----- Original Message ----- 
From: Munawar 
To: [email protected] 
Sent: Tuesday, May 19, 2009 1:15 PM
Subject: < MJNY > Perselisihan dalam Bingkai Cinta


      Perselisihan dalam Bingkai Cinta  
      Written by Administrator     
      Tuesday, 19 May 2009 
      www.nurulyaqin.org
     

      Mari kita ikuti sepercik perjalanan orang-orang besar dalam persaudaraan. 
Dahulu, Abu Dzar radhiallahu anhu pernah menghina Bilal bin Rabah dengan 
menyebut orang tuanya. Bilal mengadu kepada Rasulullah dan Abu Dzar menyesal 
sejadi-jadinya atas perkataannya kepada Bilal. Ia lalu menempelkan pipinya ke 
tanah sambil berucap kepada Bilal, " Demi Allah, aku tidak akan angkat pipiku 
dari tanah, sampai engkau injak pipi ini dengan kakimu." Akhirnya kedua sahabat 
itu berpelukan dan saling memaafkan. Mereka, orang-orang besar itu, bukan tak 
pernah berselisih dan bukan tak pernah tersulut emosinya. Perselisihan antara 
mereka juga terjadi, dan bahkan kemarahan antara mereka juga telah tersulut. 
Tapi lihatlah bagaimana mereka menyelesaikan masalah antara mereka. 
      Lihatlah bagaimana kaum Muhajirin dan Anshar ketika kedua kelompok 
sahabat Rasulullah saw hampir saja berbaku hantam dan saling bunuh karena 
diingatkan masa lalu mereka yang saling berperang. Masing- masing kelompok 
telah menghunus pedang mereka dan bersiap untuk berperang. Dalam situasi kritis 
itulah Rasulullah saw untuk melerai mereka dengan mengatakan, " Wahai kaum 
Muslimin, apakah karena seruan jahiliyah ini (kalian hendak berperang) padahal 
aku ada di tengah-tengah kalian. Setelah Allah memberikan hidayah Islam kepada 
kalian. Dan dengan Islam itu Allah muliakan kalian dan dengan Islam Allah 
putuskan urusan kalian pada masa jahiliyah. Dan dengan Islam itu Allah 
selamatkan kalian dari kekufuran. Dan dengan Islam itu Allah pertautkan 
hati-hati kalian". Maka kaum Anshar itu segera menyadari bahwa perpecahan 
mereka itu adalah dari syaithon dan tipuan kaum kafir, sehingga mereka menangis 
dan berpelukan satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada Rasulullah saw 
dengan senantiasa siap mendengar dan taat.." (Sirah Ibnu Hisyam 1/55) 

      Saudaraku, 
      Begitu indahnya persaudaraan yang berbalut cinta diantara mereka. Setelah 
Rasulullah wafat, peselisihan juga terjadi diantara mereka. Tapi lagi-lagi 
mereka memang orang-orang besar dalam cinta. 

      Mu'awiyah memiliki sepetak kebun di Madinah, berikut sejumlah 
karyawannya. Ibnu Zubair memiliki kebun yang letaknya di samping kebun milik 
Muawiyah. Mu'awiyah ketika itu adalah seorang khalifah yang menguasai lebh dari 
20 wilayah. Sedangkan Ibnu Zubair adalah hanya salah seorang rakyatnya. 
Keduanya juga mempunyai persoalan di  masa lalu. Tukang kebun milik Mu'awiyah 
datang dan masuk ke kebun milik Ibnu Zubair, lalu Ibnu Zubair menuliskan surat 
kepada Mu'awiyah dengan nada marah. Surat itu bertuliskan, 
      " Bismillahirrahmanirrahim. Dari Abdullah bin Zubair, putra penolong 
Rasul (Zubair bin Awwam) dan putra Dzatun Nuthaqain (Asma binti Abu Bakar yang 
mempunyai gelar itu), kepada Mua'wiyah bin Hindun, anak dari perempuan yang 
memakan hati paman Rasulullah. Ketahuilah, tukang kebunmu masuk ke kebunku. 
Demi Allah yang tidak Tuhan selain  Dia, kalau tidak segera engkau larang 
mereka, aku akan mempunya urusan denganmu!" 

      Mu'awiyah membaca surat dari Ibnu Zubair tersebut. Dia tampak lapang dada 
dan menerimanya dengan tenang. Ia lalu memanggil anaknya yang bernama Yazid 
yang kebetulan karakternya emosional. Mu'wiyah menyodorkan surat itu dan 
bertanya kepada anaknya, "Apakah kita perlu menjawabnya?" Yazid bin Mu'awiyah 
menjawab, "Menurutku, ayah harus mengirimkan pasukan dengan kekuatan besar yang 
barisan terdepannya ada di Madinah dan ujung terakhirnya ada di Damaskus. 
Mereka harus datang kembali dengan membawa kepala Ibnu Zubair." Mu'awiyah 
menjawab, "Tidak. Ada yang lebih baik dari itu." Ia lalu menuliskan surat 
balasan kepada Ibnu Zubair dengan mengatakan 

      Bismillahirrahmanirrahim. Dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan, kepada Abdullah 
bin Zubair putra penolong Rasul dan putra dzatun Nuthaqain. Assalamu'alaikum wa 
rahmatullahi wa barakatuh. Jika ada bagian dari dunia milikku dan milikmu, lalu 
kemudian engkau memintanya, niscaya akan aku berikan itu semuanya untukmu. Jika 
sampai suratku ini kepadamu. Ambillah kebunku itu seluruhnya menjadi kebunmu. 
Termasuk tukang kebunku juga menjadi milikmu. Wassalam. 

      Surat itu akhirnya sampai ke Abdullah bin Zubair. Membaca surat itu Ibnu 
Zubair menitikkan air mata dan pergi ke Mu'awiyah di Damaskus. Ia memeluk 
Mu'awiyah dan berkata, "Semoga Allah menjaga akalmu, dan Allah telah memilihmu 
diantara orang-orang Quraisy untuk menduduki tempat ini yakni jabatan khalifah" 

      Saudaraku, 
      Ternyata perang tak terhindarkan, dan terjadi di antara mereka. Dalam 
perang jamal Aisyah, Thalhah dan Zubair beserta sejumlah sahabat Radiallahu 
anhum keluar untuk berperang dengan menghunus pedang. Sementa di pihak lawan, 
Ali Radiallahu anhu dan para sahabat dari ahli Badar juga berangkat untuk 
berperang. Seseorang berkata kepada Amir Asy Sya'bi, ,"Allahu Akbar. Para 
sahabat saling berperang dengan pedang dan masing-masing tidak ada yang 
menghindar?!" Amir Asy Sya'bi mengatakan, "Para penghuni surga juga bertemu. 
Tapi mereka masing-masing merasa malu dengan yang lain." 
      Ketika Thalhah gugur di medan perang Jamal dalam posisi menentang Ali ra, 
justru Ali turun dari kudanya dan menanggalkan pedangnya. Ia berjalan kaki 
menuju Thalhah. Melihatnya telah gugur bersimbah darah. Ali tahu, Thalhah 
adalah salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga oelh Rasulullah 
saw. Ali ra memberihkan tanah dari janggut Thalhah sambil mengatakan, "Aku 
sangat gusar melihatmu seperti ini wahai Abu Muhammad. Tapi aku akan meminta 
kepada Allah swt agar menjadikan antara diriku dan dirimu sebagaimana 
difirmankan dalam Al Quran, "Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada 
dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di 
atas dipan-dipan." (QS Al Hijr:47) 

      Terakhir, 
      Lihatlah bagaimana kisah Imam Ghazali, tentang Hasan Al Bashri  yang 
pernah didatangi seseorang dengan mengatakan, "Wahai Abu Sa'id, seseorang 
melakukan ghibah atasmu." Hasan Al Bashri menjawab, "Kemarilah." Ketika orang 
itu datang, Hasan Al Bashri memberinya beberapa kurma. Lalu Hasan Al Bashri 
mengatakan, "Pergilah kepada orang itu dan katakanlah padanya, "Engkau telah 
memberikan kebaikanmu untukku. Dan karenanya aku memberimu kurma." Orang itu 
lalu memberikan kurma kepada orang yang menggibahi Hasan Al Bashri. 

      Saudaraku, 
      Mari belajar dari orang-orang besar itu. 

      [ dari Majalah Tarbawi ] 

=================================================
Rasulullah SAW bersabda, "Bila seorang anak Adam wafat, maka amalnya terputus 
kecuali tiga hal : 
[1] Shadaqah jariah , 
[2] Ilmu yang bermanfaat dan 
[3] Anak shalih yang mendoakan orang tuanya. 
(HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi , Nasa'i dan Ahmad) 
---- mari kita dukung program pembagunan tpa nurulyaqin untuk anak-anak kita 
----

=================================================
Salurkan Zakat, Infaq dan Sodaqoh (ZIS) anda 
ke Bank Syariah Mandiri, Capem Cikarang
Acc/No : 005-017-6791 
Acc/Name : DKM Masjid NURUL YAQIN
Hotline Bendahara MJNY : 0816-1894727
Hotline Koord. Komitmen Bulanan : 021-70911172
Website : www.nurulyaqin.org
Email : [email protected]
=================================================


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke