Sejarah Yahudi di Indonesia

Yahudi di Indonesia membentuk komunitas Yahudi yang sangat kecil, 
yang terdiri hanya sekitar 20 yahudi, yang kebanyakan merupakan 
Yahudi Sephardi.

Pada tahun 1850-an, pengelana Yahudi, Jacob Saphir, adalah orang 
pertama yang menulis mengenai komunitas Yahudi di Hindia Belanda, 
setelah mengunjungi Batavia. Kebanyakan Yahudi yang hidup di Hindia 
Belanda pada abad ke-19 adalah Yahudi Belanda, yang bekerja sebagai 
pedagang atau berhubungan dengan rezim kolonial. Namun, beberapa 
anggota komunitas juga merupakan imigran dari Irak atau Aden.

Pada saat Perang Dunia, jumlah Yahudi di Hindia Belanda diperkirakan 
sekitar 2.000 jiwa. Yahudi Indonesia menderita ketika Pendudukan 
Jepang di Indonesia, dan mereka dipaksa untuk bekerja di kemah. 
Setelah perang, Yahudi yang dilepas menemui berbagai masalah, dan 
banyak yang beremigrasi ke Amerika Serikat, Australia atau Israel.

Pada akhir 1960-an, diperkirakan 20 Yahudi tinggal di Jakarta dan 25 
tinggal di Surabaya. Pada sensus tahun 2000, orang Indonesia yang 
menyatakan sebagai suku Yahudi berjumlah sekitar 200 orang saja. 
Mereka memeiliki sebuah sinagoga di Surabaya, Jawa Timur.

Keturunan Yahudi Indonesia

Beberapa tokoh berdarah Yahudi Indonesia diantaranya :
Marini Sardi, artis
Yapto Suryosumarno, politikus; tokoh pemuda
Nafa Urbach, artis
Cornelia Agatha, artis
Xaviera Hollander, penulis, bintang erotika, pengusaha.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Konon, warga Yahudi sudah banyak berdiam di Indonesia sejak jaman kolonial 
Belanda, khususnya di Jakarta, tapi tidak ada tanggal yang pasti kaum Yahudi 
menetap di Indonesia. Sebuah situs Komunitas Yahudi dunia (lihat di sini) 
mencatat bahwa pada tahun 1850 seorang utusan dari Jerusalem, Jacob Saphir, 
yang mengunjungi Batavia (Jakarta), bertemu dengan seorang pedagang Yahudi dari 
Amsterdam yang menyebutkan bahwa ada 20 keluarga Yahudi dari Belanda atau 
Jerman tinggal di sana, termasuk anggota pasukan kolonial Belanda.

Beberapa orang Yahudi juga tinggal di Semarang dan Surabaya. Mereka punya 
beberapa hubungan dengan agama Judaisme (ajaran Yahudi). Atas permintaan 
Saphir, Komunitas Amsterdam mengirim rabbi yang mencoba mengorganisasikan 
jemaah di Batavia dan Semarang.

Sejumlah Yahudi dari Baghdad atau asli orang Baghdad, dan dari Aden juga 
bermukim di Jawa. Pada tahun 1921, utusan Zionis dari Israel yang bernama Cohen 
memperkirakan bahwa hampir ada 2,000 orang Yahudi yang tinggal di Jawa.

Sebagai catatan, Vereenigde Oostindische Compagnie (Serikat Dagang India Timur) 
atau VOC atau Kompeni berdiri pada tahun 1602 dan memegang hak monopoli dari 
Kerajaan Belanda untuk menguasai jalur perdagangan di Asia selama 21 tahun. VOC 
adalah Multi-National Company (MNC) pertama di dunia dan juga perusahaan 
Multi-nasional pertama yang menerbitkan saham. Selama hampir 200 tahun 
berkuasa, VOC akhirnya bangkrut dan dibubarkan pada tahun 1800 karena terlilit 
hutang dan kerusuhan. Akhirnya asset dan hutang-hutangnya diambil alih oleh 
pemerintah Hindia Belanda.

Kembali kepada kisah kaum Yahudi. Yahudi Belanda di Surabaya ada yang memegang 
jabatan penting di pemerintahan, dan banyak juga yang jadi pedagang. Kaum 
Yahudi yang berasal dari Baghdad membentuk elemen yang paling orthodox (kolot). 
Di sana juga terdapat kaum Yahudi asal Eropa Tengah dan Soviet Russia, yang 
jumlahnya meningkat di tahun 1930an. Di tahun 1939 ada sekitar 2,000 pemukim 
Yahudi Belanda dan sejumlah Yahudi stateless (tanpa status kewarganegaraan) 
yang menjalani hukuman ketika Jepang menduduki Indonesia. Setelah kemerdekaan 
Indonesia, unsur-unsur Yahudi Belanda mulai mengalami kemerosotan dan 
populasinya pun berkurang karena alasan-alasan politik dan ekonomi.

Ada sekitar 450 orang Yahudi di Indonesia pada tahun 1957, umumnya kaum 
Ashkenazim di Jakarta dan kaum Sephardim di Surabaya, komunitas inilah yang 
memelihara sebuah sinagoga di sana. Komunitas tersebut berkurang menjadi 50 
orang di tahun 1963. Ada sekitar 20 orang Yahudi yang tinggal di Jakarta dan 25 
orang di Surabaya pada tahun 1969. Komunitas ini diwakili oleh the Board of 
Jewish communities of Indonesia (Dewan Komunitas-komunitas Yahudi di Indonesia) 
yang berkantor di Jakarta.

Pada tahun 1997, tercatat ada sekitar 20 orang Yahudi tinggal di Indonesia, 
beberapa dari mereka ada di Jakarta dan beberapa keluarga Yahudi lainnya yang 
berasal dari Iraq tinggal di Surabaya dan memelihara sebuah sinagoga kecil.

Pedagang Sukses
--------------------------
Pada abad ke-19 dan 20 serta menjelang Belanda hengkang dari Indonesia, ada 
sejumlah orang Yahudi yang membuka toko-toko di Noordwijk (kini Jl Juanda) dan 
Risjwijk (Jl Veteran) -- dua kawasan elite di Batavia kala itu -- seperti 
Olislaeger, Goldenberg, Jacobson van den Berg, Ezekiel & Sons dan Goodwordh 
Company.

Di sepanjang Jalan Juanda (Noordwijk) dan Jalan Veteran (Rijswijk) jejak 
Zionis-Yahudi juga ada. Dalam sebuah artikel di sebuah media massa yang terbit 
di Jakarta, sejarawan Betawi Alwi Shahab menyebutkan, pada abad ke-19 dan 
ke-20, sejumlah orang Yahudi menjadi pengusaha papan atas di Jakarta.

Beberapa di antaranya bernama Olislaegar, Goldenberg dan Ezekiel. Mereka 
menjadi pedagang sukses dan tangguh yang menjual permata, emas, intan, perak, 
arloji, kaca mata dan berbagai komoditas lainnya. Toko mereka berdiri di 
sepanjang Jalan Risjwijk dan Noorwijk.

Masih menurut Alwi, pada tahun 1930-an dan 1940-an, jumlah orang Yahudi cukup 
banyak di Jakarta. Bisa mencapai ratusan orang. Mereka pandai berbahasa Arab, 
hingga sering dikira sebagai orang keturunan Arab. Bahkan Gubernur Jenderal 
Belanda, Residen dan Asisten Residen Belanda di Indonesia banyak yang keturunan 
Yahudi. Di masa kolonial, warga Yahudi ada yang mendapat posisi tinggi di 
pemerintahan. Termasuk gubernur jenderal AWL Tjandra van Starkemborgh 
Stachouwer (1936-1942).

Sedangkan Abdullah Alatas (75 tahun) mengatakan, keturunan Yahudi di Indonesia 
kala itu banyak yang datang dari negara Arab. Maklum kala itu negara Israel 
belum terbentuk. Seperti keluarga Musri dan Meyer yang datang dari Irak.

Sedangkan Ali Shatrie (87) menyatakan bahwa kaum Yahudi di Indonesia memiliki 
persatuan yang kuat. Setiap Sabath atau Sabtu, hari suci kaum Yahudi, mereka 
berkumpul bersama di Mangga Besar, yang kala itu merupakan tempat pertemuannya. 
Di gedung itu, seorang rabbi, imam kaum Yahudi, memberikan wejangan dengan 
membaca Kitab Zabur.

Menurut Ali Shatrie, kaum Yahudi umumnya memakai paspor Belanda dan mengaku 
warga negara kincir angin. Sedangkan Abdullah Alatas mengalami saat-saat hari 
Sabath dimana warga Yahudi sambil bernyanyi membaca kitab Talmut dan Zabur, dua 
kitab suci mereka.

Pada 1957, ketika hubungan antara RI-Belanda putus akibat kasus Irian Barat 
(Papua), tidak diketahui apakah seluruh warga Yahudi meninggalkan Indonesia. 
Konon, mereka masih terdapat di Indonesia meski jumlahnya tidak lagi seperti 
dulu. Yang pasti dalam catatan sejarah Yahudi dan jaringan gerakannya, mereka 
sudah lama menancapkan kukunya di Indonesia. Bahkan gerakan mereka disinyalir 
telah mempengaruhi sebagian tokoh pendiri negeri ini. Sebuah upaya menaklukkan 
bangsa Muslim terbesar di dunia (Sabili, 9/2-2006).

Dalam buku Jejak Freemason & Zionis di Indonesia disebutkan bahwa gedung 
Bappenas di Taman Surapati dulunya merupakan tempat para anggota Freemason 
melakukan peribadatan dan pertemuan.

Gedung Bappenas di kawasan elit Menteng, dulunya bernama gedung Adhuc Stat 
dengan logo Freemasonry di kiri kanan atas gedungnya, terpampang jelas ketika 
itu. Anggota Freemason menyebutnya sebagai loji atau rumah syetan. Disebut 
rumah syetan, karena dalam peribadatannya anggota gerakan ini memanggil 
arwah-arwah atau jin dan syetan, menurut data-data yang dikumpulkan penulisnya 
Herry Nurdi.

Freemasonry atau Vrijmetselarij dalam bahasa Belanda masuk ke Indonesia dengan 
beragam cara. Terutama lewat lembaga masyarakat dan pendidikan. Pada mulanya 
gerakan itu menggunakan kedok persaudaraan kemanusiaan, tidak membedakan agama 
dan ras, warna kulit dan gender, apalagi tingkat sosial di masyarakat.

Dalam buku tersebut disebutkan, meski pada tahun 1961, dengan alasan tidak 
sesuai dengan kepribadian bangsa, Presiden Sukarno melakukan pelarangan 
terhadap gerakan Freemasonry di Indonesia. Namun, pengaruh Zionis tidak pernah 
surut. Hubungan gelap 'teman tapi mesra' antara tokoh-tokoh bangsa dengan 
Israel masih terus berlangsung.

Zionis-Yahudi mengakar kuat di Indonesia. Melalui antek-anteknya yang ada di 
Indonesia, mereka berhasil menguasai sektor ekonomi, terutama bidang perbankan 
dan merasuki budaya Indonesia.

Ridwan Saidi, sejarawan Betawi, mengaku prihatin dengan kondisi umat saat ini. 
Sebab, banyak umat yang masih tidak percaya gerakan Zionis-Yahudi. Bahkan 
sebagian kaum Muslimin memandang tudingan gerakan Zionis-Yahudi sebagai sesuatu 
yang mengada-ada. Padahal, dampak dari gerakan Zionis ini sangatlah merugikan 
kaum Muslimin bahkan umat manusia.

“Siapa bilang tidak ada gerakan Zionis-Yahudi di sini. Ada dong, sebab akarnya 
terlalu kuat di Indonesia. Mereka masuk sejak zaman Hindia Belanda,” ujar pria 
yang puluhan tahun meneliti dan mengkaji gerakan Zionis-Yahudi itu.

Benarkah akar Zionis-Yahudi begitu kuat di Indonesia? Apa saja indikasi dan 
buktinya? Memang, tak mudah melacak jejak gerakan berbahaya ini di Indonesia. 
Apalagi selama ini, Zionis-Yahudi, memang gerakan tertutup. Aktivitas mereka 
berkedok kegiatan sosial atau kemanusiaan. Namun sasaran dan tujuannya sangat 
jelas: Merusak kaum lain.

Ibarat orang yang sedang buang angin dengan pelan: tercium baunya, tapi tak 
nampak wujudnya. Tidak mudah mengendus dan mendeteksi mereka. Namun dengan 
membuka-buka catatan sejarah, kabut dan misteri seputar jaringan Zionis-Yahudi 
di Indonesia akan terbuka lebar.


