Ikutan nimbrung nih..
Persoalan-persoalan seperti yang dikemukakan mbak Suhana memang masalah yang
ada hampir di setiap keluarga.
Salah satu contohnya, ada teman saya yang baru 6 bulan menikah dan sebenarnya
sebelum menikah cowok ini termasuk panglatu (panglima lajang tua) karena baru
kebagian jatah menikah dalam usia 35 tahun.
Lamanya membujang menyebabkan beliau tergantung pada petunjuk ibunya, termasuk
gaji bulanannya harus disetor kepada ibunya setiap bulan, dan itu sudah
berlangsung puluhan tahun.
Ketika menikah, si ibu tadi kurang menyadari bahwa anaknya saat ini telah
beristri dan sudah saatnya berdiri secara otonom. Akibatnya, si ibu menuntut
anaknya untuk selalu menyetorkan gajinya setiap bulan sebagaimana biasanya. Hal
ini tentu saja melukai hati istrinya karena eksistensi dirinya di rumah tangga
yang baru mereka bina sama sekali tidak dipandang.
Si suami sebenarnya memahami kemauan istrinya dan memandang bahwa hal itu
adalah sebua keharusan, dan setelah melalui proses panjang, suami pun bicara
pada ibunya dengan lembut untuk meminta penegertian ibunya. Tapi apa yang
terjadi, si ibu mengamuk dan mengatakan bahwa kehadiran menantunya telah
menggeser segala-galanya, sampai-sampai menawarkan opsi pilih istri yang baru
saja kamu kenal dan bisa saja kamu ganti sewaktu-waktu atau pilih ibu yang
melahirkan kamu dan tak bisa digantikan oleh siapapun hingga akhir zaman.
Di sisi lain, ada juga istri yang terkadang mendorong suami yang sebenarnya
adalah orang baik dan taat pada ayah dan ibunya, namun karena ketamakan harta
dan kekuasaan, istri mendorong suaminya untuk menentang keluarganya sendiri
sehingga semua amburadul. Padahal selama ini si suami dicap oleh keluarga
sebagai anak yang berbakti.
Kedua kasus di atas sesungguhnya tidak perlu terjadi apabila si ibu pada kasus
pertama memahami dan menerima dengan setulus hati konsekuensi pernikahan anak
laki-lakinya yang tentunya telah lama dinanti-nantikannya. Otonomi
seluas-luasnya kepada anak yang telah menikah harus diberikan agar mereka dapat
secara leluasa menata rumah tangga mereka sendiri.
Sedangkan pada kasus kedua, istri yang mempunyai tuntutan di luar kewajaran
sering membuat rumah tangga gagal dalam mengemban misinya untuk menciptakan
rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Dalam hal ini tidak hanya
kebijaksanaan suami yang dituntut untuk mempu mengendalikan dan mengakomodir
aspirasi istrinya tanpa menelan korban apa pun, melainkan juga penegakan
kebenaran hakiki dari lubuk hati si istri yang paling dalam agar bisa berdiri
tegak dalam kebenaran seraya mencari ridha Allah SWT. Sehingga tidak terjadi
Suami-Suami Takut Istri seperti awal permbicaraan ini.
Terima kasih.
Amri
----- Original Message -----
From: suhana032003
To: [email protected]
Sent: Friday, December 12, 2008 11:50 AM
Subject: [syiar-islam] Re: Suami-suami takut isteri
betul..tapi kadang tanpa sadar suami yg menjadikan ibu saingan istri:)
dan tanpa sadar membuat istri protes ke suami. hmm..kalau aku tipe
orang yg langsung ngomong kalau dah mulai diskriminasi, yg jadi
masalah adalah ketidaknyamanan yg tidak dibicarakan, karena kuatir
timbul keributan, dan ini perlu kesepakatan yg perlu dikomunikasikan,
bila ada sesuatu yg buat tidak nyaman antara keduanya.
contoh..
suami alergi makan pedas, tapi nda alergi kalau ibunya yg buatin, dgn
alasan nda enak kalau nda dimakan karena ibu yg buatin?? harusnya
begitu jg terhadap istri dong?? harus menghargai kerja keras istri yg
sudah memasak ^_^ or masakan ibu yg kemarin masih mau dimakan untuk
hari ini, tapi masakan istri harus ganti dan beda2 tiap pagi, siang,
dan malam?? ini bikin kerja ekstra keras buat istri, karena tiap hari
harus mikir menu makanan, dan mikir sisa makanan harus dikemanakan??
