Bercermin Dengan Yahudi
 

Salah satu musuh besar umat Islam adalah yahudi. Berkali-kali ayat 120 Surat 
Al-Baqarah kita lantunkan atau kita dengar, yang isinya menegaskan bahwa yahudi 
dan nasrani tidak akan rela kepada umat Islam sampai umat Islam mengikuti 
millah mereka.

Dan sampai hari ini, bangsa Indonesia sudah berhasil menempatkan posisi yang 
tepat terhadap proyek yahudi di Palestina, dengan tidak membuka hubungan 
diplomatik dengan penjajah Israel. Sesuatu yang bahkan Mesir sebagai kekuatan 
real di tengah bangsa Arab malah belum mampu melakukannya. Mesir membuka 
hubungan diplomatik dengan Israel, setidaknya itu bermakna bahwa Mesir mengakui 
keberadaan negara penjajah itu.

Adapun kita bangsa Indonesia, meski sebagian kecil dari elemen rakyat ada juga 
yang menginginkan kita membuka hubungan diplomatik dengan penjajah itu, tapi 
kenyataannya semua rezim masih harus berpikir ulang kalau mau melakukannya. 

Tapi yang jadi pertanyaan, apa cukup kita berhenti di seputar `tidak mengakui` 
keberadaan Israel? Atau kah kita harus juga melakukan hal yang lebih jauh dari 
itu? Misalnya memboikot produk yahudi, sebagaimana yang sering dianjurkan oleh 
sebagian kalangan. Atau kah ada juga langkah-langkah lainnnya?

Tulisan ini akan mencoba membuka wawasan kita lebih luas lagi, terutama tentang 
apa dan bagaimana yahudi, agar kita bisa menakar dan mengukur seperti apa 
sebenarnya kekuatan `lawan`. Dan tentunya kita jadi tahu tindakan seperti apa 
yang perlu kita lakukan. Setidaknya perlu kita pikirkan.

1. Motivasi Agama

Yahudi bersatu dan bekerjasama untuk mendirikan Israel, semata-mata karena 
mereka taat pada agama mereka. Walau agama mereka dalam pandangan Islam sudah 
tidak berlaku, selain karena sudah expired, juga isinya adalah hasil karangan 
para rahib dan pendeta mereka, bukan sesuatu yang original dari Allah SWT.

Namun harus kita akui semangat mereka membangun Israel ditambah semua kekuatan 
ekonomi dan lobi politik, semata-mata karena mereka ingin menjalankan kewajiban 
agama mereka. Karena mereka taat menjalankan agama, maka mereka melakukan semua 
ini.

Sebaliknya kita umat Islam, kebanyakan menghadapi yahudi bukan dengan semangat 
agama Islam, melainkan dengan semangat nasionalisme sempit, atau sekedar 
motif-motif yang terlalu rapuh.

Maka kita bisa lihat bagaimana satu persatu perlawanan negara Arab rontok 
ketika berhadapan dengan realitas kekuatan yahudi di lapangan. Sebab kalau 
kacamata yang dipakai semata-mata pertimbangan oportunis, maka pilihan mengakui 
Israel sebagai sebuah negara adalah pilihan paling logis. 

Karena itulah Mesir, Suriah, Jordan, Libanon dan negara jiran lainnya, 
ramai-ramai meneken perjanjian yang intinya mengakui keberadaan Israel sebagai 
sebuah negara berdaulat di atas tanah rampasan.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena para penguasa negara-negara Islam itu 
hanya mempertimbangkan realitas secara oportunis, tidak memasukkan pertimbangan 
akidah dan syariah dalam menetapkan pilihan.

Dalam pikiran mereka, berperang dengan Israel lebih banyak ruginya dari pada 
untungnya. Maka mendingan duduk damai saja, dengan menelan pil pahit kenyataan 
bahwa sesungguhnya Israel adalah sebuah kekuatan agresor maha dahsyat yang 
bertanggung-jawab atas jutaan nyawa bangsa Palestina.

2. Yahudi Sudah Bersiap Sejak Ratusan Tahun Lalu

Satu hal yang perlu kita pelajari secara seksama, yahudi dengan akar-akarnya 
bukanlah fenomena yang baru saja terjadi di hari ini. Yahudi sudah bekerja 
keras sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan boleh dibilang ribuan tahun lalu. 

Mereka siang malam diam-diam melakukan kerja tanpa lelah, turun temurun 
semangat membangun Israel dipompakan pada tiap generasi. Boleh dibilang, tidak 
ada bayi yahudi lahir ke dunia kecuali di dalam darah dan dagingnya punya satu 
tujuan, yaitu mendirikan Israel, memperjuangkan kepentingan kaum mereka dan 
mengerjakannya dengan sepenuh dedikasi dan semangat.

Bank dunia sudah mereka dirikan jauh sebelum Israel mereka proklamasikan. 
Perusahaan-perusahaan raksasa yang menguasai aset-aset dunia, mulai dari 
perusahaan minyak sampai makanan, sudah mereka dirikan jauh sebelum bendera 
Israel berkibar.

Semua itu menandakan satu hal, yaitu perjuangan yahudi adalah perjuangan yang 
diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Agak berbeda dengan kita kaum muslimin, dimana remaja-remaja banyak yang tidak 
tahu menahu urusan membangun umat, apalagi menegakkan daulah atau khilafah. 
Jangankan membangun umat, sadar bahwa dirinya bagian dari 1,7 milyar umat Islam 
pun belum juga.

Israel berdiri tahun 1948, tapi sejak tahun 1895 theodore Hertzl di Eropa sudah 
mulai memprovokasi bangsa itu untuk mendukung berdirinya negara Israel. 

2 tahun kemudian, 1895, di Swiss telah berkumpul 197 delegasi yang terdiri dari 
kaum orthodoks, nasoinalis, ahteis, kulturalis, liberalis, sosialis dan 
kapitalis. Topik utamanya, tidak lain persiapan untuk mendirikan Israel.

3. Yahudi Bersatu Meski Berbeda

Kita akui bahwa di dalam tubuh umat yahudi ada begitu banyak kelompok, 
sebagaimana Al-Quran menyebutkan :

Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian 
itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS. al-Hasyr : 
14)

Namun ketika bicara dengan lawannya seperti kita umat Islam, yahudi tetap punya 
ikatan batin yang kuat. Mereka pada gilirannya bisa meredam sementara 
perpecahan di dalam internal mereka, kalau sudah berhadapan dengan umat Islam. 

Ini yang perlu kita pelajari dari yahudi musuh kita. Bagaimana dengan jumlah 
yang hanya 15 jutaan saja di seluruh dunia, mereka bisa kompak mengatasi 
ketidak-kompakan dan keretakan di tubuh mereka.

Sementara kita umat Islam yang dengan bangga mengatakan diri telah berjumlah 
1,7 milyar, rasanya masih jauh untuk dibilang kompak. Jangankah kompak sesama 
umat, bahkan kadang di dalam tubuh sebuah jamaah, ormas, atau partai bernuansa 
Islam saja, kita masih merasakan ketidak-kompakan itu.

Kita masih mendengar caci maki dan tudiangan sesat yang ditujukan ke hidung 
saudara kita sendiri. Kadang masalahnya sepele, tapi jadi urusan besar dan 
berat sekali, bahkan pakai bawa-bawa neraka pula.

Sementara yahudi dengan santai menjalin ukhuwah di antara mereka tanpa 
ribut-ribut yang mengakibatkan lumpuhnya kekuatan. 

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, 
yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. 
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal : 46)

4. Yahudi Menguasai Ekonomi Dunia

Sebagian umat Islam ada yang punya semangat menggebu untuk membentuk khilafah 
Islamiyah, sebagaimana selama 14 abad ini kita pernah memilikinya.

Cuma ketika kita tanya, apa saja yang sudah kalian persiapkan untuk 
terbentuknya khilafah itu, semuanya hanya diam. Sebab yang terpikir di benak 
mereka, cukup dengan kampanye menegakkan khilafah, tiba-tiba besok pagi 
khilafah sudah ready for use.

Salah satu sendi sebuah khilafah, bahkan sebuah negara, dan dalam ruang lingkup 
yang lebih kecil lagi, sebuah organisasi, masalah kekuatan ekonomi menjadi 
sesuatu yang sangat krusial.

Dan salah satu kelemahan paling mendasar dari umat Islam adalah justru pada 
masalah ekonomi. Jangankan memiliki, sedangkan untuk sekedar mengatasi rasa 
lapar saja, jutaan umat Islam di berbagai belahan negeri masih menggantungkan 
harapan dari belas kasihan orang lain.

Di sekitar kita ada begitu banyak kekayaan alam yang potensial untuk 
dioptimalkan sebagai salah satu pilar penyangga ekonomi umat. Tapi sayangnya, 
tidak satu pun yang bisa dinikmati umat Islam. Sebab kebanyakan aset-aset itu 
sudah digadaikan ke orang asing, dimana keuntungannya kalau ada, masuk kantong 
para pejabatnya.

Sementara di sisi lain, perusahaan-perusahaan yahudi dunia telah mengantungi 
hak untuk mengeksploitasi hampir semua kekayaan di dunia ini. 

Para taipan yahudi ini bekerjasama saling bantu untuk mengumpulkan dana yang 
tidak sedikit, untuk membantu kampanye para presiden di seluruh dunia. Ketika 
presiden itu naik tahta, maka kompensasi yang didapat yahudi puluhan bahkan 
ratusan kali lebih besar dari modal yang sebelumnya mereka benamkan. 

Sementara umat Islam, jangankah menguasai aset di negerinya sendiri, sedangkan 
sekedar mau bikin hajatan ormasnya saja, harus mengedarkan proposal kesana 
kemari, minta-minta sponsor dan sumbangan dana. Artinya, sekedar mau menyatakan 
bahwa ormas itu ada, masih harus dipapah oleh pihak lain.

Jadi bagaimana mau bikin khilafah kalau bikin sekolah saja tidak mampu? 
Bagaimana mau menegakkan daulah kalau membiayai hidup jamaah saja harus 
mengemis?

Orang-orang yahudi tidak sekedar berhenti pada retorika ketika mereka menyatkan 
ingin membangun Israel. Mereka tidak sekedar kampanye kesana kemari kepada 
keturunan yahudi di dunia, bahwa mereka harus mendirikan negara Israel. 

Tapi mereka sudah sampai ke level bekerja secara sistematis. Mereka dirikan 
begitu banyak perusahaan multi nasional yang menguasai hajat hidup orang 
banyak, sebagai penopang dan tiang penyangga negara impian mereka.

Sementara kita, berhenti hanya sampai retorika belaka, bahkan malah berujung 
kepada saling menyalahkan sesama kaum muslimin. Tapi sambil menyalahkan, kita 
tetap saja berpangku tangan, tidak bekerja, tidak mendirikan perusahaan 
multi-national, tidak menggarap apa-apa. Kekayaan alam kita tetap saja diangkut 
ke luar sana untuk kepentingan yahudi.

Ekonomi umat dalam taraf pemikiran kita, sekedar berjualan dengan MLM, atau 
jualan minyak wangi, buku, madu, habbah sauda`, atau kaus bergambar usamah.

Kita belum berpikir mendirikan PLTN misalnya, dimana proyek itu akan sangat 
membantu umat ini dari segi infrastuktur. Bagaimaan kita mau bangun pabrik 
otomotif atau pesawat terbang, kalau listriknya byar pet.

 

ahmadsyarwat

 

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke