Kemiskinan dan ketidakberdayaan ada di sekeliling kita --sementara pada saat 
bersamaan, sebagian dari kita dengan gagah mengeluarkan puluhan ribu rupiah 
memburu Playboy hanya untuk memuaskan nafsu. Kita lebih suka bertengkar tentang 
RUU Antipornogafi dan Pornoaksi, lebih suka menyalahkan pemerintah seakan 
pemerintah memiliki lampu Aladin yang dapat melakukan apa saja seketika. 
 Kita telah berubah menjadi bangsa yang suka bergunjing dan menyalahkan. 
Pemimpin-pemimpin politik --yang pernah berkuasa-- agaknya merasa begitu gagah 
ketika mencela, seakan mereka adalah orang-orang yang berhasil dan sangat 
mencintai rakyat. Mereka tampil dalam wajah yang berseri, padahal persoalan 
hari ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari masa ketika mereka berkuasa. 
Tidakkah sangat indah jika mereka berkata: Ayo, kita bersama membangun bangsa 
ini, sebab rakyat yang menderita itu adalah juga pendukung saya. 

Ketika puluhan ribu orang memburu terbitan perdana majalah Playboy Indonesia 
dengan harga tergolong mahal, maka perhatikanlah ini: Hirma Maya Maysaroh, 10 
tahun, sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Dia miskin, lumpuh, kurus, 
matanya cekung. Dia anak yatim. Ketika puluhan ribu orang membuang uang puluhan 
ribu rupiah hanya ingin menyaksikan gambar-gambar gadis Playboy --yang diharap 
dapat memuaskan nafsunya-- maka perhatikanlah ini: Muhini beranak tiga, 
berbagai penyakit menderanya. Suaminya sudah tiada. 
 Muhini dan Hirma Maya Maysaroh --ibu dan anak. Kedua-duanya, seperti 
diberitakan Republika (11/4), lumpuh dengan penyebab berbeda. Muhini, 48 tahun, 
terkena stroke dan menderita tuberkulosa (TB). Penyakit TB itu menyebar pula 
pada anak bungsunya, Hirma. Selain TB, Hirma --hanya kulit melapisi 
tulang-tulang tubuhnya-- juga menderita gizi buruk. Berat badannya 18 kilogram 
dari semestinya 25 kg. Kulitnya rusak dan terdapat luka borok di paha kirinya. 
 Muhini kini dirawat di lantai delapan Rumah Sakit Tarakan, Jakarta, atas 
bantuan Camat Tamansari dan Lurah Pinangsia. Putrinya, Hirma, dirawat dua 
lantai di bawahnya di rumah sakit yang sama. Muhini dan Hirma lebih beruntung 
karena ada yang peduli.
 Bagaimana dengan Suharto dan mungkin ratusan bahkan ribuan lain anak-anak yang 
menderita gizi buruk? Pelajar SMP kelas 1 MTs Dua'ul Fukro Bojong Bitung, 
Kabupaten Tangerang, itu hanya pasrah ketika berat badannya semakin turun dan 
hanya tersisa 18 kg. Orang tuanya, pedagang kecil, tak punya apa-apa untuk 
menolong anaknya meregang nyawa. Suharto, 11 tahun, wafat pertengahan bulan 
lalu dalam belitan kemiskinan. 
 Kini, pikirkanlah sampai awal April ini saja sudah ada 741 balita yang 
tercatat berstatus gizi buruk di Jakarta. Jumlah ini bagian dari 76.178 anak di 
seluruh Indonesia. Angka itu diberitakan menurun sekitar 1,1 persen 
dibandingkan tahun sebelumnya. Namun apa pun, ada banyak orang tak berdaya, 
menderita, dan bahkan sedang meregang nyawa di sekeliling kita.
Hirma Maya Maysaroh sedang menderita. Ribuan lain juga bernasib sama. Mereka 
tak memerlukan politisi yang bertengkar, saling menyalahkan, dan mencari celah 
agar dianggap sebagai pahlawan. Mereka tak memerlukan Playboy, media-media 
pengumbar tubuh wanita, dan cerita-cerita tentang perselingkuhan. Mereka tak 
membutuhkan mal-mal baru untuk orang-orang memamerkan kekayaannya. 
 Hirma Maya Maysaroh dan puluhan ribu anak-anak lainnya tak butuh semua itu. 
Mereka membutuhkan kepedulian, kasih sayang, dan cinta kita. Jangan biarkan 
mereka letih mengetuk-ngetuk pintu rumah kita, karena jemarinya sangat lemah: 
Bukalah pintu selebar-lebarnya untuk mereka, anak kita, yang kedinginan dan 
dalam gulita.



Oleh : Asro Kamal Rokan 


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]





****

HELP ME !

Gemuk ? Insomnia ? Phobia ? Psikosomatis ?
Relapse ? Trauma ? Takut ? Cemas ? Sedih ? Depresi ? Stress ?
Kurus ? Marah ? Kebiasaan Buruk ? Pengalaman Negatif ? Dll. ?

di SERVO aja...!

TESTIMONIAL
Dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52.
 
Hadi (37 tahun)
....... Saya perfeksionis. Ketika Ada pekerjaan yang kurang sempurna hasilnya, 
saya selalu merasa tidak tenang dan tegang. Saya akan menghabiskan hampir 
seluruh waktu saya untuk menyempurnakan dan memikirkan pekerjaan tersebut.
 ...... hasil yang saya rasakan sekarang adalah perasaan lebih gembira. Saya 
merasa lebih rileks menghadapi segala sesuatu yang terjadi, tidak ada lagi 
beban yang berlebihan yang saya rasakan dan saya lebih mudah tersenyum.

Cinthya (23 tahun)
Saya menjalani Servo Therapy demi membenahi insomnia yang saya derita. Biasanya 
saya tidak bisa tidur sebelum memasuki waktu subuh. Setelah diterapi, saya 
mulai bisa tidur dengan teratur, sekitar jam 10 malam.
Terapi kedua dilakukan dua minggu kemudian. Kali ini untuk menyembuhkan fobia 
darah. Biasanya, kalau melihat darah saya langsung tidak tahan dan merasa 
pusing sekali. 
Kini saya sudah menikmati hasilnya setelah diterapi, tidak lagi merasa takut 
dan tidak pusing lagi saat melihat darah. ..............

Kristin (30 tahun)
Pada bulan April 2005 lalu, saya menjalani terapi dengan tujuan ingin 
menurunkan berat badan. Sebelum di Servo, berat badan saya mencapai 71 kg. Saya 
sebelumnya sudah mencoba beberapa cara, tapi tidak berhasil. Pernah juga 
mencoba mengonsumsi obat untuk melangsingkan tubuh, kemudian berat badan saya 
berhasil turun, namun kembali bertambah berat lagi setelah berhenti 
mengonsumsinya. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba metode ini. ..........
Sekarang, bobot tubuh saya sudah turun menjadi 66 kg. Saya tidak lagi merasa 
tergoda untuk ngemil dan melahap gorengan.

SERVO CENTER - VISI GLOBAL INDONESIA
Pusat Pemrograman Diri dan Prestasi
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke