Ya Allah, sungguh BIADAB....benarlah sabda-Mu di dalam kitab suci mengenai 
mereka...
sedangkan dunia diam saja, menunggu... 

Hanya dengan bersatu padunya umat Islam secara ekonomi, politik, militer Israel 
dan AS dapat dikalahkan telak. Semoga Allah segera mengirimkan sosok seperti 
khalifah Umar bin Katthab atau Sholahudin Ayyubi untuk membebaskan Palestina....

http://www.republika.co.id/koran/14/26154.html
-------------------------------------------------------------
Kamis, 15 Januari 2009 pukul 07:27:00
                Kisah Sedih dari Jabaliya                       
                 
                

                                        ''Oh, Tuhan! Saya tidak pernah melihat 
pemandangan mengerikan seperti ini,'' kata Abu Aukal, sambil menangis tersedu.

Abu
Aukal adalah seorang dokter. Bertugas di bagian gawat darurat, dia
telah terbiasa menangani korban terluka maupun tewas akibat agresi
Israel di Jalur Gaza, dalam berbagai kondisi. Tapi, tidak untuk yang
satu ini. Dia hampir tak memercayai apa yang dilihatnya.

Beberapa
hari lalu, di kamp pengungsi Jabaliya, yang terletak di bagian utara
Gaza City, tak jauh dari pintu perbatasan Erez, seorang bocah
perempuan, Shahd (4 tahun), sedang bermain di halaman belakang
rumahnya. Tiba-tiba, tentara Zionis Israel menyerang dan menembak
membabi-buta. Bocah gemuk yang lucu itu bersimbah darah.

Melihat
anaknya tergeletak di lantai dengan kondisi mengenaskan, kedua orang
tuanya buru-buru mengulurkan tangan hendak meraihnya. Tapi, serdadu
Israel mengusirnya dengan hujan peluru. Kedua orang tua itu pun
meninggalkan tempat itu, sementara anaknya masih tertidur di sana:
entah sedang sekarat, entah sudah tewas.

Rupanya tentara Israel
yang selalu membawa anjing pelacak saat melakukan serangan darat ke
Jalur Gaza, memang punya maksud tertentu dengan tindakannya itu.
Jenazah Shahd sengaja dibiarkan tergeletak di halaman terbuka itu untuk
(maaf) dijadikan santapan anjing.

''Anjing-anjing itu
meninggalkan satu bagian utuh tubuh bayi malang itu,'' kata Abu Aukal,
dengan air mata berderai, saat menuturkan cerita tragis itu, seperti
dikutip islamonline, kemarin.

''Kami melihat
pemandangan memilukan selama 18 hari terakhir (agresi Israel). Kami
mengangkat mayat anak-anak yang tercabik atau terbakar. Tapi, tak ada
yang seperti ini,'' kata Abu Aukal.

Berhari-hari saudara Shahd,
Matar, dan sepupunya, Muhammad, mencoba meraih tubuh gadis itu, tapi
sia-sia. Lagi-lagi, tentara pendudukan Israel menggunakan bahasa
tembakan untuk mengusir kedua bocah itu.

Tapi, melihat tubuh
Shahd yang terus dicabik anjing dari hari ke hari, Matar dan Muhammad
tak tahan. Pada hari kelima, keduanya nekat mendekati tubuh Shahd yang
masih tersisa untuk membawanya pulang. Belum lagi keduanya meraih tubuh
Shahd, tentara Israel menghujani dengan tembakan. Keduanya tewas.

Omran
Zayda, tetangga Shahd, menilai tentara Israel sangat mengetahui apa
yang mereka lakukan. ''Mereka (tentara Israel--Red) menghalau dan
mencegah keluarga yang ingin mengambil mayat (Shahd), karena mengetahui
anjing-anjing mereka akan memakannya,'' katanya.

Apa yang
terjadi pada Shahd, kata Zayda, tak bisa digambarkan dengan kata-kata,
tidak pula rekayasa kamera. ''Anda tidak akan pernah membayangkan apa
yang telah dilakukan anjing-anjing itu kepada tubuh anak tak berdosa
itu,'' kata pria ini sambil menahan air matanya.

Zayda
menambahkan, ''Mereka bukan hanya membunuh anak-anak kami. Mereka juga
melakukan tindakan yang sangat keji dan tak berperikemanusiaan.'' 
Sejumlah orang Palestina meyakini apa yang terjadi pada Shahd bukanlah
satu-satunya kasus mengerikan yang dilakukan tentara Israel kepada
warga Palestina di Gaza.

Sebelumnya, menimpa keluarga Abu Rabu
yang sedang mencoba menguburkan tiga anggota keluarganya yang tewas,
ketika tentara Israel secara tiba-tiba mencegah acara penguburan itu
dengan berondongan peluru. Saat keluarga yang sedang berduka itu
menjauh, tentara Israel melepaskan anjing-anjing pelacaknya ke arah
tubuh-tubuh itu. Peristiwa ini juga terjadi di Jabaliya.

''Apa
yang terjadi ini sangat mengerikan dan tak terbayangkan,'' kata Saad
Abu Rabu, salah satu anggota keluarga itu. ''Anak-anak kami tewas di
depan mata kami, tapi kami bahkan dicegah untuk menguburkan mereka.
Orang-orang Israel melepaskan anjing-anjing ke arah tubuh-tubuh mereka,
seakan yang mereka lakukan belum cukup,'' katanya sambil menangis.

Masih di Jabaliya, harian terkemuka Israel, Haaretz,
melaporkan seorang dokter Palestina, dr Issa Salah (28), dibunuh
tentara Israel, Senin (12/1), ketika sedang menolong korban serangan
Israel. Menurut Mizan--sebuah organisasi kemanusiaan di Gaza--saat itu
Issa dan timnya memasuki gedung yang diserang misil Israel.

Issa
dan timnya masuk ke gedung itu sambil meminta yang selamat untuk
meninggalkan gedung, sementara tim medis itu mencari mereka yang
menjadi korban. Tapi, beberapa menit kemudian, sebuah helikopter
kembali menembakkan misilnya ke gedung itu. Issa pun tewas. Serangan
itu juga menewaskan sejumlah wanita dan anak-anak.

Tewasnya dr
Issa membuat jumlah petugas medis yang dibunuh selama agresi Israel di
Jalur Gaza menjadi tujuh orang. Selain itu, tiga rumah sakit dan empat
klinik kesehatan juga dihancurkan oleh mesin-mesin perang Zionis.

Peristiwa
kelam yang terjadi di Gaza memang memilukan. Tak ada lagi sejengkal pun
tempat yang aman untuk berlindung dari kebuasan mesin-mesin perang
Israel. Bahkan, Israel pun seolah tak lagi mempunyai hati untuk sekadar
memberi perlakuan yang baik kepada orang-orang yang telah dibunuhnya.

Apa
yang terjadi di Gaza, menurut pejabat senior United Nation Relief and
Work Agency, John Ging, merupakan ''tes bagi kemanusiaan kita.'' run (-)
                                

Index Koran

"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 
  kampusku 
  Blogku



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke