Saya turut prihatin atas masalah yang dialami oleh teman
kita, tapi menurut pendapat saya alangkah baiknya
Masalah ini dilaporkan saja kepolisian dengan tuduhan telah
melakukan menipulasi data atau penipuan secara
Berencana dan mengacam keselamatan jiwa pasien, jika perlu
laporkan juga ke menteri kesehatan, biar rumah
Sakit tersebut dicabut izin operasionalnya.
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Slamet Budiman
Sent: Tuesday, 26 August 2008 9:23 AM
To: Amy; BTG MG; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; SID;
daarut-tauhiid Moderator; Yuche Olivia; Boy SPU Pekanbaru; Tika Sya
Medan; Ade Bkpn Pdg; Yanti Perum SPU
Subject: [syiar-islam] <BUDGET>] Penipuan OMNI Iternational Hospital
Alam Sutera Tangerang ?
Tolong dibaca informasi ini...
----- Original Message -----
From: "Mr_bhobie" <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:bobby.aswar%40bukopin.co.id> >
To: "roma" <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:roma_bukisya%40bukopin.co.id> >; "ando" <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:andrews%40bukopin.co.id> >;
"slamet" <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:slamet.budiman%40bukopin.co.id> >; "p'yudha"
<[EMAIL PROTECTED] <mailto:yudha%40bukopin.co.id> >
Sent: Monday, August 25, 2008 4:43 PM
Subject: Fw: [<BUDGET>] Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera
Tangerang ?
>
> ----- Original Message -----
> From: "drajat" <[EMAIL PROTECTED] <mailto:drajat%40bukopin.co.id> >
> To: <[EMAIL PROTECTED] <mailto:budget%40bukopin.co.id> >
> Cc: <[EMAIL PROTECTED] <mailto:mq-23%40bukopin.co.id> >
> Sent: Monday, August 25, 2008 12:43 PM
> Subject: [<BUDGET>] Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera
> Tangerang ?
>
>
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "Antoni Anwar" <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:antoni%40bukopin.co.id> >
> > To: <[EMAIL PROTECTED] <mailto:mpo%40bukopin.co.id> >;
<[EMAIL PROTECTED] <mailto:mpn%40bukopin.co.id> >; <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:edp%40bukopin.co.id> >
> > Sent: Monday, August 25, 2008 12:41 PM
> > Subject: [MPO] Fw: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera
> > Tangerang ?
> >
> >
> >> FYI
> >>
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: Ramaulina
> >> Sent: Monday, August 25, 2008 8:44 AM
> >> To: Sri Waluyo
> >> Subject: FW: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera
Tangerang
?
> >>
> >>
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: Arief Maulana
> >> Sent: Monday, August 25, 2008 8:28 AM
> >> Subject: FW: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera
Tangerang
?
> >>
> >>
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: Agus Samekto [mailto:[EMAIL PROTECTED]
<mailto:exportpm%40isuzu.astra.co.id> ]
> >> Sent: Monday, August 25, 2008 8:01 AM
> >> To: 'ahamad'
> >> Cc: Arief Maulana; [EMAIL PROTECTED]
<mailto:andi.zulkarnaen%40id.standardchartered.co> ;
> >> [EMAIL PROTECTED] <mailto:raul%40menlh.go.id>
> >> Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang
?
> >>
> >>>
> >>> just fyi..
> >>> kl kejadian ini beneran en bukan hoax, kasian juga yach
> >>> orang2 yg kena malpraktek RS yg udah biayanya mahal tapi
pelayanannya
> >>> jelek...
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> ________________________________
> >>>
> >>> Fyi....................tolong disebarkan ke yang
> >>> lain.....JANGAN SAMPAI TERULANG PADA TEMAN2 KITA.................
> >>>
> >>> Thx a lots
> >>> Ella
> >>>
> >>> ________________________________
> >>>
> >>>
> >>> Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia
lainnya,
> >>> terutama anak-anak, lansia dan bayi.
> >>> Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title
> >>> International karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter
maka
> >>> semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan.
> >>>
> >>> Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya
> >>> mengalami kejadian ini di RS Omni International.
> >>>
> >>> Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi
> >>> panas tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan
percaya
> >>> bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti
> >>> mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.
> >>>
> >>> Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan
hasilnya
> >>> 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya
> >>> adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah
200.000,
> >>> saya diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan
dinyatakan
> >>> saya wajib rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang
> >>> dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih
sama
> >>> yaitu thrombosit 27.000. Dr. Indah menanyakan dokter specialist
mana
> >>> yang akan saya gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena
saya
> >>> sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah
dr.
> >>> Henky.
> >>> Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit
apa
> >>> dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
> >>>
> >>> Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan
atau
> >>> ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa.
> >>> Keesokan pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada
> >>> revisi hasil lab semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa
> >>> dilakukan revisi?), saya kaget tapi dr. Henky terus memberikan
> >>> instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam
suntikan
> >>> yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau keluarga pasien.
> >>> Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih
> >>> sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya
> >>> sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih
batita
> >>> jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini
> >>> supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh
dokter
> >>> profesional standard Internatonal.
> >>>
> >>> Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang
setiap
> >>> suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap
> >>> saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan,
> >>> lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien
> >>> harus menerimanya. Satu box lemari pasien penuh dengan infus dan
> >>> suntikan disertai banyak ampul.
> >>>
> >>> Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan
> >>> suntikan dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak
datang
> >>> sampai saya dipindahkan ke ruangan.
> >>> Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan
> >>> datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa,
setelah
> >>> dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky
saja.
> >>>
> >>> Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke
suster
> >>> untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke
dokter
> >>> tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus
> >>> udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr.
Henky
> >>> tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya
> >>> dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan
suntikan
> >>> yang sakit sekali.
> >>>
> >>> Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya
terserang
> >>> sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen.
> >>> Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr. Henky saja.
Jadi
> >>> malam itu saya masih dalam kondisi infus padahal tangan kanan saya
pun
> >>> mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya.
> >>> Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak
> >>> dilakukan suntikan dan obat-obatan.
> >>>
> >>> Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan
kami
> >>> namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami
dan
> >>> kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit
saya,
> >>> suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan
> >>> serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah
> >>> terjadi.
> >>> Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata
kiri
> >>> saya.
> >>>
> >>> Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter
> >>> tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk
diberikan
> >>> obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali.
Kami
> >>> berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung
jawab
> >>> mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa
> >>> rawat jalan saja. Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa
> >>> memberikan keterangan yang memuaskan.
> >>>
> >>> Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga
> >>> mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya
tetap
> >>> tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi
saya
> >>> membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya
dipermainkan
> >>> dengan diberikan data medis yang fiktif.
> >>>
> >>> Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar
> >>> padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak
ada
> >>> follow upnya samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah
hasil
> >>> thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.
> >>>
> >>> Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun
sangat
> >>> dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang
> >>> tercetak adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan
> >>> setelah saya complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan
> >>> bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka
> >>> saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang
hasil
> >>> lab tersebut.
> >>>
> >>> Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima
oleh
> >>> Ogi (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima.
Dalam
> >>> tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya
> >>> benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang
> >>> tidak ada service nya sama sekali ke customer melainkan seperti
> >>> mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan complaint
> >>> tertulis.
> >>>
> >>> Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen,
atas
> >>> nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer
> >>> service manager) dan diminta memberikan keterangan kembali
mengenai
> >>> kejadian yang terjadi dengan saya.
> >>> Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat
> >>> pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah
27.000
> >>> bukan 181.000 makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal
dengan
> >>> kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.
> >>>
> >>> Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah
> >>> complaint saya ini tidak profesional samasekali.
> >>> Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia mengelak bahwa lab
telah
> >>> memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi informasikan ke saya.
> >>> Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr. Henky namun
> >>> tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas
> >>> (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4
sore.
> >>>
> >>> Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi
saya
> >>> dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular,
> >>> menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit
gondongan
> >>> namun sudah parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa
> >>> yang ke laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas
dan
> >>> kista.
> >>> Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang
> >>> telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan
sudah
> >>> diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga
mengalami
> >>> sesak napas.
> >>> Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan
> >>> memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga
terjadi
> >>> sesak napas.
> >>>
> >>> Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab
27.000
> >>> tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas
dan
> >>> meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.
> >>> Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang
> >>> belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.
Saya
> >>> telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan
> >>> keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya namun
sampai
> >>> jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang
kerumah
> >>> saya. Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa
sudah
> >>> dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar
> >>> kebohongan RS yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama
> >>> Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari
datanya
> >>> sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam
tanda
> >>> terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya kemana kan?
makanya
> >>> saya sebut Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan
> >>> permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.
> >>> Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika
mengenai
> >>> pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International
yang RS
> >>> ini cantum.
> >>>
> >>> Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil
surat
> >>> tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke
> >>> resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit
> >>> hati kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas
> >>> ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab
awal
> >>> yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan
> >>> suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari
> >>> sebelum masuk ke RS Omni.
> >>>
> >>> Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut?
> >>> karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar
ada
> >>> atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan
> >>> setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya
adalah
> >>> hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak
> >>> perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan
> >>> kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani
> >>> dengan baik.
> >>>
> >>> Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini
> >>> dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi
saya
> >>> semaksimal mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari
> >>> keserakahan ini.
> >>>
> >>> Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni
(dr.
> >>> Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan
> >>> kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di
RS
> >>> lain.
> >>>
> >>> Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya
> >>> yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan
saya
> >>> tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini
> >>> membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.
> >>>
> >>> Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya
> >>> masing-masing, benar.... tapi apabila nyawa manusia dipermainkan
oleh
> >>> sebuah RS yang dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan
sungguh
> >>> mengecewakan, semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan
> >>> dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya
> >>> keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan
> >>> membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya
alami
> >>> di RS Omni ini.
> >>>
> >>> Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah
> >>> karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke
dr.
> >>> Grace, dr. Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan
mulia
> >>> kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda.
> >>>
> >>> Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak
> >>> mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis
dari
> >>> dokter ini.
> >>>
> >>> salam,
> >>>
> >>> PM
> >>>
> >>> Nb: oh ya dokternya bernama Dr. Hengky Gozal lengkapnya.
> >>> Dia spesialis penyakit dalam.
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> ---
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >
> >
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]