Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?

Mungkin pengumuman seperti tersebut di atas akan jamak kita dengar 
di masjid-masjid dan mushalla-mushalla selama bulan ramadhan. 
Seperti yang dulu biasa saya dengarkan di masjid sebelah rumah orang 
tua saya. Seperti biasanya juga saya amini pengumuman dari ta'mir 
tersebut, berdasarkan keinginan bersama untuk lebih khusyu' tanpa 
terganggu oleh teriakan anak-anak kecil.

Akan tetapi rasanya jadi berbeda ketika beberapa malam lalu saya 
mendengar pengumuman yang menghimbau jamaah untuk tidak membawa anak 
balita selama shalat tarawih di masjid di lingkungan tempat saya 
tinggal sekarang. Malam itu adalah malam pertama kali dilaksanakan 
shalat tarawih. Artinya besoknya adalah puasa ramadhan hari pertama. 

Terlihat cukup banyak anak-anak usia balita yang ikut orang tuanya 
ke masjid untuk shalat tarawih. Beberapa diantaranya ada yang 
kelihatannya sudah duduk di bangku sekolah dasar. Biasalah, layaknya 
anak-anak kecil lainnya, bukannya mengikuti tawarih dengan khusyu' 
dan tuma'ninah, mereka malah berkumpul dan bercanda rame-rame. 

Buat saya sih, kondisi seperti itu oke-oke saja. Saya mahfum karena 
memang anak kecil sedang dalam masanya bermain-main. Dan kebetulan 
juga saya merasa tidak terlalu terganggu oleh candaan anak-anak itu. 
Tapi ternyata tidak begitu buat beberapa orang jama'ah dan ta'mir 
masjid. Pada waktu memberikan kultum, seorang ta'mir memberikan 
arahan kepada seluruh jamah untuk selanjutnya tidak lagi membawa 
anak balita ke masjid. Karena menurut beliau, balita yang berkumpul 
di masjid akan menyebabkan jamah menjadi tidak khusyu shalatnya. 
Buktinya pada saat itu terdengar anak-anak kecil sedang berkumpul 
dan saling berbicara dengan suara yang agak keras.

Pengumuman ta'mir tersebut mengejutkan saya. Memang sih, sebelum 
memberikan arahan beliau terlebih dulu meminta maaf apabila apa yang 
akan disampaikan mungkin menyinggung perasaan sebagian jamaah. Tapi 
tetap saja saya kaget.

Yang membuat saya terkejut adalah ternyata kita sendiri masih 
membuat batasan tentang siapa yang berhak dan layak untuk datang ke 
baitul-Lah. Padahal di mata Allah semua manusia adalah sama dan 
sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah 
dibandingkan lainnya. Allah sangat egaliter. Baik seorang ustadz dan 
orang tua ataupun anak kecil, masing-masing memperoleh kesempatan 
yang sama untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya. 

Saya tidak terlalu ingat, tapi seingat saya dalam salah satu hadits 
disebutkan bahwa suatu ketika Kanjeng Rasul mengerjakan shalat 
berjamaah dengan para sahabat. Saat itu Kanjeng Rasul mengerjakan 
salah satu sujudnya dalam waktu yang cukup lama. Sehingga membuat 
para sahabat heran dan bertanya-tanya. Setelah selesai sahalat, 
akhirnya Kanjeng Nabi menjelaskan mengapa salah satu sujudnya lama 
adalah karena waktu itu cucu beliau yang masih kecil sedang duduk di 
leher beliau. Kanjeng Rasul tidak mau mengganggu keasyikan cucunya, 
sehingga memutuskan untuk menunggu sampai si cucu bosan dan turun 
dari leher Kanjeng Rasul. Setelah itu baru Kanjeng Rasul melanjutkan 
shalat ke rakaat berikutnya.

Subhanallah.. Bahkan Kanjeng Rasul sekalipun masih menghormati 
cucunya yang notabene seorang anak kecil yang sedang bermain-main 
dan duduk di atas leher beliau. Lalu mengapa kita masih dengan 
sombongnya melarang anak-anak balita kita untuk menjadi tamu Allah? 
Apakah dengan menjadi orang tua membuat kita merasa sah untuk 
menentukan layak atau tidaknya seorang balita ikut datang ke masjid?

Rasulullah adalah manusia pilihan yang semenjak dari lahirnya sudah 
dijaga hati, lisan dan tindakannya oleh Alah dari perbuatan buruk. 
Namun Kanjeng Rasul masih menyempatkan waktu membiarkan seorang 
balita bermain-main di atas leher beliau meskipun saat itu Kanjeng 
Rasul sedang menjadi imam shalat berjamaah dengan para sahabat. 
Kemudian seperti apakah kita dibandingkan dengan Rasulullah? 
Sederajatkah kita yang sangat banyak dosanya ini dibandingkan dengan 
Kanjeng Rasul yang ma'shum? Lalu mengapa kita dengan mudahnya 
menentukan bahwa anak-anak kita yang masih berumur balita tidak 
layak menjadi tamu Alah di rumah-Nya?

Dalam keyakinan saya, belum tentu di hadapan Allah saya lebih suci 
dibandingkan anak saya yang baru berumur 14 bulan. Belum tentu doa 
saya lebih makbul dibandingkan dengan doa anak saya. Belum tentu 
saya lebih diajeni oleh Allah di dalam rumah-Nya dibandingkan dengan 
anak saya. Belum tentu juga shalat yang saya lakukan di masjid lebih 
diridlai Allah dibandingkan dengan kehadiran anak saya di sana.

Kehadiran anak-anak di masjid adalah sebenarnya proses pembelajaran 
bagi mereka. Anak-anak kita akan melihat bagaimana cara shalat yang 
baik dan benar. Anak-anak juga akan melihat bagaimana para orang 
tuanya bermusyawarah tentang kepentingan bersama di masjid. Anak-
anak akan belajar memahami bahwa masjid adalah pusat seluruh 
aktivitas masyarakat di lingkungannya. Namun bagaimana 
semangat "back to mosque" tersebut dapat ditanamkan ke benak anak-
anak kita apabila dari awal kita sudah membuat saringan layak atau 
tidak layak bagi mereka untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya 
sendiri?

Dalam keyakinan saya, spiritualitas dan kekhusyukan kita dalam 
beribadah tidak ditentukan oleh usia. Tidak ditentukan juga oleh 
seberapa ramai atau seberapa sepi lingkungan tempat kita beribadah. 
Tapi lebih banyak ditentukan oleh seberapa ikhlas kita bersedia 
beribadah dan berdzikir atas nama Allah. Bukan atas nama yang 
lainnya.

Sebagai akhiran, saya mengutip perkataan salah seorang sahabat bahwa 
penyakit orang baik adalah pada saat dia merasa dirinyalah yang 
paling baik. Sehingga kita harus selalu berhati-hati karena batas 
antara baik dan buruk sangatlah tipis. Bahkan terkadang tanpa terasa 
kita sudah berjalan melintasi batas tersebut dan berada di area 
seberang hanya karena kita merasa sedikit lebih baik dari seorang 
balita.

Semoga Allah masih berkehendak mengijinkan kita semua untuk bertemu 
dengan ramadhan tahun depan. Karena bulan ramadhan adalah saat yang 
tepat untuk melakukan introspeksi diri untuk kemudian selanjutnya 
kita jadikan sebagai dasar transformasi diri menuju ke arah yang 
lebih baik. 

Banyuwangi, 25 September 2006
Aziz Fajar Ariwibowo










*****

HELP ME !

1. Motivasi, Produktifitas dan Kualitas Pelayanan Karyawan Anda menurun ? 

Inhouse training & Workshop Motivasi dipandu langsung oleh penemu Metode SERVO, 
merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta 
Bisnis, Edisi  41 / III / Agustus 2005. 

2. Kemana mencari SDM yang Kompeten dan Antusias ?

3. Kemana mencari Narasumber / Pembicara tentang Motivasi, Manajemen Diri dan 
Prestasi, ServoPower, ServoTherapy, HypnoTherapy ?

4. Siapa yang dapat menjadi Pelatih Pribadi (Personal Coach) serta memprogram 
Prestasi Karir / Profesi ? 

5.Kemana menghilangkan Hambatan Sukses seperti Insomnia ? Trauma ? Phobia ? 
Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ? Depresi ? 
Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Gemuk / Kurus ? dll. ?

Testimonies pernah dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 
52. Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/servo-testimonies/<<<

6. Anda ingin konsultasi masalah Pribadi ? Klik aja 
>>>http://servocenter.wordpress.com/140/<<<

*****

SERVO CENTER
Pusat Pemrograman Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi
Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya
Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148.
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257

Talkshow Interaktif tentang Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi :

1. Radio MSTRI  104,2 FM, Setiap Kamis Sore, Jam 16.00 - 17.00
2. Radio PESONA 103,8 FM, Setiap Rabu Malam, Jam 19.00 - 20.00
   Setiap Minggu Pertama, Awal Bulan

>>>http://servocenter.wordpress.com/<<< 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke