Sekedar info tambahan yang bagi yang ikutan FB
(sorry for double posting)

Dari milis sebelah nih... 

KOMPAS.COM

Selasa, 3 Maret 2009 | 11:40 WIB

        

                                Laporan wartawan Astrid Isnawati



Gara-gara Facebook: Jodoh Melayang, Harta Pun Hilang (1)



Berselancar di dunia maya seperti Facebook, ada rambu-rambu yang harus 
dipatuhi. Terutama yang menyangkut privasi. Kalau tidak hati-hati, risikonya 
cukup besar. Bukannya kesenangan yang didapat, justru harta melayang.



Fenomena Facebook alias FB semakin tak terbendung. Tak heran jika FB dinobatkan 
sebagai situs pertemanan paling diminati di seantero dunia. Dan, seperti dua 
sisi berlawanan dari koin, di samping menguntungkan, FB pun mempunyai sisi 
"buruk". Fitur sederhana seperti status dan foto yang dilengkapi tag yang 
digemari jutaan pengguna Facebook, ternyata
berbahaya jika digunakan secara sembrono. Pasalnya, FB memungkinkan
teman (mutual friends) mengetahui detail pribadi penggunanya. Bayangkan
saja, cukup dengan meng-update status atau mengubah status hubungan
dengan pasangan, secara otomatis semua teman mendapatkan notification
(pemberitahuan) .



Foto-foto yang diunggah lalu di-tag sembarangan dan diset, bisa dilihat siapa 
pun yang memiliki jaringan pertemanan, juga tak kalah bahaya, lho. "Di dunia 
maya, pencitraan diri dicerminkan lewat apa yang di-posting oleh Anda atau 
orang lain. Jadi,
hati-hati dalam memilih foto untuk di-posting" ucap Donny BU, Senior
Researcher ICT (Internet and Communication Technology) Watch.



Intinya, kata Doni, jangan sembarangan menyebar data pribadi, mengubah status, 
menambah teman yang sama sekali asing, atau mengunggah foto di dunia maya 
secara membabi-buta. Di Inggris, contohnya, suami membunuh istrinya karena sang 
istri mengubah status pernikahan mereka di FB, dari menikah menjadi lajang. 
Sang suami pun naik pitam dan gelap mata. Menyeramkan, bukan?



Kado Puluhan Juta

Tak hanya di luar negeri, peristiwa buruk menyangkut salah guna FB juga terjadi 
di sekeliling kita. Salah satunya menimpa Vira (bukan nama sebenarnya), 
perempuan berusia 30-an dengan jenjang karier eksekutif di perusahaannya. Sama 
seperti pengguna FB di berbagai tempat, Vira juga keranjingan. Tiada hari tanpa 
memperbarui perkembangan terbaru dari akun pribadi dan tak lupa menjelajahi 
satu per satu kabar teman-temannya di FB.



Suatu hari, dalam boks friend requests, sebuah nama dan foto asing muncul, 
meminta agar Vira menerima ajakannya untuk berteman. Vira melihat profilnya dan 
ternyata pria ini berasal dari Turki. Karena tidak memiliki mutual friends, 
dipastikan dia menggunakan panduan advanced search sampai menemukan akun Vira, 
sebuah upaya yang menunjukkan ada usaha lebih dari pria itu. Paras rupawan sang 
calon teman sedikit banyak membuat hati Vira melunak dan ikon Confirm tanpa 
ragu, ia klik. Alhasil, resmilah pertemanan mereka.



Setelahnya, mereka rajin bertegur sapa di wall

untuk menjembatani jauhnya jarak dan perbedaan waktu. Karena si lelaki sangat 
perhatian dan mengaku punya pekerjaan tetap, Vira mengiyakan ajakan berpacaran. 
Tak lama kemudian, sang Arjuna datang ke Indonesia.



Ia bersikap amat santun dan supel. Dalam sekejap, keluarga besar Vira bisa 
dekat dengannya. "Dia rajin sekali mendekati keluarga saya," kenang Vira. Ini 
adalah faktor yang mengakibatkan Vira menaruh kepercayaan besar kepada sang 
pacar. Belum lagi, pria Turki ini sangat royal secara materi, "Waktu saya lihat 
dan menyukai sebuah cincin, dia langsung membelikannya, " ujar Vira. Bahkan, 
saat Vira berulang tahun, dia mentransfer uang puluhan juta ke rekening Vira 
sebagai hadiah.



Ajak Nikah Berujung Amarah

Singkat cerita, mereka memutuskan untuk menikah. Tiba-tiba, Vira teringat 
sesuatu, "Kalau saya dinikahi dia, berarti saya harus ikut ke Turki dan 
meninggalkan semua yang saya miliki di sini." Mendadak, hati Vira menjadi 
kurang sreg. "Apa benar dia suka dengan saya?" pikir Vira. Tak ingin menyesal, 
Vira lalu memutuskan hubungan mereka secara baik-baik.

Reaksi tak terduga muncul dari negeri seberang. Sang pacar marah tak karuan, 
sampai mengancam dan meneror tiada henti.



Diburu amarah, lelaki itu mendatangi Vira ke Indonesia

dan mengajaknya bertemu di hotel. Ancamannya tidak main-main, Vira harus 
mengembalikan semua pemberiannya yang bernilai ratusan juta rupiah, "Dia ingat 
detailnya, karena semua tercatat dengan baik di pembukuannya. " Kontan, Vira 
ketakutan. Bahkan, ketika teman-temannya menyuruhnya melapor ke polisi, dia 
menolak. "Saya malu dan takut," begitu alasan Vira.



Alhasil, Vira pontang-panting mencari dana agar "utangnya" lunas. "Tabungan 
saya sampai habis, akhirnya terpaksa meminjam sana-sini," keluh Vira. Masalah 
belum usai, karena hingga sekarang Vira masih berutang kepada teman dan 
keluarganya. "Sungguh melelahkan," keluhnya. Kapokkah Vira main FB? "Enggak! 
Saya hanya lebih selektif memilih teman. Interaksi di FB hanya dengan 
teman-teman yang benar-benar dekat," tandasnya.



Kasus Vira, kata Doni, sebetulnya tak akan terjadi jika saja Vira tidak asal 
menerima undangan berteman. 

Apalagi kalau hanya untuk menambah jumlah teman. "Lihat dulu, berapa banyak 
mutual friends. Semakin sedikit, berarti tidak banyak

teman yang mengenalnya. Ini berarti risikonya lebih besar. Tidak perlu sampai 
ribuan teman, karena wajarnya, setiap akun FB memiliki 120 teman." *

Selasa, 3 Maret 2009 | 12:55 WIB

        

                                Laporan wartawan Astrid Isnawati



Gara-gara Facebook: Jodoh Melayang, Harta Pun Hilang (2)



Pemalsuan jati diri juga mudah dilakukan di situs pertemanan. Jadi, pelaku 
bertindak seakan-akan dialah korban dan menyebarkan data pribadi korbannya atau 
lazim disebut impersonation.



Peristiwa tidak mengenakkan ini ternyata pernah terjadi kepada salah satu 
mahasiswa Donny, sebut saja namanya Rima. Awalnya, "Dia mengadu ke saya, sering 
ditelepon nomor tidak dikenal. Bahkan di tengah malam," kisah Donny.

Pria yang aktif menulis di portal berita Detik.com ini, kemudian

bergerak cepat menyelidiki pangkal persoalan. Ternyata, data pribadi

sang mahasiswa dikopi dari akun FB-nya dan dijadikan blog. Foto-foto di FB juga 
diambil, lalu dengan menggunakan situs penyimpan foto gratis, dengan mudahnya 
pelaku mem-posting ulang di blog tadi.



Bukan hanya menyebarkan data dan foto-foto pribadi, pelaku juga

menjelek-jelekkan citra korban alias black campaign. "Isinya cenderung 
melecehkan martabatnya sebagai perempuan," tutur Donny. Situasi bertambah buruk 
karena pencantuman nomor telepon pribadi Rima yang diambil dari fitur phonebook 
di FB. Jelaslah kini, dari mana asal semua telepon-telepon asing itu datang 
menghampiri mahasiswanya. Alhasil, Rima mau tak mau harus menjelaskan duduk 
persoalannya ke setiap nomor yang meneleponnya.



Melihat kasus Rima, Donny menyarankan, "Sebenarnya, tidak apa-apa menyebarkan 
nomor telepon di internet. Semua

tergantung kita siapa, apa alasan, dan tujuannya." Lantas, apa yang

bisa dilakukan seandainya kejadian ini terjadi pada Anda? "Menghubungi langsung 
pengelola situs blog dan FB dengan mengirimkan bukti identitas diri seperti KTP 
yang di-scan." Beruntung bagi Rima, situs blog yang dipakai untuk mencemarkan 
nama baiknya memiliki flag blog alias fasilitas untuk melaporkan jika ada 
muatan blog yang merugikan.



Palsu Sekaligus Mengganggu

Meskipun tak separah dua kasus sebelumnya, Monik Hapsari juga mengalami 
kejadian buruk gara-gara tangan usil di FB. Tanpa peringatan apa pun, tiba-tiba 
Monik (panggilan akrabnya) diserbu teman-temannya yang mempertanyakan akun 
Facebooknya, "Selama ini, saya selalu menolak membuat account FB karena memang 
tidak tertarik. Jadi waktu ada akun itu, semua pada nanya," jelas pengarah gaya 
di majalah remaja ini.



Lantas, dari mana asalnya akun Facebook dengan nama dan fotonya itu? "Saya juga 
enggak tahu. Tiba-tiba ada dan orang ini mengisi dengan lengkap semua data 
pribadi saya. Terus, kalau ada foto yang ada wajah saya, langsung di-tag oleh 
pembuat akun itu, plus dikomentari, " papar Monik. Si pembuat rupanya memang 
iseng, Monik sampai dibuatkan fitur Fans Club dan membuatnya diolok 
teman-temannya.



Kendati awalnya Monik tak pedul, lama-lama ia merasa terganggu juga. "Kayaknya, 
teman sekolah atau kuliah banyak yang meng-add dan mereka sering SMS atau nulis 
di wall, bilang aku sombong karena tidak pernah balas sapaan mereka di FB," 
keluh lulusan Desain Kria, ITB ini.        



      




      


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke