From: ahmad antawirya <[email protected]>
Date: Monday, January 18, 2010, 1:21 AM
Soal Sesat, Benarkah Hanya Tuhan yang Tahu?
Tidak berdasar, muslim yang mengatakan bahwa manusia tidak berhak mengatakan
siapa manusia yang sesat dan siapa tidak sesat
Zarnuzi Ghufron*
"Siapa yang punya otoritas untuk menilai sesat, siapa yang yang tahu faham ini
sesat atau tidak, tiada yang berhak untuk menilai sesat kecuali Tuhan".
Kalimat-kalimat seperti ini akhir-akhir ini sering kita dengar, baik di
televisi atau di media tulis, diungkapkan oleh orang yang menolak penilaian
suatu faham tertentu, seperti Ahmadiyah, Lia Aminudin, dan lainnya sebagai
faham yang sesat. Menurut mereka, yang mengetahui sesat atau tidak hanyalah
Tuhan. Di antara mereka ada yang mencoba menukil sebuah ayat dari Al-Quran:
"Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat
dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang dapat
petunjuk." (QS An-Nahl:125)
Bisakah ayat ini dijadikan legitimasi pendapat mereka? Sepertinya kita perlu
memperhatikan ayat sebelumnya dan segala hal yang terkait dengan ayat ini untuk
mengetahui kejelasan pemahaman ayat ini.
Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw ketika berselisih dengan kaum
Yahudi dalam menetapkan hari yang diagungkan Allah swt di setiap minggunya
untuk dijadikan hari raya dan hari berkumpul bersama untuk beribadah.
Sebelumnya, Allah swt telah menetapkan hari Jumat kepada Nabi Ibrahim as.,
kepada kaum Yahudi lewat lisan Nabi Musa as., dan kepada kaum Nasrani lewat
lisan Nabi Isa as. Akan tetapi kaum Yahudi menolak dan memilih hari Sabtu,
serta kaum Nasrani menolak dan memilih hari Minggu.
Nabi Muhammad saw mengajak kaum Yahudi untuk kembali mengikuti petunjuk Tuhan
dan mereka pun tetap menolak dan memilih dalam kesesatan. Dan Allah swt berkata
kepada Nabi Muhammad bahwa Dia yang lebih mengetahui siapa yang berhak Dia beri
petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan, dan tugas Nabi hanyalah
menunjukan jalan kebenaran yang telah Tuhan berikan agar terhindar dari
kesesatan, adapun hidayah adalah hak absolut Tuhan. (lihat:Tafsir Ibnu Katsir,
dll)
Dari keterangan ini dapat kita fahami bahwa pemahaman ayat tersebut bukan
menunjukan manusia tidak bisa mengetahui siapa yang sesat dan bukan, akan
tetapi siapa yang berhak Tuhan beri petunjuk dan Dia sesatkan setelah Dia
mengutus para Rasul untuk memberi tahu umat manusia; mana jalan sesat dan mana
jalan yang benar.
Menjadi mentahlah argumen orang yang mengatakan, "Manusia tidak berhak menilai
tentang sesat atau bukan, karena hanya Tuhan yang tahu," karena Allah swt
sendiri telah memberi tahu kepada kita, siapa yang yang menurut Dia sesat atau
bukan lewat Rasul yang Dia utus dan Kitab Suci yang Dia turunkan yang berisi
firman-firman-Nya.
"Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) untuk manusia dengan
membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk
dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka Sesungguhnya dia semata-mata sesat
buat (kerugian) dirinya sendiri". (QS Al-Zumar:41)
"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil)."(QS.Al-Baqoroh:185)
Orang yang menolak adanya klaim sesat di dunia --karena menurutnya hanya Tuhan
yang tahu, sebenarnya memiliki kerancuan di dalam berpikir. Mereka seolah-olah
ingin mengagungkan Tuhan, akan tetapi sebenarnya malah sebaliknya. Di sini
dapat kita ketahui kerancuan cara berpikir mereka:
Pertama, kita tahu Allah swt akan menempatkan orang yang sesat di dalam
neraka, sebagai balasan atas perbuatannya ketika di dunia. Jika dilihat dari
cara berpikir mereka, seolah Tuhan tidak bijaksana (Maha Suci Allah dari
ketidakbijaksanaan), karena Tuhan menempatkan orang-orang yang menurut Dia
sesat di neraka, sedangkan mereka tidak tahu kalau perbuatan mereka selama di
dunia adalah sesat, karena hanya Tuhan yang tahu. Jika demikian, sama dengan
mengganggap Tuhan berbuat tidak adil (Maha Suci Allah dari ketidakadilan)
karena ingin menghukum manusia yang tersesat tanpa memberi tahu apa itu sesat
terlebih dahulu, atau dalam bahasa kita, tidak ada sosialisai atau informasi
sebelumnya.
Di dalam Al-Quran, penghuni neraka mengeluh karena menyesal tidak mengikuti
petunjuk Tuhan ketika mereka hidup di dunia. Hal ini akan berbeda jika kita
mengikuti asumsi tentang sesat yang tahu hanya Tuhan, maka keluhan ahli neraka
akan berubah menjadi perotes:
" Ya Tuhan...! Kenapa Kau masukan aku ke neraka karena menurutmu aku sesat,
kami kan tidak tahu kalau apa yang aku lakukan selama di dunia ternyata sesat,
yang tahu kan hanya Engkau. Kenapa Engkau tidak memberi tahu kami, agar kami
bisa menjauhinya".
Kedua, seolah Tuhan telah melakukan kesia-siaan (Maha Suci Allah dari
kesia-siaan dari apa yang Dia perbuat) di dalam mengutus para Nabi dan
menurunkan Kitab Suci kepada hamba-Nya, karena manusia tetap saja tidak
mendapat informasi apa itu sesat atau bukan, padahal dengan jelas Dia berfirman
di dalam Al-Quran bahwa Dia mengutus para rasul dengan membawa kitab suci untuk
menjadi petunjuk bagi manusia.
Ketiga, jika mereka benar-benar tetap mengatakan bahwa hanya Tuhan yang tahu,
kenapa mereka tidak mencari informasi dari firman Tuhan itu sendiri (Kitab
Suci: Al-Quran) atau lewat para utusan-Nya(Rasul), atau mereka memang tidak
mengimani keduanya sebagai sumber dari Tuhan? Lalu dengan petunjuk apa dan
siapa mereka dapat mengetahui tentang sesat, sedangkan neraka telah menanti
orang-orang yang sesat di dunia, apakah mereka ingin langsung bertanya dengan
Tuhan?
Maha suci Allah swt yang Maha Bijaksana, yang telah mengutus Rasul dan
menurunkan Kitab Suci sebagai pemberi informasi tentang kebenaran dan kesesatan
kepada manusia, sehingga mereka dapat memilih jalan mana yang harus ditempuh
dengan segala konsekuensinya.
Dan Maha Adil Allah swt yang tidak akan menyiksa hamba yang tersesat karena Dia
belum menurunkan informasi tentang jalan yang benar dan jalan yang sesat, dan
Dia yang akan menyiksa setiap orang yang menolak untuk mengikuti petunjuk yang
telah Dia berikan kepada umat manusia lewat para Rasul.
"Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah swt), maka sesungguhnya dia
telah berbuat untuk (keselamatan) diri sendiri; dan barang siapa yang sesat
maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) diri sendiri, dan seseorang yang
berdosa tidak bisa memikul dosa orang lain dan kami tidak akan mengazab sebelum
kami mengutus seorang Rasul." (QS.Al- Isro:17)
Itulah kebijaksanaan Tuhan, yang tidak akan meminta pertanggung jawaban kepada
hamba-Nya kecuali bagi mereka yang telah diberi tahu tentang tanggung jawab apa
yang harus dipikulnya di hadapan-Nya.
Dari sinilah pula kita mengetahui fungsi diutusnya para Rasul dengan membawa
Kitab Suci, yang tidak lain adalah untuk memberi petunjuk kepada kita, mana
jalan yang sesat yang harus kita jauhi dan mana jalan yang lurus yang harus
kita tempuh.
"Dialah (Allah) yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk
(Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama,
walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai." (QS Al-Taubah:33)
"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah."
(QS:Al-Nisa:80)
"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam
jahanam, dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali."
Saya rasa sangat tidak berdasar orang -terlebih jika orang muslim- yang
mengatakan bahwa manusia tidak bisa mengetahui; siapa manusia yang sesat dan
bukan, karena tidak mau memahami fungsi diturunkannya Kitab Suci dan diutusnya
rasul oleh Allah swt. Dan sekarang bukan saatnya lagi untuk mengatakan tidak
adanya informasi tentang hal ini, karena Rasul telah diutus, firman Tuhan telah
diturunkan, yang tertuang dalam kitab suci dan pewaris para nabi (ulama) sangat
banyak untuk kita jadikan tempat bertanya tentang agama.
"(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah swt
sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan adalah Allah swt Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana." QS: Al-Nisa:165)
"Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi ingkar/kafir, padahal ayat-ayat Allah swt
dibacakan kepada kamu, dan rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?
Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah swt, maka sesungguhnya ia
Telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus."( QS: Ali Imron:101)
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya mereka para ulama adalah pewaris para
nabi." (HR.Bukhori)
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu
tidak mengetahui." (Al-Nahl : 43)
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengungkapkan apa dan siapa yang sesat,
karena sangat banyaknya kriteria sesat yang tertulis di dalam Al-Quran dan
As-Sunah. Tulisan ini hanya bertujuan memberi informasi bahwa informasi tentang
sesat itu terdapat di dalam dua kitab tersebut. Dan bukan saatnya lagi untuk
mengatakan bahwa yang tahu hanya Tuhan dan kita tidak ada yang tahu, karena
Tuhan sendiri telah memberi tahu kita lewat Al-Quran dan Sunah rasul-Nya, dan
kita pun bisa mengetahui. Walaupun kita tidak mengingkari bahwa Tuhan lebih
mengetahui, akan tetapi informasi yang telah Tuhan berikan sudah sangat
mencukupi untuk dijadikan petunjuk.
Sekarang tinggal diri kita, mau atau tidak untuk memanfaatkan kedua sumber
informasi tersebut. Bagi yang belum mampu memahami (QS:Al-Nisa:115)isi kedua
kitab tersebut dengan baik, lebih baik bertanya kepada ulama yang berkompeten
di bidangnya atau mengikuti fatwa-fatwa mereka agar terhindar dari
kesalahfahaman.
*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Sariah Universitas Al Ahqoff,
Hadramaut,Yaman
Hidayatullah.com
Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!
Mencari semua teman di Yahoo! Messenger?
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!
[Non-text portions of this message have been removed]