Untuk Pak Anton:
Real Story?
Hhmmm... Referensi?
cerita lanjutannya?
Salam
kcahaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam
Sirnagalih
Ada sebuah cerita yang sangat menyentuh, yang diceritakan di depan
kelas pada kelas pemantapan Selasa 15 Mei 2007. Sebuah cerita yang
sangat menyentuh perasaan, yang membuat badan bergetar hebat dan air
mata mengucur karena haru bercampur malu bercampur takjub bercampur
sedih bercampur ... bercampur ... (akh, pokoknya bercampur baur
deh).
Ini bukan cerita fiksi karena ini real story. Nama dan pemerannya
disamarkan untuk menghindari salah persepsi. Selamat menikmati.
----------------------------------------------------------
Alkisah, tersebutlah seorang calon pemimpin negeri mendapat tugas
dari seorang sesepuh bangsa untuk mendapatkan sebuah benda keramat
yang berupa kulit macan. Syaratnya, kulit macan itu harus diperolah
tanpa membunuh macan dan tanpa membeli. Kulit macan itu harus
diperoleh dari seekor macan yang rela diambil kulitnya untuk sang
calon pemimpin negeri.
Maka, tanpa diketahui asal dan penyebabnya, muncullah 27 ekor macan
memasuki sebuah perkampungan. Mereka tidak mengganggu, tidak
merusak,
dan tidak membunuh. Mereka datang dengan damai, masuk ke
perkampungan
manusia. Mereka telah siap menghadapi berbagai resiko ketika
berhadapan dengan manusia.
Macan itu bukan macan siluman, mereka benar - benar macan, macan
tulen. Mereka muncul untuk menyerahkan salah seorang dari mereka
untuk diambil kulitnya. Maka, mereka menyerahkan teman mereka kepada
pemimpin perkampungan. Lalu, mereka pulang dengan damai sambil
meninggalkan teman mereka untuk menjalani pembantaian.
Sampai di sini, air mata kami yang mendengarkan cerita ini sudah
mulai mengalir. Alangkah mulianya hati sang macan. Dia rela turun
gunung, meninggalkan keluarganya, meninggalkan kelompoknya, untuk
menyerahkan satu-satunya harta yang paling berharga baginya, yaitu
kulitnya yang belang itu.
Maka, dikulitilah sang macan. Dia tidak dibunuh dan tidak disakiti.
Dia dikuliti dalam keadaan hidup. Alangkah sakitnya, luar biasa
sakitnya. Kami yang mendengarkan cerita ini sama sekali tidak berani
membayangkan bagaimana sakitnya. Kulit dicubit saja sudah sakit
apalagi dikuliti. Aduuuuhhhhh Tuhan, tak terbayangkan sakitnya.
Sang macan hanya bisa mengkedipkan mata, mengucurkan air mata. Dia
tidak marah, dia tidak berteriak, dia tidak merintih. Dia pasrah,
dia
rela. Ambillah, ambillah untuk keselamatan manusia. Oooohhhh Tuhan,
alangkah mulianya dia.
Sekarang, sang macan masih hidup. Dia tidak lagi memiliki kulit.
Harta yang paling berharga bagi dirinya telah diambil. Sekarang dia
terbaring lemah di dalam sebuah kandang. Tubuhnya dibalut dengan
kapas dan dia diberi makan daging halus setiap hari. Dia dirawat
sampai kulitnya tumbuh kembali. Menurut cerita, kulitnya akan tumbuh
dalam waktu 7 bulan. Itupun kalau memang tumbuh.
Setiap hari, sang macan hanya bisa mengedipkan matanya, mengucurkan
air mata karena sakit, pedih, perih. Oooohhhhh Tuhan, adakah manusia
yang semulia hati sang macan ?
Sang calon pemimpin negeri pun mencucurkan air mata ketika
menceritakan cerita ini. Begitu mulia hati sang macan. Adakah
manusia
yang hatinya semulia ini ?
----------------------------------------------------------
Sudah akh, aku nggak tahan lagi. Cukup sampai di sini dulu.
Salam,
Antonius Suryajaya
[EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing.
[Non-text portions of this message have been removed]