Tadi malam bongkar-bongkar buku milik suami. Banyak buku yang tak saya miliki.
 
 Yang menarik buku 'Mendobrak Sentralisasi Ekonomi' karya Rizal Mallarangeng, 
dikeluarkan Freedom Institute. Buku lumayan 'renyah' , sangat pas dibaca kala 
ini. Saat pro-kontra siapa-siapa saja agen liberalisasi (neoliberalisme), 
bagaimana sepak terjang mereka. 
Beberapa hal dapat saya sarikan.
Bagaimana mereka mengambil moment pembatasan 'isu politik' rezim orde baru 
untuk membangun opini publik perlunya restrukrisasi ekonomi dengan memanfaatkan 
mimbar intelektual di setiap seminar perguruan tinggi, LSM dan media masa. 
Termasuk peran dua pendiri media masa nasional, yang selama ini ikut 
bertanggungjawab besar didalam menyemai, memupuk dan mensosialisasikan ide 
liberalisasi ekonomi ke dalam Indonesia. 
 
Ide yang pada awalnya hanya wacana ini berkembang menjadi teknis dan 
aplikatif. Kalangan ekonomi liberal ini kemudian menduduki posisi penting 
pemerintahan dan mengubah kebijakan ekonomi kerakyatan ala Hatta 
menjadi ekonomi liberal. Mereka makin kian mendapat hati dengan menggulirkan 
isu kebobrokan birokrasi Orba berupa korupsi dan nepotisme untuk mengganti 
kebijakan ekonomi kerakyatan menjadi ekonomi liberal. Opini publik ini digalang 
selama bertahun-tahun sejak 1975-an dan menemukan moment pada tahun 1990-an. 
Secara konsep kebijakan ekonomi, Orba telah memilih ekonomi kerakyatan, ini 
dapat kita amati dari misalnya bank diarahkan untuk memberikan dana pada 
ekonomi mikro dan membatasi perusahaan besar khususnya asing menguasai pasar. 
Sayangnya dalam pelaksanaannya terdapat penyimpangan, akses bank hanya 
dinikmati kroni-kroni pemerintah Orba.
 
Agen jaringan liberal ini memiliki persyaratan sebagai public figur yakni, 
tingkat pendidikan tinggi, ketrampilan persuasif, ketrampilan yang 
diperlukan, intelektualitas mumpuni pada bidang ekonomi yang digeluti.
 
Restrukrisasi ekonomi  yang didengungkan secara simultan membawa arus perubahan 
restrukrisasi politik yaitu desentralisasi pemerintahan untuk memperlancar 
desentralisasi ekonomi. 
 
Yang menarik adalah didalam buku tersebut disebutkan secara jelas nama-nama 
pemikir ekonomi liberal Indonesia, beserta riwayat pendidikan dan posisinya di 
pemerintahan.^_^

semoga bermanfaat,
 

 
"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 

kampusku 

Blogku



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke