Menyelusuri Makna Memberi
 
 
 Oleh : Al Shahida
   
   
 London, pertengahan Januari, di pagi hari. Aku tengah terpukau oleh birunya 
langit serta binarnya sang mentari. Cabang serta reranting pohon buah pear dan 
plum yang tinggi menjulang dan telanjang tanpa dedaunan itu tampak kontras 
dengan birunya langit. Suasana pagi itu tampak cerah dan ceria. Seakan hatiku 
bersenandung. Berkidung. Betapa tidak karena beberapa pekan terakhir ini 
suasana winter yang melankolis begitu menampak. Dari hari kehari langit nampak 
kusam kelabu diiringi rintik gerimis, kadang hujan lebat dan bahkan berangin 
kencang.
   
 Winter yang melankolis, kelabu...sendu
   
 Tiba-tiba telefon berdering. Aku segera menjawabnya dengan perasaan bungah, 
gembira, hatiku menduga-duga siapa gerangan. Oh, ternyata salah seorang 
sahabatku. Elsye. Ia bertanya kenapa aku kedengarannya begitu senang dan 
bahagia. Kutanya balik dari mana ia tahu kalau aku bahagia. "Dari getar getar 
suaramu, Teteh. Aku bisa merasakan, aku tahu dan kenal dirimu, bukan ?" 
jawabnya.
   
 Lalu kubilang: "Syukur deh, Elsye. Kamu ko brilyan banget sih. Pinter. Aku 
seneng dan bahagia memang," kataku. "Walau bukan karena aku punya apa-apa." 
Kedengarannya ia ingin tahu kenapa kali ini aku sangat lain dan malah bahagia..
   
 "Lagi jatuh cinta ya, Teteh? "
   
 Dugaan Elsye ini mambuat aku tertawa. '"Yeep bisa jadi, El. Tapi bisa lebih 
dari itu. " Jawabanku yang satu ini malah membuat Elsa tambah penasaran. Agar 
Elye tidak semakin kebingungan, aku teruskan kata-kataku :
   
 "Aku bahagia karena bisa mencoba memberi apa yang kupunya. Tenaga, kebebasan, 
waktu, akal budi, perhatian dan yaaa bahkan keceriaan." imbuhku. 'Ohh I see..' 
tukasnya.
   
 Mendengar jawabanku itu, aku merasakan betapa sahabatku nampak ikut bahagia 
dan bersyukur pula. Karena ia pun tahu, memang akhir-akhir ini aku tengah 
dirundung galau tak menentu. Kiranya cocok diumpamakan sebagai seorang pasien 
yang lagi menderita sakit, tetapi sang dokter tak bisa mendiagnosa apa 
penyakitnya. Aku sempat membuat perumpamaan seperti itu. Kata yang kuucapkan 
itu rupanya mengena.
 
 
 "Oh, Tetehku lagi seneng nih karena bisa memberi," ujarnya. "Hemm, memberi. 
Jadi topik kita kali ini memberi, niih ?" Lanjut dia seperti setengah menyindir.
   
 "Kamu telefon emangnya mau dengar ceramah atau mau diskusi atau apa..?," 
tanyaku balik.
   
 "Engga siih. Cuma mau tahu gimana kabarnya, ada perkembangan apa gituuu, habis 
aku kawatir banget sama Teteh, terutama akhir akhir ini. Hampir dua minggu 
Teteh engga muncul di pengajian kita jadi kawatir banget, gituuu loh Teh", Elsa 
menerangkan kekhawatirannya.
   
 "Oh iya aku tahu, makasih. Aku kerjanya rajin nelefonin temen-temen, masih 
ingat, kan ? Kalau giliran si Teteh gak nelefon, kalian bingung. Bener ngggak 
?", tanyaku setengah menuntut dalam bumbu canda.
   
 "Bener seratus persen, Teteh tuh orangnya ekstra komunikatif. Kalau engga 
mengirim email, ya sms atau nelefon. Nah makanya kalau kita engga dengar 
suaranya atau namanya nongol di milis, kita malah yang jadi bingung. Kan 
biasanya Teteh muncul secara rutin di salah satu media kontak itu.. Lagian 
kalau kita ngobrol di telefon juga bukan ngegunjing, tapi ya obrolan yang 
produktif, walaupun kadang Teteh suka komplain, kritis gitu. Sori ya Teh," 
rajuk Elsa. Aku membenarkan.Kufikir kali ini malah dia yang agak judes.
   
