Bila hidup ini dianalogikan sebagai dinamika pusaran
air, yang terus mengalir dan seling mengait agar tetap
dinamis, maka manusia menjadi partikel kecil yang
berada dalam pusaran tersebut. Entah dalam lingkaran
besar atau di lingkaran kecil. Yang di tengah pusaran
ternyata yang paling tenangm tidak terpengaruh, dan
bahak paling powerful karena tidak terombang-ambingkan
pusaran. Hanya satu titik yang berada di pusat
pusaran, yaitu keberserahan diri secara total kepada
Al Khaliq.
Coba kita cermati:
(1) Ketika manusia masih dikendalikan nafsu (walaupun
merasa mengendalikan nafsu) untuk meraih sesuatu (yang
muaranya pemuasan nafsu), manusia berupaya. Itulah
hidup. Entah nafsu itu bernama rizqi, entah bernama
kebahagiaan, entah bernama ibadah. Eits...ibadah koq
nafsu? Lha iya, wong ibadahnya karena untuk pemuasan
nafsu: agar dipenuhi permintaannya, agar naik
statusnya, agar diterima di kelompok agamis....ya toh.
Maka, manusia berupaya maksimal. Jadilah ibadah haji
yang carut marut penuh dengan korupsi, jadilah ibadah
qurban yang penuh simbul dan pamer, jadilah cari uang
untuk keluarganya dengan cara yang sangat dzalim...
Renungkanlah dengan mata hati..... Enggak koq, aku
cari nafkah dengan halal.....(kata sebagian sahabat).
Indikatornya jelas, bila kita mencari nafkah dengan
menghilangkan hak orang lain, dengan menutup jalan
rizqi orang lain, dengan memperoleh hasil lebih dari
usahanya, dsb.
(2) Berapakali ibadah kita bersih dari permintaan
pribadi-egoisme pribadi, hanya semata-mata untuk
memperoleh kasih Allah, Rahim Allah? Ketika kita
beribadah semata hanya untuk Allah, luar biasa...
manfaatnya langsung dirasakan jamaah di sekitar kita
karena mereka akan mendapat senyuman tulus kita,
mereka akan kita tolong dengan sukarela tanpa syarat,
mereka akan merasa nyaman berada di sekitar kita,
...sehingga tidak ada lagi amarah, tidak ada lagi
curiga, tidak lagi saling menyalahkan.
(3) Ketika ada peristiwa menimpa diri kita, apapun
kita menamakannya: ujian, musibah, azab, nikmat,
anugerah,.... kita selalu menyerahkan kepada Allah
dengan keyakinan bahwa apapun keputusan Allah tentang
kita pasti bernuansa peningkatan ketaqwaan kepada
Allah, sehingga kita dengan syukur dan sabar
menerimanya.

Nah, indah bukan menikmati dinamika hidup ini.....?
Ternyata kita sendiri yang membuatnya carut
marut...Rabanna dzalamna anfusana...wailan(m)
taghfirlana watarhamna lanakunana minnal khasyirin 

Ya Allah ampunilah kekuranganku ini....

Salaam,

Indroyono 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke