Jakarta, Senin, 17 Maret 2008

Kepada Yth: Para Pembaca


Hal: Permohonan Komentaran Singkat untuk buku
‘Kompatiologi logika sampler dan translater’ file
e-book terlampir.

Dengan Hormat,

Perkenalkan nama saya Vincent Liong penggagas metode
Kompatiologi, mewakili segenap praktisi kompatiologi.
Bersama dengan surat ini, kami menyertakan e-book
‘Kompatiologi logika sampler dan translater’
dalambentuk file PDF (read only) untuk anda baca.

Kami mengharapkan bilamana anda bersedia meluangkan
waktu untuk membacanya dan memberikan komentaran
singkat tertulis, yang sesuai dengan gaya bahasa dan
sudutpandang versi anda, untuk kemudian akan saya
lampirkan dalam buku ini yang akan segera kami
terbitkan. 


Format komentaran singkat sbb:

“ ********************* ” (tulisan komentar anda satu
kalimat hingga satu paragraf)
[Nama Lengkap penulis komentar]
[Latarbelakang diri anda dalam satu kalimat]


Bilamana anda berminat untuk memberikan komentaran
dengan format berbeda seperti misalnya; 
* Pendahuluan dengan atau tanpa judul khusus dari
penulis komentar sendiri.
Kami akan berusaha menyertakannya dalam buku versi
cetak yang akan segera kami terbitkan.
* Pertimbangan judul buku yang berbeda yang menurut
anda lebih cocok untuk menjadi judul buku ini
dibandingkan judul; Kompatiologi logika sampler dan
translater 

Komentaran bisa dikirim: 
* per-email ke <[EMAIL PROTECTED]>,
<[EMAIL PROTECTED]>
* Per pos/surat kepada Yth: Vincent Liong ; alamat:
Jl. Ametis IV G/22 Permata Hijau, Jakarta 12210 -
INDONESIA. 
Harap beri keterangan: “Komentar untuk draft buku
Kompatiologi [Nama Anda]”
* Per Fax ke no telp: 021-5348546

Bilamana ingin ngobrol-ngobrol mengenai buku
‘Kompatiologi logika sampler dan translater’ silahkan
menghubungi kami per telepon ke:
* Vincent Liong 021-5482193,5348567/46(Home)
021-70006775(CDMA Flexi) 021-98806892(CDMA Esia)
08881333410(CDMA Fren)
* Cornelia Istiani 021-92589842(CDMA Esia)
021-68358037(CDMA Flexi) 081585228174(Hp)

Bilamana sahabat anda atau anda sendiri bekerja di
sebuah penerbitan dan tertarik pada e-book ini juga
bisa menghubungi Cornelia Istiani dan akan kami
pertimbangan, sebab sampai hari ini kami belum
menyerahkan naskah ini ke penerbit tertentu untuk
diterbitkan. Beberapa editor sukarelawan dari
latarbelakang berbeda membantu kami mengedit naskah
ini, baru setelah selesai editing akan kami mengurus
penerbitannya. 

Terimakasih atas waktu yang anda luangkan… Atas
bantuannya kami ucapkan terimakasih.

Hormat kami,



Vincent Liong



=====

Pendahuluan
Ditulis oleh: Anton Widjojo (Pengamat Budaya)


Ketika budaya sampai pada diri kita, kita tidak pernah
memikirkan asalnya dan juga tidak menyadari bahwa
budaya sudah terbelenggu di balik terali besi.
 
Sampai pada suatu saat Vincent Liong secara tidak
sengaja menemukan bahwa budaya sudah menjadikan
manusia merana karena dengan berbudaya berarti manusia
ikut terbelenggu di balik terali besi.
 
Dengan susah payah Vincent Liong mempertahankan hak
asasiya sebagai manusia untuk tidak dilabelkan Indigo
secara sembarangan oleh masyarakat. Hilang sudah
kebebasannya. Bayangkan hanya dengan sebuah "kata"
Indigo ternyata tidak hanya merampas kebebasannya
tetapi juga sikap tidak bersahabat, vonis pengucilan,
penekanan mental dan teror.
 
Terlihat disini "kata" yang adalah bagian dari budaya
itu menjadi mengerikan, sehingga Ide yang murni
tidaklah mungkin muncul karena "kata", dari "kata"
hanya dapat melihat fenomena, sehingga data mentah
hanya dapat ditemukan jika tidak memakai "kata". 
 
Menarik jika diperhatikan lebih lanjut penemuan
Vincent Liong tentang tehnik zat cair yang masuk ke
dalam tubuh kita, dalam hal ini dengan cara diminum
dengan aturan dan cara Vincent Liong ternyata dapat
mempunyai relasi terhadap hal hal yang tidak pernah
terpikir, akan membawa effect memunculkan data mentah
pada tiap individu, yang sebenarnya sudah ada tetapi
tenggelam menuju ke permukaan. Sehingga setiap
individu menjadi suatu individu "baru" yang memiliki
kemampuan lebih dari sebelumnya. Kemampuan manusia
yang sudah lama terkubur karena tidak pernah
diperhatikan dan sudah terdesak oleh kemajuan jaman,
menjadi tersadari atau lebih tepatnya menjadi bagian
penting dalam manusia membuat pertimbangan untuk
mengambil keputusan.
 
Tidaklah berarti dia menjadi manusia super, tetapi
suatu pribadi yang lebih utuh. Yang sebelumnya dia
mengira apa yang menjadi pilihan dalam hidupnya sudah
benar dan mungkin juga sudah tidak ada pilihan lain,
ternyata menjadi melihat ada pilihan pilihan baru yang
yang dihasilkan dari dasyatnya kehendak bebas (free
will) dan jika dia memilih tanpa pertimbangan yang
matang akan membuat kehendak bebas yang tadinya
bernilai positif berubah menjadi kutukan.
 
Perlahan tapi pasti dari efeknya akan membuat dia
menjadi mahir dalam bidang strategi, kewaspadaan dan
kesadaran diri meningkat, sehingga tidak ada lagi
tindakan konyol yang akan dilakukannya, seandainya ada
orang yang melihat dia konyol sebenarnya tindakan yang
tampaknya konyol itu dilakukan dengan sadar dan sudah
menjadi pilihannya dan rencananya.  
 
Strategi dan kesadaran diri adalah sebagian hal yang
membedakan manusia dari binatang. Kekuatan badan dan
akal saja tidak akan membawa manusia menjadi unggul
dan menjadi penguasa bumi. Manusia purba tidak mungkin
berkembang menjadi manusia masa kini jika tidak
memiliki kedua unsur tersebut. Di dalam
perkembangannya ada masanya manusia lebih
mengunggulkan kekuatan badan, kekuatan kelompok, dan
pada masa kini manusia lebih mengunggulkan kekuatan
akal.
 
Akal yang diharapkan akan menghasilkan hal yang lebih
baik dan bermoral, ternyata malah menghasilkan
kekacauan dan kesengsaraan bagi manusia dan hanya
menghasilkan keuntungan bagi kelompok atau dirinya dan
tidak pernah mempertimbangkan kerugian dipihak lain.
Sedangkan strategi bertujuan meminimalkan kerugian
dari semua pihak.
 
Semenjak manusia sadar bahwa dia memiliki kesadaran
diri, dan kesadaran diri adalah sesuatu yang pasti,
maka manusia menganggap semua ilmu pengetahuan harus
dibangun atas dasar kepastian. Semua pengetahuan yang
didapat dari pengalaman dan dan ketidak pastian tidak
dapat dipandang sebagai ilmu. 
 
Tetapi jangan lupa kesadaran diri dan pengalaman
tidaklah ada hubungannya. Pengalaman akan menghasilkan
pemahaman yang berbeda bagi tiap individu. 
 
Jadi pengetahuan yang didapat dari pengalaman tidak
dapat dengan begitu saja dikatakan benar atau salah
dengan memakai metode kepastian.

Kini tiba pada pengertian baru, bahwa pengalaman tidak
dapat menjadi tolok ukur, tetapi menghasilkan
jangkauan variasi yang berskala. Ini sebenarnya sudah
kita ketahui sejak dulu, tetapi tidak pernah kita
sadari, seperti waktu, tidak kita sadari adalah suatu
dimensi sampai Einstein mengenalkan pada kita bahwa
waktu adalah dimensi. Setelah dimensi waktu kita
sadari, banyak pengetahuan yang dahulu terasa benar,
akhirnya kebenarannya hanya di dalam lingkup dan
kondisi yang sangat sempit dan tertentu. 
 
Anda mempunyai kesadaran akan adanya pilihan. Pilihan
ada ditangan anda. Tetap tinggal di kepastian, atau
berani mengalami realita baru dalam hidup anda.
 
Jakarta, Sabtu, 15 Maret 2008



Anton Widjojo (Pengamat Budaya)

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke