Ternyata Kesyirikan di Zaman Kita Lebih Parah
18/07/2008
Ibnu ‘Ali Al-Barepany
Para pembaca yang budiman, diantara musibah besar yang menimpa kaum
muslimin dewasa ini adalah acuh terhadap urusan agama dan sibuk dengan
urusan dunia. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang terjerumus ke
dalam hal-hal yang diharamkan Alloh karena sedikitnya pemahaman tentang
permasalahan-permasalahan agama. Dan jurang terdalam yang mereka masuki
yaitu lembah hitam kesyirikan.
Perbuatan
dosa yang paling besar inipun begitu samar bagi kebanyakan manusia
karena kejahilan mereka dan rajinnya setan dalam meyesatkan manusia
sebagaimana yang dikisahkan Alloh tentang sumpah iblis, “Karena Engkau
telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al-A’rof:
16). Bahkan kesyirikan hasil tipudaya iblis yang terjadi pada masa kita
sekarang ini lebih parah daripada kesyirikan yang terjadi pada zaman
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam…!! Kenapa bisa demikian ?
Kemusyrikan Zaman Dahulu Hanya di Waktu Lapang
Sesungguhnya
orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh melakukan kesyirikan hanya
ketika dalam keadaan lapang saja. Namun tatkala mereka dalam keadaan
sempit, terjepit, susah dan ketakutan mereka kembali mentauhidkan
Alloh, hanya berdo’a kepada Alloh saja dan melupakan segala sesembahan
selain Alloh. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Alloh tentang keadaan
mereka, “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah
siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu
ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak
berterima kasih.” (Al-Isra’: 67). “Dan apabila manusia itu ditimpa
kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali
kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya
lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Alloh)
untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan
sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya.
Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara
waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka’.” (Az-Zumar: 8).
Itulah
keadaan musyrikin zaman dahulu, lalu bagaimana keadaan musyrikin pada
zaman kita ini? Ternyata sama saja bagi orang-orang musyrik zaman kita
ini, baik dalam waktu lapang ataupun sempit tetap saja mereka
menjadikan bagi Alloh sekutu. Tatkala punya hajatan (misalnya
pernikahan, membangun rumah ataupun yang lainnya) mereka memberikan
sesajen ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Tatkala sesuatu ketika
terkena musibah, mereka beranggapan bahwa mereka telah kuwalat terhadap
yang mbaurekso (jin penunggu) kampungnya kemudian meminta ampun dan
berdoa kepadanya agar menghilangkan musibah itu atau pergi ke dukun
untuk menghilangkannya. Ini adalah bentuk kesyirikan kepada Alloh yang
amat nyata. Alloh berfirman, “Hanya bagi Alloh-lah (hak mengabulkan)
doa yang benar. Dan sesuatu yang mereka sembah selain Allah tidak dapat
memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang
membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke
mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa
(ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ro’du: 14)
Sesembahan Musyrikin Dulu Lebih Mending Sholehnya
Orang-orang
musyrik pada zaman Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam menjadikan
sekutu bagi Alloh dari dua kelompok, yang pertama adalah hamba-hamba
Alloh yang sholeh, baik dari kalangan para nabi, malaikat ataupun wali.
Dan yang kedua adalah seperti pohon, batu dan lainnya. Lalu bagaimana
keadaan orang-orang musyrik zaman kita? Saking parahnya keadaan mereka,
orang-orang yang telah mereka kenal sebagai orang suka berbuat
maksiatpun mereka sembah dan diharapkan berkahnya. Lihat betapa banyak
orang yang berbondong-bondong ngalap berkah ke makam Pangeran Samudro
dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus, Sragen. Diceritakan bahwa mereka
berdua adalah seorang anak dan ibu tiri (permaisuri raja) dari kerajaan
Majapahit yang berselingkuh, kemudian mereka diusir dari kerajaan dan
menetap di Gunung Kemukus hingga meninggal. Konon sebelum meninggal
Pangeran Samudro berpesan bahwa keinginan peziarah dapat terkabul jika
melakukan seperti apa yang ia lakukan bersama ibu tirinya. Sehingga
sebagai syarat “mujarab” untuk mendapat berkah di sana, harus dengan
berselingkuh dulu…!! Allohu Akbar!
Musyrikin Zaman Dahulu Tidak Menyekutukan Alloh Dalam Rububiyah-Nya
Tauhid
Rububiyah adalah mengikrarkan bahwa Alloh lah satu-satunya pencipta
segala sesuatu, yang memberikan rizki, yang menghidupkan dan mematikan
serta hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Alloh.. Ini semua diakui
oleh orang-orang musyrik zaman dahulu. Dalilnya adalah firman Alloh,
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang
menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: ‘Alloh’, maka bagaimanakah
mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Alloh )?.” (Az-Zukhruf: 87).
Juga firman-Nya, “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu
dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan)
pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup
dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah
yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka
katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’.” (Yunus: 31)
Akan
tetapi titik penyimpangan mereka yaitu kesyirikan dalam Tauhid Uluhiyah
(mengikrarkan bahwa hanya Alloh sajalah yang berhak ditujukan
kepada-Nya segala bentuk ibadah, seperti do’a, nadzar, menyembelih
kurban dan lain-lain). Inilah yang diingkari oleh musyrikin zaman dulu.
Mereka berdoa kepada patung atau penghuni kubur bukan dengan keyakinan
bahwa patung itu bisa mengabulkan do’a mereka atau punya kekuasaan
untuk mendatangkan keburukan, namun yang mereka maksudkan hanyalah
supaya patung (sebagai perwujudan dari orang sholeh) atau penghuni
kubur itu dapat menyampaikan do’a mereka kepada Alloh. Mereka
berkeyakinan bahwa orang sholeh itu yang telah diwujudkan/dilambangkan
dalam bentuk gambar/patung tersebut mempunyai kedudukan mulia di sisi
Alloh. Sementara mereka merasa banyak berbuat dosa dan maksiat,
sehingga tidak pantas meminta langsung kepada Alloh, tetapi harus
melalui perantara. Inilah yang mereka kenal dengan meminta syafa’at
pada sesembahan mereka Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami
tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada
Alloh dengan sedekat- dekatnya.” (Az-Zumar: 3)
Lalu bagaimana
keadaan musyrikin sekarang ini? Diantara mereka ada yang berkeyakinan
bahwa yang memberikan jatah ikan bagi nelayan, yang mengatur ombak laut
selatan adalah Nyi Roro Kidul. Sungguh tidak seorang pun dapat
menciptakan seekor ikan kecil pun, ini adalah hak khusus Alloh dalam
Rububiyah-Nya, tetapi mereka menisbatkannya kepada Nyi Roro Kidul.
Allohu akbar! betapa keterlaluan dan lancangnya terhadap Pencipta alam
semesta!!! Sehingga tidaklah heran pula jika banyak diantara masyarakat
yang takut memakai baju hijau tatkala berada di pantai selatan, karena
khawatir ditelan ombak yang telah diatur oleh Nyi Roro Kidul.
Lihatlah,
betapa orang-orang musyrik zaman dahulu lebih berakal daripada
orang-orang musyrik sekarang ini. Karena maraknya bentuk-bentuk
kesyirikan dan samarnya hal tersebut sudah seharusnya setiap kita untuk
mempelajari ilmu tauhid agar dapat menghindarkan diri sejauh-jauhnya
dari segala macam bentuk kesyirikan. Sungguh betapa jahilnya orang yang
mengatakan “Untuk apa belajar tauhid sekarang ini?”
Akhirnya
kita memohon kepada Alloh agar memberikan kepada kita taufik dan
menjauhkan diri kita dari berbagai macam bentuk kesyirikan yang
merupakan sebab kehancuran di dunia maupun di akhirat. Wallohu A’lam.
***
Artikel www.muslim.or.id
Start at the new Yahoo!7 for a better online experience. www.yahoo7.com.au
[Non-text portions of this message have been removed]