Gedung Bappenas
--------------------------
Gedung dan bangunan ternyata tak hanya memiliki estetika, namun juga menyimpan 
sejarah peradaban, tak terkecuali gerakan Zionis-Yahudi di Indonesia. Dari 
sejumlah dokumen sejarah, tidak sedikit gedung-gedung yang berdiri dan 
beroperasi saat ini yang ternyata dulunya pernah menjadi pusat pengendali 
gerakan Zionis-Yahudi di Indonesia.

Satu di antaranya adalah gedung induk yang saat ini dipakai pemerintah untuk 
kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jalan Taman 
Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Dalam buku “Menteng Kota Taman Pertama di 
Indonesia” karangan Adolf Hueken SJ, disebutkan, awalnya gedung yang kini 
berperan penting merencanakan pembangunan Indonesia itu adalah bekas 
loge-gebouw, tempat pertemuan para vrijmetselaar (kaum Freemason).

Loge-gebouw atau rumah arloji sendiri adalah sebuah sinagoga, tempat 
peribadatan kaum Yahudi. Dulu, kaum Yahudi memakainya untuk tempat “sembahyang” 
atau “ngeningkan cipta” kepada Tuhan. Karena tempat itu sering dipergunakan 
untuk memanggil-manggil roh halus, maka masyarakat Indonesia sering menyebut 
loge atau loji sebagai rumah setan.

Sementara Vrijmetselarij adalah organisasi bentukan Zionis-Yahudi di Indonesia 
(Dulu Hindia Belanda). Ridwan Saidi dalam bukunya “Fakta dan Data Yahudi di 
Indonesia” menuliskan bahwa pimpinan Vrjmetselarij di Hindia Belanda sekaligus 
adalah ketua loge.

Vrijmetselarij bukanlah organisasi yang berdiri sendiri. Ia merupakan bentukan 
dari organisasi Freemasonry (tentang Freemasonry lihat di sini), sebuah gerakan 
Zionis-Yahudi internasional yang berkedudukan di London, Inggris. Pada tahun 
1717, para emigran Yahudi yang terlempar ke London, Inggris, mendirikan sebuah 
gerakan Zionis yang diberi nama Freemasonry. Organisasi inilah yang kini 
mengendalikan gerakan Zionis-Yahudi di seluruh dunia. Bandingkan lambang 
Freemason (di sisi kiri) dengan lambang VOC (di sisi kanan) yang memiliki 
kemiripan.

Dalam kenyataannya, gerakan rahasia Zionis-Yahudi ini selalu bekerja 
menghancurkan kesejahteraan manusia, merusak kehidupan politik, ekonomi dan 
sosial negara-negara yang di tempatinya. Mereka ingin menjadi kaum yang 
menguasai dunia dengan cara merusak bangsa lain, khususnya kaum Muslimin.

Mereka sangat berpegang teguh pada cita-cita. Tujuan akhir dari gerakan rahasia 
Zionis-Yahudi ini, salah satunya, adalah mengembalikan bangunan Haikal Sulaiman 
yang terletak di Masjidil Aqsha, daerah Al-Quds yang sekarang dijajah Israel. 
Target lainnya, mendirikan sebuah pemerintahan Zionis internasional di 
Palestina, seperti terekam dari hasil pertemuan para rabbi Yahudi di Basel, 
Switzerland.

Seperti disinggung di atas, gedung Bappenas memiliki sejarah kuat dengan 
gerakan Zionis-Yahudi. Tentu, bukan suatu kebetulan, jika lembaga donor dunia 
seperti International Monetary Fund (IMF) yang dikuasai orang-orang Yahudi 
sangat berkepentingan dan menginginkan kebijakan yang merencanakan pembangunan 
di Indonesia selaras dengan program mereka.

Satu per satu bukti kuatnya jejak Zionis-Yahudi di Indonesia bermunculan. Jejak 
mereka juga nampak di sepanjang Jalan Medan Merdeka Barat dengan berbagai 
gedung pencakar langitnya. Menurut Ridwan Saidi, semasa kolonial Belanda, Jalan 
Medan Merdeka Barat bernama Jalan Blavatsky Boulevard. Nama Blavatsky Boulevard 
sendiri tentu ada asal-usulnya. Pemerintah kolonial Belanda mengambil nama 
Blavatsky Boulevard dari nama Helena Blavatsky, seorang tokoh Zionis-Yahudi 
asal Rusia yang giat mendukung gerakan Freemasonry.


Siapa Blavatsky?
Pada November 1875, pusat gerakan Zionis di Inggris, Fremasonry, mengutus 
Madame Blavatsky—demikian Helena Balavatsky biasa disebut—ke New York. 
Sesampainya di sana, Blavatsky langsung mendirikan perhimpunan kaum Theosofi. 
Sejak awal, organisasi kepanjangan tangan Zionis-Yahudi ini, telah menjadi 
mesin pendulang dolar bagi gerakan Freemasonry.

Di luar Amerika, sebut misalnya di Hindia Belanda, Blavatsky dikenal sebagai 
propagandis utama ajaran Theosofi. Pada tahun 1853, saat perjalanannya dari 
Tibet ke Inggris, Madame Blavatsky pernah mampir ke Jawa (Batavia). Selama satu 
tahun di Batavia, ia mengajarkan Theosofi kepada para elite kolonial dan 
masyarakat Hindia Belanda.

Sejak itu, Theosofi menjadi salah satu ajaran yang berkembang di Indonesia. 
Salah satu ajaran Theosofi yang utama adalah menganggap semua ajaran agama 
sama. Ajaran ini sangat mirip dan sebangun dengan pemahaman kaum liberal yang 
ada di Indonesia.

Menurut cerita Ridwan Saidi, di era tahun 1950-an, di Jalan Blavatsky Boulevard 
(kini Jalan Medan Merdeka Barat) pernah berdiri sebuah loge atau sinagoga. 
Untuk misinya, kaum Yahudi memakai loge itu sebagai pusat kegiatan dan 
pengendalian gerakan Zionis di Indonesia. Salah satu kegiatan mereka adalah 
membuka kursus-kursus okultisme (pemanggilan makhluk-makhluk halus).

“Jika saat ini saham mayoritas Indosat dikuasai Singtel, salah satu perusahaan 
telekomunikasi Yahudi asal Singapura, maka itu sangat wajar. Sebab dulunya 
Indosat adalah sinagoga dan kembali juga ke sinagoga,” ujar mantan anggota DPR 
yang pernah menginjakkan kakinya ke Israel tersebut.

Tradisi Merantau
-----------------------
Sudah menjadi tradisi hidup kaum Zionis-Yahudi untuk merantau. Tidak ada daerah 
yang tidak mereka rambah. Di luar Jakarta, kaum Yahudi menetap di daerah 
Bandung, Jawa Barat. Pengamat Yahudi asal Bandung, HM Usep Romli mengatakan, 
mereka masuk Bandung sejak tahun 1900-an. Untuk meredam resistensi masyarakat 
Bandung, mereka masuk melalui jalur pendidikan dengan berprofesi sebagai guru. 
Kebanyakan dari mereka adalah pengikut aliran Theosofi, kaki tangan gerakan 
Freemasonry internasional. Tempat kumpul mereka berada di sebuah rumah yang 
terletak di dekat Jalan Dipati Ukur. Masyarakat menyebut rumah itu sebagai 
rumah setan.

“Dulunya, kawasan Dipati Ukur adalah tempat tinggal orang-orang Belanda dan 
tempat berkumpulnya kaum terpelajar, baik dari Belanda maupun pribumi. Itulah 
kenapa jika ditengok kawasan Dipati Ukur saat ini, banyak sekali berdiri 
lembaga-lembaga pendidikan, termasuk Universitas Padjajaran (Unpad). Namun saya 
tidak tahu di mana tepatnya markas kaum Theosofi tersebut,” ujar Usep.

Pada dasarnya, mereka tidak mengalami kesulitan menjajakan pemahamannya karena 
berpenampilan lembut, sopan dan ramah. Karenanya banyak masyarakat yang simpati 
dan tertarik dengan mereka. Sampai-sampai banyak masyarakat mengultuskan ucapan 
dan ajaran mereka, hingga mengikuti ritual agama Yahudi. “Tanpa disadari ajaran 
Zionis masuk ke hati dan pikiran masyarakat Bandung dan tumbuh menjadi suatu 
ajaran yang kuat,” tandas Usep.

Khusus di Surabaya, kaum Yahudi membentuk komunitas sendiri di beberapa kawasan 
kota lama, seperti Bubutan dan Jalan Kayon. Di Jalan Kayon No 4, Surabaya, 
hingga kini berdiri sebuah sinagog, tempat peribadatan kaum Yahudi. Selama ini 
gerakan mereka tidak mudah terdeteksi masyarakat karena mereka berkedok yayasan 
sosial dan amal.

Antek-Antek
------------------
Panah beracun Zionis-Yahudi terus dilepaskan dari busurnya dan terus mengenai 
sasarannya. Setelah menunggu satu dekade, kini mereka sedang memanen buahnya. 
Melalui antek-anteknya di Indonesia, kaum Zionis-Yahudi “menyetir” dunia 
politik, sektor ekonomi, terutama bidang perbankan dan jaringan telekomunikasi.

Transaksi saham menjadi modal ampuh mengendalikan Indonesia. Singtel, 
perusahaan telekomunikasi milik orang Yahudi (catatan ; setau saya Singtel 
milik pemerintah singapore  melalui temasek) yang berkedudukan di Singapura 
misalnya, tahun lalu, berhasil menguasai kepemilikan PT Indosat, sebagaimana 
diungkapkan Ridwan Saidi. Mereka berhasil menjadi pemegang saham terbesar dan 
berhak mengatur arah kebijakan Indosat ke depan. Komunikasi Indonesia, melalui 
Indosat misalnya, dalam kendali Yahudi? Bandingkan lagi logo Indosat (di 
sebelah kiri) dengan logo bintang David sebagai lambang negara Israel (di 
sebalah kanan) yg mirip bentuknya.

Hal serupa terjadi dalam dunia pemberitaan. Bhakti Investama, sebuah perusahaan 
yang sebagian sahamnya milik George Soros, seorang Yahudi yang pada tahun 1998 
mengacak-acak ekonomi Indonesia. Dengan membeli saham, dia mulai memasuki 
industri media di Indonesia Ritel juga menjadi sasaran utama mereka. Philip 
Morris, sebuah perusahaan rokok dunia milik seorang Yahudi asal Amerika 
menguasai kira-kira sembilan puluh persen saham perusahaan rokok PT Sampoerna. 
Ia pun berhak mengendalikan bisnis perusahaan rokok ternama di Indonesia itu.

Bidang budaya tak luput dari garapan mereka. Untuk menjauhkan Islam dari 
agamanya, mereka masuk ke dalam kebatinan Jawa. Kuatnya akar Freemasonry dapat 
dilihat dari mantra-mantra memanggil roh halus atau jin yang memakai bahasa 
Ibrani, bahasa khas kaum Yahudi.

Bau Zionis-Yahudi juga tercium tajam di dunia perjudian. Dadu yang sering 
dipakai dalam permainan judi bermata hewan Zionis. “Ini fakta. Oleh sebab itu 
saat menerima laporan dari bawahannya tentang kuatnya akar Zionisme-Yahudi di 
Indonesia, Hitler, pemimpin NAZI langsung mengirim pasukannya ke Hindia Belanda 
untuk memerangi mereka,” ujar Ridwan.

Jelas, gerakan Zionis-Yahudi bukanlah gerakan fiktif atau mengada-ada. Ia 
benar-benar nyata dan terus akan bergerak sampai cita-citanya tercapai: 
Menguasai dunia. Oleh sebab itu, kaum Muslimin harus terus memperkuat diri 
dengan Islam. Tidak boleh lengah atau lalai sedikit pun. Tetap waspada, jangan 
mudah termakan dengan pikiran atau paham bebas, dan rapatkan barisan, adalah 
modal kuat melawan mereka. Dan, tak kalah pentingnya, adalah memperkuat dan 
mengembangkan jaringan dan gerakan yang sedang kita bangun!

source:
diolah dari swaramuslim.com dan lain-lain
http://www.swaramuslim.net/more.php?id=1898_0_1_0_m

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas  


http://eljowo.multiply.com/journal/item/52/Jaringan_Yahudi_di_Indonesia_Sejak_Jaman_VOC
------------------------------------------------------------
Sent from my b...@ckherry powered by Telkomflash.

Kirim email ke