Saudara-saudariku yang dimuliakan Allah, Tulisan ini kiranya dapat menjadi muhasabah bersama.Partai politik memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding kekuatan individu atau keluarga. Dari kekuatan partai politik atau kekuatan masa akan dapat menimbulkan perubahan signifikan atau revolusioner terhadap kondisi sebuah negara. Ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh gerakan per indvidual semata.
Oleh karena itu , dakwah fardiyah (individu) pada keluarga penting, namun dakwah via partai politik juga sangat penting terlebih lagi Allah mengingatkan dalam Ali Imran ayat 104. Tabiatnya partai politik Islam maka seluruh visi misi, kampanyenya arahannya, karakter, perubahan yang dibawa seluruhnya sesuai syariah Islam dan menuju Syariah Islam Kaffah. Partai politik Islam memiliki konsep jelas mengenai syariah Islam yang ditawarkan, mempunyai setiap solusi dari semua masalah yang dihadapi manusia yang sesuai syariah, dan konsep ini merupakan senjata atau modal utama dalam meraup suara dalam kampanye. Para pemilihnya memilih karena persetujuannya terhadap konsep tersebut dan misi mulia syariah-Nya, bukan karena semata personal, kedekatan emosional dan dsb. Bila pun berkoalisi maka dasar yang dipakai adalah adanya kesamaan visi misi, fikrah, tujuan yang sama, bukan kemaslahatan sesaat yang tak sesuai syariah. Jika tanpa ini, maka lama-lama partai Islam ditinggalkan.... Jika partai Islam tidak berani ngomong dan kampanye serta berjuang terbuka demi syariah Islam, takut berbicara syariah secara terbuka, maka kapan umat akan sadar akan pentingnya taat kembali pada Allah melalui penerapan syariah. Jika terus menerus kita ngomong syariah, lama-lama umat akan biasa mendengar kata syariah. Mereka tidak takut lagi, bahkan sangat mungkin tertarik memahami seluruh syariah Islam dalam memecahkan masalah mereka terkait ekonomi, sosial, budaya, keluarga, politik dsb. Pada akhirnya mereka rmenyadari indahnya syariah dan rindu menginginkan penegakan syariah kembali. Teman-teman yang bergabung dalam partai politik memiliki kewajiban lebih untuk memberikan penyadaran dan pencerdasan konsep syariah Islam kepada umat dibandingkan orang pada umumnya...sebab umat berharap pada Anda. Sesungguhnya, artikel ini demi kebaikan kita bersama...untuk memperbaiki masa lalu.. http://www.eramuslim.com/editorial/mengapa-partai-partai-islam-bangkrut.htm Mengapa Partai-Partai Islam Bangkrut? Usai pemilu 2009, para pengamat politik dengan serta merta berbicara dengan gaya agak ‘vulgar’, menyatakan bahwa partai-partai Islam, tidak laku dan tidak memiliki pemilih. Nada melecehkan itu, juga keluar dari Andi Malarangeng, yang memiliki pandangan yang sama, partai-partai Islam kekurangan pemilih. Ada beberapa faktor yang menyebabkan partai-partai Islam suaranya menurun, atau tidak bertambah secara signifikan, antara lain : Pertama, partai Islam tidak memiliki karakter dan ciri yang jelas. Baik itu berkaitan dengan karakter ideologinya, tujuannya, pemimpinnya, platform perjuangannya, dan perilaku politiknya tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai partai Islam. Sehingga, tidak dapat dibedakan antara partai Islam bila dibandingkan dengan partai nasionalis sekuler. Hal ini dapat dilihat dengan kecenderungan pola koalisi yang sangat beragam, tidak jelas landasannya, dan sifatnya sangat pragmatis, dan kadang-kadang nampak lebih oportunistik. Tidak menampakkan jatidirinya sebagai partai Islam atau partai yang berbasis Islam. Orientasinya semata-mata hanya mendapatkan kekuasaan. Kedua, partai Islam, menunjukkan tidak adanya komitment yang tegas dalam memperjuangkan ideologi, cita-cita, dan prinsip-prinsip Islam. Mereka tidak berani secara tegas dalam memperjuangkan yang menjadi tujuan dan prinsip perjuangan mereka. Para pemimpinnya menjauhi agenda-agenda Islam, dan agenda-agenda keumatan, serta membiarkan berbagai sikap dan kebijakan pemerintah yang menyimpang dari ajaran-ajaran Islam. Sehingga, prinsip yang paling pokok dalam Islam, yaitu ‘hisbah’ (amar ma’ruf nahi munkar) tidak berjalan, dan negara dibiarkan bertindak dan mengambil kebijakan yang melanggar kaidah-kaidah syar'iyah. Sehingga, di masyarakat dimana-mana terjadinya penyimpangan perilaku, dan penyelewengan yang sifatnya asasiyah (pokok), bahkan terjadinya perbuatan ‘faqisah’ (dosa besar). Ketiga, partai Islam, para pemimpinnya tidak dapat menjadi ‘uswah hasanah’ (suri tauladan yang baik), di tengah-tengah masyarakat. Tidak mendahalukukan kepentingan rakyat (umat) ketimbang kepentingan dirinya dan keluarganya. Banyak diantara mereka yang lebih mencintai kehidupan dunia, secara ‘isyraf’ (berlebihan), sehingga menimbulkan kecemburuan dikalangan masyarakat yang umumnya, miskin dan dhu’afa, disisi lain, mereka menumpuk kekayaan yang tak ternilai. Di mana-mana muncul adanya jurang ‘gap’ antara pemimpin dan pengikut. Inilah yang menimbulkan rusaknya ukhuwah (persaudaraan) dan soliditas partai Islam. Tidak heran kalau praktek-praktek 'dagang' umat itu berlangsung di mana-mana. Keempat, partai Islam, menjadikan partai dan kekuasaan sebagai tujuan, bukan sebagai alat (wasilah), dan kemudian menjadikan partai sebagai tujuan untuk mencapai kekuasaan. Sementara itu, yang pokok ditinggalkan, yaitu da’wah. Maka, menjadi fakta didalam masyarakat, semakin keringnya nilai-nilai agama dalam kehidupan. Nilai Islam sudah ditinggalkan, dan tidak pernah lagi didakwahkan dan diajarkan kepada masyarakat. Sehingga, masyarakat lebih terbiasa dengan kehidupan sekuler, dan wajar kalau masyarakat memilih partai sekuler. Karena, partai Islam sama itijahnya (orientasinya) dengan partai sekuler. Sudah sangat jarang partai Islam, yang melakukan pembinaan kepada masyarakat dan anggotanya,menjadikan anggotanya agar memedomani kehidupan mereka dengan Islam. Tidak ada lagi pembinaan anggotanya secara teratur dengan nilai-nilai Islam. Prinsip ‘nahnu du’at qobla ala kulli syai’, sudah ditinggalkan. Mereka lebih mengutamakan kerja-kerja ‘poliltik’ dibanding dengan membina dan mendidik masyarakat. Jadi wajar kalau sekarang ini masyarakat kehilangan ‘ghiroh’ Islam mereka. Dampaknya pasti mereka tidak akan memilih partai Islam. Kelima, partai Islam, para pemimpinnya lebih suka berteman dan bekerjasama dengan orang-orang yang kafir dan munafik, serta musuh-musuh Allah, dibandingkan dengan membangun kekuatannya dan kekuatan umat Islam. Padahal ini sangatlah bertentangan dengan perintah Allah Ta’ala, seperti di dalam surah al-Maidah, ayat : 51-52. Sehingga, para pemimpin dan partai Islam semakin jauh dengan tujuan, cita-cita dan ideologi Islam, yang hendak mereka perjuangkan. Karena mereka menjauhi Allah Ta’ala, dan orang-orang Islam, yang mestinya menjadi basis kekuatan mereka. Karena itu, Allah Ta'ala tidak mau menolong mereka, dan dibiarkan mereka dalam kekalahannya. Lima faktor inilah menyebabkan partai-partai Islam dari waktu-waktu semakin menurun dari dukungan masyarakat, dan menjadi bangkrut. Bangkrut secara aqidah dan bangkrut secara politik. Sehingga, baik dimata manusia dan dimata Allah Ta’ala menjadi hina. Wallahu ‘alam. "Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan silaturahmi." (Muhammad SAW). kampusku Blogku [Non-text portions of this message have been removed]

