Yahudi AS,Pindah Ke Israel dan Masuk Islam
(dikutip dari milis tetangga)
Kamis,
15/01/2009 17:30 WIB
Pada tahun
1998, Joseph Cohen seorang Yahudi Ortodoks kelahiran AS hijrah ke Israel karena
keyakinannya yang sangat kuat pada ajaran Yudaisme. Ia kemudian tinggal di
pemukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza (Israel mundur dari wilayah Jalur Gaza pada
tahun 2005).
Cohen tak
pernah mengira bahwa kepindahannya ke Israel justru membawanya pada cahaya
Islam. Setelah tiga tahun menetap di Gaza, Cohen memutuskan untuk menjadi
seorang Muslim setelah ia bertemu dengan seorang syaikh asal Uni Emirat Arab
dan berdiskusi tentang teologi dengan syaikh tersebut lewat internet. Setelah
masuk Islam, Cohen mengganti namanya dengan nama Islam Yousef al-Khattab.
Tak lama
setelah ia mengucapkan syahadat, istri dan empat anak Yousef mengikuti jejaknya
menjadi Muslim. Sekarang, Yousef al-Khattab aktif berdakwah di kalangan
orang-orang Yahudi, meski ia sendiri tidak diakui lagi oleh keluarganya yang
tidak suka melihatnya masuk Islam.
"Saya
sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya. Kita tidak boleh memutuskan
hubungan kekeluargaan, tapi pihak keluarga saya adalah Yahudi dengan entitas
ke-Yahudi-annya. Kami tidak
punya pilihan lain, selain memutuskan kontak untuk saat ini. Kata-kata terakhir
yang mereka lontarkan pada saya, mereka bilang saya barbar," tutur Yousef
tentang hubungan dengan keluarganya sekarang.
Ia mengakui,
berdakwah tentang Islam di kalangan orang-orang Yahudi bukan pekerjaan yang
mudah. Menurutnya, yang pertama kali harus dilakukan dalam mengenalkan Islam
adalah, bahwa hanya ada satu manhaj dalam Islam yaitu manhaj yang dibawa oleh
Rasululullah saw yang kemudian diteruskan oleh para sahabat-sahabat dan
penerusnya hingga sekarang.
"Cara yang
paling baik untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama untuk semua umat manusia
adalah dengan memberikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan yang
membedakan antara umat manusia adalah ketaqwaannya pada Allah semata,"
ujar Yousef.
"Islam bukan agama yang rasis. Kita punya bukti-bukti yang sangat kuat, firman
Allah dan perkataan Rasulullah saw. Kita berjuang bukan untuk membenci kaum
kafir. Kita berjuang hanya demi Allah semata, untuk melawan mereka yang ingin
membunuh kita, yang menjajah tanah air kita, yang menyebarkan kemungkaran dan
menyebarkan ideologi Barat di negara kita, misalnya ideologi demokrasi,"
sambung Yousef.
Ia mengatakan
bahwa dasar ajaran agama Yahudi sangat berbeda dengan Islam. Perbedaan utamanya
dalam masalah tauhid. Agama Yahudi, kata Yousef percaya pada perantara dan
perantara mereka adalah para rabbi. Orang-orang Yahudi berdoa lewat perantaraan
rabbi-rabbi mereka.
"Yudaisme
adalah kepercayaan yang berbasiskan pada manusia. Berbeda dengan Islam, agama
yang berbasis pada al-Quran dan Sunnah. Dan keyakinan pada Islam tidak akan
pernah berubah, di semua masjid di seluruh dunia al-Quran yang kita dengarkan
adalah al-Quran yang sama," ujar Yousef.
Lebih lanjut ia
mengatakan bahwa Yahudisme di sisi lain berpatokan pada "tradisi
oral" misalnya kitab Talmud yang disusun berdasarkan informasi dari mulut
ke mulut yang kemudian dibukukan. Para rabbi sendiri, kata Yousef mengakui,
bisa saja banyak hal yang sudah orang lupa sehingga keabsahan kitab tersebut
bisa dipertanyakan.
Yousef
mengungkapkan, kitab Taurat yang diyakini kaum Yahudi sekarang memiliki sebelas
versi yang berbeda dan naskah-naskah Taurat itu bukan lagi naskah asli.
"Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat pada kita semua dengan agama yang
mudah, di mana banyak orang yang bisa menghapal al-Quran dari generasi ke
generasi.
Allah memberkati kita semua dengan al-Quran," tukas Yousef. Meski
demikian, ia meyakini dialog adalah cara terbaik dalam berdakwah terutama di
kalangan Yahudi.
Ditanya tentang
kelompok-kelompok Yahudi yang mengklaim anti-Zionis. Yousef menjawab bahwa
secara
pribadi maupun dari sisi religius, ia tidak percaya dengan Yahudi-Yahudi yang
mengklaim anti-Zionis. "Dari sejarahnya saja, mereka adalah orang-orang
yang selalu melanggar kesepakatan. Mereka membunuh para nabi, oleh sebab itu
saya tidak pernah percaya pada mereka, meski Islam selalu menunjukkan sikap
yang baik pada mereka," paparnya.
Yousef menegaskan
bahwa pernyataannya itu bukan untuk membela orang-orang Palestina ataupun atas
nama seorang Muslim. Pernyataan itu merupakan pendapat pribadinya. "Allah
Maha Tahu," tandasnya.
Sebagai orang
yang pernah tinggal di pemukiman Yahudi di wilayah Palestina, Yousef mengakui
adanya diskriminasi yang dilakukan pemerintah Israel terhadap Muslim Palestina.
Yousef sendiri pernah dipukul oleh tentara-tentara Israel meski tidak seburuk
perlakuan tentara-tentara Zionis itu pada warga Palestina.
"Saya masih
beruntung, penderitaan yang saya alami tidak seberat penderitaan
saudara-saudara kita di Afghanistan yang berada dibawah penjajahan AS atau
saudara-saudara kita yang berada di kamp penjara AS di Kuba (Guantanamo) ,"
imbuhnya dengan rasa syukur.
Allah memberikan hidayah pada umatnya, kadang dengan cara
yang tak terduga. Seperti yang dialami Cohen atau Yousef yang justru masuk
Islam setelah pindah ke wilayah pendudukan Israel
di Gaza.
(ln/readingislam)