Rabu, 04 Maret 2009 pukul 07:03:00
Hak Khadimat 

Oleh Aris Solikhah

Rasulullah SAW sangat peduli kepada khadimat atau pembantu. Rasul SAW melarang 
menyiksa, menganiaya, menyakiti, ataupun mendiskriminasikan mereka.

Anas bin Malik menceritakan, selama 10 tahun menjadi pembantu di rumah 
Rasulullah SAW, dia belum pernah sekalipun mendapat perlakuan kasar, apakah itu 
dengan perkataan ataupun tindakan. Bahkan, ia belum pernah mendengar Rasulullah 
SAW memberi peringatan kepadanya, ''Mengapa kamu melakukan seperti ini?''

Rasulullah SAW malah mendoakan Anas bin Malik saat diantar ibunya menjadi 
pembantu beliau. ''Rasulullah, Anas ini pembantumu, doakanlah dia,'' kata 
ibunya. Kemudian beliau berdoa untuk Anas bin Malik. ''Wahai Allah, berilah dia 
harta dan anak yang banyak serta berkatilah apa yang Engkau berikan.'' (HR 
Bukhari).

Dari Al-Marur bin Suwaid berkata, ''Aku pernah melihat Abu Dzar Al-Ghifary RA 
sedang mengenakan sepotong baju jubah, begitu juga budaknya yang mengenakan 
baju serupa. Kemudian aku menanyakan hal itu kepadanya.

Jawab Abu Dzar, 'Aku pernah mencaci maki seseorang, lalu orang itu mengadukanku 
kepada Rasulullah SAW, kemudian Nabi bersabda, 'Apakah kamu menghinanya karena 
ibunya. Sesungguhnya kamu adalah seseorang yang pada dirimu terdapat jiwa 
jahiliyah'.

Kemudian Nabi menjelaskan, sesungguhnya saudara-saudara kalian itu pembantu 
kalian juga, yang Allah jadikan berada di bawah kekuasaan kalian. Maka barang 
siapa yang saudaranya di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya pakaian 
seperti pakaian yang ia kenakan, janganlah kalian bebani mereka dengan apa yang 
memberatkan mereka, karena jika kalian membebani mereka dengan apa yang 
memberatkan, maka bantulah.'' (HR Bukhari Muslim).

Melalui hadis ini, Rasulullah SAW memberikan teladan dalam memperlakukan 
khadimat. Rasulullah SAW menganggap khadimat seperti anggota keluarganya 
sendiri.

Kita disunahkan memberikan makanan dan pakaian sama dengan yang kita pakai. 
Rasulullah SAW melarang kita menyuruh khadimat mengerjakan tugas di luar 
kemampuannya, karena itu menzaliminya. Bila perlu, kita dianjurkan meringankan 
dan membantu tugas-tugasnya.

Selain itu, membayar gajinya tepat waktu sesuai kesepakatan. ''Bayarlah kepada 
pekerja upahnya sebelum kering keringatnya dan beritahukanlah berapa upahnya, 
ketika dia masih bekerja,'' (HR Baihaqi).

Pembantu juga manusia. Mereka bisa jadi lebih mulia dibanding majikan yang 
mempekerjakannya. Sebab, Allah SWT menilai manusia bukan dari harta, status 
sosial, jenis kelamin atau jabatan, namun semata karena ketakwaannya.

Allah SWT menetapkan rezeki manusia berbeda-beda. Ada yang rezekinya 
dilebihkan, dan kurang. Semua itu supaya manusia saling menolong, membutuhkan, 
membantu, serta mengambil manfaat dari karunia yang diberikan-Nya.
(-) 
Index Koran
 
http://www.republika.co.id/koran/25/35218/Hak_I_Khadimat_I


"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 

kampusku 

Blogku



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke