Hanya sedikit memperhatikan sikap dan sifat dari para pejabat, Artis dan
Masyarakat indonesia, mengapa ya, bangsa indonesia sebagai bangsa besar yang
beragama, tetapi memilki  korupsi dan tindakan yang kurang terpuiji.



Dimana letak norma-norma aturan aturan agama yang hampir seluruh agama tidak
ada yang mengajarkan tentang keburukan, dari agama islam, Kristen, budha,
hindu semua mengarahkan untuk kehidupan yang lebih baik di dunia dan di
akhirat.



Agama melarang kita untuk mencuri, tetapi yang terjadi saat ini hampir
sebagian besar pejabat banyak yang menjadi pencuri, dari korupsi,
manipulasi, mark up harga, pemotongan hak rakyat, uang admistrasi siluman
dan lainya.



Agama melarang untuk memamerkan bentuk tubuh, berpakaian transparan, tapi
ketika dibentuk UU anti pornografi, banyak yang protes, melanggar hak asasi
manusia, feminisme dan lain-lainya.



Apakah agama saat ini dipisahkan dari kehidupan dunia, sering saya tersenyum
dalam kekecewaan, seorang sahabat berkata, " Maksiat jalan terus, tetapi
sholat tidak ketinggalan" Astagfirullah…, orang seperti ini yang merusak
agama, merusak ahlak mereka sendiri. Inilah sedikit gambaran tentang orang
yang mengaku beragama tetapi tetap menjalankan kemaksiatan.



Apakah agama dalam negara ini hanya sebuah seremonial belaka, coba lihar
saat perayaan maulid nabi, idul adha, idul fitri, natal, nyepi, waisak,
seluruh pejabat, artis, masyarakat semua berduyun-duyun menghadirinya, dalam
hati kecil yang nakal bertanya apakah tujuan mereka merayakan, apakah hanya
sebatas seremoni, mencari populaitas, sebagai pemimpin bangsa, atau mereka
benar-benar menghayati arti dari perayaan agama tersebut. Hanya berharap dan
berdoa semoga mereka menyadari makna perayaan agama tersebut dan semakin
menjadikan masyarakat Indonesia lebih beragama.



Lucu melihat sikap para pejabat, ketika mereka kampanye mereka menjual agama
untuk program perbaikan kehidupan rakyat, tetapi ketika mereka menjabat, dan
mereka di dakwa korupsi, menggunakan uang rakyat, kemana dulu idealis
mereka, dimana yang katanya atas nama agama.



Dan saya pun tertawa melihat kisah artis atau orang yang sok artis ketika
hari biasa mereka menggunakan pakaian yang seronok dan serba terbuka, ketika
satu momen bulan ramadhan mereka bertransformasi menutup diri semua, apakah
hanya untuk laku di tayangkan di televisi….



Hanya bertanya dimanakah posisi agama pada masyarakat negara ini, mengapa
agama tidak dijadikan petunjuk untuk menjalan kan hidup, kadang saya melihat
masyarakat, hanya menjadikan agama sebagai setatus di KTP, karena mereka
menjalankan agama sesuai kehendak hati, saat ada suatu perintah yang enak
meraka melakukan, dan perintah yang susah dan tidak enak mereka tidak akan
mengerjakan. Seperti saat ada sunah laki-laki boleh beristri lebih dari 2,
hampir banyak laki-laki yang melakukannya.



Dan yang membingungkan, saat polri, FPI, dan unsure masyarakat lain yang
beramai-ramai menutup tempat hiburan malam, apakah hanya saat bulan puasa
hiburan malam, yang identik dengan pelacuran, miras, judi dan penyakit
masyarakat lainya di tutup, dimana aparat keamanan saat hari biasa, dimana
peraturan yang melarang hiburan malam saat hari biasa. Sebuah kebijakan yang
bias dan mengelitik.



Hanya berharap dengan menyatukan agama dan kehidupan maka bangsa ini insya
allah menjadi lebih baik, agama sebagai alat kontrol diri, dimana pejabat,
artis, dan masyarakat pada umumnya ketika ingin berbuat kejahatan ingant dan
mengurungkan niatnya karena agama dan tuhan melarangnya. Semoga!!


" Maka masuklah ke dalam agama secara kesuluruhan"

Hanya sedikit memperhatikan sikap dan sifat dari para pejabat, Artis dan
Masyarakat indonesia, mengapa ya, bangsa indonesia sebagai bangsa besar yang
beragama, tetapi memilki  korupsi dan tindakan yang kurang terpuiji.



Dimana letak norma-norma aturan aturan agama yang hampir seluruh agama tidak
ada yang mengajarkan tentang keburukan, dari agama islam, Kristen, budha,
hindu semua mengarahkan untuk kehidupan yang lebih baik di dunia dan di
akhirat.



Agama melarang kita untuk mencuri, tetapi yang terjadi saat ini hampir
sebagian besar pejabat banyak yang menjadi pencuri, dari korupsi,
manipulasi, mark up harga, pemotongan hak rakyat, uang admistrasi siluman
dan lainya.



Agama melarang untuk memamerkan bentuk tubuh, berpakaian transparan, tapi
ketika dibentuk UU anti pornografi, banyak yang protes, melanggar hak asasi
manusia, feminisme dan lain-lainya.



Apakah agama saat ini dipisahkan dari kehidupan dunia, sering saya tersenyum
dalam kekecewaan, seorang sahabat berkata, " Maksiat jalan terus, tetapi
sholat tidak ketinggalan" Astagfirullah…, orang seperti ini yang merusak
agama, merusak ahlak mereka sendiri. Inilah sedikit gambaran tentang orang
yang mengaku beragama tetapi tetap menjalankan kemaksiatan.



Apakah agama dalam negara ini hanya sebuah seremonial belaka, coba lihar
saat perayaan maulid nabi, idul adha, idul fitri, natal, nyepi, waisak,
seluruh pejabat, artis, masyarakat semua berduyun-duyun menghadirinya, dalam
hati kecil yang nakal bertanya apakah tujuan mereka merayakan, apakah hanya
sebatas seremoni, mencari populaitas, sebagai pemimpin bangsa, atau mereka
benar-benar menghayati arti dari perayaan agama tersebut. Hanya berharap dan
berdoa semoga mereka menyadari makna perayaan agama tersebut dan semakin
menjadikan masyarakat Indonesia lebih beragama.



Lucu melihat sikap para pejabat, ketika mereka kampanye mereka menjual agama
untuk program perbaikan kehidupan rakyat, tetapi ketika mereka menjabat, dan
mereka di dakwa korupsi, menggunakan uang rakyat, kemana dulu idealis
mereka, dimana yang katanya atas nama agama.



Dan saya pun tertawa melihat kisah artis atau orang yang sok artis ketika
hari biasa mereka menggunakan pakaian yang seronok dan serba terbuka, ketika
satu momen bulan ramadhan mereka bertransformasi menutup diri semua, apakah
hanya untuk laku di tayangkan di televisi….



Hanya bertanya dimanakah posisi agama pada masyarakat negara ini, mengapa
agama tidak dijadikan petunjuk untuk menjalan kan hidup, kadang saya melihat
masyarakat, hanya menjadikan agama sebagai setatus di KTP, karena mereka
menjalankan agama sesuai kehendak hati, saat ada suatu perintah yang enak
meraka melakukan, dan perintah yang susah dan tidak enak mereka tidak akan
mengerjakan. Seperti saat ada sunah laki-laki boleh beristri lebih dari 2,
hampir banyak laki-laki yang melakukannya.



Dan yang membingungkan, saat polri, FPI, dan unsure masyarakat lain yang
beramai-ramai menutup tempat hiburan malam, apakah hanya saat bulan puasa
hiburan malam, yang identik dengan pelacuran, miras, judi dan penyakit
masyarakat lainya di tutup, dimana aparat keamanan saat hari biasa, dimana
peraturan yang melarang hiburan malam saat hari biasa. Sebuah kebijakan yang
bias dan mengelitik.



Hanya berharap dengan menyatukan agama dan kehidupan maka bangsa ini insya
allah menjadi lebih baik, agama sebagai alat kontrol diri, dimana pejabat,
artis, dan masyarakat pada umumnya ketika ingin berbuat kejahatan ingant dan
mengurungkan niatnya karena agama dan tuhan melarangnya. Semoga!!



" Maka masuklah ke dalam agama secara kesuluruhan"



Dalam perenunganku, Bertanya Kenapa agama dipisahkan dalam kehidupan

Cikarang,  05 oktober 2007 13:17
Erwin Arianto

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
えるウィン アリアンと
Internal Auditor
PT.Sanyo Indonesia
Ejip Industrial Park Plot 1a Cikarang-Bekasi
--------------------------------------------
See my Article On http://blogerwinarianto.blogspot.com/


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke