HARI INI AKU BERTANYA TENTANG AKU
Hari ini aku bertanya tentang ku. Siapapun aku. Meski kadang untuk bertanya
tentang tentang aku,aku sendiri sering lupa. Padahal,bertanya tentang diri
sendiri adalah bertanya tentang sesuatu yang paling substansial sepanjang
sejarah kehidupan manusia.
Secara umum,urusan bertanya-tanya sepertinya memang mudah,tampak sederhana.
Tinggal membuat daftar pertanyaan dan mencari jawabannya. Tapi bila sudah
bertanya tentang diri sendiri,rupanya urusannya bisa lain. Sebab ada bias-bias
disana.Sejujurnya itu juga terjadi pada diriku.
Sejenak aku seperti tersadar,sebelum bicara tentang apa yang akan aku
tanyakan pada diriku,hari ini,nampaknya aku terlebih dahulu harus
bertanya,apakah memang aku mau bertanya tentang aku sendiri,hari ini? Seperti
dalam kaidah sosial yang umum,memegang kendali dan otoritas itu seperti pisau
bermata dua. Bila aku menggunakannya dengan baik,maka otoritas dan kendali itu
akan berdayaguna.Bila aku bermalas-malas,tak bergairah,maka kendali
itu,otoritas itu,tidak akan menghasilkan apa-apa. Jadi? Aku yang diberi
kesiapan,kebiasaan,dan pilihan,untuk menjadi baik atau buruk,secara
sukarela,ternyata semua itu bisa menjadi kekuatan,bisa juga menjadi kelemahan.
Seperti itu pula bila aku bertanya tentang diriku. Aku bisa saja bertanya,bisa
juga tidak mau. Semuanya terserah pada diriku sendiri. Ini kekuatan,tapi juga
kelemahan.
Itu sudah terbukti pada diriku. Kadang aku - dengan karunia Allah- bisa
memacu kemauanku sedemikian rupa. Hari-hariku seperti tak pernah henti dari
aktifitas. Malam seperti siang, ada saja yang aku harus selesaikan. Meski
kadang agak carut-marut secara tertib dan urutan. Tapi aku masih bisa menghibur
diri,bahwa kelelahan itu aku mohonkan balasannya kepada Allah.
Tapi sering juga aku merasa sangat malas. Bahkan untuk melakukan aktifitas
rutin yang menjadi tanggung jawabku sebagai Muslim, kadang aku seperti tak
bisa. Bukan benar-benar tak bisa,tapi tak berdenyut dan tak bergairah. Kaki
seperti berat untuk diayun. Mata seperti layu selalu diajak untuk terjaga.
Jadi?,Ya,itu tadi,adanya porsi yang diberikan Allah pada diriku untuk mengatur
diriku sendiri,ternyata membuatku bisa malah lepas berkarya, tapi bisa juga
malah tak berbuat apa-apa. Kadang-kadang manusia memang perlu pihak lain untuk
memaksa.
Bila aku bertanya pada diriku,hari ini,tentang apa yang telah aku
lakukan,apa yang akan aku lakukan, dan apa yang belum aku lakukan,maka aku akan
mengerti betapa tidak sederhana urusan seorang diriku. Tidak sederhana, bukan
berarti segalanya menjadi penuh kekacauan,pesimisme, dan ketidakjelasan. Tidak
selalu seperti itu maksudnya. Sebab bahagia sekalipun,atau sukses,prestasi,
banyak yang lahir dari jalan hidup yang kompleks. Maka ada tangis duka, ada
juga tangis bahagia. Urusan diriku tidak sederhana.
Bila hari ini aku bertanya tentang apa yang telah aku lakukan, aku akan
mendapati ternyata keburukanku lebih banyak dari kebaikanku. Untuk mengakui itu
sendiri tidaklah mudah. Ada hal-hal yang tersembunyi, yang hanya aku dan Allah
yang tahu. Semoga Allah menutupi aib-aib diriku,didunia dan akhirat.
Bila aku bertanya tentang apa yang belum aku lakukan, aku mendapati
ternyata masih sangat banyak yang belum aku perbuat. Capaian apapun yang telah
aku aku dapati sampai hari ini memang harus aku syukuri. Seperti hidup hingga
sejauh ini, itu pasti harus aku syukuri. Juga apa yang telah dibagi Allah untuk
diriku. Setidaknya aku masih bisa makan dan minum hingga hari ini. Juga adanya
orang-orang dekat yang aku cintai, berapapun jumlah mereka, juga teman-teman
yang jujur,ilmu, kesadaran, pengalaman pahit dan manis, semua memangharus aku
syukuri. Tapi bila aku harus bertanya tentang apa yang belum aku lakukan,
sejujurnya masih sangat banyak.
Apa yang belum lakukan, nyaris sebanding dengan apa yang sebenarnya bisa
aku lakukan, bisa aku berikan, bisa aku kontribusikan, tetapi aku belum
melakukannya. Sebab bila Allah menyebutkan dengan istilah 'batas kekuatan'
sebagai ukuran yang dipakai untuk memberikan beban kepada hamba-Nya, nyatanya
aku sendiri tidak pernah tahu secara pasti berapa ukuran batas kekuatanku.
Memang aku pernah sakit karena habis bekerja keras. Tapi itu sendiri belum
tentu merupakan tanda bahwa batas kekuatanku sampai disitu. Sebab aku juga
pernah bekerja lebih keras dari itu, dan Alhamdulillah, aku baik-baik saja.
Sebagaimana juga aku merasa sangat cengeng, hanya karena sedikit begadang untuk
mengejar tugas, tiba-tiba aku sudah ambruk.Aku kemudian tahu, bahwa batas
"batas kekuatanku" itu sebenarnya relatif.
Tentu saja ini bukan sekadar dalam soal tanggung jawab standar. Seperti
tanggung jawab sebagai seorang Muslim dengan kewajiban-kewajiban dasar sebagai
seorang muslim. Tapi juga apa yang seharusnya lebih dari itu. Bila aku tak bisa
cukup dengan apa adanya, mestinya aku juga tidak hanya memberi apa adanya.
Selalu ada harga untuk setiap nilai lebih. Harga yang aku dapatkan, dan harga
yang harus aku berikan. Namun, kadang orang tidak mau membayar harga itu secara
semestinya.
Bila aku bertanya tentang apa yang ingin aku lakukan, itu nyaris sebanding
dengan gabungan antara harapan dan khayalan. Kadang batas antara keduanya
sangat tipis. Kadang aku merasa seperti sedang berharap, tapi seiring
berjalannya waktu, aku menyadari bahwa ternyata waktu itu aku sedang menghayal.
Tapi tidak jarang juga aku merasa seperti sedang menghayal, ternyata Allah
mengubahnya menjadi sebuah harapan yang menjadi nyata, Hidup memang penuh
dengan tanda tanya. Namun perlahan aku juga mengerti, tanda tanya dan
ketidakpastian itum ternyata memberi seorang mukmin ruang kebergantungan yang
sangat tinggi kepada Allah. Dan, disitu ternya ada ketenangan luar biasa.
Pada akhirnya,aku bersyukur, dalam batas yang lumayan jauh, setidaknya aku
mengerti bahwa ke-aku-an diriku ternyata terletak pada tanggung jawab.
Sejujurnya, memang, pendalamanku tentang "ilmu tanggung jawab"ini kadang pasang
surut. Itu membuat diriku tidak setiap saat selalu "on" dengan rasa itu. Tapi
setidaknya sampai hari ini aku bersyukur, dan aku memohon kepada
Allah,seterusnya, hingga akhir hayat kelak, aku selalu sadar tentang sebuah
kenyataan, baha seorang aku adalah segunung tanggung jawab. Walaupun seringkali
aku merasa tanggung jawab lebih merupakan beban yang memberatkan, aku terus
belajar untuk melihat kata tanggung jawab sebagai sebuah jalan keterhormatan,
rasa berarti, dan semangat untuk berbagi dengan sesama.
Aku juga belajar dari agama Islam yang aku cintai, bahwa ke-aku-an yang
bermakna tanggung jawab itu, punya alur dasar yang sangat tersembunyi. Banyak
yang tidak sadar, atau tidak tahu. Atau kalau tahu, banyak yang lupa. Termasuk
diriku, tidak jarang juga lupa. Alur dasar itu adalah, bahwa tanggung jawab itu
dimulai pertama kali dari niat. Ya. Kata Rasullullah,"Sesungguhnya setiap amal
itu dinilai dari niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai apa
yang diniatkannya".
Jadi? Rupanya ini menjadi semacam checklist harian tanpa kertas dan tanpa
pena. Ia ada dihatiku dan dihati siapa saja. Bahwa sejenak ketika aku akan
berkehendak, maka di jenak itu pula aku harusnya bertanya tentang niatan-niatan
dibalik kehendak itu. Bisa baik bisa buruk, bisa salah bisa benar. Rupanya
tidak selamanya benar ucapan orang yang sering dengan tampak tulus berkata
"tanpa maksud apa-apa", atau "saya tak berniat apa-apa".
Berarti hari ini aku harus bertanya, bagaimana kabar hatiku hari ini. Bila
bertanya tentang diri sendiri emnghasilkan rasa tanggung jawab, maka aku
bertanya tentang diri sendiri, seharusnya sering aku lakukan. Diantara jejaring
kehidupan yang tidak sederhana, juga lalulintas masalah yang padat dalam
antrian, aku seharusnya bertanya dijalan mana aku menuju, dan hendak kemana aku
bermau.
Begitupun, aku harus juga belajar bertanya tentang aku kemarin. Tidak saja
aku hari ini. Bukan untuk tenggelam dengan apa yang tidak bisa aku ulang karena
sudah kadung dan mati ditelan masa lalu. Tapi sebuah langkah berkesinambungan
untuk menjadikan masa lalu sebagai cermin. Bila kemasa depan aku belajar
tentang tantangan. Maka dari masa lalu aku harus belajar tentang kearifan.
Bila seorang aku berarti sebuah tanggung jawab, aku mungkin perlahan akan
mengerti, bahwa dari unsur tanggung jawab itu, aku bisa belajar tentang seri
lanjutannya.. Ialah bahwa dari tanggung jawab akan lahir kejujuran. Aku mungkin
belum sempurna, dan tidak akan sempurna, tapi sedikit banyak aku belajar
tentang tanggung jawab yang melahirkan kejujuran. Atau setidaknya aku bisa
merasakannya, bila aku takut untuk berbuat sesuatu yang buruk, rasa takut itu
akan mendorongku untuk lantas berlaku jujur. Rumusnya memang sederhana.
Tanggung jawab adalah ibu kandung kejujuran.
Setelah itu, aku berharap, aku bisa belajar seri lanjutannya, bahwa bila
aku jujur, semoga lantas aku bisa konsisten. Atau bahasa lainnya adalah
istiqomah. Aku melihatnya sebagai sebuah rumus yang juga sederhana, bila aku
berbuat sesuatu secara jujur, aku yakin aku akan punya energi untuk terus
melanjutkan perbuatan itu, atau pekerjaan itu, terus dan terus. Sebab tak ada
yang harus aku takutkan. Sebagaimana tak ada alasan untuk menghentikan
kebahagiaan yang aku rasakan bila aku jujur.
Jadi? Tanggung jawab itu berlanjut pada kejujuran. Dan kejujuran itu
berlanjut pada konsistensi dan kesinambungan. Dalam apa saja. Bila bertanggung
jawab adalah niatnya, kekuatannya, maka kejujuran adalah bingkainya, bentuk
perilakunya, dan wujud lahirnya. Lalu konsistensi adalah nafas panjangnya.
Diatas jalan itu semoga aku bisa berlalu dan menuju.
tarbawi:Edisi 168 Th.8,Dzulqa'idah 1428 H,7 Desember 2007
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
[Non-text portions of this message have been removed]