janganlah begitu, mungkin maksud takmir bukan melarang, namun mengatur, agar keberadaan anak kecil tidak mengganggu jemaat lain, sebab tidak semua jemaat bisa kusuk dengan kegaduhan,
biasanya jemaat yang membawa anak kecil tahu diri untuk mengambil tempat dibelakang, diberanda atau tempat-tempat yang sekiranya tidak mengganggu jemaat yang lain, janganlah menyindir saudara kita kalau belum tahu benar alasan mereka berbuat demikian, sebab bisa jadi mereka lebih baik dari kita, justru secara implisit kita merasa paling benar dengan sindiran demikian, ada baiknya kita menggunakan kalimat begini dalam bernasehat, "saya yakin apa yang anda lakukan salah, namun mungkin ada benarnya dan saya yakin apa yang saya nasehatkan benar, namun mungkin ada salahnya" dengan demikian kita sebagai manusia yang selalu khilaf ini bisa sama-sama menuju ketingkatan yang lebih baik, minimal dalam ukuwah islamiyah, memang kehadiran anak-anak dimesjid adalah baik untuk proses pembelajaran, namun bagaimana kalau semua jemaah membawa anak? bukankah situasi jadi gaduh? akan lebih baik kalau diatur bahwa untuk yang membawa anak ada tempatnya sendiri, bukan bermaksud melarang, belum lagi kalau ada anak yang pipis disamping jemaat lain yang sedang shalat, atau menggoyang-goyang dan menarik sarung jemaat lain? bukankah hal seperti ini kurang kondusif pada saat kita sedang berkomunikasi dengan Tuhan, maaf saya masih baru dalam pengetahuan tentang islam, hanya tahu dari pacar saja, bila ada yang salah mohon dimaafkan, ----------------- Camod (catatan moderator) : Sesuai dengan hasil polling tentang pola komunikasi satu arah maka : 1. Setiap orang berhak memiliki opininya masing masing, sesuai dengan apa yang diyakininya. 2. Jika berpolemik, sebaiknya menggunakan rujukan / referensi yang jelas. 3. Jika memiliki pendapat pribadi, tampilkan dalam bentuk artikel tersendiri. 4. Dengan demikian kita sepakat untuk tidak sepakat. ------------------ ----- Original Message ----- From: fajarzs To: [email protected] Sent: Tuesday, September 26, 2006 12:23 Subject: TaManBinTaNG >>> Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih? Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih? Mungkin pengumuman seperti tersebut di atas akan jamak kita dengar di masjid-masjid dan mushalla-mushalla selama bulan ramadhan. Seperti yang dulu biasa saya dengarkan di masjid sebelah rumah orang tua saya. Seperti biasanya juga saya amini pengumuman dari ta'mir tersebut, berdasarkan keinginan bersama untuk lebih khusyu' tanpa terganggu oleh teriakan anak-anak kecil. Akan tetapi rasanya jadi berbeda ketika beberapa malam lalu saya mendengar pengumuman yang menghimbau jamaah untuk tidak membawa anak balita selama shalat tarawih di masjid di lingkungan tempat saya tinggal sekarang. Malam itu adalah malam pertama kali dilaksanakan shalat tarawih. Artinya besoknya adalah puasa ramadhan hari pertama. Terlihat cukup banyak anak-anak usia balita yang ikut orang tuanya ke masjid untuk shalat tarawih. Beberapa diantaranya ada yang kelihatannya sudah duduk di bangku sekolah dasar. Biasalah, layaknya anak-anak kecil lainnya, bukannya mengikuti tawarih dengan khusyu' dan tuma'ninah, mereka malah berkumpul dan bercanda rame-rame. Buat saya sih, kondisi seperti itu oke-oke saja. Saya mahfum karena memang anak kecil sedang dalam masanya bermain-main. Dan kebetulan juga saya merasa tidak terlalu terganggu oleh candaan anak-anak itu. Tapi ternyata tidak begitu buat beberapa orang jama'ah dan ta'mir masjid. Pada waktu memberikan kultum, seorang ta'mir memberikan arahan kepada seluruh jamah untuk selanjutnya tidak lagi membawa anak balita ke masjid. Karena menurut beliau, balita yang berkumpul di masjid akan menyebabkan jamah menjadi tidak khusyu shalatnya. Buktinya pada saat itu terdengar anak-anak kecil sedang berkumpul dan saling berbicara dengan suara yang agak keras. Pengumuman ta'mir tersebut mengejutkan saya. Memang sih, sebelum memberikan arahan beliau terlebih dulu meminta maaf apabila apa yang akan disampaikan mungkin menyinggung perasaan sebagian jamaah. Tapi tetap saja saya kaget. Yang membuat saya terkejut adalah ternyata kita sendiri masih membuat batasan tentang siapa yang berhak dan layak untuk datang ke baitul-Lah. Padahal di mata Allah semua manusia adalah sama dan sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan lainnya. Allah sangat egaliter. Baik seorang ustadz dan orang tua ataupun anak kecil, masing-masing memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya. Saya tidak terlalu ingat, tapi seingat saya dalam salah satu hadits disebutkan bahwa suatu ketika Kanjeng Rasul mengerjakan shalat berjamaah dengan para sahabat. Saat itu Kanjeng Rasul mengerjakan salah satu sujudnya dalam waktu yang cukup lama. Sehingga membuat para sahabat heran dan bertanya-tanya. Setelah selesai sahalat, akhirnya Kanjeng Nabi menjelaskan mengapa salah satu sujudnya lama adalah karena waktu itu cucu beliau yang masih kecil sedang duduk di leher beliau. Kanjeng Rasul tidak mau mengganggu keasyikan cucunya, sehingga memutuskan untuk menunggu sampai si cucu bosan dan turun dari leher Kanjeng Rasul. Setelah itu baru Kanjeng Rasul melanjutkan shalat ke rakaat berikutnya. Subhanallah.. Bahkan Kanjeng Rasul sekalipun masih menghormati cucunya yang notabene seorang anak kecil yang sedang bermain-main dan duduk di atas leher beliau. Lalu mengapa kita masih dengan sombongnya melarang anak-anak balita kita untuk menjadi tamu Allah? Apakah dengan menjadi orang tua membuat kita merasa sah untuk menentukan layak atau tidaknya seorang balita ikut datang ke masjid? Rasulullah adalah manusia pilihan yang semenjak dari lahirnya sudah dijaga hati, lisan dan tindakannya oleh Alah dari perbuatan buruk. Namun Kanjeng Rasul masih menyempatkan waktu membiarkan seorang balita bermain-main di atas leher beliau meskipun saat itu Kanjeng Rasul sedang menjadi imam shalat berjamaah dengan para sahabat. Kemudian seperti apakah kita dibandingkan dengan Rasulullah? Sederajatkah kita yang sangat banyak dosanya ini dibandingkan dengan Kanjeng Rasul yang ma'shum? Lalu mengapa kita dengan mudahnya menentukan bahwa anak-anak kita yang masih berumur balita tidak layak menjadi tamu Alah di rumah-Nya? Dalam keyakinan saya, belum tentu di hadapan Allah saya lebih suci dibandingkan anak saya yang baru berumur 14 bulan. Belum tentu doa saya lebih makbul dibandingkan dengan doa anak saya. Belum tentu saya lebih diajeni oleh Allah di dalam rumah-Nya dibandingkan dengan anak saya. Belum tentu juga shalat yang saya lakukan di masjid lebih diridlai Allah dibandingkan dengan kehadiran anak saya di sana. Kehadiran anak-anak di masjid adalah sebenarnya proses pembelajaran bagi mereka. Anak-anak kita akan melihat bagaimana cara shalat yang baik dan benar. Anak-anak juga akan melihat bagaimana para orang tuanya bermusyawarah tentang kepentingan bersama di masjid. Anak- anak akan belajar memahami bahwa masjid adalah pusat seluruh aktivitas masyarakat di lingkungannya. Namun bagaimana semangat "back to mosque" tersebut dapat ditanamkan ke benak anak- anak kita apabila dari awal kita sudah membuat saringan layak atau tidak layak bagi mereka untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya sendiri? Dalam keyakinan saya, spiritualitas dan kekhusyukan kita dalam beribadah tidak ditentukan oleh usia. Tidak ditentukan juga oleh seberapa ramai atau seberapa sepi lingkungan tempat kita beribadah. Tapi lebih banyak ditentukan oleh seberapa ikhlas kita bersedia beribadah dan berdzikir atas nama Allah. Bukan atas nama yang lainnya. Sebagai akhiran, saya mengutip perkataan salah seorang sahabat bahwa penyakit orang baik adalah pada saat dia merasa dirinyalah yang paling baik. Sehingga kita harus selalu berhati-hati karena batas antara baik dan buruk sangatlah tipis. Bahkan terkadang tanpa terasa kita sudah berjalan melintasi batas tersebut dan berada di area seberang hanya karena kita merasa sedikit lebih baik dari seorang balita. Semoga Allah masih berkehendak mengijinkan kita semua untuk bertemu dengan ramadhan tahun depan. Karena bulan ramadhan adalah saat yang tepat untuk melakukan introspeksi diri untuk kemudian selanjutnya kita jadikan sebagai dasar transformasi diri menuju ke arah yang lebih baik. Banyuwangi, 25 September 2006 Aziz Fajar Ariwibowo [Non-text portions of this message have been removed] ***** HELP ME ! 1. Motivasi, Produktifitas dan Kualitas Pelayanan Karyawan Anda menurun ? Inhouse training & Workshop Motivasi dipandu langsung oleh penemu Metode SERVO, merupakan salah satu dari sembilan orang Guru Sukses, Versi Majalah Warta Bisnis, Edisi 41 / III / Agustus 2005. 2. Kemana mencari SDM yang Kompeten dan Antusias ? 3. Kemana mencari Narasumber / Pembicara tentang Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi, ServoPower, ServoTherapy, HypnoTherapy ? 4. Siapa yang dapat menjadi Pelatih Pribadi (Personal Coach) serta memprogram Prestasi Karir / Profesi ? 5.Kemana menghilangkan Hambatan Sukses seperti Insomnia ? Trauma ? Phobia ? Mania ? Psikosomatis ? Relapse ? Stress ? Cemas ? Sedih ? Takut ? Depresi ? Marah ? Kebiasaan / Pengalaman Buruk ? Gemuk / Kurus ? dll. ? Testimonies pernah dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52. Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/servo-testimonies/<<< 6. Anda ingin konsultasi masalah Pribadi ? Klik aja >>>http://servocenter.wordpress.com/140/<<< ***** SERVO CENTER Pusat Pemrograman Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi Komplek Cipondoh Makmur, Jl. Bahagia Raya Blok B5b No. 2 Cipondoh, Tangerang 15148. 021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257 Talkshow Interaktif tentang Motivasi, Manajemen Diri dan Prestasi : 1. Radio MSTRI 104,2 FM, Setiap Kamis Sore, Jam 16.00 - 17.00 2. Radio PESONA 103,8 FM, Setiap Rabu Malam, Jam 19.00 - 20.00 Setiap Minggu Pertama, Awal Bulan >>>http://servocenter.wordpress.com/<<< Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
