Kolom: Agusti Anwar
Malam tanggal 28 Februari, sesampai di rumah dan masih letih, sebuah
stasiun televisi berita di tanah air mengulas sekilas pernak-pernik
pelaksanaan tes PNS di beberapa kota di tanah air. Seperti dimaklumi,
sekarang sedang musim penerimaan PNS untuk berbagai bidang, sebelum
t.m.t. 1 April mendatang.
Di Sumatera, seorang peserta tes yang berstatus tenaga honorer di
salah satu kantor kepolisian, terpaksa mengisi lembaran-lembaran
jawaban tes itu di dalam sebuah ambulan. Pasalnya, beberapa hari
sebelumnya ia mengalami kecelakaan.
Di pulau Jawa, seorang calon PNS yang berstatus guru bantu, terpaksa
mengikuti tes sambil disela jeda untuk menyusui anaknya yang baru
berumur enam bulan dan sangat tergantung pada ASI sang ibu muda yang
berjilbab itu.
Lainnya, seorang wanita berjilbab yang tengah hamil tua, terpaksa
menahan mulas perut kandungannya untuk duduk mengikuti tes. Selesai
tes, ia langsung masuk rumah sakit untuk bersalin.
Itu hanya tiga sketsa. Saya yakin ada banyak kisah lainnya, yang
amat beragam, bahkan lengkap dengan segenap tragedinya, walaupun
televisi tidak meliput. Di tanah air, ketika lapangan kerja merupakan
barang langka, menjadi apa pun akan dilakukan, asal merupakan pekerjaan.
Menjadi PNS pun tetap merupakan pilihan yang banyak digemari,
walaupun bergaji kecil. Ketika berbagai perusahaan swasta memecat atau
mem-PHK karyawannya, sebagian orang ingin menjadi PNS karena
kepastiannya, karena status kepegawaian yang hampir bersifat permanen.
Sangat langka kasusnya seorang abdi rakyat sampai dipecat, kalau ia
tidak berlaku makar atau terlibat kasus kriminal serius. Sanksi paling
keras yang lazim hanyalah yang bersifat disipliner, dimutasi ke posisi
yang lebih rendah.
Sebagian orang ingin menjadi PNS, karena susahnya mendapatkan
pekerjaan lainnya. Berbeda dengan karyawan swasta, satu-satunya
lowongan kerja yang tidak mensyaratkan `pengalaman sekian tahun'
hanyalah untuk posisi abdi rakyat itu. Karena kepentingan komersial,
banyak perusahaan swasta justru mencuri karyawan perusahaan lain yang
lebih berpengalaman tanpa harus repot melakukan pelatihan SDM yang
berbiaya mahal. Sejumlah karyawan yang berjiwa petualang, malah
menjadi kutu loncat yang aktif berpindah tempat untuk mendapatkan
tawaran yang lebih.
Sebagian lagi, ingin menjadi PNS justru karena meyakini akan adanya
peluang korupsi, posisi yang basah. Oleh sebab itu, departemen yang
terkait dengan uang merupakan magnet yang kuat. Bagi PNS yang
berkategori ini---dan ini bukan abdi rakyat--- cenderung akan
menggunakan seribu satu cara agar dapat diterima, termasuk dengan
membayar. Uang sogok tadi dianggap modal dasar untuk dikembalikan
nanti di kemudian hari, apabila telah punya NIP, dan dengan cara
bagaimana pun.
Sudah lazim memang dikatakan orang bahwa seleksi menjadi PNS itu
sangat diwarnai peluang KKN. Sejumlah orang dalam, terutama yang
berada di dalam atau dekat dengan lingkaran biro kepegawaian,
disinyalir memainkan posisi tawarnya untuk mencari untung pribadi.
Sekian juta tarifnya, bayar di depan, itu pun tanpa jaminan lulus.
Banyak yang kapok dengan praktek buruk ini, apalagi mereka yang sempat
tertipu, sampai menjual kebun atau apa.
Akibatnya, bagi sebagian orang, praktek buruk ini telah menjadi
faktor penyangkal (repellent factor) di mata calon-calon abdi rakyat
yang baik-baik dan bermutu tinggi untuk berkarir sebagai abdi rakyat.
Banyak lulusan pendidikan tinggi yang berkualitas secara a priori
telah alergi lebih dahulu sebelum mencoba.
Karena sejumlah praktek buruk tadi, kesan tentang PNS di mata rakyat
umum sering kali sangat miring atau negatif. Sebagian elemen
masyarakat bahkan dengan ikhlas menisbatkan korupsi kepada semua abdi
rakyat, tanpa pandang bulu. Apalagi dalam keseharian, ketika berurusan
dengan birokrasi dari mulai kelurahan sampai departemen lainnya,
ternyata banyak saja PNS, apakah disebut oknum atau bukan, yang dengan
tegas dan tega menentukan tarif atas sebuah pelayanan yang tidak ada
ketentuan hukumnya. Padahal, ketika ia telah digaji, semestinya semua
itu tidak lagi perlu.
Bahkan sesama kalangan PNS pun belum tentu tidak menjadi korban.
Untungnya seorang teman, yang juga PNS, pernah berkisah tentang
perjalanan dinasnya ke Bukittinggi. Seperti biasanya, karena
perjalanan dinas, ia singgah meminta pengesahan Surat Perintah
Perjalanan Dinas (SPPD) ke instansi setempat. Setelah selesai,
meskipun tidak diminta, ia pun mengeluarkan beberapa lembar uang
sebagai ucapan terima kasih. Namun, sang teman menjadi terperangah
termangu dibuatnya ketika pemberiannya yang lazim itu ternyata
ditolak, dengan sebuah ucapan biasa, "Tidak perlu, Pak, itu memang
tugas saya. Saya sudah digaji sebagai seorang PNS".
Saya yakin banyak yang mengatakan pengalaman teman tadi kasus khusus
yang langka. Karena yang paling lazim dialami, mulai dari jalan raya
sampai gedung departemen bertingkat tinggi, selalu diwarnai oleh uang
dan tarif. Demikian lazimnya, sehingga semua itu telah menjadi
kewajiban semata. Parahnya, dapat disangka bahwa banyak sekali PNS itu
yang telah menganggap semua itu barang `halal' semata. Untuk sekedar
pemanis, katanya rezeki dan pemberian tidak boleh ditolak, asal
`ikhlas' semua puas.
Faktanya memang, gaji PNS itu sangat kecil. Berada dalam negara
dengan perekonomian biaya tinggi (high cost economy), lengkap dengan
inflasinya, menghidupi keluarga dengan gaji yang kecil itu memerlukan
strategi pengencangan ikat pinggang (austerity) yang luar biasa.
Bayangkan menjadi pegawai golongan I atau II di Jakarta ini: gaji
sebulah hanya cukup untuk ongkos. Sebagian terpaksa nekad bolos
beberapa hari dalam seminggu, yang kemudian waktunya dipakai untuk
mencari objekan. Sebab, kontrakan harus dibayar, keluarga harus makan,
anak perlu sekolah, dan seterusnya.
Kendati demikian, saya masih tetap menemukan banyak contoh di
sekitar, bahwa dalam kesempitan itu, masih banyak yang tetap
istiqamah, hidup lurus, tetap shalat, tetap tidak mencari celah yang
haram, menghindarkan yang syubhat, dan dengan berbagai cara lainnya,
mencoba membawa rezeki halal yang sedikit itu ke rumah, agar menjadi
berkah. Dengan berbagai cara, orang-orang yang bersyukur biasanya
selalu saja dibukakan jalannya oleh Allah.
Memang peribahasa lama mengatakan: "karena nila setitik rusak susu
sebelanga". Malangnya, di negeri kita ini, yang nila tidak lagi
setitik, mungkin telah setengah belanga.
Tetapi, justru karena alasan itu betullah sebabnya maka ibu pertiwi
sangat membutuhkan semakin banyak munculnya abdi rakyat yang jujur,
bersih dan berkualitas; mereka-mereka yang berkomitmen ikut
memperbaiki bangsa.
Sebab, kalau abdi rakyat adalah orang-orang baik, maka bangsa kita
akan dapat membalik peribahasa lama itu.
Lantas, akan tiba saatnya kita pun dapat dengan bangga berkata:
"karena susu yang sedikit, baiklah nila yang sebelanga".
Jakarta, 28 Februari 2006
****
HeLP ME ! HeLP ME ! HeLP ME !
1. Anda merasa ...
Gemuk / Kurus ? Insomnia ? Trauma ? Phobia ? Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ? Depresi ? Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Dll.
di ServoTherapy aja...!
Informasi tentang Jenis Jenis Phobia, Mania serta Testimonial / Kesaksian yang pernah dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52, baca di http://servocenter.blogsome.com/
2. Anda ingin meningkatkan Motivasi, Produktifitas dan Kualitas Pelayanan karyawan Anda ? di ServoPower aja ... !
Inhouse training & workshop dipandu langsung oleh instruktur yang merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta Bisnis, Edisi 41 / III / Agustus 2005.
3. Anda ingin merekrut SDM bermental Tangguh ? di ServoRecruitment aja ... !
4. Anda mencari pembicara atau narasumber mengenai Motivasi, Personal Coach, Servo Power atau Servo Therapy ? di ServoCenter aja ... !
5. Anda mencari Bantuan Dana ? di Klik aja... ! http://www.asiabersama.com/?id=bantuandana
SERVO CENTER - Pusat Pemrograman Diri dan Prestasi
Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya
Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148.
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257
Anda Ingin Berubah ? Di Servo Aja ... !
SPONSORED LINKS
| Health and wellness | Health wellness product | Health and wellness program |
| Diet fitness health nutrition wellness | Health promotion and wellness | Business health wellness |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "TaManBinTaNG" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
