Mari Mengembalikan Uang Sesuai Fungsinya
Badai krisis ekonomi yang dipicu resesi di Amerika (USA) baru dimulai. Ibarat
hujan, saat ini masih gerimis. Namun, meski baru gerimis, korban krisis
tersebut telah bermunculan hampir di seluruh belahan dunia.. Belum dapat
dibayangkan bagaimana jika badai tersebut benar-benar telah datang. Apakah
hanya badai pasang-surut biasa atau tsunami yang luar biasa. Dalam sebuah
siklus ekonomi, pasang-surut perekonomian merupakan sebuah hal yang lumrah
terjadi. Sebuah siklus ekonomi, selalu melihatkan adanya fase lonjakan yang
tanpa terelakkan akan disusul oleh sebuah peluruhan (bust).
Era Ekonomi Baru yang lahir setelah runtuhnya kekuasaan Uni Soviet, telah
menjadikan Amerika Serikat sebagai negara adikuasa tunggal dan menandai
kemenangan ekonomi pasar atas sosialisme. Kondisi pasar yang terjadi pada era
ekonomi baru, bukan hanya kapitalisme mengalahkan komunisme, tetapi juga
menjadikan kapitalisme versi Amerika yang didasari kegigihan individualisme
mengalahkan versi-versi kapitalisme lain yang lebih lunak dan halus (Stiglitz,
2003).
Seiring proses globalisasi, maka terjadilah penyebaran kapitalisme gaya Amerika
ke seluruh dunia. Semua pihak, pada awal era ekonomi baru seolah memperoleh
manfaat dari tatanan Economia Americana. Tatanan ini mendorong peningkatan
aliran dana yang belum pernah terjadi sebelumnya, dari negara maju ke dunia
berkembang, yakni enam kali lipat dalam enam tahun, peningkatan perdagangan
yang mencapai 90% lebih dalam satu dekade, dan angka pertumbuhan ekonomi yang
luar biasa. Kondisi ini diharapkan akan menciptakan lapangan kerja yang besar
dan pertumbuhan kesejahteraan yang lebih baik.
Dalam setiap era ekonomi senantiasa terjadi pergeseran perekonomian. Pergeseran
yang terjadi pada Era Ekonomi Baru adalah pergeseran produksi barang
(manufaktur) ke produksi gagasan. Ekonomi Baru, lebih memerlukan pengolahan
informasi dibandingkan persediaan barang. Mulai pertengahan era 1990-an, sektor
manufaktur menyusut mendekati 14% dari total output perekonomian. Hal ini
berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja, alih-alih menciptakan lapangan
pekerjaan baru, yang terjadi tingkat pengangguran jauh lebih besar dari era
sebelumnya.
Berubahnya basis perekonomian dari manufaktur ke gagasan, menjadikan perusahaan
teknologi menjadi rebutan para investor untuk menginvestasikan dana mereka.
Rebutan investor dalam mengiventasikan dananya pada suatu sektor dapat
mengakibatkan munculnya kegairahan irasional dalam sebuah pasar. Perlu
disadari, bahwa dalam ekonomi pasar, harga merupakan faktor penting guna
membangun kepercayaan dan berfungsi sebagai sinyal yang menuntun alokasi sumber
daya. Jika harga didasari oleh informasi mengenai fakta dasar suatu pasar
tertentu, maka keputusan yang dibuat investor berdasarkan harga tersebut
merupakan keputusan yang sehat. Dengan demikian, sumber daya akan dialokasikan
dengan baik dan perekonomian akan tumbuh dengan wajar.
Akan tetapi, apabila harga-harga sesungguhnya bersifat acak yang didasari oleh
keranjingan irasional spekulator pasar, maka investasi akan kacau balau.
Spekulasi muncul akibat terlalu mengandalkan kepercayaan pasar dibandingkan
pengetahuan tentang pasar, dan kurang mengindahkan ekonomi riil yang melandasi
pemilihan investasi. Hal tersebut memunculkan sebuah kegairahan irasional,
sehingga harga-harga yang terjadi hanya didasari oleh keranjingan semata. Demi
mengejar kenaikan harga dan keuntungan, para investor mengesampingkan
pertimbangan-pertimbangan normal perilaku investasi rasional. Mereka melakukan
investasi di dalam pasar yang sebenarnya bercirikan risiko tinggi.
Perkembangan yang tidak rasional tersebut, menurut Gilpin & Gilpin (2000),
merupakan tahap mania atau gelembung dalam bom. Pada saat tahap ini semakin
cepat, maka harga dan laju penambahan uang yang dispekulasikan pun meningkat.
Kemudian, pada titik tertentu pasar akan mencapai puncaknya. Beberapa investor
dalam mulai mengkonversi investasinya ke bentuk uang atau memindahkan ke
investasi lain, untuk mengantisipasi kondisi yang akan terjadi berikutnya.
Melihat hal itu, banyak spekulan yang sadar, bahwa permainan akan berkahir
dan ikut menjual asset-asset investasi mereka. Lomba adu cepat untuk keluar
dari asset-asset yang berisiko dan bernilai tinggi menjadi semakin sengit, dan
pada akhirnya berubah menjadi gerombolan liar yang mengejar kualitas dan
keamanan.
Peritiwa tersebut dapat menimbulkan sinyal pasar yang memicu kekacauan dan
menyebabkan paniknya dunia keuangan. Kepanikan tersebut dapat berupa kegagalan
bank, bangkutnya suatu perusahaan, atau sejumlah peristiwa yang tidak mendukung
lainnya. Ketika para investor terburu-buru keluar dari pasar, harga-harga pun
berjatuhan, kebangkutan meningkat, dan gelembung spekulasi akhirnya meletus
yang menyebabkan harga ambruk. Kepanikan terjadi setelah para investor dengan
putus asa mencoba menyelamatkan diri mereka sedapat mungkin. Kemudian,
bank-bank menghentikan pinjaman yang menyebabkan remuknya kredit, suatu masa
resesi, atau bahkan mungkin depresi mengikutinya. Pada akhirnya, panik akan
mereda dengan cara tertentu, ekonomi terpulihkan, dan pasar kembali pada
kesetimbangan, setelah membayar sedemikian mahal.
Menurut Stiglitz (2003), selama bertahun-tahun, semakin banyak bukti bahwa
pasar sering tidak berjalan dengan baik. Walaupun, hubungan antar harga saham
dengan informasi masuk akal, tetapi seringkali naik turunnya harga tidak
demikian. Fluktuasi pasar benar-benar acak. Sifat pasar yang acak dan tidak
efisien mempunyai biaya yang mahal dan menyebabkan suatu perusahaan mendapatkan
investasi berlebih, sementara sebagian perusahaan lain mendapatkan investasi
telalu sedikit bahkan mungkin tidak dapat sama sekali.
Pertumbuhan ekonomi di era ekonomi baru yang seringkali diwarnai dengan
kegairahan irasional, juga menimbulkan suatu kondisi lain. Kondisi tersebut
melahirkan pemisahan yang semakin besar antara kepemilikan dengan pengelolaan
korporasi. Pengelola perusahaan atas nama jutaan pemegang saham mengelola
korporasi. Namun, pemegang saham awam sulit memahami apa yang sesungguhnya
terjadi atas investasi mereka pada korporasi tersebut. Kondisi yang terjadi
saat ini dikenal sebagai modal uang atau kapitalisme uang (Korten, 1999).
Pemilik modal menjadi semakin jauh dari concern sosial dan terpisah dari
realitas perdagangan praktis. Mereka menggantungkan hidup dari pendapatan yang
diperoleh dari kepemilikan uang dan mengharapkan tabungan yang diinvestasikan
semakin menumpuk, namun kondisi tersebut menyimpang dari realitas ekonomi yang
mendasarinya.
Kapitalisme uang telah memberikan kesempatan kepada orang yang memiliki uang
untuk meningkatkan tututan mereka terhadap kumpulan kekayaan masyarakat yang
sesungguhnya tanpa memberi kontribusi kepada produksinya. Aktivitas seperti
itu, menyebabkan sejumlah kecil orang menjadi kaya tapi tidak produktif.
Menurut Korten, ketidakmampuan kapitalisme uang untuk membedakan antara
investasi yang produktif dan yang ektraktif merupakan salah satu sifat yang
menjadi ciri khasnya. Berdasarkan logika kapitalisme uang, definisi uang adalah
kekayaan, dan tujuan aktivitas ekonomi adalah bagaimana menciptakan uang
sebanyak mungkin.
Jauh sebelum kapitalisme berjaya, Imam al-Ghazali pada abad ke 11-12, telah
memperingatkan bahwa Memperdagangkan uang ibarat memenjarakan fungsi uang,
jika banyak uang yang diperdagangkan, niscaya tinggal sedikit uang yang dapat
berfungsi sebagai uang. Dalam konsep Islam, uang tidak termasuk dalam fungsi
utilitas karena manfaat yang kita dapatkan bukan dari uang itu secara langsung,
melainkan dari fungsinya sebagai perantara untuk mengubah suatu barang menjadi
barang yang lain.
Dampak berubahnya fungsi uang dari sebagai alat tukar dan satuan nilai mejadi
komoditi dapat kita rasakan sekarang. Pada tahun 1997, mukjizat keuangan Asia
yang sering digembar-gemborkan sebelumnya, tiba-tiba berubah menjadi kehancuran
keuangan Asia akibat terlena pada sebuah era di mana milyaran dolar dalam
bentuk investasi baru mengalir amat deras ke pasar saham dan menaikkan
harga-harga dengan kecepatan yan belum pernah terjadi sebelumnya. Kehancuran
tersebut dimulai dari Thailand, dan kemudian dengan cepat mejalar, sebagaimana
deretan kartu domino yang berjatuhan, ke Malaysia, Indonesia, Korea Selatan,
dan Hong Kong. Kejadian yang hampir sama berulang saat ini dan menimpah super
power Amerika yang menimbulkan getar bagai tsunami ke seluruh dunia.
Namun sebenarnya, dampak tersebut sudah diingatkan oleh Ibnu Tamiyah yang lahir
di zaman pemerintahan Bani Mamluk tahun 1263. Ibnu Tamiyah dalam kitabnya
Majmu Fatwa Syaikhul Islam) menyampaikan lima butir peringatan penting
mengenai uang sebagai komoditi, yakni :
1. Perdagangan uang akan memicu inflasi;
2. Hilangnya kepercayaan orang terhadap stabilitas nilai mata uang akan
mengurungkan niat orang untuk melakukan kontrak jangka panjang, dan menzalimi
golongan masyarakat yang berpenghasilan tetap seperti pegawai/ karyawan;
3. Perdagangan dalam negeri akan menurun karena kekhawatiran stabilitas
nilai uang;
4. Perdagangan internasional akan menurun;
5. Logam berharga (emas & perak) yang sebelumnya menjadi nilai intrinstik
mata uang akan mengalir keluar negeri.
Demikian pula, pada abad ke-14, Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah telah
menjelaskan bahwa kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang di
negara tersebut, tetapi ditentukan oleh tingkat produksi negara tersebut dan
neraca pembayaran yang positif. Apabila suatu negara mencetak uang
sebanyak-banyaknya, tetapi bukan merupakan refleksi pesatnya pertumbuhan sektor
produksi, maka uang yang melimpah tersebut tidak ada nilainya. Jumlah uang yang
tidak sesuai dengan nilai produksi yang dihasilkan suatu negara dikenal
menyebabkan terjadinya inflasi dan bubble gum economics, yang pada akhirnya
menyebabkan multi function crisis. Penggerak pembangunan suatu negara adalah
sektor produksi, bukan sektor moneter, karena sektor produksi akan menyerap
tenaga kerja, meningkatkan pendapatan pekerja, dan menimbulkan permintaan
(pasar) terhadap produksi lainnya.
Untuk itu, marilah kita kembali kepada fungsi uang yang sebenarnya yang telah
dijalankan dalam konsep Islam, yakni sebagai alat pertukaran dan satuan nilai,
bukan sebagai salah satu komoditi, dan menyadari bahwa sesungguhnya uang itu
hanyalah sebagai perantara untuk menjadikan suatu barang kepada barang yang
lain. Mari pula kita fahami bersama, bahwa kapitalisme uang telah melupakan
produksi dan kepentingan-kepentingan kelas pekerja, masyarakat, dan alam.
Logika kapitalisme uang telah menyebabkan keruntuhan keuangan dari sebuah
negara ke negara lain. Di bawah kekuasaan kapitalisme uang, penghargaan jatuh
kepada mereka yang membuat uang, bukan kepada pekerja yang digaji dan
benar-benar membuat hal-hal yang para pembuat uang itu ingin membelinya.
Akhirnya teori ekonomi yang menyatakan bahwa setiap pertumbuhan ekonomi akan
menyebabkan meningkatnya kesempatan kerja tidak menjadi kenyataan. Kenyataan
yang ada malah sebaliknya, yakni jutaan orang yang harus bersiap-siap saat ini
untuk kehilangan pekerjaan mereka.
Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Soaial Ekonomi Islami)
=========================================================
Mohon partisipasi Bapak/Ibu untuk mengisi Polling Pemanfaatan Bank Syariah
Silahkan klik
http://asia.groups.yahoo.com/group/ekonomi-islami/surveys?id=2366675
Semoga partispasi Bapak/Ibu bermanfaat dalam kajian sosial ekonomi islami di
Indonesia
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/