mosok makanan sisa baru dibagikan ke orang lain??waduhhh..bukan nda
ikhlas lakukan itu semua, tapi kenapa perlakuan harus dibedakan antara
ibu dan istri??
hal2 spt inilah yg secara nda sadar timbulkan konflik, karena suami
secara nda sadar sudah bersikap tidak adil dan jadikan ibu saingan
istri *_* jadi..mulai dech..jangan salahkan istri jadi uring2an sama
sikap suami, karena mungkin secara nda sadar, sang suami yg mulai
timbulkan konflik dan memposisikan si ibu jadi saingan istri??hehehe
kalau bisa toleran terhadap ibu, kenapa nda bisa toleran terhadap istri??
salam
hana
--- In [email protected], "fajarzs" <aziz-fa...@...> wrote:
>
> Dari moderator:
> Dalam Islam seorang suami harus berbakti pada ibunya sementara istri
harus berbakti pada suaminya.
>
> Urutannya: Ibu>Suami>Istri.
>
> Namun kerap posisi tersebut berbalik hingga timbul keributan rumah
tangga yang berakhir dengan perceraian. Masing2 ada tempatnya.
>
> Kita semua harus saling menghormati dan mengayomi/melindungi orang
yang jadi tanggung-jawab kita.
>
> Wassalam
>
> Suami-suami takut isteri
>
>
> Tentu kita tidak asing lagi dengan tayangan di salah satu stasun
> televisi swasta yang bertajuk seperti judul diatas. Apalagi kemudian
> tayangan tersebut (suami-suami takut isteri SSI) diangkat ke dalam
> layar lebar dengan pemeran yang sama, tentunya akan membuat penonton
> menjadi semakin penasaran.
>
> Tayangan ini sebenarnya patut mendapat acungan jempol karena masih
> mampu bertahan hingga kini dan diputar hampir setiap hari pada prime
> time, artinya SSI masih mampu memikat hati penonton televisi untuk
> tidak memindahkan channel televisinya. Harus diakui memang plot cerita
> SSI dibuat sederhana dan terjadi pada kehidupan sehari-hari, sehingga
> penonton tidak harus menyimak dengan serius sambil mengernyitkan
> dahinya. Pemilihan para pemain juga terlihat pas dengan tokoh yang
> diperankan, apalagi mereka termasuk dalam kategori pemain baru
> sehingga mampu menyajikan sesuatu yang segar di antara dominasi pemain
> sinetron yang itu-itu saja.
>
> Pada awalnya saya juga suka menonton SSI, namun setelah beberapa waktu
> buat saya pribadi SSI menjadi sedikit membosankan karena metode yang
> digunakan untuk membuat penonton tertawa tidak berubah. Selalu para
> suami yang mata keranjang disuruh pulang oleh para isteri dengan
> caranya masing-masing. Ada yang dipukul, dicubit, dilempar sandal,
> serta disuruh jalan pocong dan bebek. Terasa SSI menjadi berkurang
> kreativitasnya, karena dari satu episode ke episode selanjutnya
> terlihat tidak ada perubahan yang signifikan. Rasanya sama seperti
> sedang melihat serial kartun anak-anak Tom and Jerry.
>
> Selain itu, ada satu hal yang pada akhirnya membuat saya menjadi tidak
> menyukai SSI yaitu kekerasan isteri kepada suami yang ditayangkan pada
> waktu dimana kemungkinan dilihat oleh anak-anak sangat tinggi. Saya
> kuatir apabila kekerasan itu ditayangkan kepada anak-anak, selucu
> apapun dan meskipun dengan tujuan hanya untuk menghibur, akan
> mengendap dalam ketidaksadaran mereka dan suatu saat nanti akan keluar
> sebagai sebuah kebiasaan sekaligus menjadi sebuah kebenaran.
> Pembenaran bagi perilaku anak-anak kita nantinya bahwa sah bagi isteri
> untuk melakukan kekerasan terhadap suaminya.
>
> Kekerasan, dari siapapun, kepada siapapun dan dalam bentuk apapun
> sangat tidak dibenarkan baik oleh prinsip kemanusiaan apalagi menurut
> dasar agama. Saya sendiri sangat menentang segala bentuk kekerasan
> domestik yang dilakukan oleh para suami kepada isterinya. Begitu juga
> hal yang sama akan saya lakukan apabila kondisi tersebut diposisikan
> terbalik, dimana para isteri yang melakukan kekerasan kepada suaminya.
>
> Tidak pada tempatnya seorang isteri memukul suaminya. Karena Allah
> mengajarkan kepada manusia cara berumah tangga yang baik melalui
> syariat shalat. Ibaratnya shalat adalah sebuah rumah tangga, dimana
> imam adalah sang suami dan ma'mum adalah sang isteri dan anak-anaknya.
> Maka selama imam melaksanakan shalat sesuai ajaran Nabi Muhammad serta
> bacaannya benar, maka wajib bagi ma'mum untuk tunduk dan mengikuti
> segala gerakan imam.
>
> Syariat shalat sangat demokratis. Terbukti saat imam melakukan
> kesalahan, ma'mum diperbolehkan memperingatkan imam dengan membaca
> subhanallah (untuk anak laki-laki) atau bertepuk tangan satu kali
> (untuk isteri dan anak perempuan). Apabila imam batal, atas
> kesadarannya sendiri, imam diwajibkan untuk mengundurkan diri dari
> posisi sebagai imam dan digantikan oleh salah satu ma'mumnya sesuai
> syariat.
>
> Metode ini menuntut pengertian yang tinggi baik dari imam (suami)
> maupun ma'mum (isteri), karena apabila salah satu pihak melakukan
> kesalahan maka mereka harus bersedia untuk diperingatkan. Lebih jauh
> lagi, sang imam (suami) juga dituntut untuk tidak egois mempertahankan
> posisinya sebagai pemimpin apabila dia memang melakukan kesalahan
> vital yang menyebabkan posisinya sebagai pemimpin menjadi batal.
>
> Saya ngeri sendiri membayangkan seandainya anak-anak perempuan kita
> yang saat ini menonton SSI setelah besar nanti menganggap bahwa
> memukul suami adalah sah dan benar. Bahwa kesetaraan gender diwujudkan
> dalam pengambilalihan posisi imam oleh isteri meskipun sang suami yang
> sedang menjadi imam tidak melakukan kesalahan apapun dan juga sedang
> tidak batal. Betapa banyak pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga
> anak-anak kita nantinya akibat pemahaman salah tersebut yang berasal
> dari ketidaksadaran mereka di masa kecil. Pemahaman bahwa suami
> bukanlah lagi imam tetapi berubah menjadi isteri sebagai imam,
> sehingga suami wajib tunduk dan patuh kepada isterinya.
>
> Satu hal yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah berharap. Berharap
> semoga semua itu tidak terjadi. Semoga hiburan tetaplah dianggap
> sebagai hiburan belaka. Semoga SSI tidak mengendap dalam alam
> ketidaksadaran anak-anak kita sebagai sebuah sebuah prinsip hidup.
> Semoga Allah terus berkehendak menjaga akidah kita dan anak-anak kita
> nantinya sehingga tetap lurus berada pada jalan-Nya.
>
> Ihdinashshirâth al mustaqîm, shirâth alladzîna an'amta `alaihim
> ghairil maghdlûbi `alaihim waladhdhâllîn.
>
> Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah
> Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai
> dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Al Fatihah ayat 7 8).
>
>
> Banyuwangi, 10 Desember 2008
> Aziz Fajar Ariwibowo
> see my blog : http://aziz-fajar.blogs.friendster.com/azizfajar/
>
#ygrp-mkp { BORDER-RIGHT: #d8d8d8 1px solid; PADDING-RIGHT: 14px;
BORDER-TOP: #d8d8d8 1px solid; PADDING-LEFT: 14px; PADDING-BOTTOM: 0px; MARGIN:
14px 0px; BORDER-LEFT: #d8d8d8 1px solid; PADDING-TOP: 0px; BORDER-BOTTOM:
#d8d8d8 1px solid; FONT-FAMILY: Arial}#ygrp-mkp HR { BORDER-RIGHT: #d8d8d8
1px solid; BORDER-TOP: #d8d8d8 1px solid; BORDER-LEFT: #d8d8d8 1px solid;
BORDER-BOTTOM: #d8d8d8 1px solid}#ygrp-mkp #hd { FONT-WEIGHT: bold;
FONT-SIZE: 85%; MARGIN: 10px 0px; COLOR: #628c2a; LINE-HEIGHT: 122%}#ygrp-mkp
#ads { MARGIN-BOTTOM: 10px}#ygrp-mkp .ad { PADDING-RIGHT: 0px;
PADDING-LEFT: 0px; PADDING-BOTTOM: 0px; PADDING-TOP: 0px}#ygrp-mkp .ad A {
COLOR: #0000ff; TEXT-DECORATION: none}
[Non-text portions of this message have been removed]