diadopsi dari http://taufiqelrahman.multiply.com/
Anda sudah nonton film Chidren of Heaven? Konon film ini pernah beredar di Indonesia, entah kapan (soalnya saya ndak pernah menjumpainya). Jikalau anda pernah lihat judulnya, entah dalam bentuk kepingan cd, dvd atau lainnya, saran saya, segera beli itu, tonton dan nikmati film ini. Dan tolong beritahu saya dimana beli cd atau dvdnya. Soalnya saya baru lihat dalam versi dvd original, tentu saja subtitle yang masih in english version. Sebuah film yang luar biasa, sungguh. Jujur saya katakan, film ini tidak akan membuat anda banjir air mata, namun akan membuat anda terkagum dengan nilai-nilai kebaikan universal yang dibangun dalam beberapa adegan dan karakter pemain, yang menjadikan film ini cukup memiliki nilai lebih dibandingkan film-film lainnya. Nilai2 itu adalah kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kedisiplinan dan lain sebagainya. Kalau anda nonton film ini, saya yakin andapun pasti akan sepakat dengan yang saya katakan ini. Sungguh saya sendiri tidak menyangka ada sebuah film dari Iran yang sebagus ini. Dan emang ini film dari negara teluk pertama yang saya saksikan, setelah film The Message yang pernah saya tonton saat masih kanak-kanak dahulu. Bahkan dibandingkan banyak film yang pernah saya tonton, entah itu film hollywood, china, apalagi produk lokal, tak sekuat ini pesan moral, spirit dan karakter yang disampaikan. Film ini sangat realistis dan natural. Film ini sangat dekat dengan keseharian kita. Banyak kita jumpai orang miskin di sekitar kita, keluarga yang mengalami kesulitan unyuk menyekolahkan anak-anaknya, fasilitas yang serba terbatas, pekerjaan yang tidak tetap dan sulit untuk diandalkan cashflow untuk biaya hidup sehari-hari dan berbagai kesulitan hidup lainnya. Namun film ini memberikan gambaran bagaimana sebuah keluarga yang menghadapi kemiskinan tanpa ada tangisan bombai sebagaimana pada film-film lainnya, yang membuat film ini sungguh memiliki kekuatan dan nilai lebih dibanding film lainnya. Terus terang saya jadi ingin melihat film Iran lainnya, setidaknya karya sutradara Madjid Majidi lainnya (Kalo saja tidak diberitahu kalo orang ini dari Iran, pasti saya udah mengira orang ini dari Sunda, yang biasanya namanya diulang, misal Karna Sukarna, Ajad Sudrajat, Dedah Mardedah dan lainnya, sebagaimana nama ini, yakni Majid Majidi). Dengan background yang khas, sebuah perkampungan miskin yang berada di tengah perkotaan, cirri khas di daerah urban negara sedang berkembang sebagaimana Indonesia. Potret ini ternyata juga tampak di sebuah negara teluk yang selama ini diembargo oleh negara yang sedang dipergilirkan olehNya untuk menjadi penguasa dunia, yakni Amerika Serikat, dengan isu syiahnya, nuklirnya, perlawanannya yang sengit terhadap Israel dan lain sebagainya. Siapa sangka, di balik citra ketat dan kerasnya hukum Islam di Iran, film dari Iran ini justru tampil mendunia (kabarnya tidak hanya film ini yang sukses). Film ini menggambarkan kehidupan sebuah keluarga yang berada di sebuah perkampungan. Seorang anak, bernama Aku kira-kira berusia 10 tahun dan adiknya Zahra berusia 8 tahun. Aku benar-benar menjadi sangat teringat dan kangen berat pada si kecil HudaSyifa hffhh, ya Allah, limpahkan keberkahan dan kebahagiaan kepada mereka berdua, jadikan mereka menjadi anak yang shaleh dan shalehah, amien. Kembali ke film ini, Bapaknya Ali adalah seorang pekerja srabutan yang sekaligus mendapat kepercayaan mengurus masjid, semacam marbot kalo di Indonesia. Ibunya yang sakit-sakitan serasa tidak mampu untuk menangani dan mengurus anaknya yang masih bayi sehaingga harus sering dibantu oleh Zahra kakaknya. Kisah diawali dengan adegan saat Ali sedang membetulkan sepatu adiknya pada seorang tukang sol sepatu. Saya sempat heran, betapa miripnya dengan tukang sol yang ada di kampung saya, dari cara kerjanya, fasilitas dan alat-alatnya. Setelah selesai mengerjakan tugas itu, Ali sekaligus melaksanakan tugas dari ibunya untuk berbelanja membeli kentang di warung langganannya. Sepatu pun dibungkus dengan tas plastik hitam, semacam tas kresek belanjaan pada ibu di Indonesia, dan ditaruhnya di tempat pajangan jualan buah di luar toko. Saat Ali sedang memilih kentang, datanglah seorang tukang sampah yang secara tidak sengaja mengangkat plastic berisi sepatu Ali tersebut karena letaknya berada di sekitar tas sampah lainnya. Betapa kagetnya Ali saat menyadari sepatu itu tidak ada lagi. Maka kalang kabutlah dia, membayangkan bagaimana perasaan adiknya kalo mengetahui sepatunya hilang. Dengan segala cara dilakukan untuk menemukan sepatu tersebut namun tak mendapatkan hasil. Ali jelas sedih dengan hal ini, namun tetap tegar dan keras dalam upaya mencari sepatu tersebut. Dengan penuh rasa tanggung jawab dan upaya untuk senantiasa mencari solusi, Ali membujuk Zahra agar tidak melapor kepada orang tuanya. Please, jangan bilang ke bapak ya dik, karena bapak juga tidak punya uang untuk membelikan sepatu yang hilang itu, begitu kira-kira Ali berusaha membujuk adiknya. Sebuah ungkapan yang sederhana namun penuh makna. Kejadian lucu sekaligus mengharukan yang dikombinasikan dengan ketegaran alami dunia pada dunia anak-anak tampak saat mereka berupaya untuk mencari solusi atas kejadian setelah kehilangan sepatu itu. Mereka berdua membahas solusi apa yang akan dilakukan besok pagi ke sekolah dengan tanpa sepatu, di tengah-tengah suasana belajar di depan kedua orang tuanya, dengan cara bergantian memberikan catatan yang menghabiskan kertas berlembar-lembar. Mereka berdiskusi tanpa berbicara. Perhatikan dialog lewat komunikasi tulisan yangmereka lakukan di tengah-tengah belajar mereka: Zahra : Kak Ali, tanpa sepatu bagaimana aku besok akan pergi ke sekolah? Ali : Kau bisa memakai sandal. Zahra : Keterlaluan. Aku akan bilang pada ayah bahwa kakak menghilangkan sepatuku. Ali : Lalu kita berdua akan dipukuli ayah karena beliau tidak punya uang Zahra : Lalu bagaimana? Ali : Pakai sepatuku. Aku kan sekolah setelah kau pulang sekolah. Zahra : Aku tidak mau! Ali : Aku mohon. Zahra : Pokoknya aku tidak mau. Ali : Ini hadiah untukmu. Maka mereka pun bergantian menggunakan sepatu Ali. Namun hal itu tidak mudah menjalankan praktek bergantian menggunakan sepatu untuk dua orang tersebut. Banyak sekali kendala yang dialami oleh keduanya, namun berbagai kendala tetap dihadapi dengan penuh ketegaran. Tiap habis sekolah Zahra selalu berupaya untuk pulang sesegera mungkin, langsung berlari kencang untuk bertemu dengan Ali di sebuah gang, lalu tanpa banyak bicara mereka saling berganti sepatu dengan senyum. Alipun lantas berlari kencang menuju sekolahnya. Kadang Ali protes, kenapa terlambat?. Dan Zahra menjawab,Habis bagaimana, aku udah berlarian dari sekolah. Mereka mampu mengcreate kebahagiaan dan keceriaan saat mencuci sepatu bersama agar besok sepatunya bersih. Banyak kejadian yang terjadi saat Zahra berlarian, misalnya sepatunya terlempar masuk ke got yang airnya mengalir deras dan upaya keras Zahra untuk mengejar sepatu tersebut, dan lain sebagainya. Tiap hari Ali juga harus berjingkat-jingkat untuk masuk kelas, agar tidak ketahuan oleh guru bp. Namun selalu saja dia ketahuan, dan Ali selalu berkilah dan mencari alasan kenapa musti terlambat. Akhirnya suatu ketika karena sudah berkali-kali terlambat, Ali langsung diusir oleh guru bp. Dengan sedih Ali pun keluar dari halaman sekolah. Namun tak disangka, guru kelas Ali datang, dan menolong Ali agar tetap diijinkan masuk kelas. Sayang kalo dipulangkan, soalnya dia anak yang baik dan pintar, bela guru kelasnya. Kisah Zahra yang tiap ke sekolah menggunakan sepatu Ali ini juga diselingi dengan suatu kejadian dimana Zahra melihat bahwa suatu saat dia menjumpai sepatunya yang hilang, ternyata saat itu dipakai oleh teman sekolahnya di kelas lain. Pada awalnya dia menyelidiki anak yang menggunakan sepatunya tersebut, dan mengikutinya dengan diam-diam untuk mengetahui dimana rumahnya. Dia pun mengajak Ali untuk menyelidiki anak tersebut dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengikhlaskan sepatunya tersebut digunakan oleh orang lain, saat mereka melihat bahwa anak yang menggunakan sepatunya itu ternyata lebih miskin dari dirinya. Mereka melihat bagaimana profil keluarga temannya itu lebih miskin dari mereka yang miskin, dan mereka menampilkan keceriaan. Bapak anak itu buta matanya namun tetap ikhtiar bekerja untuk keluarga dengan semangat dan ceria. Keceriaan anak-anak yang tampak bahkan dari cara jalannya yang melompat-lompat. Dunia kebahagiaan khas anak-anak. Mereka tidak tega untuk meminta atau sekadar menanyakan soal sepatu itu. Setelah sekian lama bergantian menggunakan sepatu dengan adiknya dengan segala kendala yang dihadapinya dengan penuh ketegaran, Ali terus berusaha untuk mewujudkan angan-angan untuk membelikan sepatu untuk adiknya. Upaya bekerja keras dilakukan Ali dengan membantu bapaknya mengcreate ikhtiar, misalnya menjadi tukang kebun ke rumah-rumah mewah. Setelah seharian nyaris tanpa hasil, suatu saat mereka menjumpai sebuah keluarga yang baik hati yang memanfaatkan tenaga mereka dan memberikan tip cukup besar saat mereka selesai bekerja. Senang? Tentu, apalagi saat Ali membayangkan dengan uang itu akan bisa membelikan sepatu untuk adiknya. Sayangnya pada waktu mereka pulang malah mengalami kecelakaan, karena rem sepeda yang dipakainya blong saat jalanan menurun. Mereka pun bonyok, sepeda rusak porak poranda. Uang yang dihasilkan habis buat berobat. Suatu saat di kota mereka menyelenggarakan lomba lari marathon 4,2 km. Mula-mula Ali tidak ada minat ikut lomba itu. Namun saat tanpa sengaja Ali membaca bahwa salah satu hadiahnya, yaitu hadiah juara ketiga adalah sepasang sepatu karet, maka dia berusaha keras untuk ikut lomba tersebut, dengan keinginan agar dia dapat memenangkan lomba pada juara ketiga. Dengan perjuangan keras melobby pihak sekolah agar diperbolehkan untuk mewakili sekolahnya akhirnya setelah melalui test yang ketat Ali berhasil ikut lomba. Dia sempat menyampaikan kabar baik ke adiknya dengan semangat bahwa dia akan mendapatkan sepatu dfengan menjadi juara ketiga. Adiknya sempat protes, kenapa targetnya juara ketiga, kak?. Dia menjawab,Soalnya juara satu dan dua hadiahnya lain. Nanti hadiah itu saya tukar dengan sepatu perempuan untuk kamu. Aku pasti juara ketiga, jawab Ali dengan optimis. Di tengah rasa kelelahan di tengah-tengah lomba, Ali teringat bayangan adiknya yang setiap hari memakai sepatunya. Begitu kuat motivasi dan keinginan dia untuk memenangkan hadiah sepatu demi adiknya. Setelah melalui perjuangan yang keras dan menegangkan, disertai dengan jatuh bangun, sepatunya jebol, kakinya berdarah, dan lain sebagainya, akhirnya Ali tidak saja menjadi juara ketiga melainkan juara pertama. Ternyata hal ini justru mencewakan Ali. Karena mendekati garis finish, para pelari terdepan jaraknya sangat pendek sehingga Ali tidak sempat melihat pelari yang lainnya. Dia hanya tidak ingin kehilangan peluang untuk juara, sehingga dengan tekad yang kuat, setelah terjatuh dia bangkit dan berlari secepat kilat. Akhirnya terjadilah Ali juara 1. Kepala pelatih sekolahnya dia sempat bertanya,Apakah aku pemenang ketiga, pak. Pelatihnya menjawab dengan ketawa penuh kebanggaan,Kenapa pemenang ketika? Kau juara pertamanya!. Ali pun tampak kecewa. Saat dielu-elukan para supporter dan berfoto bersama, Ali menundukkan mukanya karena kehilangan sepatu yang diidam-idamkan tersebut. Dia tidak memperoleh hadiah sepatu yang diinginkan sebagai hadiah untuk adiknya. Dan tentu tidak ada sesuatu yang kebetulan, saat Ali tidak mendapatkan sepatu yang diinginkannya, ternyata di tempat lain ayahnya sedang membelikan sepatu untuk Zahra. Bukan suatu hal yang kebetulan pula saat ternyata dari kejadian ini di kemudian hari Ali menjadi seorang pelari professional. Yah, konon cerita ini emang diangkat dari kisah nyata. Nah, hal yang terpenting adalah, apa dan bagaimana pesan moral, hikmah dan spirit yang bisa yang bisa kita petik dari film ini? Pertama adalah karakter seorang anak yang bisa menampilkan karakter rasa tanggungjawab, semenjak dia memahami bagaimana kondisi keluarganya, bagaimana dia membantu keluarganya untuk tetap struggle dan survive dalam keluarganya, juga tanggungjawab untuk menjaga dan mensupport adiknya saat dia menghilangkan sepatunya. Juga karakter kepedulian, disiplin, kejujuran dan lain sebagainya. Kedua, film ini sangat realis dan natural. Menggambarkan potret kemiskinan yang merupakan representasi universal. Kemiskinan ada di negara manapun, apalagi di Indonesia, ada di sekeliling kita. Namun di tengah kemiskinan yang dihadapi ini, sikap dan karakter yang ditampilkan oleh Ali dan Zahra ini benar-benar bertolak belakang dengan kemiskinan materi yang mereka alami. Mereka tetap dengan penuh percaya diri, struggle, survive, tetap optimis, positive thinking, penuh tanggungjawab. Juga mereka sesungguhnya tidaklah miskin. Mereka bisa mengcreate kekayaan hati saat mereka menunjukkan bisa emphaty saat melihat ada teman mereka yang lebih miskin dibandingkan dengan mereka. Dengan hanya bermodal sepatu yang butut dan kedodoran, keduanya termasuk murid yang cemerlang. Mereka tetap disiplin. Meski harus terlambat karena urusan sepatu tersebut, namun itu sudah upaya maksimal setelah mereka berlarian tiap hari untuk bersekolah. Meski tiap hari harus terlambat, namun ada hikmah yang terjadi. Apa itu? Karena tiap hari harus berlarian, saat ada lomba lari marathon itu, Ali berhasil menjadi juara satu. Ketiga, film ini memberikan pelajaran kepada kita bagaimana menerjemahkan dan mensikapi suatu bencana. Saat kehilangan satu-satunya sepatu itu, Ali dan Zahra bisa memutuskan untuk mencari solusi yang terbaik. Bencana adalah realitas, sedangkan penderitaan adalah pilihan. Tidak banyak diantara kita yang mengalami bencana namun memilih menderita sebagai respon atas bencana tersebut. Padahal sesungguhnya, kita bisa memilih untuk tidak menderita atas bencana yang telah menjadi kenyataan tersebut. Ini adalah sebuah pelajaran yang berharga bagi kita. Saat melihat sepatunya kembali, Zahra kontan senang, namun saat sepatu itu dipakai oleh teman sekolah yang ternyata lebih miskin dibanding dengannya, Zahra benar-benar bisa menghayati betapa dia tiba-tiba merasa menjadi orang kaya dan emphaty terhadap teman tersebut. Keempat, film ini menurut saya juga sangat universal. Film ini bisa menampilkan bagaimana film berkualitas bisa muncul dari sebuah negeri yang selama ini memiliki image yang sangat ekstrim, dari sikap politik Negara yang menganut syiah dan non mainstream di kalangan Negara teluk, negeri yang diembargo oleh penguasa dunia saat ini, negeri yang diisukan sedang mengembangkan teknologi nuklir dan lain sebagainya. Film ini bisa menampilkan sebuah karakter film Islam yang sifatnya universal. Untuk menampilkan wajah Islam sebenarnya tidak harus dengan ayat-ayat yang sedikit-sedikit disitir dengan penerjemahan yang ala kadarnya. Film ini menampilkan karakter yang Islami tanpa harus secara eksplisit mengatakan kepada penonton, ini lo yang namanya Islam. Film ini merepresentasi bahwa Islam itu universal dan tidak semata simbolik, dengan ayat, jilbab, dan ataupun symbol-simbol lainnya, melainkan dengan penguatan karakter tanggungjawab, empaty, jujur, optimis, dan lain sebagainya. Bukankah itu sifat-sifat dan karakter yang Islami, tanpa harus dengan menampilkan ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk bertanggungjawab, jujur dan lain sebagainya. Film berdurasi 88 menit ini meraih penghargaan pada Montreal World Film Festival, Newport International Film Festival, dan Silver Screen Awards di Singapore International Film Festival. Film ini menjadi nominatar Film Asing terbaik Academy Award. Sayang sekali, piala Oscar itu jatuh ke tangan film Italia, Life Is Beautiful karya Roberto Benigni. Itulah kenapa film ini masuk dalam nominasi oscar. Karena unsur-unsur ketabahan, kejujuran tanggungjawab, care dan lain sebagainya tersebut adalah universal sifatnya. Kelima, film ini menghadirkan realitas empiric kemiskinan tanpa kemuraman, dan membicarakan kesedihan tanpa mengekspos kecengengan. Satu lagi, dunia anak-anak nyaris menjadi fokus utamanya. Menurut hemat saya, film-film semacam ini, yang universal dan tidak menggurui, adalah contoh film dakwah yang baik dan bisa dinikmati oleh semua kalangan. Menurut saya film ini sangatlah Islami. Tapi apakah relevansinya sebuah pengkategorisasian film menjadi film yang Islami atau tidak? Kadang-kadang orang membuat kategori hanya berdasarkan symbol yang tampak saja, misalnya adakah ayat-ayat dilantunkan pada film tersebut, adakah perempuannya menggunakan jilbab, adakah dakwah pada film itu dan lain sebagainya. Kalau emang masih seperti ini, pertanyaan tentang pengkategorisasian film Islam tadi malah justru akan menemukan relevansinya. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ === Paket Umrah Mulai US$ 1.490 Paket ONH Plus 2009 (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900 Informasi lengkap di: http://www.media-islam.or.id Ingin belajar Islam? Kirim email ke [email protected]! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

