Lanjutan, Bagian-2
~~~

Dari: DODY ISKANDAR dinata <dody_...@yahoo. co.id
Topik: [dzikrullah] Rasulullah Pembimbing yang Lembut - 2
Kepada: "Dzikrullah Owner" 
Tanggal: Selasa, 5 Mei, 2009, 9:45 AM
===
 
 
Rasulullah Pembimbing yang Lembut - 2



Kalau anda seorang politisi, pasti akan mampu menaklukkan rival politikus lain 
karena ada kesamaan wilayah yang bisa dipertarungkan. Tetapi bagi seorang ahli 
mekanik, kepolitisian itu hampir tidak ada artinya. Begitu juga sebaliknya.  
Begitu juga seumpama kita ini pakar science, aura kewibawaan intelektual 
beserta pemahamannya hanya  terjadi di tataran orang yang mengejar science. 
Sama sekali tak berpengaruh di hadapan penjual nasi pecel. Bagi penjual nasi, 
yang berpengaruh besar adalah kalimat "berapa bungkus pesanan". Sebab  hanya 
sisi itulah yang paling bisa dinikmati dan berpengaruh besar bagi dirinya.

Lebih gampang contoh, Seorang laki-laki sejati takkan tertarik sama sekali dan 
tergerak mencoba memakai lipstik, BH, eye shadow dan sejenisnya. Walaupun 
semudah dan sesabar mungkin seorang wanita menjelaskan betapa perlunya hal itu 
sebagai sebuah penampilan.

Inilah subyektifitas yang rumit dan butuh kalibrasi ilmu pengetahuan yang tak 
sederhana. Dan pemaksaan penyeragaman untuk dijadikan kesepakatan objektifitas 
baru, sering berbuah kedongkolan intelektual.

Tetapi di balik itu ada sebuah bagian yang semua manusia memilikinya -sebuah 
objektifitas murni, mudah dan sederhana. Hal inilah yang disentuh dengan 
kelembutan Rasulullah. Dan  oleh Rasulullah disindirhaluskan lewat tahap 
kemampuan gerakan sholat. Kalau tidak bisa berdiri ya duduk, kalau tidak bisa 
duduk ya berbaring, kalau tidak bisa gerak ya berkedip dst ... Hal ini karena 
tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama.

Lha ... lalu apanya sih yang sebenarnya bersholat itu? Apanya yang sama? Apa 
sih yang benar -benar diperhitungkan dalam sholat itu ?

Kata Nabi dalam sholat itu tidak ada pekerjaan lain. Lho!  Berarti memang nggak 
ngapain- ngapain. Benar. Dan nggak ngapain-ngapain itu memang pelajaran yang 
paling berat.

Makna  sebuah pengajaran bahwa di dalam sholat haruslah menuju sesuatu yang 
nggak ngapa-ngapain. Lha emang perintahnya gitu kok. Jadikanlah sabar dan 
sholat sebagai penolongmu. Sabar itu ngapain sih? Adakah universitas sabar? 
Apakah bidang keilmuan sabar? Adakah seminar training sabar ? Adakah manusia 
yang kompeten bikin pelatihan sabar 24 jam pasti bisa, garansi uang kembali ?

Lha wong sabar itu cuma diam kayak wukuf ... dan wukuf itu hanya diam sejenak. 
Masalahnya, kata sejenak itu selalu kita maknai dengan arti menyempatkan. 
Padahal kalau dalam keseharian bahasa Jawa, jenak itu adalah nikmat, nyaman, 
dan lega plong. Nasihat lungguho sing jenak bila diindonesiakan duduklah  
sejenak  yang artinya duduklah senikmat dan senyaman mungkin. Maka kalau wukuf 
sejenak, ya diamlah senyaman mungkin, senikmat mungkin, dan selega mungkin ... 
nggak usah mikir dan kepikiran apa - apa ....

He ... he ... Kalau tuma'ninah badan untuk diam sejenak sih bisa. Masalahnya, 
yang nggak mau diam wukuf itu kan otak ini. Persis kayak embik yang meronta 
-ronta karena takut mau disembelih buat korban. Ah ... seandainya saja ada 
orang jual pengikat kepala yang bisa buat mengikat fikiran agar diam. Pasti 
saya antri beli ....

Klop kan antara sholat dan sabar itu nggak ngapain-ngapain. Dan sesungguhnya 
dalam diam itu terjadi aktifitas maha dahsyat. Aktifitas ini disebut aktifitas 
kesadaran ruh. Ruh inilah bagian terlembut dari manusia. Dan gerak kesadaran 
Rasulullah adalah kesadaran hidup di wilayah ruh.

Ruh inilah yang setiap orang mempunyai kadar yang sama. Tak peduli presiden, 
tukang tambal ban, pendakwah, ilmuwan ataupun penyanyi, yang menjadi daya 
menghidupi ya barangnya itu - itu saja. 

Ketika seorang berada di kesadaran ruh, maka ia akan mudah bercengkrama dengan 
siapa saja. Sebab ruh itu menyelimuti seluruh tubuh, dus sudah pasti 
menyelimuti otak beserta filenya. 

Misalnya, seumpama saya berada di kesadaran ruh, kemudian saya bertemu seorang 
pakar kelautan. Tanpa kesulitan saya hanya menggerakkan kesadaran ruh ke dalam 
file otaknya. Sehingga otak dia bagaikan otak saya sendiri. Sehingga percakapan 
tentang kelautan seakan -akan gayeng dan ramah.

Hal ini karena orang yang telah berada di kesadaran ruh bisa menggiring, 
menemani dan meluruskan akan dibawa kemana file tentang kelautan yang begitu 
banyak tersebut dengan mengikuti bahasa sang pakar. Sehingga setelah selesai 
ngobrol, hati sang pakar diam sejenak, wukuf tenang dan sadar bahwa  ia akan 
kembali kepada muasal ruh. Masalah nanti kambuh membantah lagi, ya itu emang 
dalam Quran sudah tersurat banyak orang yang begitu ....

Tapi kalau saya ini cuma misal lho ... kalau nggak percaya ya malah enteng,  
jangan dibahas terlalu serius ... lha wong cuma misal...

Inilah yang disebut amal shalih bin ikhlas. Amalan yang mengikuti desiran ruh 
.... Sebuah amalan lembut yang mampu mengetuk sistem manusia lintas strata 
sosial dan lintas kapabilitas intelektual. Yah ... sebuah sikap ikhlas yang 
mudah dan semua orang memiliki.  

Sayangnya kemudahan itu dipersulit diri sendiri oleh sebab kita merasa bisa 
berdiri sendiri dengan segala pernik proses ketidaksadaran menuju jalan 
merumitkannya.

Dengan pemahaman seperti ini, terkuaklah peluang bahwa siapa saja bisa 
menikmati wangi surga dienul Islam. Warisan rasulullah ini tidak lagi hanya 
dimonopoli seorang berdasar keturunan, scientis atau agamawan. 

Lha kalau tidak bisa untuk semua, ngapain rasulullah capek-capek ngasih contoh. 
Padahal jelas, bahwa Muhammad adalah sebaik-baik contoh. Karena 
segamblang-gamblang contoh, sudah tentu mulai anak kecil sampai kakek, budak 
sampai cendekia sanggup mengikuti. Nalarnya, kalau nggak bisa dicontoh, ngapain 
ikut-ikutan mengerjakan dan jadi muslim...

Kalau saja kita tetap memaksakan, bahwa yang paling berhak merasakan surga  
Islam adalah berdasar keturunan, kedekatan geografis, perkumpulan halaqah, 
kefasihan bicara atau kecendekiawanan, waduhh...bisa frustasi orang-orang 
seperti kita ini ... Bagaimana tidak, jangan-jangan orang bodoh seperti saya 
yang tak punya KKN agama ataupun background pendidikan yang cukup ini dapat 
nomor kancrit. Itupun belum tentu.

Akhirnya orang-orang seperti saya ini nggerundel, "Ngapain capek-capek 
membangun mushola, madrasah atau pesantren .. ngapain dakwah capek-capek ... 
ngapain berbuat baik ... toh peluang surga sangat kecil sekali. Biarin aja dah 
yang bikin masjid atau majelis agama orang -orang yang merasa dirinya garda 
depan".

Maka terjadilah frustasi massal. Bisa-bisa di Indonesia ini tidak ada lagi 
masjid, pesantren, laboratorium sertifikasi halal dan bangunan yayasan yang 
berdiri megah. Bahkan akan ambruk satu persatu. Sebab kenyataannya yang 
membangun dan merawat hal-hal tersebut adalah kaum Bilal alias kuli -kuli yang 
hampir tidak pernah kita perhitungkan dalam konteks gegaduhan Islam. Padahal 
dalam diri mereka lebih banyak porsi kepolosan daripada intrik.

Dan merekalah yang selama ini kita anggap dengan istilah abangan, Islam KTP, 
Islam kultural, Islam anut grubyug nenek moyang dan berbagai penyebutan yang 
menafikannya.

Hopeless. ...


Bersambung
Dody Ide

 
 

 
 


      Wajib militer di Indonesia? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 
http://id.answers.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke