Alhamdulilah, mayoritas umat Islam diseluruh pelosok dunia dibelahan bumi 
manapun juga telah
membuktikan komitmennya terhadap ‘Ukhuwah Islamiyah’,  paling tidak itu dapat 
terlihat didalam
menyikapi kasus dimana kaum Yahudi Israel Laknatullah  -tentunya dilakukan 
Israel atas dukungan
dan restu dari kaum kuffar Amerika Serikat-  melakukan ‘pembubuhan 
massal/holocaust/genocide’ 
terhadap kaum Muslimin di jalur Gaza. 

Namun sangat disayangkan bahwa ada nuansa semangat yang justru kontradiktif 
antara rakyat di
negara-negara berpenduduk mayoritas  Muslim dengan jajaran pemimpin 
pemerintahannya. Mengapa
demikian ?, padahal pemimpin-pemimpin pemerintahan di negara-negara tersebut 
juga beragama Islam
khan ?.

Betul, memang para pemimpin itu beragama Islam, namun mereka tidak menjadikan 
Islam sebagai Way of
Life dan Ideologi Politiknya.

Tapi tunggu, bukankah para pemimpin itu hasil pemilu jurdil yang dipilih oleh 
mayoritas rakyatnya
yang mayoritas beragama Islam khan ?.

Ya,  tapi mayoritas rakyat di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim itu  
-terutama di
Indonesia-  justru dari masa ke masa ‘senantiasa’ mengesampingkan atau bahkan 
mengabaikan
pertimbangan pilihan terhadap pemimpinnya berdasarkan sikap dan ideologi 
politiknya pemimpin  yang
committed terhadap kepentingan Islam dan kaum Muslimin. 

Ya, seandainya maksud hati dan nawaitu rakyatnya tidaklah begitu, tapi tetap 
saja menyisakan
persoalan. Pertama adalah adakah di antara politisi kita sekarang ini  
-terutama Capres dan
Cawapres-   yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap kepentingan Islam dan 
kaum Muslimin ? .
Kemudian yang kedua adalah apakah mayoritas rakyatnya akan menentukan 
pilihannya berdasarkan itu
?.

"  Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi Wali dengan 
meninggalkan
orang-orang Mukmin...  " .  ( QS. Ali-Imran [3] : 28 )

Wallahu’alambishshawab.

***

Belum lepas dari ingatan kita, bagaimana keras kepala dan keras hatinya para 
pemimpin Arab melihat
tragedi di Gaza Palestina. Mesir yang paling dekat dengan perbatasan Gaza 
sampai detik ini pun
belum dan tidak mau membuka perbatasannya di Raffah. Begitu juga dengan Jordan, 
mereka secara
geografis termasuk yang dekat dengan Gaza.

Hanya karena terikat perjanjian dengan Israel,  mereka tega membiarkan 
saudara-saudara muslimnya
di Gaza terbantai oleh Zionis Israel. 

Setali tiga uang dengan Arab Saudi, ali-alih menunjukkan sikap yang tegas 
terhadap aksi holocaust
Israel di Gaza, untuk menghadiri KTT di Doha pun mereka enggan.  Mungkin 
gambar-gambar yang
terpampang  di   
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/beginilah-gaya-pemimpin-pemimpin-arab.htm 
 
bisa memberikan penjelasan atas sikap kepala batu nya para pemimpin Arab 
melihat tragedi di Gaza.

Jadi wajar kalau para pemimpin Arab sangat 'banci' menghadapi Zionis Israel dan 
tidak tegas dalam
menentang agresi dan holocaust yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat 
Palestina di Gaza.

Kita berdoa bersama semoga para pemimpin Arab dan semua pemimpin Muslim terbuka 
hatinya melihat
tragedi kemanusiaan ini. Dan semoga mereka tidak lupa dengan firman Allah SWT :
"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan 
meninggalkan
orang-orang mukmin....."
(Ali-Imran[3]:28)


Inilah Gaya Pemimpin-Pemimpin Arab.
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/beginilah-gaya-pemimpin-pemimpin-arab.htm

***

Kapan perang Israel-Palestina di Gaza akan berakhir ?. Secara teoritis, perang 
adalah kegagalan
diplomasi. Perang akan berakhir jika diplomasi berhasil. Dengan kata lain, 
akhir diplomasi itu dua
kemungkinan : perang atau damai. Perang dimulai ketika diplomasi gagal. Perang 
juga berakhir saat
diplomasi berhasil.  Ih, jadi lieur sendiri neh… tapi ngerti ‘kan ya…?.  Perang 
terus
berlanjut di Palestina  (baca: Israel terus memerangi Palestina)  akibat 
kegagalan diplomasi
damai. 

Masalahnya, dalam diplomasi, kedua pihak harus berada dalam posisi seimbang, 
sama kuat. Bahkan,
jika dua negara sama kuat, kemungkinan terjadi perang sangat kecil. 
Rusia/Soviet secara teoritis
tidak akan pernah perang dengan Amerika Serikat karena keduanya sama kuat, 
setidaknya secara
militer –sama-sama punya senjata nuklir. Diplomasi keduanya “selalu” berhasil 
membuat
kesepakatan karena posisinya sama kuat.

Sedangkan dalam kasus Israel-Palestina, kekuatan keduanya tidak seimbang. 
Akibatnya, diplomasi
selalu gagal karena Israel lebih kuat posisinya  –secara militer, politik, dan 
ekonomi, utamanya
karena dukungan AS dan Eropa. Diungkapkan, “Israel adalah Amerika kecil dan 
Amerika itu Israel
besar”.

Kalaupun perundingan Israel-Palestina berhasil membuahkan kesepakatan, 
dipastikan kesepakatan itu
menguntungkan Israel dan Palestina banyak dirugikan atau mengalah.

Maka, di atas kertas alias secara teoritis, agar terjadi perdamaian di 
Palestina, jika
menghancurkan Israel belum berhasil atau jika Israel belum berhasil dihapus 
dari peta dunia,
Palestina harus diperkuat secara militer, politik, dan ekonomi agar kekuatannya 
mengimbangi
Israel. 

Caranya ?.   Negara-negara Arab   -Islam harus melakukan seperti yang dilakukan 
Amerika kepada
Israel-   memberi bantuan persenjataan, ekonomi, dan politik.

Bisa ?.  Amerika aja bisa, atas nama  “ Judeo-Christian Ethic ”,  etika 
Yahudi-Kristen yang
menjadi dasar  “pandangan etis dan moral peradaban Barat pada umumnya ” .   
Amerika dan negara
Barat lain membantu Israel atas nama etika itu. 

Al-Quran juga sudah menegaskan,  lan tardho ankal yahudu walan nashara…, kaum 
Yahudi dan Nasrani
tidak akan pernah rela kepada umat Islam.  It means… Yahudi-Kristen itu “satu 
paket”,  dua
sisi dari satu mata uang, paling tidak secara ideologis.

“ Judeo–Christian  (sometimes written as Judaeo–Christian)  is a term used to 
describe the
body of concepts and values which are thought to be held in common by Judaism 
and Christianity,
and considered, often along with classical Greco-Roman civilization, a 
fundamental basis for
Western legal codes and moral values. In particular, the term refers to the 
common Old
Testament/Tanakh as a basis of both moral traditions, including particularly 
the Ten Commandments;
and implies a common set of values present in the modern Western World. The 
values most commonly
assigned to the Judeo–Christian tradition are liberty and equality based on 
Genesis, where all
humans are created equal, and Exodus, where the Israelites flee tyranny to 
freedom. Other authors
discuss more broadly the Jewish beliefs in progress and moral responsibility, 
as hallmarks of
American culture that come from the Judeo–Christian reading of the Bible ”.  
(Wikipedia).

Jadi, mestinya, negara-negara Arab-Islam juga membantu Palestina atas nama  “ 
Islam ethic ” ,
yakni ukhuwah Islamiyah. 

Bukankah sesama Muslim itu saudara ?.  Bagaikan satu tubuh,  kal jasadil wahid, 
 yang saling
menguatkan ?.  Jika satu bagian tubuh sakit, tangan misalnya, maka bagian tubuh 
yang lain
merasakannya ? .

Umat Islam, terbukti, sangat pro-Palestina dan siap membantu apa saja dalam 
kasus mutakhir
–tragedi Gaza.  Yang jadi masalah adalah pemerintahannya. 

Ada semangat kontradiktif antara rakyat negara Muslim dengan pemerintahannya. 
Jika satu saja
negara Muslim, Indonesia atau Iran misalnya,  “ memutuskan pengiriman 1.000 
tentara untuk
membantu rakyat Palestina dalam menghadapi Israel ” ,  yakin, Israel bahkan 
dunia akan
terguncang ! .

Maka, rakyat negara Muslim harus benar-benar memilih pemimpin negara yang 
committed terhadap Islam
dan kaum Muslimin. 

Tapi tunggu, di antara politisi kita sekarang, caleg atau capres, ada yang 
demikian ? .

Insya Allah, optimistis dong   –  walau nurani tak bisa berbohong bahkan pada 
diri sendiri. 

Mengimbangi ‘Judeo-Christian Ethic'.
http://www.warnaislam.com/rubrik/jurnalistik/2009/1/15/33480/Mengimbangi_Judeo-Christian_Ethic.htm

***

Pertikaian Israel Palestina seharusnya turut melukai kita sebagai bangsa 
Indonesia. Palestina
adalah negara yang paling proaktif mendorong dan mengakui Indonesia sebagai 
negara merdeka yang
berdaulat.  Selain itu, pernyataan tegas dalam UUD 45,  " ikut melaksanakan 
ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial "  sudah cukup 
untuk menjadi alasan
kuat besarnya peran serta bangsa kita terhadap penjajahan Israel ke Palestina.  
 Apalagi mayoritas
bangsa Indonesia adalah pemeluk agama Islam.

Ummat Islam saat ini terpecah belah berkeping-kepingan bagaikan serpihan tak 
berguna.
Kepingan-kepingan itu seringkali berkumpul dan berdiskusi namun tak mampu 
melekat menjadi satu. 

Padahal seharusnya kita semua mau bersatu menjadi sebuah mozaik yang indah, 
penuh perbedaan namun
dilekat erat oleh “lem”  keimanan dan dalam sebuah figura ukhuwah Islamiyah. 
Maka ummat lain
akan melihat ummat Islam dimuka bumi ini sebagai ummat modern yang menyatukan 
perbedaan-perbedaan
itu dalam sebuah peradaban yang indah dan rahmatan lil alamin.

Persatuan itu belum terjadi, karena ummat Islam masih belum menemukan (atau 
bahkan salah memilih)
pemimpin di negeri masing-masing.  

Banyak pemimpin bangsa yang beragama Islam, namun sayangnya tidak memiliki 
wawasan keislaman yang
luas dan dalam. 

Jadi wajar kalaupun para pemimpin itu bertemu dalam konferensi-konferensi (yang 
katanya) tingkat
tinggi, tetap hanya menjadi kumpulan pemimpin negeri yang tak berdaya. Hanya 
bisa bersepakat
mengeluarkan kecaman, tuntutan, dan himbauan,  seingat saya malah hampir tak 
pernah mengeluarkan
ancaman.  Setelah itu, tak bisa berbuat apa-apa,  namanya juga kumpulan 
pemimpin negeri tak
berdaya.

Dalam kondisi yang berkeping-keping ini, maka yang dilihat adalah kepingan yang 
paling besar.
kepingan itu adalah Indonesia.  Karena itulah untuk mencegah Islam berjaya 
kembali, prioritas
utama musuh-musuh Islam adalah memecahkan kepingan besar itu menjadi 
kepingan-kepingan lebih
kecil.  Hal itu sempat hampir terjadi, ketika kebebasan beragama kaum muslimin 
yang mayoritas
dibelenggu dan menjadi “tabu” pada era orde lama dan orde baru. 

Tapi saat ini, kepingan besar itu tak jadi retak, justru semakin kokoh . Harum 
wangi Islam
terhirup sampai kepelosok negeri, kebenaran dan kebatilan yang sempat berkumpul 
dalam iklim
syubhat kini mengkristal menuju kutubnya masing-masing. Ummat Islam di negeri 
ini kembali
menggeliat menunjukkan eksistensinya. Yang jauh dari nilai-nilai Islam kini 
mendekat, yang kiri
dan kanan bergerak ketengah ke area moderat, yang ekstrim dan sesat terlihat 
dengan jelas.

Kembali hadirnya  Islam di hati kaum muslimin, bukan hanya terjadi di 
Indonesia, namun hasil kerja
dakwah itu mulai terasa dampaknya diseluruh pelosok negeri, baik di 
negeri-negeri muslim maupun 
negeri-negeri  yang mayoritas non-muslim. Hadirnya Islam itu membuat ummat 
lebih siaga dan
responsif terhadap perkembangan dunia Islam kontemporer.

Indonesia sebagai kepingan terbesar, seharusnya memiliki pengaruh yang luar 
biasa bagi
negeri-negeri muslim lainnya. Indonesia harus memiliki pemimpin yang berani 
dalam menentukan
kebijakan yang lebih kongkrit tehadap dunia Islam. 

Jika saja pemimpin bangsa kita lebih berani, kita bisa menyerukan dan mengajak 
negeri-negeri Islam
untuk mengirimkan pasukan membela palestina. Saya yakin, Israel dan Amerika 
akan kalang kabut dan
tak akan memperpanjang konflik.  PBB dan DK pun rasanya harus berpikir ulang 
jika ingin memberikan
sanksi kepada negara-negara timur tengah dan asia tenggara yang kompak.  
Orang-orang Barat sudah
hidup terlalu nyaman, jangankan berperang, hidup sedikit tidak nyaman saja 
sudah membuat mereka
pusing tujuh keliling. 

Jika negara-negara timur tengah dan asia tenggara diembargo, siapa yang 
menyediakan bahan mentah
dan minyak mentah untuk kebutuhan bahan bakar dan produksi dunia. Sebaliknya, 
kita bisa mengolah
bahan mentah itu untuk memenuhi kebutuhan hidup, walaupun dengan menggunakan 
teknologi seadanya.

Saat ini Israel dan Amerika sedang menjebak dirinya menjadi common enemy, 
inilah moment yang
paling tepat bagi negeri-negeri Islam untuk membantu saudara muslim di 
Palestina dan menyerang
Israel, kita memiliki alasan yang kuat. 

Saya yakin, negara-negara barat sangat menghindari terjadinya perang dunia. 
Israel, Amerika dan
negara barat serta Jepang memang memiliki kekuatan militer yang hebat, namun 
jumlah tentara mereka
terbatas dan tidak memiliki militan yang siap secara mental dan fisik untuk 
diterjunkan dalam
pertempuran. 

Sedangkan negeri-negeri muslim memiliki tentara dan jutaan militan yang siap 
tempur.  Sayangnya
negeri-negeri muslim terlalu kaku dan kurang lihai dalam berdemokrasi.  Bahkan 
Saudi Arabia, Uni
Emirat Arab dan lainya yang sistem negaranya tidak demokratis ikut-ikutan sok 
demokratis.  

Tidak berani membela saudaranya yang teraniaya, dibantai dan diusir dari 
negerinya. Padahal
genocide adalah sebuah tindakan yang melanggar demokrasi,  lalu para pengusung 
demokrasi tidak
demokratis dalam menangani hal ini, lalu kenapa kita harus demokratis ?.  
Wallahu a’lam....

Seandainya Pemimpin Bangsa ini Lebih Berani.
http://www.warnaislam.com/rubrik/hikmah/2009/1/15/21600/Seandainya_Pemimpin_Bangsa_Lebih_Berani.htm

*****

Kirim email ke