Mengapa dulu aku memandang jerihmu adalah lumrah?

Kini terasa pengorbananmu adalah jasa tak terbalas

Mengapa dulu aku menjalani persuaan berhitung Chandra?

Kini terasa kerinduanku berbaris hati

Semua beraduk campur mengharu biru

Teringat langkah-langkah yang kita tapaki mengail bahagia

Teringat canda-canda mengakrabkan yang dulu terhalang rasa hormatku

Teringat ketidakbbiasaanku mengelus-elus rambut dan mengecup keningmu

Teringat kerinduan mengharap kehadiranku untuk menyemangatimu

Maafkan anakmu Ibu, yang kini hanya bisa menangis dan mendo’akanmu

Kuteguhkan segenap hati

Kuikhlaskan menerima ketetapan-Mu

Kukeringkan kristal terakhir disudut mataku

Kutatap segumpal tanah tempat istirahatmu terakhir

Kulantunkan ayat-ayat-Nya utkmu

Selamat jalan Ibu, semoga hidupmu berbalas surga

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

*Dari anakmu...yg selalu merindukan dan mendoakanmu. ...











Sent from Denolberry - INDOSAT
☑ Menata Hati dgn Kelembutan Cinta☑

Kirim email ke