Sedikit saja pertanyaan :
1.      Apakah Yahudi sekarang ini, yang dimaksudkan dalam Alqu'an
adalah sama dengan Bani Izrael ?
2.      Berkali-kali ayat dalam Alqur'an lantunkan Bani Izrael dan
menurut pendapat saya, ini untuk pembelajaran
dari sejarah masa lalu yang pernah ada bahkan sejak semasa Nabi Musa AS.

Kalau memang demikian apakah maksud tulisan ini untuk menerapkan
petunjuk yang ada dalam Alqu'an 
             dalam menghadapi Negara Israel, yang identik dengan Bani
Izrael?
 
Itu saja. Jazakallah
 
Salam,
Saeful B
 
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Putra
Sent: Thursday, July 16, 2009 12:33 PM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: [syiar-islam] Fw: KENAPA SIH KITA HARUS MEMERANGI YAHUDI?
 
  
Bercermin Dengan Yahudi


Salah satu musuh besar umat Islam adalah yahudi. Berkali-kali ayat 120
Surat Al-Baqarah kita lantunkan atau kita dengar, yang isinya menegaskan
bahwa yahudi dan nasrani tidak akan rela kepada umat Islam sampai umat
Islam mengikuti millah mereka.

Dan sampai hari ini, bangsa Indonesia sudah berhasil menempatkan posisi
yang tepat terhadap proyek yahudi di Palestina, dengan tidak membuka
hubungan diplomatik dengan penjajah Israel. Sesuatu yang bahkan Mesir
sebagai kekuatan real di tengah bangsa Arab malah belum mampu
melakukannya. Mesir membuka hubungan diplomatik dengan Israel,
setidaknya itu bermakna bahwa Mesir mengakui keberadaan negara penjajah
itu.

Adapun kita bangsa Indonesia, meski sebagian kecil dari elemen rakyat
ada juga yang menginginkan kita membuka hubungan diplomatik dengan
penjajah itu, tapi kenyataannya semua rezim masih harus berpikir ulang
kalau mau melakukannya. 

Tapi yang jadi pertanyaan, apa cukup kita berhenti di seputar `tidak
mengakui` keberadaan Israel? Atau kah kita harus juga melakukan hal yang
lebih jauh dari itu? Misalnya memboikot produk yahudi, sebagaimana yang
sering dianjurkan oleh sebagian kalangan. Atau kah ada juga
langkah-langkah lainnnya?

Tulisan ini akan mencoba membuka wawasan kita lebih luas lagi, terutama
tentang apa dan bagaimana yahudi, agar kita bisa menakar dan mengukur
seperti apa sebenarnya kekuatan `lawan`. Dan tentunya kita jadi tahu
tindakan seperti apa yang perlu kita lakukan. Setidaknya perlu kita
pikirkan.

1. Motivasi Agama

Yahudi bersatu dan bekerjasama untuk mendirikan Israel, semata-mata
karena mereka taat pada agama mereka. Walau agama mereka dalam pandangan
Islam sudah tidak berlaku, selain karena sudah expired, juga isinya
adalah hasil karangan para rahib dan pendeta mereka, bukan sesuatu yang
original dari Allah SWT.

Namun harus kita akui semangat mereka membangun Israel ditambah semua
kekuatan ekonomi dan lobi politik, semata-mata karena mereka ingin
menjalankan kewajiban agama mereka. Karena mereka taat menjalankan
agama, maka mereka melakukan semua ini.

Sebaliknya kita umat Islam, kebanyakan menghadapi yahudi bukan dengan
semangat agama Islam, melainkan dengan semangat nasionalisme sempit,
atau sekedar motif-motif yang terlalu rapuh.

Maka kita bisa lihat bagaimana satu persatu perlawanan negara Arab
rontok ketika berhadapan dengan realitas kekuatan yahudi di lapangan.
Sebab kalau kacamata yang dipakai semata-mata pertimbangan oportunis,
maka pilihan mengakui Israel sebagai sebuah negara adalah pilihan paling
logis. 

Karena itulah Mesir, Suriah, Jordan, Libanon dan negara jiran lainnya,
ramai-ramai meneken perjanjian yang intinya mengakui keberadaan Israel
sebagai sebuah negara berdaulat di atas tanah rampasan.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena para penguasa negara-negara Islam
itu hanya mempertimbangkan realitas secara oportunis, tidak memasukkan
pertimbangan akidah dan syariah dalam menetapkan pilihan.

Dalam pikiran mereka, berperang dengan Israel lebih banyak ruginya dari
pada untungnya. Maka mendingan duduk damai saja, dengan menelan pil
pahit kenyataan bahwa sesungguhnya Israel adalah sebuah kekuatan agresor
maha dahsyat yang bertanggung-jawab atas jutaan nyawa bangsa Palestina.

2. Yahudi Sudah Bersiap Sejak Ratusan Tahun Lalu

Satu hal yang perlu kita pelajari secara seksama, yahudi dengan
akar-akarnya bukanlah fenomena yang baru saja terjadi di hari ini.
Yahudi sudah bekerja keras sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan boleh
dibilang ribuan tahun lalu. 

Mereka siang malam diam-diam melakukan kerja tanpa lelah, turun temurun
semangat membangun Israel dipompakan pada tiap generasi. Boleh dibilang,
tidak ada bayi yahudi lahir ke dunia kecuali di dalam darah dan
dagingnya punya satu tujuan, yaitu mendirikan Israel, memperjuangkan
kepentingan kaum mereka dan mengerjakannya dengan sepenuh dedikasi dan
semangat.

Bank dunia sudah mereka dirikan jauh sebelum Israel mereka
proklamasikan. Perusahaan-perusahaan raksasa yang menguasai aset-aset
dunia, mulai dari perusahaan minyak sampai makanan, sudah mereka dirikan
jauh sebelum bendera Israel berkibar.

Semua itu menandakan satu hal, yaitu perjuangan yahudi adalah perjuangan
yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Agak berbeda dengan kita kaum muslimin, dimana remaja-remaja banyak yang
tidak tahu menahu urusan membangun umat, apalagi menegakkan daulah atau
khilafah. Jangankan membangun umat, sadar bahwa dirinya bagian dari 1,7
milyar umat Islam pun belum juga.

Israel berdiri tahun 1948, tapi sejak tahun 1895 theodore Hertzl di
Eropa sudah mulai memprovokasi bangsa itu untuk mendukung berdirinya
negara Israel. 

2 tahun kemudian, 1895, di Swiss telah berkumpul 197 delegasi yang
terdiri dari kaum orthodoks, nasoinalis, ahteis, kulturalis, liberalis,
sosialis dan kapitalis. Topik utamanya, tidak lain persiapan untuk
mendirikan Israel.

3. Yahudi Bersatu Meski Berbeda

Kita akui bahwa di dalam tubuh umat yahudi ada begitu banyak kelompok,
sebagaimana Al-Quran menyebutkan :

Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang
demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.
(QS. al-Hasyr : 14)

Namun ketika bicara dengan lawannya seperti kita umat Islam, yahudi
tetap punya ikatan batin yang kuat. Mereka pada gilirannya bisa meredam
sementara perpecahan di dalam internal mereka, kalau sudah berhadapan
dengan umat Islam. 

Ini yang perlu kita pelajari dari yahudi musuh kita. Bagaimana dengan
jumlah yang hanya 15 jutaan saja di seluruh dunia, mereka bisa kompak
mengatasi ketidak-kompakan dan keretakan di tubuh mereka.

Sementara kita umat Islam yang dengan bangga mengatakan diri telah
berjumlah 1,7 milyar, rasanya masih jauh untuk dibilang kompak.
Jangankah kompak sesama umat, bahkan kadang di dalam tubuh sebuah
jamaah, ormas, atau partai bernuansa Islam saja, kita masih merasakan
ketidak-kompakan itu.

Kita masih mendengar caci maki dan tudiangan sesat yang ditujukan ke
hidung saudara kita sendiri. Kadang masalahnya sepele, tapi jadi urusan
besar dan berat sekali, bahkan pakai bawa-bawa neraka pula.

Sementara yahudi dengan santai menjalin ukhuwah di antara mereka tanpa
ribut-ribut yang mengakibatkan lumpuhnya kekuatan. 

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar. (QS. Al-Anfal : 46)

4. Yahudi Menguasai Ekonomi Dunia

Sebagian umat Islam ada yang punya semangat menggebu untuk membentuk
khilafah Islamiyah, sebagaimana selama 14 abad ini kita pernah
memilikinya.

Cuma ketika kita tanya, apa saja yang sudah kalian persiapkan untuk
terbentuknya khilafah itu, semuanya hanya diam. Sebab yang terpikir di
benak mereka, cukup dengan kampanye menegakkan khilafah, tiba-tiba besok
pagi khilafah sudah ready for use.

Salah satu sendi sebuah khilafah, bahkan sebuah negara, dan dalam ruang
lingkup yang lebih kecil lagi, sebuah organisasi, masalah kekuatan
ekonomi menjadi sesuatu yang sangat krusial.

Dan salah satu kelemahan paling mendasar dari umat Islam adalah justru
pada masalah ekonomi. Jangankan memiliki, sedangkan untuk sekedar
mengatasi rasa lapar saja, jutaan umat Islam di berbagai belahan negeri
masih menggantungkan harapan dari belas kasihan orang lain.

Di sekitar kita ada begitu banyak kekayaan alam yang potensial untuk
dioptimalkan sebagai salah satu pilar penyangga ekonomi umat. Tapi
sayangnya, tidak satu pun yang bisa dinikmati umat Islam. Sebab
kebanyakan aset-aset itu sudah digadaikan ke orang asing, dimana
keuntungannya kalau ada, masuk kantong para pejabatnya.

Sementara di sisi lain, perusahaan-perusahaan yahudi dunia telah
mengantungi hak untuk mengeksploitasi hampir semua kekayaan di dunia
ini. 

Para taipan yahudi ini bekerjasama saling bantu untuk mengumpulkan dana
yang tidak sedikit, untuk membantu kampanye para presiden di seluruh
dunia. Ketika presiden itu naik tahta, maka kompensasi yang didapat
yahudi puluhan bahkan ratusan kali lebih besar dari modal yang
sebelumnya mereka benamkan. 

Sementara umat Islam, jangankah menguasai aset di negerinya sendiri,
sedangkan sekedar mau bikin hajatan ormasnya saja, harus mengedarkan
proposal kesana kemari, minta-minta sponsor dan sumbangan dana. Artinya,
sekedar mau menyatakan bahwa ormas itu ada, masih harus dipapah oleh
pihak lain.

Jadi bagaimana mau bikin khilafah kalau bikin sekolah saja tidak mampu?
Bagaimana mau menegakkan daulah kalau membiayai hidup jamaah saja harus
mengemis?

Orang-orang yahudi tidak sekedar berhenti pada retorika ketika mereka
menyatkan ingin membangun Israel. Mereka tidak sekedar kampanye kesana
kemari kepada keturunan yahudi di dunia, bahwa mereka harus mendirikan
negara Israel. 

Tapi mereka sudah sampai ke level bekerja secara sistematis. Mereka
dirikan begitu banyak perusahaan multi nasional yang menguasai hajat
hidup orang banyak, sebagai penopang dan tiang penyangga negara impian
mereka.

Sementara kita, berhenti hanya sampai retorika belaka, bahkan malah
berujung kepada saling menyalahkan sesama kaum muslimin. Tapi sambil
menyalahkan, kita tetap saja berpangku tangan, tidak bekerja, tidak
mendirikan perusahaan multi-national, tidak menggarap apa-apa. Kekayaan
alam kita tetap saja diangkut ke luar sana untuk kepentingan yahudi.

Ekonomi umat dalam taraf pemikiran kita, sekedar berjualan dengan MLM,
atau jualan minyak wangi, buku, madu, habbah sauda`, atau kaus bergambar
usamah.

Kita belum berpikir mendirikan PLTN misalnya, dimana proyek itu akan
sangat membantu umat ini dari segi infrastuktur. Bagaimaan kita mau
bangun pabrik otomotif atau pesawat terbang, kalau listriknya byar pet.

ahmadsyarwat




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke