Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakaatuh
Hari ini, Minggu, tanggal 26 April 2009. Aku dan anakku Muhammad pergi ke
Travel Armada, untuk memesan tiket ke Medan. Lumayan mahal rupanya tiket
minggu-minggu ini, tapi mau gimana lagi, kalau tidak bulan-bulan ini, kapan
lagi aku menemui ibuku di P.Siantar, sementara aku akan berangkat lagi
InsyaAllah ke Kairo.
Sebelumnya aku pergi ke salon dulu untuk cream bath. Tempat langgananku biasa,
seorang perempuan tentunya. Nah, disaat menunggu giliranku, datanglah telpon
yang tak diundang sama sekali, kata nya dari Telkomsel Pusat di Jakarta.
Mulanya dia bilang :"Bu,..maaf Bu, ganggu pagi-pagi,..Ibu benar pemilik no
sekian-sekian…?" Iyah, saya bilang, padahal saya juga kagak hafal no Hp saya
ini.
Oh yah Bu, benar, Selamat Bu,..kami dari Telkomsel Pusat, Ibu belum pernahkan
mendapatkan telpon dari Pusat selama Ibu memakai Telkomsel ini? "Iyah, belum,
kenapa?, "
Begini Bu, malam tadi mungkin Ibu tidak mengikuti acara ditelevisi yah. Dari 50
ribu pelanggan telkomsel, 10 orang mendapatkan undian dan menang 10 orang itu,
termasuk Ibu didalamnya. Ada 10 juta rupiah Bu.
"Oh yah,.lantas,..gimana?" Saya bilang lagi kedianya. Begini Bu, tolong
kasihkan no rekening Ibu. Ibu nomor rekeningnya ada di Bank mana yah Bu? Saya
jawab, banyak(tapi sayangnya uangnya kagak ada, pada mati sih).
"Yang masih aktif dan masih Ibu pakai yang mana? BII, dan BRI. Saya bilang.
Tolong kasih nomornya Bu, yang Ibu sering pakai ATM nya". Ok, saya kasihlah
nomor saya di BII itu(dan ini serius saya kasih nomor asli, tidak bohong, tapi
saya tau betul, tidak ada siapapun bisa mengambil uang disana, selain saya
pemilik nomor rekening itu, dan lagian uang yang di BII itu tidak banyak, tapi
ada asal tidak mati saja.
Kemudian, dia sangat semangat sekali menjelaskan, dan saya memang sengaja
memperlama dia menelpon dari HP itu, biar tambah habis pulsanya(ngerjain orang
jugalah saya pikir, saya akan mengerjain kamu). Saat mau ambil nomor rekening
saya aja saya lama-lamain, apalagi pura-pura bodoh dan tidak mengerti maksud
yang dibicarakannya, padahal saya sangat mengerti sekali arah dan tujuan
pembicaraannya.
Hampir satu jam ngomong di HP.Orang salon sampai bingung, koq lama sekali sih
Bu nelponnya. Akhirnya saya ceritakan siapa yang menelpon, mereka ketawa lihat
saya mengerjain orang kaya gitu.
Kemudian, saat dia bilang, Ibu sekarang ke ATM yah Bu, jauh ngak rumah Ibu dari
ATM? Yah..lumayan, bisa dua jam, saya bilang. Dua jam, koq lama sekali Bu?
Ngak, saya kan sekarang berada di salon, masak rambut saya lagi dishampoin saya
ke ATM. Ok deh Bu, nantik telpon saya kalau Ibu sudah di ATM, nantik saya kasih
tau cara-caranya Bu. Ibu teman apa saja. Ok saya bilang. Ibu naik apa ke ATM
Bu, mobil, bis, angkos, atau motor?
Wah,..saya naik mobil dong, masak ambil uang sebanyak itu naik angkot? Iyah Bu,
benar, saya memang mau ingatin itu sama Ibu.
Saya dan orang salon, sudah tidak tahan menahan gelid an ketawa, Lho, koq Ibu
ketawa sih,.katanya. Bukan begitu, habis kamu sih, masak suruh saya sekarang ke
ATM dengan rambut saya bershampo begini, kamu ini gimana sih, koq maksa lagi?"
(dalam hati, gimana saya tidak ketawa, jangankan mobil pribadi, motorpun saya
tidak punya, kemana-mana naik angkost, bis, maksudnya biar meyakinkan dia,
kalau saya benar-benar orang kaya yang sudah ketipu sama dianya, biar dia
tambah semangat melancarkan aksinya, tambah habis pulsanya…hehehe..sekali-kali
nakal sama orang kayak begitu, lagian iseng jugalah, pagi-pagi sarapan
begituan).
Kemudian dia nelpon lagi. "Gimana Bu, Ibu tidak jadi ke ATM? Wah,.mesin ATM nya
lagi rusak, tidak bisa jalan,..saya bilang.
Kalau begitu Ibu ke ATM BRI saja Bu,..sambil sudah kelihatan dia marah sekali,
sudah tau dia saya permainkan.
Yah,..kalau ATM BRI, mana saya bawa sekarang. Sekarang begini aja, kan nomor
rekening sudah saya kasihkan, tinggal kirimkan aja ke nomor itu. Atau kalau
tidak bisa, sudah deh, hadiah untuk saya itu, saya kasihkan saja ke Anda, saya
ngak mau, kamu sih, maksa dan marah-marah…?(Orang Salon benar-benar kecicikan
dengan tingkah saya mengerjain orang yang mengerjain saya awalnya).
Semoga diantara kita, tidak ada ketipu dengan tawaran-tawaran semacam ini,
karena saya dengar banyak juga yang ketipu. Kasihan juga sih. Prinsip saya,
kalau orang mau kasih hadiah, jangan pakai pajak segalalah. Kasih dulu uang
atau barangnya, asli atau tidak, benar atau tipuan. Nah, kalau memang sudah
beneran ada uangnya, tidak palsu, baru silahkan kasihkan pajaknya. Itupun tentu
namanya pajak hanya berapa persenlah. Jangan sampai ketipu dengan hal-hal
semacam ini, dunia sekarang lagi krisis global, hati-hati mengeluarkan uang.
Gara-gara iming-iming hadiah, kita malah rugi. Biarlah makan dnegan hasil
keringat sendiri, itu jauh lebih baik, dan soal hadiah ada syukur, jangan cepat
merasa senang, dan mengikuti anjuran orang akan hadish-hadiah ini, termasuk
hadiah-hadiah belanjaan, discount berapa persen gitu, ada hadiah piringlah,
atau apalah. Belilah sekedar kebutuhan kita saja. Kata orang Arab :"Sederhana
adalah asas/kunci/dasar keberhasilan seseorang".
Sekedar berbagi pengalaman saja.
Wassalamu'alaikum. Minggu, 26 April 2009. Rahima.Sikumbang, maaf, saya seorang
perempuan bukan lelaki, karena sering saya dipanggil, ("Akhi, Bapak")meski ID
saya rahimarahim, dan istri dari Bapak Abdurrahim Sumin.
[Non-text portions of this message have been removed]