Coming Soon 
  Launching Buku            :        ” Punya Suami Orang Asing “ 
  Penulis                          :           Hartati Nurwidjaya
  Penerbit                        :           Restu Agung
  Tebal                            :           205 Halaman Full colours 
   
   
  “Punya Suami Orang Asing?”
  by Hatati Nurwidjaya
   
  Punya suami bule…? mungkin dambaan bagi sebagian wanita muda di Indonesia. 
Beberapa biro jodoh mencatat hampir 45 % pendaftar wanita mendambakan pasangan 
nya adalah bule. 
   
  Married sama bule…?!
Wah, mau, mau, mau!
Mau dong punya suami  kayak Casie Stoner, Bruce Willis, David Beckham , etc? 
Uh, mau banget, deh!
Yang namanya bule, pastinya selain ganteng, keren, tajir pula! Siapapun ga bisa 
nolak?

Benarkah ….??


  Saat ini tidak sedikit wanita Indonesia yang menikah dengan orang asing. 
Dengan alasan cinta atau memang inilah jodoh yang ditakdirkan, akhirnya hidup 
bersama dengan orang asing dilakoni. Tapi apa semudah itu ketika seseorang 
memutuskan ia akan menikah dengan orang asing. Apakah dengan modal cinta saja 
cukup, tanpa pertimbangan lainnya?
  
Jangan mikir yang enak-enaknya aja kalau mau mutusin nikah sama pria warga 
negara asing (WNA). Banyak banget lho yang mesti kita pikirkan. Dari perbedaan 
budaya, bahasa, sampai ngurusin prosedur nikahnya yang ternyata... nggak 
semulus yang kita bayangkan! Nikah sama satu bangsa aja permasalahannya banyak.
  
Punya suami orang asing? Pasti banyak yang nggak ngebayangin bagaimana rasanya 
punya suami orang asing. Apalagi yang namanya orang asing itu kan beda bangsa. 
Kalau soal beda bahasa, sih, bisa diselesaikan dengan belajar. Namun, 
perkawinan dengan orang asing memiliki banayk perbedaan dari sekadar bahasa, 
seperti perbedaan cara pandang, kebiasaan, dan tentunya budaya.
  
Budaya memang membentuk karakter seseorang. Menurut Psikolog Bibiana Dyah 
Sucahyani budaya barat dan timur tentu saja berbeda. Kenyataan tersebut 
menunjukan karakter yang berbeda misalnya saja orang Indonesia dengan orang 
Eropa. ‘’Budaya bisa jadi permasalahan yang klise, tapi jika dipahami sebagai 
informasi baru yang dianggap bagus untuk masukan dan dipahami, justru ini akan 
membuat hubungan semakin baik,” papar Bibiana. Sama juga halnya dengan 
pernikahan satu bangsa, jika tidak ada pengertian satu sama lain, susah juga, 
ini biasanya yang menjadi sumber masalah. 

       
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke