Berpegang teguh kepada Kitabullah dan As
Sunnah<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/>August
27, 2008 – 11:47 pm

Oleh : Ahmad Dani Permana

Allah Subhanahu Wa Ta'ala, berfirman : "Apabila kalian berselisih pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya (Al-Quran dan
As-sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.
Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya
(balasannya)". (Q.S. An Nisaa' : 59)

Kemudian,Allah juga berfirman: *"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari
Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat
sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)". *(QS. Al-'Araf :3)

Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda:

« ÃóãøóÇ ÈóÚúÏõ ÝóÅöäøó ÎóíúÑó ÇáúÍóÏöíËö ßöÊóÇÈõ Çááøóåö æóÎóíúÑõ ÇáúåõÏóì
åõÏóì ãõÍóãøóÏò æóÔóÑøõ ÇáÃõãõæÑö ãõÍúÏóËóÇÊõåóÇ æóßõáøõ ÈöÏúÚóÉò ÖóáÇóáóÉñ»

"Sebagai pendahuluan sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah Kitab Allah
dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu 'alahi
wasallam dan seburuk-buruknya perkara yang diada-adakan dan setiap bid'ah
adalah sesat" [HR Muslim no.
2042<http://www.al-eman.com/hadeeth/viewchp.asp?BID=1&CID=30&SW=%D8%AE%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%88%D8%AE%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%87%D8%AF%D9%89-%D9%87%D8%AF%D9%89-%D9%85%D8%AD%D9%85%D8%AF#SR1>,
Ibnu Majah No. 
47<http://www.al-eman.com/hadeeth/viewchp.asp?BID=4&CID=2&SW=%D8%AE%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%88%D8%AE%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%87%D8%AF%D9%89-%D9%87%D8%AF%D9%89-%D9%85%D8%AD%D9%85%D8%AF#SR1>
]

*Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shollalahu 'alaihi wassalam
bersabda:** "Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian
berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu
Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya
mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga,)."* (HR. Imam Malik
secara *mursal
**(Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim secara
**musnad **(Sanadnya
bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) - dan ia menshahihkannya-) Imam
Malik dalam al-Muwaththa' (no. 1594), dan Al-HakimAl Hakim dalam
al-Mustadrak (I/172).*

Kini dapatlah kita lihat bagaimana para Imam Madzhab ber-rendah hati dan
tidak menganggap benar pendapat mereka apabila pendapat mereka bertentangan
dengan Kitabullah dan As Sunnah. Penjelasan-penjelasan mereka sebagai
berikut: [1]
<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftn1>

*I. Imam Abu Hanifah Rahimahullah*

Yang pertama-tama diantara Imam para madzhab itu adalah Imam Abu Hanifah
An-Nu'man bin Tsabit. Para sahabatnya telah meriwayatkan banyak perkataan
dan ungkapan darinya, yang semuanya melahirkan satu kesimpulan, yaitu
kewajiban untuk berpegang teguh kepada hadits dan meninggalkan pendapat para
imam yang bertentangan dengannya. Perkataan-perkataannya adalah sebagai
berikut:

v *"Apabila hadits itu shahih, maka itu adalah madzhabku."* (Ibnu Abidin di
dalam Al-Hasyiyah
1/63)[2]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftn2>

v *"Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami,
selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya".* (Ibnu Abdil Barr
di dalam Al-Intiqa'u fi Fadha 'ilits Tsalatsatil A'immatil Fuqaha'I, hal.
145) Dalam sebuah riwayat lain dikatakan: *"Adalah haram bagi orang yang
tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku".* Di
dalam sebuah riwayat ditambahkan: *"Sesungguhnya kami adalah manusia yang
mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari".* Dan
Diriwayat yang lain dikatakan: "Wahai Ya'kub (abu Yusuf) celakalah
kamu! *Janganlah
kamu tulis semua yang kamu dengar dariku. Hari ini aku berpendapat demikian,
tapi di hari esok aku meninggalkannya. Besok aku berpendapat demikian, tapi
hari berikutnya aku meninggalkannya."*

v *"Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah
dan kabar Rasulullah salallahu 'alaihi Wa Sallam, maka tinggalkanlah
perkataanku".* (Al-Fulani di dalam Al-Iqazh, hal. 50)

*II. Imam Malik bin Anas Rahimahullah*

Imam Malik berkata:

v *"Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka
perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan
sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan sunnah,
tinggalkanlah".* (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami', 2/32)

v *"Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,
kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan,
kecuali Nabi Salallhu 'Alaihi Wasallam".* (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus
Salik, 1/227)

v Ibnu Wahab berkata, "Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang
menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, "tidak ada hal
itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia
berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di
dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: 'Al-Laits bin
Sa'ad dan Ibnu Lahi'ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Ma'afiri
dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah
memberikan hadist kepada kami, ia berkata, *"Aku melihat Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa
yang ada diantara jari-jari kedua kakinya.* Maka dia berkata, "sesungguhnya
hadist ini adalah Hasan, 'aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku
mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk
menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta'dil, karya Ibnu
Abi Hatim, hal. 32-33)

*III. Imam Asy Syafi'i Rahimahullah*

Adapun perkataan-perkataan yang diambil dari Imam Syafi'i di dalam hal ini
lebih banyak dan lebih baik, dan para pengikutnya pun lebih banyak
mengamalkannya. Di antaranya:

v *"Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus bermadzhab dengan Sunnah
Rasulullah dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan
dan mengasalkan kepada suatu asal di dalamnya dari Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam yang bertentangan dengan ucapanku. Maka peganglah sabda
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Inilah ucapanku."* (Tarikhu
Damsyiq karya Ibnu Asakir,
XV/1/3)[3]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftn3>

v *Berkata Imam Syafii:*

ÞóÇáó ÇúáÇöãóÇãõ ÇáÔøóÇÝöÚöí ÑóÍöãóåõ Çááåõ ÊóÚóÇáóì : ÇóÌúãóÚó
ÇáúãõÓúáöãõæúäó Úóáóì Çóäøó ãóäö ÇÓúÊóÈóÇäó áóåõ ÓõäøóÉó ÑóÓõæúáóåõ Õóáøóì
Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó áóãú íóÍöáøõ áóåõ Çóäú íóÏóÚóåóÇ áöÞóæúáö ÇóÍóÏò.

*"Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya
Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, maka tidak halal baginya
untuk meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan seseorang."* (Ibnul
Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal. 68)

v *"Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan
Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, maka berkatalah dengan
sunnah rasulullah Salallahu 'alaihi Wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang
aku katakan." *Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam, 3/47/1)

v *"Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku."* (An-Nawawi di
dalam Al-Majmu', Asy-Sya'rani, 10/57)

v *"Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadist dan
orang-orangnya *(Rijalu 'l-Hadits). Apabila hadist itu shahih, maka
ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari kufah, Bashrah maupun
dari Syam, sehingga apabila ia shahih, akan bermadzhab dengannya." (
Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi'I, 8/1)

v *"Setiap masalah yang didalamnya kabar dari Rasulullah Salallahu 'Alaihi
Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku
katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku
mati."*(Al-Harawi, 47/1)

v *"Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist
Nabi yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya
akalku telah bermadzhab dengannya."* (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash
Al-Mu'addab)

v *Berkata Imam Asy Syafii:*

ÞóÇáó ÇúáÇöãóÇãõ ÇáÔøóÜÇÝöÚöíøõ ÑóÍöãóåõ Çááåõ ÊóÚóÇáóì : ßõáøõ ãóÇ ÞõáúÊõ
æóßóÇäó Úóäö ÇáäøóÈöíøö ÕóÜáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÎöáÇóÝõ Þóæúáöíú
ãöãøóÇ íóÕöÍú ¡ ÝóÍóÏöíúËõ ÇáäøóÈöíøõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó
Çóæúáóì æóáÇó ÊõÞóáøöÏõæúäöíú.**

*"Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari nabi salallahu 'alaihi wa
sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka
hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu
mengikutiku."* (Ibnu Asakir, 15/9/2)

*IV. Imam Ahmad bin Hambal*

Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah
dan paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga ia membenci penulisan
buku-buku yang memuat cabang-cabang (furu') dan pendapat. Oleh karena itu ia
berkata:

v *Berkata Imam Ahmad bin Hambal:*

ÞóÇáó ÇúáÇöãóÇãõ ÇóÍúãóÏõ : áÇó ÊõÞóáøöÏõæäöíú æóáÇó ãóÇáößðÇ æóáÇó ÇóÈóÇ
ÍóäöíúÝóÉð æóáÇó ÇáÔøóÇÝöÚöí æóáÇó ÇúáÇóæúÒóÚöíú æóáÇó ÇáËóæúÑöíøö
ÑóÍöãóåõãõ Çááåõ ÊóÚóÇáóì æóÎõÐú ãöäú ÍóíúËõ ÇóÎóÐõæúÇ.

*"Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik,
Syafi'i, Auza'i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka
mengambil."*(Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I'lam, 2/302)

v *"Pendapat Auza'I, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya
adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah
terdapat di dalam atsar-atsar."* (Ibnul Abdl Barr di dalam Al-Jami', 2/149)

v *"Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah Salallahu 'alaihi wa sallam,
maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran."* (Ibnul Jauzi, 182).

Dan juga perlu saya tambahkan bahwa berkata Imam Ahmad bin Hambal:

ÞóÇáó ÇúáÇöãóÇãõ ÇóÍúãóÏõ Èúäõ ÍóäúÈóá ÑóÍöãóåõ Çááåõ ÊóÚóÇáóì : áÇó
ÊõÞóáøöÏú Ïöíúäóßó ÇóÍóÏðÇ ãöäú åóÄõáÇóÁö ãóÇ ÌóÇÁó Úóäö ÇáäøóÈöíøö Õóáøóì
Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÝóÎõÐú Èöåö ¡ Ëõãøó ÇáÊøóÇÈöÚöíúäó ÈóÚúÏó ÇáÑøóÌõáö
Ýöíúåö ãõÎóíøóÑñ.

**

*"Berkata Imam Ahmad bin Hambal: Dalam agamamu janganlah engkau bertaqlid
dengan sesiapapun dari mereka-mereka. Apa yang datang dari nabi sallallahu
'alaihi wa-sallam maka ambillah olehmu, kemudian ambil dari para tabiin,
adapun orang-orang yang sesudahnya diberi pilihan sama ada diambil atau
ditinggalkan"[4]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftn4>
*

Jika kita lihat semua pendapat-pendapat para Imam Madzhab tersebut, mereka
tidak mau diikuti selama kita tidak mengetahui dari mana mereka
mengambilnya. Imam Asy-Syafii berkata:

Úóä ÇúáÇöãóÇãö ÇóÈöíú ÍóäöíúÝóÉò æóãóÇáößò æóÇáÔøóÇÝöÚöí æóÇóÍúãóÏò
ÑóÍöãóåõãõ Çááåõ Çóäøóåõãú ÞóÇáõæúÇ : áÇóíóÍöáøõ áÇóÍóÏò Çóäú íõÝúÊöíó
ÈößóáÇóãöäóÇ Çóæú íóÇúÎõÐó ÈóÞóæúáöäóÇ ãóÇáóãú íóÚúÑöÝú ãöäú Çóíúäó
ÇóÎóÐúäóÇ.

"Dari Imam Abu Hanifah, Malik, as-Syafie dan Ahmad rahimahumullah mereka
semua berkata: Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk memberi fatwa dengan
kata-kata kami atau berpegang dengan kata-kata kami selagi dia tidak
mengetahui dari mana kami mengambil kata-kata
tersebut".*[5]*<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftn5>

Demikianlah perkataan imam madzhab dalam memerintahkan untuk berpegang teguh
kepada as Sunnah dan melarang mengikuti mereka tanpa sikap kritis. Perkataan
mereka sudah jelas tidak bisa dibantah dan diputar balikan. Mereka
mewajibkan berpegang teguh kepada semua hadist sahih sekalipun bertentangan
dengan perkataan mereka.

Allah berfirman: *"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu
keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya"* (An-Nisa:65)

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: "Adalah menjadi kewajiban bagi setiap orang
yang telah sampai kepadanya perintah Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wa Sallam
dan mengetahuinya untuk menerangkannya kepada umat, menasehati mereka dan
memerintahkan kepada mereka untuk mengikuti perintahnya. Dan apabila hal itu
bertentangan dengan pendapat orang besar diantara umat, maka sesungguhnya
perintah Rasulullah salallahu 'alaihi wa Sallam itu lebih berhak untuk
disebarkan dan diikuti dibanding pendapat orang besar manapun yang telah
bertentangan dengan perintahnya di dalam sebagian perkara secara salah. Dan
dari sini, para sahabat dan orang-orang setelah mereka telah menolak setiap
orang yang menentang sunnah yang sahih, dan barangkali mereka telah berlaku
keras dalam penolakan ini. Namun demikian, mereka tidak membencinya, bahkan
dia dicintai dan diagungkan di dalam hati mereka. Akan tetapi, Rasulullah
Salallahu 'alaihi wa Sallam adalah lebih dicintai oleh mereka dan
perintahnya melebihi setiap makhluk lainnya. Oleh karena itu, apabila
perintah rasul itu bertentangan dengan perintah selainnya, maka perintah
rasul adalah lebih utama untuk didahulukan dan diikuti. Hal ini tidak
dihalang-halangi oleh pengagungan terhadap orang yang bertentangan dengan
perintahnya, walaupun orang itu mendapat ampunan. Orang yang bertentangan
itu tidak membenci apabila perintahnya itu diingkari apabila memang ternyata
perintah Rasulullah itu bertentangan dengannya. Bagaimana mungkin mereka
akan membenci hal itu, sedangkan mereka telah memerintahkan kepada para
pengikutnya, dan mereka telah mewajibkan mereka untuk meninggalkan
perkataan-perkataan yang bertentangan dengan
sunnah."[6]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftn6>

Dari kesimpulan yang dapat kita petik adalah para Imam besarpun berkata
apabila ada perkataan kami yang bertentang dengan sunnah Rasulullah
shalallahu 'alahi wasallam maka tinggalkanlah perkataan kami, dan ambilah
sunnah rasulullah yang sahih. *Maka bisakah kiranya ulama yang ada sekarang
ini berucap seperti perkataan empat Imam madzhab rahimahumullah tersebut?*

Jika ada sebagian manusia yang lebih mempercayai ucapan Kyai, Ustadz, Syaikh
atau siapapun dibanding ucapan Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam, maka
dia telah menjadikan seseorang itu sebagai Tuhan, seperti ucapan Imam asy
Syafii rahimahullah:

ÞóÇáó ÇúáÇöãóÇãõ ÇáÔøóÜÇÝöÚöí : ãóäú ÞóáøóÏó ãõÚóíøóäðÇ Ýöì ÊóÍúÑöíúãö
ÔóíúÁò Çóæú ÊóÍúáöíúáöåö æóÞóÏú ËóÈóÊó Ýöì ÇáúÍóÏöíúËö ÇáÕøóÍöíúÍö Úóáóì
ÎöáÇóÝöåö æóãóäúÚöåö ÇáÊøóÞúáöíúÏö Úóäö ÇáúÚóãóáö ÈöÇáÓøõäøóÉö ÝóÞóÏú
ÇÊøóÎóÐó ãóäú ÞóáøóÏóåõ ÑóÈøðÇ ãöäú Ïõæúäö Çááåö ÊóÚóÇáóì.

**

*"Barang siapa bertaqlid/mengikuti kepada seseorang dalam perkara
mengharamkan atau menghalalkan sesuatu sedangkan hadist sahih bertentangan
dengannya dan mencegah bertaqlid/mengikuti karena diperintahkan beramal
dengan sunnah, maka dia telah mengambil orang yang ditaqlidkan/diikuti
sebagai Tuhan selain Allah 'Ta'ala".
[7]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftn7>
*

Tinggal sekarang kitanya maukah kita mengikuti Rasulullah shalallahu 'alahi
wasallam atau kah orang lain? Padahal seorang ulama haruslah kata-katanya
bersesuai-an dengan Al Quran dan Sunnah Nabi-Nya dan inilah ulama yang
dikatakan pewaris nabi.

Lihatlah riwayat dibawah ini:

ÞóÇáó ÇÈúäõ ÚóÈøóÇÓò áöÑóÌõáò ÓóÇóáóåõ Úóäú ãóÓúÇóáóÉò ÝóÇóÌóÇÈó ÈöÍóÏöíúËò
ÝóÞóÇáó áóåõ ¡ ÞóÇáó ÇóÈõæú ÈóßóÑò æóÚõãóÑò ¡ ÝóÞóÇáó ÇÈúäõ ÚóÈøóÇÓò :
íõæúÔöÜßõ Çóäú ÊóäóÒøóáó Úóáóíúßõãú ÍöÌóÇÑóÉð ãöäó ÇáÓøóÜãóÇÁö ¡ ÇóÞóæúáó
ÞóÇáó ÑóÓõÜæúáõ Çááåö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóÜáøóãó æóÊóÞõæúáõæúäó ÇóÈõæú
ÈóßóÑò æóÚõãóÑ.

*"Ibn Abbas pernah menjawab pertanyaan seorang lelaki yang bertanya
kepadanya tentang suatu masalah. Dijawabnya pertanyaan tersebut dengan
sebuah hadist. Maka (orang itu) menyangkal dan berkata kepada Ibn Abbas:
(Tetapi) telah berkata Abu Bakar dan Umar. Ibn Abbas kemudian berkata: Ditakuti
akan diturunkan ke atas kamu hujan batu (bala) dari langit. Aku telah
menjawab: Telah bersabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam tetapi kamu
berkata (menyangkal/beralasan) telah berkata Abu Bakar dan Umar?". *

Dalam riwayat lainnya : "Urwah berkata kepada Ibnu Abbas radhiAllahu'anha :
Celaka kamu! Kamu menyesatkan manusia, kamu memerintahkan umrah pada tanggal
sepuluh dzulhijah padahal tidak ada umrah pada hari tersebut?" Ibnu Abbas
menjawab: "Wahai urwah, tanyalah ibumu? Urwah menjawab, :"Sesungguhnya Abu
Baka dan Umar tidak pernah memerintahkan seperti itu padahal mereka berdua
lebih mengetahui akan perihal Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam dan
lebih ittiba kepada beliau dibanding kamu sendiri."

Ibnu Abbas menjawab, "apakah kalian mendapati sesuatu? Aku mengemukakan
pendapat dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam kepadamu tapi kamu
membawakan pendapat Abu Bakar dan Umar.

Dalam riwayat lainnya Ibnu Abbas berkata, "saya perlihatkan bahwasannya
mereka akan binasa, aku berkata, : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam
bersabda ini dan itu, sedang mereka berkata: "Abu Bakar dan Umar
melarangnya."[8]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftn8>

Diriwayatkan bahwa Ubadah bin Shamit r.a, bersama dan Mu'awiyah menyerbu
kota Romawi, lalu aku meyaksikan orang-orang yang sedang berjual beli
butiran-butiran emas dengan dinar dan butiran-butiran perak dengan dirham.
Ubadah katakan kepada mereka :"Wahai sekalian manusia sesungguhnya kalian
makan riba, saya mendengar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda :
*"Janganlah kalian berjual beli dengan emas, kecuali yang sepadan, tidak ada
kelebihan keduanya dan tidak ada penundaan."*

Lalu Mu'awiyah berkata kepadanya : "Wahai Abul Walid [Ubadah], aku tidak
melihat adanya riba dalam jual beli ini, kecuali yang mengandung
penundaaan", Ubadah berkata: "Aku mengatakan kepadamu dari Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wasallam sementara kamu mengatakan kepadaku dari
pendapatmu sendiri." Sungguh jika Allah mengeluarkanku aku tidak akan
tinggal didaerah dimana kamu akan memimpinku. Seusai kembali [dari
penyerbuan] menuju ke Madinah, lalu Umar bin Khattab bertanya kepadanya, :
"Apa yang kamu hadapi Abul Walid [Ubadah] lalu ia menceritakan kejadian
tersebut diatas dan bagaimana ia aka memilih tempat tinggal. Kemudian Umar
bin Khattab radhiAllahu 'anhu menyurati Mu'awiyah, "Kamu tidak berhak
memimpin Ubadah, dan perintahkan orang-orang untuk mengikuti apa yang ubadah
katakan. Karena apa yang disampaikan adalah yang harus
diikuti.[9]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftn9>

Sudah selayaknya sikap fanatik kepada syaikh fulan bin fulan, ustadz, Kyai
atau sebutan lainnya ditinggalkan jika dalam ucapan, sikap dan akhlaq mereka
keluar atau meyelisihi dari petunjuk Risallah Muhammad Shalallahu 'alaihi
wasallam yang Allah telah menunjuknya sebagai Nabi-Nya.

Padalah sifat fanatik kepada golongan baik itu kepada perorangan, partai dan
organisasi, akan menimbulkan sikap tidak objektif dalam menilai dan hal itu
ada perbuatan 
jahilliyyah[10]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftn10>yang
terjadi sebelum masa Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam diutus.

Dalam hadits-hadits Rasul juga banyak diterangkan bagaimana sikap Jahiliyyah
itu. Imam Bukhari dalam Kitab Iman dengan judul Bab "Kema'siatan merupakan
perkara Jahiliyyah", meriwayatkan Hadits; "ketika itu seorang laki-laki dari
kalangan Muhajirin mendorong seorang laki-laki dari kaum Anshar, orang
Anshar tersebut memanggil golongannya; Hai orang-orang Anshar dan begitu
pula orang Muhajirien tadi, ia juga memanggil kawannya yang Muhajirien; Hai
orang-orang Muhajirien, kemudian bersabda-lah Rasul :

Apakah engkau memperhatikan panggilan jahiliyyah itu? Tinggalkanlah olehmu
karena itu perbuatan busuk (HR. Ahmad & Baihaqie)

Ketika seseorang mempersiapkan golongannya atas golongan lain, dengan
memanggil-manggil golongannya, maka itulah Fanatisme golongan dan hal itu
termasuk perbuatan Jahiliyyah.

Pada sa'at perjanjian Hudaibiyah, kaum Musyrikien tidak mau menerima tulisan
Bismillah dan Muhammad Rasulullah dalam teks perjanjian itu. Mereka
bersikeras bahwa bila mereka menerima tulisan itu tentu saja mereka tidak
akan memerangi Rasul dan pengikutnya sebab tulisan tersebut merupa-kan
pengakuan risalah Muhammad. Mereka angkuh dan angkuh adalah perbuatan
Jahiliyyah. Allah menegaskannya dalam surat al-Fath, ayat 26;

*"Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu)
kesom-bongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya,
dan kepada orang-orang mu'min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat
takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut
memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu"*

Dan hadits dari Abu Dzar, ia berkata: "sesungguhnya saya mengejek seseorang
dengan menghina ibunya, maka Rasulullah berkata padaku, "Hai Abu Dzar,
apakah engkau menghina ibunya? Sesungguhnya engkau adalah orang yang
mempunyai sifat Jahiliyyah" (HR.Bukhari-Muslim)

Semoga dapat merenungkannya dengam dasar ilmu! *Wallahu A'lam*

*Footnote:*
------------------------------

[1]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftnref1>Penjelasan
ini diambil dari kitab Shifatu Shaalati An Nabiy saw min at
Tabirii ilaa at Taslimii Ka-annaka Taraahaa ditulis oleh Syaikh Muhammad
Nashiriddin Al -Albani rahimahullah. Dan saya tambahkan dari beberapa Kitab
yang berkaitan dengan masalah ini.

[2]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftnref2>Juga
bisa dilihat di Kitab Rasmul Multi I/4 dari kumpulan-kumpulan tulisan
Abnu Abidin. Juga oleh Syaikh salih al Filani dalam Kirab Iqazhu al Humam
hal 62 dan lain-lain.

[3]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftnref3>Lih:
HR Hakim dengan sanad bersambung kepada Imam Syafii, I'lamul Muwaqi'in
II/363-364

[4]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftnref4>Lih:
Masail al-Imam Ahmad diriwayatkan oleh Abu Dawud hal 277

[5]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftnref5>Jaami'ul
Bayan al ilmu wa Fadhilah, abu Umar Yusuf Abdulbar an Namri al
Qurthubi I/91

[6]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftnref6>Untuk
penjelasan lebih sempurna lihat Kitab Shifatu shaalat an Nabiyy karya
syaikh al-Albani rahimahullah

[7]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftnref7>Hal
Muslim Mulzimun bi ittiba' Madzhabun Mu'ayanun minal Madzhabi al
Arba'ah, Muhammad Sultan al Maksumi hal: 69

[8]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftnref8>Diriwayatkan
oleh Ishaaq bin Ruwaihi sebagaimana dalam Al mathaalibul
'aliyah No. 1306, Ibnu Abi Syaibah Juz 4 No.103. Ath Tabrani dari jalan Ibnu
Syaibah Juz 24, No 92dan dalam Al Ausath Juz I No. 42. Musnad Imam Ahmad Juz
I no. 252, 253 dan 337. Atsar ini disahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Al
Mathaalib dan di hasankan oleh AL Haistammi dalam al majma Juz I no.324

[9]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftnref9>Lih
: Syaraf Ashab al Hadist hal 89/B, takhrij Ushul Al Hadits Dr Muhammad
Ajaj Al Khattib hal 76

[10]<http://adanipermana.co.cc/2008/08/27/berpegang-teguh-kepada-kitabullah-dan-as-sunnah/#_ftnref10>Pada
umumnya pengertian jahiliyyah yang beredar di masyarakat luas adalah
keadaan orang-orang Arab sebelum Islam, karena mereka bodoh terhadap Tuhan,
Rasul dan syari'at-syari'at-Nya serta mereka berbangga-bangga dengan
keturunan, kebesaran dan lain sebagainya. Namun "Jahiliyyah" tidak hanya
khusus pada sa'at itu, tidak hanya khusus pada zaman tertentu dan tidak pula
kaum tertentu. Jahiliyyah bisa terjadi kapanpun dan masyarakat manapun
dengan syarat terdapat unsur-unsur yang telah disebutkan, walaupun zaman ini
adalah zaman sains

-- 
www.adanipermana.co.cc
www.computer-knowledge.biz


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke