----- Forwarded by YULIA YEID/YAMAHA on 07/15/2009 01:55 PM -----

Prayogi Arifianto <[email protected]> 
Sent by: [email protected]
07/09/2009 10:45 AM
Please respond to
[email protected]


To
[email protected], Kucuran <[email protected]>
cc

Subject
[Kucuran_Ilmu] Berjilbab, Berakhir 18 Tikaman Hingga Tewas








Jilbab identitas kami, tak hanya sekedar pakaian tapi juga lambang 
kebebasan!!!


Berjilbab, Berakhir 18 Tikaman Hingga Tewas
Ditulis Oleh : Redaksi                                      

Meski pemerintah Jerman berusaha menutup-tutupi kematian Marwa 
Al-Sharbini, cerita tentang Marwa mulai menyebar dan mengguncang komunitas 
Muslim di berbagai negara. Untuk mengenang Marwa, diusulkan untuk 
menggelar HariHijab Internasional yang langsung mendapat dukungan dari 
Muslim di berbagai negara.

Usulan itu dilontarkan oleh Ketua Assembly for the Protection of Hijab, 
Abeer Pharaon lewat situs Islamonline. Abeer mengatakan, Marwa Al-Sharbini 
adalah seorang martir bagi perjuangan muslimah yang mempertahankan 
jilbabnya. "Ia menjadi korban Islamofobia, yang masih dialami banyak 
Muslim di Eropa. Kematian Marwa layak untuk diperingati dan dijadikan 
sebagai Hari Hijad Sedunia," kata Abeer.

Seruan Abeer disambut oleh sejumlah pemuka Muslim dunia antara lain Rawa 
Al-Abed dari Federation of Islamic Organizations di Eropa. "Kami mendukung 
usulan ini. Kami juga menyerukan agar digelar lebih banyak lagi kampanye 
untuk meningkatkan kesadaran tentang hak-hak muslimah di Eropa, termasuk 
hak mengenakan jilbab," kata Al-Abed.

Selama ini, masyarakat Muslim di negara-negara non-Muslim memperingati 
Hari Solidaritas Jilbab Internasional setiap pekan pertama bulan 
September. Hari peringatan itu dipelopori oleh Assembly for the Protection 
of Hijab sejak tahun 2004, sebagai bentuk protes atas larangan berjilbab 
yang diberlakukan negara Prancis.

Seperti diberitakan sebelumnya di Eramuslim, Marwa Al-Sharbini, 32, 
meninggal dunia karena ditusuk oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia 
pada Rabu (1/7) di ruang sidang gedung pengadilan kota Dresden, Jerman. 
Saat itu, Marwa akan memberikan kesaksian dalam kasus penghinaan yang 
dialaminya hanya karena ia mengenakan jilbab.Belum sempat memberikan 
kesaksiannya, pemuda Jerman itu menyerang Marwa dan menusuk ibu satu orang 
anak itu sebanyak 18 kali. Suami Marwa berusaha melindungi isterinya yang 
sedang hamil tiga bulan itu, tapi ia juga mengalami luka-luka dan harus 
dirawat di rumah sakit.

Kasus Marwa Al-Sharbini menjadi bukti bahwa Islamofobia masih sangat kuat 
diBarat dan sudah banyak Muslim yang menjadi korban. "Apa yang terjadi 
pada Marwa sangat berbahaya. Kami sudah sejak lama mengkhawatirkan bahwa 
suatu saat akan ada seorang muslimah yang dibunuh karena mengenakan 
jilbab," kata Sami Dabbah, jubir Coalition Against Islamophobia.

Dabbah mengatakan, organisasinya berulang kali mengingatkan agar para 
muslimah waspada akan makin menguatnya sikap anti jilbab di kalangan 
masyarakat Barat.

Profesor bidang teologi dan filosifi dari Universitas Al-Azhar, Amina 
Nusser juga memberikan dukungannya atas usulan Hari Jilbab Internasional 
yang bisa dijadikan momentum untuk merespon sikap anti-jilbab di Barat. 
"Hari peringatan itu akan menjadi kesempatan bagi kita untuk mengingatkan 
Barat agar bersikap adil terhadap para muslimah dan kesempatan untuk 
menunjukkan pada Barat bahwa Islam menghormati keberagaman," tukas Nusser.

Nusser menegaskan bahwa hak seorang muslimah untuk berbusana sesuai ajaran 
agamanya, tidak berbeda dengan hak penganut agama lainnya. Ia 
mengingatkan, bahwa kaum perempuan penganut Kristen Ortodoks juga 
mengenakan kerudung sebelum masuk ke gereja.

Dukungan untuk menggelar Hari Jilbab Internasional juga datang dari Muslim 
Association of Denmark. Ketuanya, Mohammed Al-Bazzawi. "Hari Jilbab untuk 
mengingatkan masyarakat Barat bahwa hak muslimah untuk mengenakan jilbab 
sama setara dengan hak perempuan non-Muslim yang bisa mengenakan busana 
apa saja. Mereka di Barat yang bicara soal hak perempuan, selayaknya 
menyadari bahwa mereka juga tidak bisa mengabaikan hak seorang perempuan 
untuk mengenakan jilbab," tandas Al-Bazzawi.

Bagaimana dengan Muslim Indonesia, apakah akan memberikan dukungan juga?



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke