HTI-Press. Krisis keuangan global yang terjadi kini 
merupakan fenomena yang menjadi pusat perhatian dunia, tidak saja bagi pemikir 
ekonomi mikro dan makro, tetapi juga bagi para elite politik dan para 
pengusaha. 

  
Dalam sejarah ekonomi, 
ternyata krisis sering terjadi di mana-mana melanda hampir semua negara yang 
menerapkan sistem kapitalisme. Krisis demi krisis ekonomi terus berulang tiada 
henti, sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998 – 2001 bahkan 
sampai saat ini krisis semakin mengkhawatirkan dengan munculnya krisis 
finansial 
di Amerika Serikat. 
  
Roy Davies dan Glyn 
Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient time oi Present 
Day, menguraikan sejarah kronologi secara komprehensif. dimana sepanjang 
abad 20 telah terjadi lebih 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara. 
Fakta ini menunjukkan bahwa secara rata-rata, setiap 5 tahun terjadi krisis 
keuangan hebat yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia. 

  
Krisis ini pun 
berimbas pada dolar yang kemudian membuat gonjang-ganjing keuangan banyak 
Negara 
di dunia.  Uang, dalam perekonomian mempunyai arti sangat penting.  
Ketidakadilan alat ukur itu, karena instabilitas nilai tukar, akan 
mengakibatkan 
perekonomian suatu bangsa bahkan dunia, tidak berjalan pada titik keseimbangan. 
Akibatnya, akan semakin sulit merealisasikan keadilan ekonomi dan kesejahteraan 
rakyat. Inilah yang menimpa sistem uang kertas yang kita anut saat ini. 

  
Uang kertas yang pada 
dasarnya hanya berupa kertas, ternyata tidak memiliki nilai intrinsik yang 
murni. Akibatnya, fluktuasi nilai tukarnya terus terjadi. Baik karena gangguan 
sektor riil seperti korupsi dan bencana alam, maupun gangguan sektor moneter 
yang berpeluang menciptakan sistem ribawi. 
  
Potret ketimpangan 
ekonomi yang melanda negara-negara dunia ketiga akibat penerimaan mereka 
terhadap sistem mata uang kertas (fiat money)  menjadi bukti nyata akan hal 
itu. 
Fiat money adalah penggunaan mata uang berbasis kertas yang diterbitkan 
pemerintah suatu negara tanpa disokong logam mulia (emas dan perak).    

  
Penggunaan fiat money 
baru dikenal pada abad 20 ini. Penandanya, saat sistem Bretton Woods ambruk 
pada 
1944. Emas yang selama ribuan tahun menjadi standar mata uang (classical gold 
standard) diganti dengan sistem kurs mengambang (flexible excange rate) yang 
sama sekali tak lagi bersandar pada emas. Dunia kemudian hanya mengenal satu 
mata uang kertas yang mendominasi perdagangan dan menjadi pilihan mengisi 
cadangan devisa oleh berbagai negara, yaitu dolar AS.   
  
Perombakan sistem moneter standar emas dunia adalah hasil 
rekayasa Kapitalisme dalam rumusan Imperialisme Moneter melalui IMF dan Bank 
Dunia dengan metode hutang luar negeri, sistem moneter bukan standar emas, 
inflasi dengan sistem bank sentral, selisih kurs dan bunga melalui mekanisme 
pasar bebas. Dengan fluktuasi yang sedikit saja, maka hancurlah sitem keuangan 
dunia. Lebih lebih votalitas kurs ini bisa dipermainkan oleh beberapa orang/ 
lembaga saja di dunia ini. 
  
Penggunaan uang kertas 
sebagai alat transaksi moneter internasional itu telah membuka ruang bagi 
munculnya penjajahan baru dan salah satu biang ketidakadilan moneter di dunia. 
Melalui mata uang kertas, sebuah negara dapat menjajah, menguasai, bahkan 
melucuti kekayaan negara lain. Negara yang memiliki nilai mata uang kertas 
lebih 
kuat menekan negara lain yang mata uang kertasnya lebih lemah.   
  
Contoh nyata 
penjajahan melalui mata uang itu terlihat dalam penggunaan uang kertas dolar 
Amerika Serikat (AS) yang diterima oleh 60 persen penduduk bumi. Inilah ironi 
terbesar dunia saat ini.  Dolar yang terdistribusi secara luas menempatkan AS 
pada tempat istimewa. Melalui dolar–mata uang yang tak berbasis pada emas 
itu–AS 
mengeksploitasi, memajaki warga dunia dengan mengalihkan beban inflasi yang 
ditanggungnya pada seluruh pemakai dolar di seantero dunia. Negara-negara 
ketiga 
didera krisis ekonomi berkepanjangan lantaran harus membayar inflasi yang 
ditimbulkan oleh penggunaan uang kertas tersebut.   
  
Bukan itu saja. 
Ketidakadilan juga tersimak saat negara-negara ketiga menyerahkan pelbagai 
komoditas mereka seperti minyak, kayu dan kekayaan alam lainnya sementara AS 
cukup menukar semua komoditas itu dengan uang kertas yang bisa dicetaknya kapan 
saja.   Sepanjang dolar tetap dipakai dalam pelbagai transaksi moneter 
internasional, ketimpangan moneter dan krisis ekonomi akan terus melanda 
negara-negara ketiga.   
  
Dalam sejarah, mata 
uang emas terbukti diterima sebagai alat moneter universal. Ribuan tahun 
lamanya 
masyarakat dunia dari pelbagai peradaban memilih mata uang ini sebagai alat 
tukar dalam aneka praktik keuangan. Selama ribuan tahun pula, perdagangan dunia 
menganut konsep bimetalisme, kebijakan moneter berbasis emas dan perak. 
Imperium 
Romawi menggunakan denarius, mata uang berupa koin emas bergambar Hercules 
bersama dua putranya, Herculyanoos dan Qustantine. Di Cina dikenal qian, mata 
uang yang juga berbasis logam.   
  
Jika kita mau terbebas 
dari ketidakadilan moneter dan krisis ekonomi tersebut, maka kenapa tidak 
melirik mata uang emas dan perak.  Sistem uang emas dan perak punya beberapa 
keunggulan. 
  
Pertama, uang 
emas sudah dibuktikan sejak zaman Nabi Muhamad saw sebagai alat tukar yang 
punya 
nilai intrinsik murni. Nabi pernah mengutus sahabatnya membeli seekor kambing 
dengan harga satu dinar. Hari ini, 1500 tahun kemudian, sekeping dinar tetap 
bisa dapat seekor kambing. Jadi, nilainya tetap. Begitu juga dirham. Satu 
dirham 
dari dulu sampai sekarang kira-kira dapat seekor ayam kecil, sedangkan ayam 
besar dua dirham. Jadi, emas dan perak adalah penyimpan nilai yang tetap dan 
dijamin oleh dirinya sendiri.  
  
Kedua, jika 
emas dan perak berlaku sebagai mata uang maka ia akan menjadi mata uang 
universal yang menjadi milik semua negara. Karena emas dan perak diterima oleh 
semua negara. Ketiga, sebagai mata uang universal ia tidak memiliki 
masalah kurs. Sehingga, harga 1 dinar di Amerika Serikat sama dengan harga 1 
dinar di Indonesia. Tidak seperti sekarang, $ 1 US tiba-tiba 9000 kali lipat 
rupiah, dan ini tiap kali bisa dimainkan. 
  
Keempat, jika 
kita menetapkan dinar dan dirham sebagai mata uang, berarti kita telah bersikap 
adil. Karena, begitu kita bertransaksi dengan dinar berarti kita telah 
melakukan 
tukar menukar harta dengan harta lain yang nilainya sepadan. Misalnya, kita 
menjual hasil hutan berupa kayu, kita akan mendapatkan emas dalam bentuk dinar. 
Kelebihan lainnya, jika kita mempunyai cadangan emas yang banyak, kita tidak 
mudah diguncang berbagai krisis.  Tidak seperti saat ini. Kita mengekspor 
minyak, kayu, elektronik, dan lainnya hanya untuk ditukar dengan kertas yang 
nggak ada apa-apanya. Hanya kertas dengan angka-angka yang dipaksakan oleh 
hukum 
dan politik negara untuk mempercayainya.


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke