Salam Sirnagalih Ada sebuah cerita yang sangat menyentuh, yang diceritakan di depan kelas pada kelas pemantapan Selasa 15 Mei 2007. Sebuah cerita yang sangat menyentuh perasaan, yang membuat badan bergetar hebat dan air mata mengucur karena haru bercampur malu bercampur takjub bercampur sedih bercampur ... bercampur ... (akh, pokoknya bercampur baur deh).
Ini bukan cerita fiksi karena ini real story. Nama dan pemerannya disamarkan untuk menghindari salah persepsi. Selamat menikmati. ---------------------------------------------------------- Alkisah, tersebutlah seorang calon pemimpin negeri mendapat tugas dari seorang sesepuh bangsa untuk mendapatkan sebuah benda keramat yang berupa kulit macan. Syaratnya, kulit macan itu harus diperolah tanpa membunuh macan dan tanpa membeli. Kulit macan itu harus diperoleh dari seekor macan yang rela diambil kulitnya untuk sang calon pemimpin negeri. Maka, tanpa diketahui asal dan penyebabnya, muncullah 27 ekor macan memasuki sebuah perkampungan. Mereka tidak mengganggu, tidak merusak, dan tidak membunuh. Mereka datang dengan damai, masuk ke perkampungan manusia. Mereka telah siap menghadapi berbagai resiko ketika berhadapan dengan manusia. Macan itu bukan macan siluman, mereka benar - benar macan, macan tulen. Mereka muncul untuk menyerahkan salah seorang dari mereka untuk diambil kulitnya. Maka, mereka menyerahkan teman mereka kepada pemimpin perkampungan. Lalu, mereka pulang dengan damai sambil meninggalkan teman mereka untuk menjalani pembantaian. Sampai di sini, air mata kami yang mendengarkan cerita ini sudah mulai mengalir. Alangkah mulianya hati sang macan. Dia rela turun gunung, meninggalkan keluarganya, meninggalkan kelompoknya, untuk menyerahkan satu-satunya harta yang paling berharga baginya, yaitu kulitnya yang belang itu. Maka, dikulitilah sang macan. Dia tidak dibunuh dan tidak disakiti. Dia dikuliti dalam keadaan hidup. Alangkah sakitnya, luar biasa sakitnya. Kami yang mendengarkan cerita ini sama sekali tidak berani membayangkan bagaimana sakitnya. Kulit dicubit saja sudah sakit apalagi dikuliti. Aduuuuhhhhh Tuhan, tak terbayangkan sakitnya. Sang macan hanya bisa mengkedipkan mata, mengucurkan air mata. Dia tidak marah, dia tidak berteriak, dia tidak merintih. Dia pasrah, dia rela. Ambillah, ambillah untuk keselamatan manusia. Oooohhhh Tuhan, alangkah mulianya dia. Sekarang, sang macan masih hidup. Dia tidak lagi memiliki kulit. Harta yang paling berharga bagi dirinya telah diambil. Sekarang dia terbaring lemah di dalam sebuah kandang. Tubuhnya dibalut dengan kapas dan dia diberi makan daging halus setiap hari. Dia dirawat sampai kulitnya tumbuh kembali. Menurut cerita, kulitnya akan tumbuh dalam waktu 7 bulan. Itupun kalau memang tumbuh. Setiap hari, sang macan hanya bisa mengedipkan matanya, mengucurkan air mata karena sakit, pedih, perih. Oooohhhhh Tuhan, adakah manusia yang semulia hati sang macan ? Sang calon pemimpin negeri pun mencucurkan air mata ketika menceritakan cerita ini. Begitu mulia hati sang macan. Adakah manusia yang hatinya semulia ini ? ---------------------------------------------------------- Sudah akh, aku nggak tahan lagi. Cukup sampai di sini dulu. Salam, Antonius Suryajaya [EMAIL PROTECTED]