 Sahabatku yang satu ini memang "she speaks her mind," begitu kata orang 
Inggris. Mengatakan apa adanya. Ceplas ceplos. Kadang galak atau judes 
kedengaranya, walau tidak bermaksud menyakiti. Aku sempat mohon dengan memelas. 
"Duuh jangan dijudesin Tetehnya dong. Aku jadi sedih".
   
 Lain Elsye, lain pula dengan wong Wonogiri, Jawa Tengah, mas Bambang yang 
rajin mengirimkan email dan suportif banget terhadapku itu. Ia suka komplain 
jenis lain. Ia suka protes kalau gaya bicaraku macam khotbah. "Orang jadi 
terancam bosan lo dengernya kalau gaya mengutarakan sesuatu darimu model 
khotbah seperti itu," katanya terus terang. Hmm aku sempat kesel juga dikritik 
sama orang Jawa Tengah ini. Tapi ya aku harus menerima kritikannya untuk 
kebaikan diriku. Mungkin selama ini aku tidak menyadari tabiat komunikasiku itu.
   
 "Eiih makasih aku diingetin niih. Sori lah kalau aku sok atau belagak macam 
ustadzah aja, padahal aku tak ada potongan untuk tukang ceramah khan ? Atau 
mungkin gaya bicaraku sok konsultatif ya ? Bergaya macam konsultan di mana bagi 
orang lain bisa begitu menyebalkan ? " begitu penjelasanku. Akhirnya aku minta 
maaf, karena aku memang tidak bermaksud sok menggurui.
   
 Kembali ke Elsye. Ia melanjutkan, "Tapi kita seneng aja ko denger pengalaman 
hidup Teteh yang lumayan ruwet dan ribet, sok sibuk walaupun sibuknya memang 
beneran. Habis gak mau bagi-bagi siiih. Anyway, nanti kalau pengajian, giliran 
Teteh dong kasih kultum, bagi-bagi pengalaman dan ilmunya ya Teh ?". Aku cuma 
bisa mengiyakan.
   
 Aku jadi senyum- senyum sendirian mendengar kata-kata "bagi-bagi pengalaman 
dan ilmu." Ilmu apa sih yang kumiliki?
   
 "Oya tadi tuh kata kata 'memberi' itu memang ada penjabarannya Teh ? Bisa 
diterusin artinya ?" El memulai lagi.
   
 Gunung Kidul, Yogya. Pemberian dari muallaf UK berupa buku Iqro & jilbab.
   
   
 "OK tadi aku bilang 'Aku bahagia... karena bisa memberi apa yang kupunya. 
Misalnya tenaga, kebebasan, waktu, akal budi, perhatian dan yaaa bahkan 
keceriaan yaa.'"
   
 "OK, aku coba jabarkan ya. Bahwa saat ini kita, ehh.. aku diberi nikmat 
kesehatan fisik berarti aku punya tenaga untuk bantu orang dengan tenagaku atau 
fisikku seperti menyopiri * bemoku. Aku punya kebebasan untuk menolong siapa 
saja, tanpa membedakan ras golongan, bangsa, warna dan agama. Kalau soal waktu 
bisa diatur, walau aku sempit dan sibuk tetap kuusahakan.
 
 
 Kemudian Allah memberikan aku sedikit akal budi, maksudnya kita khan gak 
bodoh-bodoh amat ya. Artinya di saat aku dihadapkan dengan kesulitan atau teman 
yang mendapat kesulitan, aku mencoba membantu dengan mencari solusi yang 
kiranya tepat dan memadai. Aku percaya tidak ada kesulitan di dunia yang tidak 
bisa kita atasi.
 
 
 Satu lagi niih, Allah rupanya melimpahkan rasa mudah iba yang dalam. Empati. 
Hatiku mudah koyak. Kayaknya rapuh banget gitu. Aku percaya Allahlah yang 
menyelipkannya ke sanubari hingga mampu melahirkan rasa iba, simpati sekaligus 
empati kepada orang-orang yang terkena musibah, korban kedzaliman, perang 
sehingga hatiku tergerak untuk segera berbuat, setidaknya perhatian.
 
 
 Nah, sedikit buktinya di saat aku ceria, kamupun ikut bahagia, iya khan ? Jadi 
aku pun, agak GR nih, sudah memberi kebahagiaan untukmu, bukan ?'" jelasku. 
Syukurlah, loncatan ucapan itu di dalam hati aku susul dengan istighhfar. Siapa 
tahu aku baru saja melakukan show off, riya ?
   
 Sahabatku diam mendengarkan celotehanku. Lalu kusambung:
   
 "Jadi El, dari pengalaman yang Teteh alami dan rasakan, aktivitas 'memberi' 
itu bukan main maknanya. Dahsyat sekali. Seringnya kita tidak memahami, mau 
memberi sesuatu mikirnya lama dan bahkan menghitung-hitung untung dan ruginya. 
Aku sendiri tidak menyadari sampai aku membaca tulisan pengalaman orang-orang, 
ada beberapa ungkapan yang aku suka lalu mencocokan dengan hadith-hadith, 
misalnya seperti di bawah ini:
   
 "Jika kamu ingin menerima banyak, maka kamu harus lebih dahulu memberi 
banyak."Â…Begitu kira-kira kutipan yang saya baca di sebuah buku.
 "Siapa yang ingin dicintai, maka belajarlah mencintai orang lain dulu"
 Dan ini yang paling berat buat kita: "Siapa yang ingin dicintai Allah maka 
cintailah Rasulnya.'' .
 .
 "Tapi aku sudah merasakan betapa diri kita sendirilah yang akan merasakan 
bagaimana hati diliputi oleh rasa bahagia, ketika kita bisa memberikan sesuatu 
kepada orang lain. Jadi sesungguhnya justru kita sendirilah yang merasakan 
paling bahagia di saat kita bisa memberikan bantuan. Selain tentunya,  perasaan 
hati fihak lain yang telah ikhlas kita bantu.".
   
 "Misalnya apa, Teh?'" sergah Elsye.
 
 
 "Dari hal-hal yang kecil. Sederhana. Ya, misalnya menjaga anak atau bayi teman 
yang berstatus sebagai mahasiswa ketika dirinya yang sedang belajar untuk 
menempuh ujian. Mengantar pulang teman yang rumahnya jauh dan sudah malam. 
Mengantar sahabat ke bandara yang musti check-in diwaktu subuh dan seterusnya. 
Ah pokoknya banyak deh, pokoknya yang bisa meringankan kesusahan orang, kurang 
lebihnya begitu ibuu," kataku. Menggurui ya ?
   
 Lanjutku, "Jadi memberi atau sedekah itu tidak mesti besar, walaupun cuma 
dengan setengah kurma, yang penting ikhlas". Elsyepun tertawa. "Ah aku engga 
mau dikasih kurma setengah. Aku mau satu doos dari toko Zam-zam di Green 
Street", kelakarnya.
   
 "Sama deh, Teh. Aku juga belum bisa bersadakah dalam bentuk materi," lanjut 
El. Dia nampak menyetujui pendapatku. "Siapa bilang ? Rumahmu yang dijadikan 
sebagai tempat pengajian, minimal seminggu sekali, bukankah itu Elsa sudah 
memberi ? Itu pun jelas pula sebagai sedekah. Memberikan tempat untuk perbuatan 
menuju kebaikan, pastinya sudah pula mendapatkan pahala. Setidaknya rumahmu 
mendapatkan baroqah dan rakhmat dari Allah, bahkan telah pula menolong agama 
Allah."
 
 
 Kali ini Elsye agak nampak bingung dengan kata-kata "menolong agama Allah."
   
 "Artinya..." aku narik napas sebentar, " Elsye memperlancar jalannya syiar 
agama, dakwah, buat teman-teman yang ingin meningkatkan keimanannya, sang 
gurupun mengamalkan ilmu agamanya, belum rasa ukhuwah yang terjalin antara 
kita, jadi berarti Elsye memberi dan menolong agama Allah. Coba berapa hikmah 
dan baroqah yang Elsa dapat?" ' Sepertinya Elsa baru menyadari hal ini.
   
 "Bayangkan...para malaikat diatas rumahmu yang mengepakkan sayapnya lalu 
melaporkan kepada sang Khalik, 'Ya Rabb ummatmu tengah menyebut dan membesarkan 
namamuMu,' padahal Allah tahu apa yang ummatnya tengah lakukan", aku 
menambahkan.
   
 Akhirnya kututup percakapan di telefon dan kita berjanji untuk jumpa di 
pengajian pada Jumat minggu depan. "Bener lo Teh datang ya. Kita kangen banget 
niih. Sambel cabe ijo sudah nunggu di kulkas tuh minta dilahap seusai 
pengajian," tutup El. Kami pun berpisah saling meminta maaf dan mendoakan.
   
 Uang jajan untuk si yatim, ' makasih ustadzah..' ucapnya.
   
 Lain halnya dengan sahabatku, yang aku sebut sebagai adik, yaitu Iwan. Ia 
pernah tiba-tiba mengeluh pada saat ia mengalami futur, di saat dia membutuhkan 
bantuan, seakan orang tak mau tahu dengan problemnya. Apalagi membantu dalam 
bentuk materi:
 
 
 Ia mengeluh, "Perasaan sih saya banyak memberi, membantu gitu loh, bukan 
memberi uang siih, maksud saya beri bantuan berupa tenaga dan fikiran, 
pengetahuanku, membantu orang, walaupun saya tidak bilang minta dibayar, mbok 
ngerti gitu.Tapi di saat saya perlu bantuan, saya tidak mendapat bantuan tuuh, 
saya jadi bingung dan gak paham jadinya nih" , keluhnya.
   
 "Ooops sori. Astaghfirullah al aziim," lanjutnya. Dia rupanya menyadari 
kekeliruannya dan menetralisir sendiri. "Kalau begitu saya mengharapkan dibalas 
oleh mereka yang saya bantu. Salah ya Teh ? Aku engga ikhlas dong ya ? Semua 
buyar deh amalku ya?," sesalnya.
   
 "Ntar dulu Wan. Masalahnya jelas tidak pada awalnya ? Ada hitam di atas putih 
tidak. Apa tidak bisa dibedakan dulu antara business atau amal, atau 
fisabilillah ? Kalau tidak jelas dari awalnya, memang kita dan semuanya bisa 
susah dong. Sorry no free lunch, sir, " ketusku.
   
 "Tapi betul ko Wan, kau tidaklah sendirian. Aku juga kadang suka begitu 
frustrasi di saat aku perlu bantuan, butuh bantuan, rasanya tidak ada yang 
memberikan bantuan. Diriku merasa banget sedih dan ada kecewa. Sampai aku 
kadang terloncat untuk bilang, "Biarin. Lihat ntar lo. Aku mau hidup sendiri 
aja, semua kukerjain sendiri aja, aku tidak boleh bergantung sama orang, aku 
harus mandiri."
   
 Bukankah itu prinsip yang keliru ? Padahal kita tahu hukumnya, kalau kita 
memberi bantuan atau bersadakah mustinya kita tidak harus mengharapkan balasan 
dari orang yang kita beri bantuan. Bersedekah selayaknya dilakukan tanpa pernah 
mengharap balasan dari orang yang kita beri, demikian kata beberapa pakar dan 
hadith. Karena kita yakin bahwa Allahlah yang akan membalas kita, bukan dari 
orang yang kita bantu.
   
 "Iya bener, Teh, begitu mestinya ya. Tetapi kadang keikhlasan kita diuji terus 
sama Allah ya. Yakinlah bahwa Tuhan akan membalas, tapi tidak lewat orang yang 
kita tolong atau beri bantuan. Allah akan memberi pertolongan dari arah yang 
tidak kita duga dan ketahui, bukan?'"
   
 'Wan...niiih aku dapat cuplikan dari tulisan Aa Gym: sedekah adalah penolak 
bala, penyubur pahala, dan pelipat ganda rezeki. Sebutir benih menumbuhkan 
tujuh bulir, di mana tiap-tiap butir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah 
yang Maha Kaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah ! "
   
 ...1 benih=7 bulir> per1 bulir menjadi 100 > 700...kali lipat
   
 Iwan tertawa mendengarkan bahwa balasan itu akan datang 100 kali 7 bulir, 
berarti 700 kali lipat. "Ah itu mah nanti di akhirat kali. Teh. Itu pun kalau 
Allah berkenan melimpahkan RakhmatNya buat kita. Sekarang gimana caranya jadi 
orang ikhlas..susah niih euy ," ujarnya sambil meneruskan ketikannya di 
komputer.
   
 "Tapi," kataku lanjut, "aku sudah merasakan sendiri ko bahwa kita yang akan 
merasakan sendiri kaya gimana si hati, bahagia, seneng di saat kita bisa 
memberikan sesuatu kepada orang laini, ya atau iya? Jadi sesungguhnya 
keuntungannya ya kita sendiri yang akan merasakan kebahagiaan itu." Iwan setuju 
dengan pendapatku terakhir ini.
   
 ***
   
 Nah yang ini, rada aneh tetapi menarik, adalah yang terjadi pada adikku yang 
bernama Wahyu. Selama ini ia merasa dirinya belum mampu untuk berbuat, atau 
memberi, karena keterbatasannya, entah waktu atau ilmu.
 
 
 "Aku belum bisa terjun dulu, Teh. Apalagi memberi dalam bentuk materi. Tetapi 
bukan itu masalahnya. Wahyu berkata, "aku sendiri masih membenahi diri, agamaku 
masih pas-pasan, kondisi ekonomiku saja masih morat-marit, juga aku belum bisa 
memberikan contoh yang baik sebagai sosok muslim yang sholeh. Jadi maaf ya Teh, 
aku belum bisa bantu apa-apa dulu deh," ujarnya ketika aku mengundangnya untuk 
bergabung di sebuah paguyuban.
   
 Rasanya kecut juga hati ini. Padahal selama ini dia selalu kritis terhadap 
keadaan sosial di negeri kita, banyak memberi saran, banyak mengharap tapi 
kenapa giliran kuajak gabung, ko malah menghindar ? Mungkin ia masih beralasan 
bahwa keperluan diri pribadinya sendiri masih banyak, masih merasa miskin 
materi atau miskin ilmu sehingga tidak bisa membantu orang lain. Hanya 
dirinyalah yang tahu.
   
 "OK adikku, kita hanya memberi peluang bagi mereka yang mau beramal, 
bersadakah dalam bentuk tenaga dan waktu, dan semuanya itu harus dilandasi oleh 
keikhlasan." begitu jawabku untuk adikku yang satu ini. Padahal, bukankah 
Islam, agama kita, mengajarkan kita untuk tetap bersedekah di waktu lapang 
maupun di waktu sempit? Seperti dikatakan di surat Ali-Imran: 133-134 :
   
 "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang 
luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang 
bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang 
maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan 
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
   
 Artinya : Anjuran mulia dari Allah swt ini bermakna, bahwa dalam kondisi 
sesulit apa pun, manusia masih bisa memberikan sesuatu di jalan Allah. Meski 
cuma sedikit, secuil, yang terpenting adalah pemberian dilakukan dengan 
keikhlasan dan hanya mengharap ridho Illahi.
   
 Tapi aku bisa memaklumi bahwa setiap orang memiliki sikap, prinsip dan 
pemahaman yang berbeda-beda. Tergantung dari pemahaman dasar dan naluri 
keTauhidan kita masing masing. Yang aku yakini, sekali kita bersyahadat, 
bertestimoni, atau memberikan pengakuan, maka di situ ada sebuah perjanjian, 
komitmen.
 
 
 Seyogyanyalah testimoni atau kesaksian ini dipelajari, dipahami hingga mampu 
merembes turun ke dalam sanubari kita. Sehingga bukan cuma sekedar basa-basi, 
karena born muslim, pemantes, untuk mengisi spasi kosong di KTP atau cuma 
sekedar ucapan yang hanya terhenti sampai di kerongkongan belaka.
   
 Adiku Iwan, dulu rajin memberikan tausiah lewat telefon. Misal input atau 
masukan seperti ini: "Teh, jadikan sebuah kebiasaan membaca Al-Quran, lalu kita 
baca makna dan pahami isinya. Juga hadith. Lalu kita pilih, pahami, ayomi dan 
mencoba mengamalkannya. Tidak usah banyak banyak, pilih yang kita suka, jadikan 
favorit, "ujarnya.
 
 
 Dari buku karya Dr. Yusuf Qardawi yang berjudul Fiqih Prioritas telah aku 
temukan beberapa petikan hadith yang aku suka, lalu kupindahkan ke buku harian. 
Buku itu sendiri sudah tampak lecek karena berulang-ulang kubaca, penuh coretan 
di sana sini. Ada beberapa hadith yang kuhafal dan yang satu ini kumasukkan ke 
hati dan mencoba untuk mengamalkannya:
   
 "Barangsiapa yang membantu menyelesaikan kesusahan seseorang di dunia 
(lebih-lebih lagi saudara sesama Islam), niscaya Allah akan membantu 
menyelesaikan kesusahannya di dunia dan akhirat". (Imam Bukhari)
   
   
 London, pertengahan Januari, di pagi hari. Aku terus terpukau oleh birunya 
langit serta binarnya sang mentari. Semua itu nikmat dan pemberian dari Allah 
semata. Aku kini terus mencoba mensyukuri semua nikmat yang Allah berikan itu 
dengan menyusuri makna terdalam dari aktivitas memberi. Kemudian berjuang 
sebisaku, untuk melakukannya. Saya yakin, Anda telah pula melakukan hal yang 
juga serupa.
 

           bergabunglah di milist : 
http://groups.yahoo.com/group/pengobatan-alternatif & http://tinyurl.com/p8vqd  
 
  jualan VCD Hypnosis & metafisika TERBARU: 
http://pengobatan-alternatif.blogspot.com
  

               
            
 












  


         
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos? 
 Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke