Bismillaahirrahmaanirrahiim,

 

 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

 

Alhamdulillah anakku yang SMP lulus juga UN
nya, setelah aku menantikan hasil dengan ketegangan, sampai aku hanya makan 1
kali dalam sehari, selama tiga hari itu.

 

Bukan karena apa-apa. Tetapi, memang kali ini
aku dibuat jantungan oleh anakku yang satu ini. Cewek satu-satunya, namun
sering bikin hatiku empotan jantung

 

Apakah pasalnya?

 

Iyah,..anak ini, memang aku masukkan ke
pesantren atas kemauanku sendiri sebagai orang tuanya. Ia tak ingin ke
pesantren, dia mau SMP Tetap sekolah di Indonesia
Cairo(SIC)

 

Aku ingin dia tau agama lebih dalam, lebih bisa
mandiri, dan tau betapa hidup itu susah, apabila jauh dari orang tua. Bukan
masalah pergaulan yang aku takuti, maka aku sekolahkan ke agama. Karena aku
yakin, sekolah di Cairo, alhamdulillah sisi pergaulan aman-aman saja betapa
banyaknya orang tua yang ada di Indonesia menyekolahkan anak-anaknya di Cairo,
hanya karena menjaga pergaulan dari Jakarta itu Pilihan mereka tidak salah 
memang,
karena realita yang ada sekolah di Cairo, alhamdulilah sisi pergaulan aman-aman
saja

 

Jadi, bukan masalah pergaulan aku menyekolahkan
anakku ke pesantren, semata agar ia lebih mengetahui agama mendalam lagi,
dimana dia tau kehidupan itu susah Ia hidup bersama ortunya sangat manja, dan
senang, segalanya serba ada Kami takut, kelak dia tidak bisa hidup susah Tidak
tahu nasib dapat suami semacam apa Kalau tidak dibiasakan hidup susah, mandiri,
nantik dia akan kaget. 

 

Yah,tahun pertama anak kami masuk pesantren,
dia sudah ditinggal sendirian diasrama bersama teman-temannya, sementara kami
orang tua dan adik-adiknya jauh di Cairo.
Dapat dibayangkan betapa sulitnya problema yang dihadapi anak perempuan kami
itu Tak pernah jauh dari orang tua, tak pernah hidup susah, dan tak pernah pula
hidup di Indonesia,
tiba-tiba harus menghadapi itu semua sendirian, kami di cairo,
dia di Indonesia.
Anak baru tammat SD

 

Setelah dia naik kelas dua, kami ada mengunjunginya.
Dan aku sempat di Indonesia
menemaninya. Dan ngak sampai setahun, aku kembali lagi ke Kairo Tinggallah dia
sendirian. Nilainya tahun pertama, lumayan tinggi, namun, setelah aku ke Kairo,
nilainya anjlok. Makanya kami pertama memutuskan kelas III SMP dia dikembalikan
lagi hidup bersama kami, dan sekolah di SIC. Namun setelah dibujuk-bujuk, dia
tidak mau Dia mau tetap diasrama katanya. Malah terbalik dia yang menyukai
hidup dipesantren itu. 

 

Yah,.karena dia dah kelas III SMP, aku
jantungan juga. Takut kalau ada apa-apa, nantik dia tidak lulus. Maka
menyesallah seumur hidup. Rugi biaya, umur dan betapa menanggung malu. Itu
sebabnya aku kembali lagi ke Indonesia,
untuk memperhatikannya, dan memberikan dukungan.meski biaya untuk pulang dua
kali dalam setahun luar biasa besarnya. Tapi tak apalah demi anak.

 

Awalnya sih, nilainya naik. Namun, sudah
dekat-dekat mau UN, dia dan tiga orang temannya, bikin masalah disekolah itu.

 

Oh yah,anakku ini memang di asrama, sejak dari
kelas I SMP, diasramanya memang selalu saja bermasalah Hidupnya tak pernah
lepas dari masalah Masalahnya ringan sih, masalah berteman, juga kehidupan
asrama. Kadang dia tak suka dengan guru asramanya yang pilih kasih dan terlalu
keras mendidik Anak ini memang paling tidak suka dikerasin. Dikerasin malah dia
menjawab. Soal Tanya jawab, luar biasa hebatnya dia. Argumennya ada-ada saja
untuk menjawab kita. Apapun itu Bikin hati terkadang kesal juga sih

 

Nah,ketika dekat ujian, dia bikin masalah
Surat-suratan dengan cowok, asrama putera Padahal itu terlarang. Janganlan
surat-suratan, masuk ke area cowok saja tidak diperbolehkan dipesantren itu.

 

Saat UN betul, mereka di panggil tiap malam
oleh gurunya. Karena mereka UN di luar bukan disekolah itu, tetapi numpang
disekolah SMP lain Nah,..kesempatan bagi mereka yang berempat ini ketemu cowok
lagi Apa tidak kena marah Dan saya sebagai ibunya, benar-benar jantungan, tiap
sebentar dapat laporan, sms, telpon dari gurunya. Ada-ada saja kesalahan anak
saya ini. 

 

Hafalan AlQuran mereka harus lulus 2,5 juz Dia
baru hafal 2 juz  Harus diselesaikannya
hafalan itu, baru boleh pulang. Nah,yang keempat ini kena hukum saat temannya
sudah boleh pulang berlibur, mereka ditahan ditambah 4 hr lagi baru boleh
pulang Ini sebagai hukuman, karena hafalan AlQuran masih kurang, dimana
gara-gara suratan sama cowok tersebut

 

Ibu mana sih yang tidak jantungan Suami saya
juga jantungan, hanya mungkin karena beliau jauh, tidak begitu sekali,
ketimbang saya yang dekat dan menghadapi langsung pengaduan dari para ustadzah.

 

Saya tanyakan ke ustadzah mereka. Apakah anak
saya ini bodoh Bu, kenapa hafalan AlQurannya masih belum sempurna?

 

Apa kata guru asramanya?

 

Bu,..anak Ibu ini pintar. Cuman pemalas. Dia
baik, suka menolong orang, karena saking baiknya dia tak memikirkan dirinya
sendiri. Dan memang, sudah jelas dia salah, ketika saya tanyakan, Ila tidak
boleh lagi berteman dengan tiga orang teman Ila yang kena hukum itu. Ila bisa
kebawa sikap mereka jadinya kan?

 

Apa jawab anak saya. Dengan santainya dia
membela temannya. "Mama jangan salahkan teman Ila dong,.Ila juga salah,
kami semua salah…".

 

Sudah deh,..saya sudah angkat tangan. Saya
tanyakan, yang penting sekarang Ila lulus aja deh. Gimana UN nya, bisa diisi
nggak? InsyaAllah bisa, jawab anak saya. Jangan asal jawab bilang bisa, ntar
tidak lulus gimana? InsyaAllah bisa mama. Jawabnya lagi.

Saya sebagai ortu sudah tak yakin lagi,
bagaimana saya ndak jantungan, bermasalah terus dia diasramanya. Ada-ada saja.
Bisa-bisa nya saat UN pun, dia dipanggil bersama temannya yang lain, karena
surat-suratan itu. Kalau saya pribadi, saya susah kosentrasikan belajar, kalau
sudah bermasalah, mencret aja bawaan saya. Dia tidak, santai saja dengan semua
itu. Saya yang ibunya empotan jantung. 

 

Saya dah pasrah. Saya bilang sama suami saya
Ila kita bawa saja ke Kairo, lulus tak lulus, dia tetap ke Kairo. Jantungan
menyekolahkan anak dengan pergaulan minta ampun 
Mana dengar ada anak dibunuh dan diperkosa sama tukang ojek lagi 
waduh,.sudahlah..mati
berdiri saya kalau memikirkan semua itu. Tiap malam saya shalat tahajjud, hanya
berdo'a untuk kelulusan dan keselamatannya.

 

Alhamdulillah, Sabtu pagi, ketika saya
mengambil gaji 13 di sekolah.saya melihat ada sms dari guru anak saya tersebut.
Wah…sebelum membuka isi sms itu, jantung saya dah mo copot. Takut dibilang
:"Maaf,..anak Ibu tidak lulus..".

 

Akh…tidak..aku harus berani pikirku. Kubuka dan
kubaca. "Isinya bilang,..:Assalamu'alaikum Bu. Bu..alhamdulillah,
anak-anak kita lulus 100% dengan prediket A". Saya langsung
gemetaran,..terharu, kalau dirumah saya langsung sujud. Ini saya di sekolah.
Sujud syukurnya saya akhirkan, sampai saya dirumah.

 

Saya langsung telpon anak saya. Karena
kelulusan hanya diberikan pada orang tua masing-masing, bukan pada siswa. Saya
bilang. :"Ila..selamat yah..Ila lulus". Alhamdulillah. Dan saya
langsung nelpon suami saya di Kairo, dan Ibu saya di P.Siantar. Karena suami
dan ibu saya tau permasalahan saat UN anak saya ini.

 

Alhamdulillah berkat kelulusan 100% selama tiga
tahun berturut-turut ini, maka sekolah pesantren itu berhak mendapatkan
akreditasi untuk ujian disekolah tersebut tahun depan, tanpa harus menompang
disekolah lain. Sekolah ini memang baru tahun ketiga kelulusan siswanya, jadi
pesantren baru. Namun lulus tiap tahun 100%, padahal mereka pelajarannya bukan
sekedar umum saja, tapi segudang ilmu syar'i, mana hafalan AlQuran 2,5 juz,
ditambah puluhan harus hafal hadits, alhamdulillah nilai UN, nilai umum mereka
tak kalah. Mereka dapat prediket A. Rata-rata nya lumayan tinggi, 6,5, 7, 8 dan
9,6. Tak kalah dari sekolah SMP yang memang khusus mempelajari ilmu umum,
sedikit pelajaran agamanya. Sedangkan mereka segudang ilmu syar'i, ditambah
plus hafal AlQuran hadits. 

 

Menurut saya, ini sudah cukup prestasi luar
biasa. Kalau hanya SMP, pelajaran umum saja dengan mencapai nilai setinggi itu,
bagi saya biasa saja. Karena beban mereka yang lain tak ada. Ini beban
pelajaran mereka di pesantren itu benar-benar segudang. Saya memahami itu.
Namun, alhamdulillah mereka semua dapat melewatinya dengan nilai tertinggi
9,6.(untuk puteri, saya kurang tau, untuk puteranya. Saya mendengar, kalau di 
putera
biasanya nilai justru lebih tinggi dari puteri, saya belum tahu berapa nil;ai
tertinggi di putera). 

 

Yang luar biasanya lagi, yang mendapatkan nilai
9,6 adalah teman anak saya diantara yang berempat kena permasalahan
terus(hehehe). Mereka berempat yang dihukum, dan yang suka bikin masalah,
surat-suratan dengan anak cowok. Justru anak itu yang nilainya tinggi di puteri
Subhanallah,..saya kaget juga. Padahal sebelumnya saya dah bilang sama anak
saya. Jangan lagi bermain-main dan berteman dengan yang berempat itu.

 

 Ternyata,..salah satu diantara berempat
itu..nilai UNnya,..9,6. Cukup tinggi. Dan memang dia jauh dibanding dengan anak
saya. Yang penting,.ila dah lulus, hati mama tenang. Tidak rugi biaya, umur dan
menanggung malu lagi. Kalau saja, satu orang murid tidak lulus tahun ini, maka
sekolah tak berhak mengadakan UN disekolah sendiri, harus tetap menumpang
disekolah lain. Jadi, penentuan memang ada generasi mereka. Dan generasi mereka
inilah yang justru terkenal bandel-bandel. Tetapi, justru generasi ini jugalah
yang menaikkan nama sekolah itu, sampai predikat kelulusan 100% dan nilai A.
Luar biasa,..subhanallah, walhamdulillah.

 

Dua tahun yang lalu, anak saya yang SD
menghadapi UN. Tapi saya tak sejantungan ini, saya yakin dia lulus, hanya
peringkat keberapanya saja lagi yang saya tunggu. Kalau tidak satu yah dua.
Saya percaya sama anak saya yang lelaki itu, beda dengan anak saya yang
perempuan ini. Sikap pemalas, dan suka bermasalah dalam hidupnya yang bikin
saya empotan jantung. Anak saya yang lelaki tidak, dia rajin dan penurut, tak
banyak, bahkan belum ada masalah yang berat selama ini.

 

Ini hanya sekedar puji syukur saya, dan semoga
cerita ini ada manfaatnya buat kita. Karena tak selamanya mendung itu kelabu.
Tak selamanya anak bandel itu gagal dan jelek. Mungkin masa-masa anak memang
ada masa bandel, melawan, berbohong, ada juga masanya dia menjadi anak yang
baik. 

 

Kita sebagai orang tua, tak perlu terlalu berbangga
bila anak kita nilainya selalu tinggi dikelas, memuja mujinya keseluruh pelosok
sampai kelangit tujuh, karena kita tak tahu, nasibnya kedepan semacam apa. 
Bersyukur
sih boleh, tetapi jangan terlalu membanggakan diri dan anak-anak kita itu,
karena kita tak tahu, nasibnya kedepan semacam apa. 

 

Dan kita sebagai orang tua, tak perlu berkecil
hati, karena anak kita nilainya rendah dikelas ketimbang teman-temannya yang
lain, karena kita tak tahu, keberhasilannya kelak, hanya Allah yang menentukan.
Dan kegagalan, banyak menghadapi permasalahan dan problema, adalah langkah awal
menuju keberhasilan. Nilai rendah, atau gagal sekalipun, bukanlah tanda hari
sudah kiamat.

 

Wassalamu'alaikum.  

 

  



Wasssalamu'alaikum.



Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.



"Laa tahtaqir Syaian mahmaa kaana shaghiiran"

(Jangan anggap enteng segala sesuatu meskipun ia kecil)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke