Dalam suatu polemik kehidupan, adakalanya kita akan mengalami suatu fase dimana kita akan belajar untuk lebih dewasa. Kedewasaan manusia memang tidak selalu diukur dengan umur. Kedewasaan itu diukur dari cara pandang terhadap suatu hal dan bagaimana mereka menghadapi persoalan tersebut. Kadangkala sesuatu yang menyedihkan itu adalah alat untuk pembelajaran yang paling efektif untuk menuju kedewasaan tersebut. Karena biasanya bila kita sedang mengalami sesuatu hal yang menyedihkan, kita akan lebih respek akan diri kita sendiri.
Tidak ada salahnya bila kita menangis, karena itulah ekspresi alami yang dimiliki oleh manusia. Tidak ada salahnya pula kita curhat dan mendengarkan pendapat dari orang lain, karena itulah cara manusia mengurangi beban. Tetapi lepas dari semua yang dilakukan, baik menangis maupun curhat, semuanya tetap bertujuan untuk menjadi pembelajaran. Semua itu tergantung pada manusianya itu sendiri, apakah semua yang sedang terjadi pada dirinya itu bisa menjadi alat untuk mendewasakan diri ataukah menjadi alat untuk perusak tercepat kehidupannya. Dan semua itu terletak ditangan kita sendiri tanpa ada campur tangan pihak lain. Berdoalah kepada Allah dan berusahalah untuk tidak menyerah, karena disetiap kesusahan pasti ada kemudahan (Al insyirah : 5). Semoga semua ini menjadi cahaya asa dalam kehidupan kita yang panjang. Amien... Terinspirasi dari nasihat sahabat Bli Gde Sawitra & Rofiko Rahayu Kabalmay serta suatu kisah di penghujung tahun : Terima kasih telah mengajarkan aku untuk bernyanyi "I'm a big big girl on a big big world" December on 24, 2007 -- Regards, Hapsari Wirastuti Susetianingtyas See all about me on : www.napasbidadari.multiply.com [Non-text portions of this message have been removed]
