II/89), oleh Abul Hasan 'Ali bin Muhammad bin 'Araaq
al-Kinani (wafat th. 963 H).]

 

HADITS KEEMPAT

 

"Artinya: Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat
raka'at, di raka'at pertama baca 'ayat Kursiy' seratus kali dan di
raka'at kedua baca 'surat al-Ikhlas' seratus kali, maka dia tidak mati
hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya (sebelum
ia mati)"

 

Keterangan: HADITS INI MAUDHU'

 

Kata Ibnul Jauzy: "Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya majhul serta
seorang perawi yang bernama 'Utsman bin 'Atha' adalah perawi matruk
menurut para Ahli Hadits." [Al-Maudhu'at (II/123-124).] Menurut
al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalany, 'Utsman bin 'Atha' adalah rawi yang
lemah. [Lihat Taqriibut Tahdziib (I/663 no. 4518)]

 

HADITS KELIMA

 

"Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab (ganjarannya) sama
dengan berpuasa satu bulan."

 

Keterangan: HADITS INI SANGAT LEMAH

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh dari Abu Dzarr secara marfu'.

Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama al-Furaat bin as-Saa'ib,
dia adalah seorang rawi yang matruk. [Lihat al-Fawaa-id al-Majmu'ah (no.
290)] Kata Imam an-Nasa'i: "Furaat bin as-Saa'ib Matrukul hadits." Dan
kata Imam al-Bukhari dalam Tarikhul Kabir: "Para Ahli Hadits
meninggalkannya, karena dia seorang rawi munkarul hadits, serta dia
termasuk rawi yang matruk kata Imam ad-Daraquthni." [Lihat adh-Dhu'afa
wa Matrukin oleh Imam an-Nasa'i (no. 512), al-Jarh wat Ta'dil (VII/80),
Mizaanul I'tidal (III/341) dan Lisaanul Mizaan (IV/430).]

 

HADITS KEENAM

 

"Artinya : Sesungguhnya di Surga ada sungai yang dinamakan 'Rajab'
airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa yang
puasa satu hari pada bulan Rajab maka Allah akan memberikan minum
kepadanya dari air sungai itu."

 

Keterangan: HADITS INI BATHIL

 

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailamy (I/2/281) dan al-Ashbahany di
dalam kitab at-Targhib (I-II/224) dari jalan Mansyur bin Yazid al-Asadiy
telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Imran, ia berkata: "Aku
mendengar Anas bin Malik berkata, ..."

 

Imam adz-Dzahaby berkata: "Mansyur bin Yazid al-Asadiy meriwayatkan
darinya, Muhammad al-Mughirah tentang keutamaan bulan Rajab. Mansyur bin
Yazid adalah rawi yang tidak dikenal dan khabar (hadits) ini adalah
bathil." [Lihat Mizaanul I'tidal (IV/ 189)] Syaikh Muhammad Nashiruddin
al-Albany berkata: "Musa bin 'Imraan adalah majhul dan aku tidak
mengenalnya." [Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah (no.
1898)]

 

HADITS KETUJUH

 

"Artinya : Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, dituliskan
baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barangsiapa berpuasa tujuh hari
pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api
Neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rajab, maka
Allah membukakan baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu Surga. Dan
barang siapa puasa nishfu (setengah bulan) Rajab, maka Allah akan
menghisabnya dengan hisab yang mudah."

 

Keterangan: HADITS INI PALSU

 

Hadits ini termaktub dalam kitab al-Fawaa'idul Majmu'ah fil Ahaadits
al-Maudhu'ah (no. 288). Setelah membawakan hadits ini asy-Syaukani
berkata: "Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya, al-Laaliy
al-Mashnu'ah, ia berkata: 'Hadits ini diriwayatkan dari jalan Amr bin
al-Azhar dari Abaan dari Anas secara marfu'.'"

Dalam sanad hadits tersebut ada dua perawi yang sangat lemah:

[1]. 'Amr bin al-Azhar al-'Ataky.

 

Imam an-Nasa-i berkata: "Dia Matrukul Hadits." Sedangkan kata Imam
al-Bukhari: "Dia dituduh sebagai pendusta." Kata Imam Ahmad: "Dia sering
memalsukan hadits." [Periksa, adh-Dhu'afa wal Matrukin (no. 478) oleh
Imam an-Nasa-i, Mizaanul I'tidal (III/245-246), al-Jarh wat Ta'dil
(VI/221) dan Lisaanul Mizaan (IV/353)] [2]. Abaan bin Abi 'Ayyasy,
seorang Tabi'in shaghiir.

 

Imam Ahmad dan an-Nasa-i berkata: "Dia Matrukul Hadits (ditinggalkan
haditsnya)." Kata Yahya bin Ma'in: "Dia matruk." Dan beliau pernah
berkata:

"Dia rawi yang lemah." [Periksa: Adh Dhu'afa wal Matrukin (no. 21),
Mizaanul I'tidal (I/10), al-Jarh wat Ta'dil (II/295), Taqriibut Tahdzib
(I/51, no. 142)]

 

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Syaikh dari jalan Ibnu 'Ulwan dari
Abaan. Kata Imam as-Suyuthi: "Ibnu 'Ulwan adalah pemalsu hadits." [Lihat
al-Fawaaidul Majmu'ah (hal. 102, no. 288).

 

Sebenarnya masih banyak lagi hadits-hadits tentang keutamaan Rajab,
shalat Raghaa'ib dan puasa Rajab, akan tetapi karena semuanya sangat
lemah dan palsu, penulis mencukupkan tujuh hadits saja.

 

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir
Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober
2004M]

_________

Foote Note

[1]. Zaadul Ma'aad (I/375) cet. Muassasah ar-Risalah.

 

 

PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG MASALAH RAJAB

 

[1]. Imam Ibnul Jauzy menerangkan bahwa hadits-hadits tentang Rajab,
Raghaa'ib adalah palsu dan rawi-rawi majhul. [Lihat al-Maudhu'at
(II/123-126)]

 

[2]. Kata Imam an-Nawawy: "Shalat Raghaa-ib ini adalah satu bid'ah yang
tercela, munkar dan jelek." [Lihat as-Sunan wal Mubtada'at (hal. 140)]

 

Kemudian Syaikh Muhammad Abdus Salam Khilidhir, penulis kitab as-Sunan
wal Mubtada'at berkata: "Ketahuilah setiap hadits yang menerangkan
shalat di awal Rajab, pertengahan atau di akhir Rajab, semuanya tidak
bisa diterima dan tidak boleh diamalkan." [ Lihat as-Sunan wal
Mubtada'at (hal. 141)]

 

[3]. Kata Syaikh Muhammad Darwiisy al-Huut: "Tidak satupun hadits yang
sah tentang bulan Rajab sebagaimana kata Imam Ibnu Rajab." [Lihat Asnal
Mathaalib (hal. 157)]

 

[4]. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H): "Adapun
shalat Raghaa'ib, tidak ada asalnya (dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam), bahkan termasuk bid'ah.... Atsar yang menyatakan (tentang
shalat itu) dusta dan palsu menurut kesepakatan para ulama dan tidak
pernah sama sekali disebutkan (dikerjakan) oleh seorang ulama Salaf dan
para Imam."

 

Selanjutnya beliau berkata lagi: "Shalat Raghaa'ib adalah BID'AH menurut
kesepakatan para Imam, tidak pernah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam menyuruh melaksanakan shalat itu, tidak pula disunnahkan oleh
para khalifah sesudah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak
pula seorang Imam pun yang menyunnahkan shalat ini, seperti Imam Malik,
Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, Imam ats-Tsaury, Imam
al-Auzaiy, Imam Laits dan selain mereka.

 

Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang itu adalah dusta menurut Ijma'
para Ahli Hadits. Demikian juga shalat malam pertama bulan Rajab, malam
Isra', Alfiah nishfu Sya'ban, shalat Ahad, Senin dan shalat hari-hari
tertentu dalam satu pekan, meskipun disebutkan oleh sebagian penulis,
tapi tidak diragukan lagi oleh orang yang mengerti hadits-hadits tentang
hal tersebut, semuanya adalah hadits palsu dan tidak ada seorang Imam
pun (yang

terkemuka) menyunnahkan shalat ini... Wallahu a'lam." [Lihat Majmu'
Fataawa (XXIII/132, 134)]

 

[5]. Kata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah:

"Semua hadits tentang shalat Raghaa'ib pada malam Jum'at pertama di
bulan Rajab adalah dusta yang diada-adakan atas nama Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan semua hadits yang menyebutkan puasa
Rajab dan shalat pada beberapa malamnya semuanya adalah dusta (palsu)
yang diada-adakan."

[Lihat al-Manaarul Muniif fish Shahiih wadh Dha'iif (hal. 95-97, no.

167-172) oleh Ibnul Qayyim, tahqiq: 'Abdul Fattah Abu Ghaddah]

 

[6]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan dalam kitabnya,
Tabyiinul 'Ajab bima Warada fii Fadhli Rajab:

"Tidak ada riwayat yang sah yang menerangkan tentang keutamaan bulan
Rajab dan tidak pula tentang puasa khusus di bulan Rajab, serta tidak
ada pula hadits yang shahih yang dapat dipegang sebagai hujjah tentang
shalat malam khusus di bulan Rajab."

 

[7]. Imam al-'Iraqy yang mengoreksi hadits-hadits yang terdapat dalam
kitab Ihya' 'Uluumuddin, menerangkan bahwa hadits tentang puasa dan
shalat Raghaa'ib adalah hadits maudhu' (palsu). [Lihat Ihya' 'Uluumuddin
(I/202)]

 

[8]. Imam asy-Syaukani menukil perkataan 'Ali bin Ibra-him al-'Aththaar,
ia berkata dalam risalahnya: "Sesungguhnya riwayat tentang keutamaan
puasa Rajab, semuanya adalah palsu dan lemah, tidak ada asalnya (dari
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam)." [Lihat al-Fawaa-idul Majmu'ah fil
Ahaaditsil Maudhu'ah (hal. 381)]

 

[9]. Syaikh Abdus Salam, penulis kitab as-Sunan wal Mubtada'at
menyatakan:

"Bahwa membaca kisah tentang Isra' dan Mi'raj dan merayakannya pada
malam tanggal dua puluh tujuh Rajab adalah BID'AH. Berdzikir dan
mengadakan peribadahan tertentu untuk merayakan Isra' dan Mi'raj adalah
BID'AH, do'a-do'a yang khusus dibaca pada bulan Rajab dan Sya'ban
semuanya tidak ada sumber (asal pengambilannya) dan BID'AH, sekiranya
yang demikian itu perbuatan baik, niscaya para Salafush Shalih sudah
melaksanakannya." [Lihat as-Sunan wal Mubtada'at (hal. 143)]

 

[10]. Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baaz, ketua Dewan Buhuts
'Ilmiyyah, Fatwa, Da'wah dan Irsyad, Saudi Arabia, beliau berkata dalam
kitabnya, at-Tahdzir minal Bida' (hal. 8): "Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya tidak pernah mengadakan upacara
Isra' dan Mi'raj dan tidak pula mengkhususkan suatu ibadah apapun pada
malam tersebut. Jika peringatan malam tersebut disyar'iatkan, pasti
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada ummat,
baik melalui ucapan maupun perbuatan. Jika pernah dilakukan beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam, pasti diketahui dan masyhur, dan
ten-tunya akan disampaikan oleh para Shahabat kepada kita...

 

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling
banyak memberi nasihat kepada manusia, beliau telah menyampaikan risalah
kerasulannya sebaik-baik penyampaian dan telah menjalankan amanah Allah
dengan sempurna.

 

Oleh karena itu, jika upacara peringatan malam Isra' dan Mi'raj dan
merayakan itu dari agama Allah, tentunya tidak akan dilupakan dan
disembunyikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi
karena hal itu tidak ada, maka jelaslah bahwa upacara tersebut bukan
dari ajaran Islam sama sekali. Allah telah menyempurnakan agama-Nya bagi
ummat ini, mencukupkan nikmat-Nya dan Allah mengingkari siapa saja yang
berani mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama, karena cara
tersebut tidak dibenarkan oleh Allah:

 

"Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam jadi agama
bagimu."

[Al-Maa-idah: 3]

 

 

KHATIMAH

 

Orang yang mempunyai bashirah dan mau mendengarkan nasehat yang baik,
dia akan berusaha meninggalkan segala bentuk bid'ah, karena setiap
bid'ah adalah sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam:

 

"Artinya : Tiap-tiap bid'ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan di
Neraka."

[HSR. An-Nasa'i (III/189) dari Jabir radhiyallahu 'anhu dalam Shahih
Sunan an-Nasa'i (I/346 no. 1487) dan Misykatul Mashaabih (I/51)]

 

Para ulama, ustadz, kyai yang masih membawakan hadits-hadits yang lemah
dan palsu, maka mereka digolongkan sebagai pendusta.

 

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

 

Dari Samurah bin Jundub dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang-siapa yang menceritakan
satu hadits dariku, padahal dia tahu bahwa hadits itu dusta, maka dia
termasuk salah seorang dari dua pendusta." [HSR. Ahmad (V/20), Muslim
(I/7) dan Ibnu Majah (no. 39)]

 

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir
Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober
2004M] _______ MARAJI'

[1]. Shahih al-Bukhari.

[2]. Shahih Muslim.

[3]. Sunan an-Nasaa-i.

[4]. Sunan Ibni Majah.

[5]. Musnad Imam Ahmad.

[6]. Shahih Ibni Hibban.

[7]. Zaadul Ma'aad fii Hadyi Khairil 'Ibaad, oleh Syaikhul Islam Ibnu
Qayyim al-Jauziyyah, cet. Mu-assasah ar-Risalah, th. 1412 H.

[8]. Maudhu'atush Shaghani.

[9]. Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha'if, oleh Syaikhul Islam
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

[10]. Al-Maudhu'at, oleh Imam Ibnul Jauzy, cet. Daarul Fikr, th. 1403 H.

[11]. Mizaanul I'tidal, oleh Imam adz-Dzahaby, tahqiq: 'Ali Muhammad
al-Bajaawy, cet. Daarul Fikr.

[12]. Al-Mashnu' fii Ma'rifatil Haditsil Maudhu', oleh Syaikh Ali
al-Qary al-Makky.

[13]. Al-Fawaa-idul Majmu'ah fil Ahaadits Maudhu'at oleh asy-Syaukany,

tahqiq: Syaikh 'Abdurrahman al-Ma'allimy, cet. Al-Maktab al-Islamy, th.

1407 H.

[14]. Tanziihus Syari'ah al-Marfu'ah 'anil Akhbaaris Syanii'ah
al-Maudhu'at, oleh Abul Hasan 'Ali bin Muhammad bin 'Araaq al-Kinani.

[15]. Taqriibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqa-lany, cet.

Daarul Kutub al-'Ilmiyyah.

[16]. Adh-Dhu'afa wa Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i.

[17]. At-Taghib wat Tarhib, oleh Imam al-Mundziri.

[18]. Silsilah Ahaadits adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah, oleh Imam Muhammad
Nashiruddin al-Albany.

[19]. Al-Laali al-Mashnu'ah, oleh al-Hafizh as-Suyuthy.

[20]. Adh-Dhu'afa wal Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i.

[21]. Al-Jarhu wat Ta'dil, oleh Imam Ibnu Abi Hatim ar-Razy.

[22]. As-Sunan wal Mubtada'at, oleh Muhammad Abdus Salam Khilidhir.

[23]. Asnal Mathaalib fii Ahaadits Mukhtalifatil Maraatib, oleh Muhammad
Darwisy al-Huut.

[24]. Majmu' Fataawa, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[25]. Al-Manaarul Muniif fis Shahih wadh Dha'if, oleh Syaikhul Islam
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

[26]. Tabyiinul 'Ajab bimaa Warada fiii Fadhli Rajab, oleh al-Hafizh
Ibnu Hajar al-'Asqalany.

[27]. Ihya' 'Uluumuddin, oleh Imam al-Ghazzaly.

[28]. At-Tahdziir minal Bida', oleh Imam 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin
Baaz.

[29]. Misykaatul Mashaabih, oleh Imam at-Tibrizy, takhrij: Imam Muhammad
Nashiruddin al-Al



CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this email is intended only for 
the use of the individual or entity named above and may contain information 
that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable 
law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are 
hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this 
communication is strictly prohibited. If you have received this message in 
error, please immediately notify the sender and delete the mail.
Thank you.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke