Tolong dibaca informasi ini...

----- Original Message -----
From: "Mr_bhobie" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "roma" <[EMAIL PROTECTED]>; "ando" <[EMAIL PROTECTED]>;
"slamet" <[EMAIL PROTECTED]>; "p'yudha" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, August 25, 2008 4:43 PM
Subject: Fw: [<BUDGET>] Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera
Tangerang ?


>
> ----- Original Message -----
> From: "drajat" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, August 25, 2008 12:43 PM
> Subject: [<BUDGET>] Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera
> Tangerang ?
>
>
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "Antoni Anwar" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: Monday, August 25, 2008 12:41 PM
> > Subject: [MPO] Fw: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera
> > Tangerang ?
> >
> >
> >> FYI
> >>
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: Ramaulina
> >> Sent: Monday, August 25, 2008 8:44 AM
> >> To: Sri Waluyo
> >> Subject: FW: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang
?
> >>
> >>
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: Arief Maulana
> >> Sent: Monday, August 25, 2008 8:28 AM
> >> Subject: FW: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang
?
> >>
> >>
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: Agus Samekto [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> >> Sent: Monday, August 25, 2008 8:01 AM
> >> To: 'ahamad'
> >> Cc: Arief Maulana; [EMAIL PROTECTED];
> >> [EMAIL PROTECTED]
> >> Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang ?
> >>
> >>>
> >>> just fyi..
> >>> kl kejadian ini beneran en bukan hoax, kasian juga yach
> >>> orang2 yg kena malpraktek RS yg udah biayanya mahal tapi pelayanannya
> >>> jelek...
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> ________________________________
> >>>
> >>> Fyi....................tolong disebarkan ke yang
> >>> lain.....JANGAN SAMPAI TERULANG PADA TEMAN2 KITA.................
> >>>
> >>> Thx a lots
> >>> Ella
> >>>
> >>> ________________________________
> >>>
> >>>
> >>> Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya,
> >>> terutama anak-anak, lansia dan bayi.
> >>> Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title
> >>> International karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka
> >>> semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan.
> >>>
> >>> Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya
> >>> mengalami kejadian ini di RS Omni International.
> >>>
> >>> Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi
> >>> panas tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya
> >>> bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti
> >>> mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.
> >>>
> >>> Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya
> >>> 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya
> >>> adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000,
> >>> saya diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan
> >>> saya wajib rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang
> >>> dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama
> >>> yaitu thrombosit 27.000. Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana
> >>> yang akan saya gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya
> >>> sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah dr.
> >>> Henky.
> >>> Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa
> >>> dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
> >>>
> >>> Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau
> >>> ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa.
> >>> Keesokan pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada
> >>> revisi hasil lab semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa
> >>> dilakukan revisi?), saya kaget tapi dr. Henky terus memberikan
> >>> instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan
> >>> yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau keluarga pasien.
> >>> Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih
> >>> sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya
> >>> sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita
> >>> jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini
> >>> supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter
> >>> profesional standard Internatonal.
> >>>
> >>> Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap
> >>> suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap
> >>> saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan,
> >>> lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien
> >>> harus menerimanya. Satu box lemari pasien penuh dengan infus dan
> >>> suntikan disertai banyak ampul.
> >>>
> >>> Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan
> >>> suntikan dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang
> >>> sampai saya dipindahkan ke ruangan.
> >>> Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan
> >>> datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah
> >>> dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.
> >>>
> >>> Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster
> >>> untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter
> >>> tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus
> >>> udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky
> >>> tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya
> >>> dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan
> >>> yang sakit sekali.
> >>>
> >>> Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang
> >>> sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen.
> >>> Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi
> >>> malam itu saya masih dalam kondisi infus padahal tangan kanan saya pun
> >>> mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya.
> >>> Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak
> >>> dilakukan suntikan dan obat-obatan.
> >>>
> >>> Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami
> >>> namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan
> >>> kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya,
> >>> suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan
> >>> serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah
> >>> terjadi.
> >>> Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri
> >>> saya.
> >>>
> >>> Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter
> >>> tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan
> >>> obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami
> >>> berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab
> >>> mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa
> >>> rawat jalan saja. Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa
> >>> memberikan keterangan yang memuaskan.
> >>>
> >>> Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga
> >>> mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap
> >>> tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya
> >>> membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan
> >>> dengan diberikan data medis yang fiktif.
> >>>
> >>> Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar
> >>> padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada
> >>> follow upnya samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil
> >>> thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.
> >>>
> >>> Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat
> >>> dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang
> >>> tercetak adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan
> >>> setelah saya complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan
> >>> bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka
> >>> saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil
> >>> lab tersebut.
> >>>
> >>> Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh
> >>> Ogi (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam
> >>> tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya
> >>> benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang
> >>> tidak ada service nya sama sekali ke customer melainkan seperti
> >>> mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan complaint
> >>> tertulis.
> >>>
> >>> Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas
> >>> nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer
> >>> service manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai
> >>> kejadian yang terjadi dengan saya.
> >>> Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat
> >>> pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000
> >>> bukan 181.000 makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan
> >>> kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.
> >>>
> >>> Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah
> >>> complaint saya ini tidak profesional samasekali.
> >>> Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia mengelak bahwa lab telah
> >>> memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi informasikan ke saya.
> >>> Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr. Henky namun
> >>> tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas
> >>> (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
> >>>
> >>> Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
> >>> dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular,
> >>> menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan
> >>> namun sudah parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa
> >>> yang ke laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan
> >>> kista.
> >>> Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang
> >>> telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah
> >>> diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami
> >>> sesak napas.
> >>> Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan
> >>> memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi
> >>> sesak napas.
> >>>
> >>> Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000
> >>> tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan
> >>> meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.
> >>> Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang
> >>> belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut. Saya
> >>> telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan
> >>> keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya namun sampai
> >>> jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang kerumah
> >>> saya. Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah
> >>> dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar
> >>> kebohongan RS yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama
> >>> Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya
> >>> sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda
> >>> terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya kemana kan? makanya
> >>> saya sebut  Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan
> >>> permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.
> >>> Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai
> >>> pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS
> >>> ini cantum.
> >>>
> >>> Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat
> >>> tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke
> >>> resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit
> >>> hati kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas
> >>> ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal
> >>> yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan
> >>> suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari
> >>> sebelum masuk ke RS Omni.
> >>>
> >>> Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut?
> >>> karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada
> >>> atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan
> >>> setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah
> >>> hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak
> >>> perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan
> >>> kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani
> >>> dengan baik.
> >>>
> >>> Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini
> >>> dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya
> >>> semaksimal mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari
> >>> keserakahan ini.
> >>>
> >>> Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr.
> >>> Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan
> >>> kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS
> >>> lain.
> >>>
> >>> Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya
> >>> yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya
> >>> tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini
> >>> membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.
> >>>
> >>> Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya
> >>> masing-masing, benar.... tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh
> >>> sebuah RS yang dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh
> >>> mengecewakan, semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan
> >>> dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya
> >>> keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan
> >>> membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami
> >>> di RS Omni ini.
> >>>
> >>> Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah
> >>> karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr.
> >>> Grace, dr. Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia
> >>> kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda.
> >>>
> >>> Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak
> >>> mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari
> >>> dokter ini.
> >>>
> >>> salam,
> >>>
> >>> PM
> >>>
> >>> Nb: oh ya dokternya bernama Dr. Hengky Gozal lengkapnya.
> >>> Dia spesialis penyakit dalam.
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> ---
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >
> >
>
>

Kirim email ke