Assalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh, 
 
Posting ulang.   
 
Wassalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh, 
Ediyus Hz 
Pujian Manusia, 
Tak akan mempercepat satu langkahpun jalan menuju Syurga 
Dan tak akan menahan satu langkahpun jalan menuju Neraka 

--------------------------------------------------------------------------------

 

Pertanyaan setelah baca jwbn mengenai golput, sungguh tidak menyentuh islam 
sama sekali, maka perlu kita dipahami dulu dasar dr pemilu yang ada sekarang. 
Demokrasi adlh sistem kufur yang merupakan sumber lahirnya sekulerisme. bila 
kita berperan dlm pemilu untk memilih wakil kita yang jelas2 akan menjauhkan dr 
Alquran dan assunah, dan melanggenkan demokrasi (sekulerisme). Lebih baik 
golput untuk menang (selamat) di hadapan Illahi. Bila kita ingin menghilangkan 
kemaksiatan apakah kita harus masuk kedalamnya? 

 

--------------------------------------------------------------------------------

 

Jawaban Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh 

Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba�d. 

 

 

Kadangkala kita berpikir terlalu simpel dan sederhana dalam menilai sebuah 
permasalahan. Karena demokrasi dipandang sebagai bagian dari sistem kufur 
kemudian kita berlepas diri dari situasi dan realitas yang ada tanpa mau 
melakukan perubahan yang sitematis dan terarah.  Bahkan, kadangkala tidak mau 
memahami cara berpikir orang lain yang dianggap batil, sesat, dan hanya 
pendapat kelompoknya sendiri yang benar.

 

Terkait dengan jawaban tentang golput sebelumnya, yang diharapkan adalah 
berpikir secara lebih cermat dan jernih. Yaitu bahwa dalam sebuah sistem 
pemilu, semata-mata tidak memilih pun sebenarnya bisa berdampak juga. Sehingga 
kita perlu sedikit lebih cerdas dalam menganalisa. 

 

Sebagai ilustrasi, kalau kita punya dua pilihan yang keduanya tidak ada yang 
kita pilih karena karena dianggap sama-sama bermasalah, maka pastilah di antara 
keduanya ada yang tingkat masalahnya lebih parah. Misalnya calon A masalahnya 
lebih parah dari calon B. Sehingga kalau A terpilih, madharatnya bisa 
dipastikan lebih besar. Dan tentunya dengan memilih B yang masalahnya lebih 
ringan tentu akan lebih baik dengan prinsip �akhafu adh-dhararain�. 

 

Bila calon A sampai menang padahal masalahnya lebih berat, maka kondisi �akhafu 
adh-dhararain� pastilah tidak terwujud. Dan ini pun masalah juga dan lebih 
parah. Padahal biar bagaimana pun presiden tetap pasti ada. 

 

Maka pilihan untuk tidak memilih (golput) bila sampai menjadi salah satu faktor 
penyebab kemenangan pihak A yang masalahnya lebih besar, bukanlah pilihan yang 
terlalu bijak juga. Sebab secara tidak langsung, suara yang seharusnya 
diberikan kepada pihak B yang lebih ringan masalahnya akan hilang. Lalu 
bandulnya akan pindah ke pihak A yang sejak awal diyakini lebih berat 
masalahnya. 

 

Dengan kata lain, bergolput pun tetap tidak lepas dari tanggung-jawab 
memenangkan pihak A yang masalahnya lebih berat. Ini tentu sebuah analisa 
semata yang berpandangan bahwa bergolput pun belum tentu terlepas dari tanggung 
jawab. 

 

Kecuali bila dengan golput itu kita bisa membatalkan naiknya kedua calon yang 
tidak baik itu, baik A maupun B. Apalagi kalau bisa mendatangkan C yang jauh 
lebih baik dari keduanya, tentu golput dalam kondisi itu bisa punya nilai 
lebih. Sekali lagi ini hanyalah sebuah pemikiran dan analisa. Bisa benar dan 
bisa juga salah. 

 

 

 

Di sisi lain, ketika kita menamakan atau masuk ke dalam sebuah sistem yang 
terlanjur disebut-sebut sebagai sistem demokrasi, sama sekali tidak pernah 
terlintas dalam pikiran kita bahwa rakyat itu tuhan, seperti yang dipahami 
secara sempit dari kekuasaan di tangan rakyat. Yang dilakukan adalah mengatakan 
kepada lawan, Kalau Anda mengatakan bahwa kekuasaan di tangan rakyat, oke dan 
boleh saja. Tapi ketahuilah bahwa rakyat itu menginginkan hukum Tuhan 
diterapkan di negeri ini. . 

 

Hasilnya akan jelas bahwa hukum Allah SWT akan berlaku dengan perantaraan 
diplomasi. Kira-kira hal tersebut senada dengan kisah pemuda Ashabul Ukhdud 
yang secara diplomatis rela memberikan kunci rahasia bagaimana caranya agar 
dirinya bisa dibunuh oleh penguasa. Syaratnya adalah bahwa raja dan semua 
rakyat harus mengucapkan syahadat ketika membunuhnya. 

 

Jadi kita mengunakan logika lawan untuk bisa memenangkan argumentasi kita. Sama 
juga dengan diplomasi Nabi Ibrahim AS yang ketika ditanyakan kepadanya siapakah 
yang meruntuhkan tuhan-tuhan itu, Ibrahim menjawab dengan sangat diplomatis 
bahwa berhala yang paling besar itulah yang telah melakukannya. Diplomasi ini 
menohok lawan langsung tepat pada titik matinya. Sehingga mereka tercekat tak 
bisa menjawab kecuali dengan tangan besi. 

 

Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap 
tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar 
itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka 
dapat berbicara". (QS.Al-Anbiya� : 62) 

 

Dengan teknik yang mirip, kita mengatakan kepada lawan bahwa kita siap beradu 
kekuatan dengan cara lawan, yaitu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin suara. 
Sebab kita yakin bahwa mayoritas penduduk negeri ini adalah muslimin, maka 
sudah barang tentu bila suara terbesar itu pastilah milik umat Islam. Sayangnya 
selama ini suara itu malah dimanfaatkan oleh partai sekuler untuk menegakkan 
sistem sekuler di negeri ini. Seandainya partai Islam yang komitmen dengan 
Islam mendapat dukungan luas dari umat Islam, insya Allah kita bisa menjadi 
tuan rumah di negeri sendiri. Tidak seperti sekarang ini. 

 

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, 

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. 

 

http://www.syariahonline.com/kajian.php?lihat=detil&kajian_id=35916

 

 

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke